
Jaka Pasirluhur telah dapat duduk, berdiri dan berjalan-jalan di sekitar bangunan tempatnya dirawat sejak beberapa hari yang lalu. Ia menolak terus berbaring dan istirahat terlalu lalu. Tangannya yang buntung memang masih berdenyut, kadang membuatnya pucat, susah makan dan susah tidur. Tapi ia tak mau membiarkan tubuhnya lemah dan kalah. Ia masih punya satu tangan untuk memegang senjata dan memapras musuh. Tugasnya melindungi puannya tidak akan selesai selama ia masih bernafas. Apalagi mengingat Almira, tuan putri nya itu masih hamil sangat muda. Bagaimana bisa ia pula yang berbaring di atas ranjang?
Di pagi yang begitu indah di Kota Gede, Mataram ini, Jaka Pasirluhur keluar rumah dan meregangkan semua otot-otot tubuhnya. Ini sudah hari kesepuluh buatnya melatih diri kembali sebelum ototnya menjadi kendur dan perutnya membuncit.
Sudah tak ada jukukan Sang Kudi Langit yang pantas untuk ia sematkan. Tak ada kudi tak ada caluk. Sudah sepuluh hari ini pula ia berusaha menyesuaikan gerakan jurus-jurus yang telah ia kuasai dan gunakan sebelumnya dengan keadaannya sekarang. Namun ternyata bagi seorang pendekar silat, tangan bagai ekor pada binatang yang membantu keseimbangan.
Telapak dan jari-jari tangan kirinya yang telah hilang membuat gerakannya begitu ganjil. Ia mencoba memukul, menendang dan melakukan langkah-langkah jurus Kudu Langit nya, namun semuanya serasa tak bertenaga. Ia mengambil sepotong kayu untuk dijadikan senjata, mengayunkannya ke udara seakan sedang berhadapan dengan lawan. Namun, alih-alih menyerang lawan yang merupakan prajurit atau pendekar, sabetannya lebih seperti memotong rumput atau ilalang liar saja.
Oleh sebab itu pada hari kesembilan latihannya, ia menyerah menggunakan senjata tajam jenis pedang, golok, apalagi kudi dan caluk. Sepotong kayu yang ia gunakan untuk latihan ilmu kanuragan itu sudah mewakili penggunaan senjata-senjata yang bertujuan memotong dan membacok lawan.
Kemarin Jaka Pasirluhur menemukan sepotong bambu sehasta yang ujungnya runcing. Dengan inilah ia sekarang melatih dirinya.
Tusukan ternyata lebih berdayaguna dan cukup ringkas ketika ia tak memiliki dua tangan yang lengkap. Hebatnya lagi, kali ini ia berpikir bahwa bilah bambu segenggaman itu tak harus mewakili apapun. Ia cukup harus menjadi bambu saja, bukan tombak atau senjata lain.
Jaka Pasirluhur tertawa pelan. Seketika ia mengingat Jayaseta. Suami puan nya itu memang seorang pendekar pilih tanding. Bukan hanya jurus-jurus silatnya yang luar biasa, tapi juga kemampuan menyadur dan mengolah gerakan dan senjata apa saja yang ada di sekitarnya.
Tidak sedikit pendekar yang petantang petenteng dengan menyombongkan senjata khusus atau jurus-jurus khusus mereka. Senjata-senjata itu dipuja sehingga menjadi ciri khas sang pendekar. Hal ini tentu saja termasuk dirinya sendiri yang dengan percaya diri menempeli dirinya dengan gelar Sang Kudi Langit.
Jaka Pasirluhur kembali tertawa. Betapa ia dahulu adalah seorang pendekar yang kekanak-kanakan, pikirnya.
Ia memandang bilah bambu runcing segenggaman yang ia pegang. Ia merapatkan kuda-kuda dan meluncur maju. Tusukan bambunya dilakukan dengan pendek-pendek namun cepat. Sesekali serangan panjang disertai langkahnya yang juga panjang dan menderu.
__ADS_1
Jaka Pasirluhur mendadak merasakan bahwa keseimbangannya telah kembali, walau belum sempurna. Ternyata ada gerakan-gerakan tertentu yang ampuh dan berdayaguna melumpuhkan musuh dan mengenai sasaran lebih cepat, bahkan dibanding sewaktu kedua tangannya masih utuh.
Bulir-bulir keringat membasahi wajah dan dadanya. Semangat kembali mengendap di dalam dirinya sedangkan kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan meruap menguap bersama segala kekesalannya ke udara.
Jaka Pasirluhur tak memiliki beban lagi. Hari ini, hari kesepuluh sejak ia dirawat karena luka tubuh yang dideritanya, ia menemukan dirinya lagi, namun dengan penyajian yang baru.
Masa lalu, Jaka Pasirluhur yang sombong, jumawa, takabur, cinta diri dan pemabuk, telah hilang bersama potongan tangan kirinya. Ia tak akan berhenti menjadi seorang pendekar. Tidak sekarang, tidak nanti, belum saatnya.
***
Jung raksasa itu akhirnya kembali berlayar membelah samudra. Namun, Jayaseta tak lagi sendiri kali ini.
Narendra sudah dengan terang benderang memasang tongkat panjang untuk mata tombak trisulanya. Ia menenteng senjata yang terlihat jelas itu. "Toh kita memang akan berperang, bukan?" ujarnya suatu saat.
Katilapan, laki-laki yang tubuhnya berhias rajah dari Bisaya, mirip orang-orang Daya itu, menyelipkan sepasang tongkat rotan dan ginunting, pedang melengkung ke depan, di pinggangnya.
Maka pelayaran kali ini, jelas sangat berbeda bagi Raja Nio. Selain berisi orang-orang dan pendekar hebat, ia sendiri memiliki tujuan lagi. Terlibat dalam perjalanan penting seorang pendekar pilih tanding yang namanya terkenal, tersohor dan termahsyur di pulau Jawa, Tanjung Pura, dan sebentar lagi mungkin Johor, Malaka, seluruh nusantara bahkan sampai ke mancanegara seperti Pattani dan Ayutthaya. Ia menyentuh lukanya yang hampir tak terasa lagi. Ia juga memandang ke tongkat panjang yang ia gunakan sebagai senjata, dengan pandangan bersemangat.
***
Di atas balai kayu, dalam ruangan pribadi yang bergoyang-goyang terkena hempasan ombak di atas geladak jung raksasa itu Dara Cempaka memeluk Jayaseta erat, tak ingin melepaskannya. Gadis muda nan manis itu tidak lagi sungkan untuk melampiasakan rasa asmara dan cintanya kepada sang suami.
__ADS_1
Kekagumannya kepada Jayaseta sejak kali pertama bertemu, nyata-nyata membuat dirinya tersiksa siang dan malam. Ketika rasa ini dibalas dengan kadar yang sama oleh Jayaseta, mana mungkin Dara Cempaka ingin menolaknya.
Kenyataan bahwa ia adalah istri kedua sama sekali tak mengubah perasaannya dan anggapannya pada sang pendekar tampan itu.
"Abang Jayaseta, tidakkah semua ini merepotkan abang dan yang lainnya?" gumam Dara Cempaka pendek di dada Jayaseta.
"Kau masih berpikir seperti itu? Apakah kau masih meragukan rasa tanggung jawabku, Dara?" jawab Jayaseta.
"Ah, tentu bukan seperti itu, abang. Terus terang, aku hanya ingin bertanya dan meyakinkan diriku kembali saja. Aku khawatir merepotkan yang lain saja. Ayah ibu cukup kesal karena tak bisa berbuat banyak untuk bisa membantuku. Ayah, terutama, menjadi sebal karena malah Datuk yang ikut, padahal ia sudah tua dan terkesan terus mencari masalah. Padahal, ayah paham kemampuan Datuk. Belum lagi ia harus berbicara dengan para pejabat kerajaan Sukadana untuk menawar kedudukan Datuk sebagai tawanan. Untung sekali nama besar abang dan Raja Nio mampu meyakinkan ayah san ibu bahwa kita akan mampu menyelesaikan perjalanan ini," kenang Dara Cempaka.
"Ada benarnya Datuk ikut mengawal kepergian kita, Dara. Aku sampai-sampai dengan lancangnya lupa siapa Datuk, terutama pada masa mudanya. Silat hebatnya adalah hasil tempaan dan pengalaman bertahun-tahun di negeri Melayu. Johor, Malaka, Riau, sampai Pattani dimana adalah nama-nama yang akrab baginya, yang bagiku sendiri yang masih hijau ini sama sekali asing. Kita akan baik-baik saja, Dara. Kesembuhanmu, bukan untuk dirimu sendiri. Kau juga harus mulai memikirkanku sebagai suamimu, yang kelak juga akan menjadi ayah dari anak-anak kita," ujar Jayaseta meyakinkan kembali Dara.
"Aku tidak pernah melupakan itu, abang," jawab Dara Cempaka pelan, hampir tak terdengar karena sedikit malu. Wajah manisnya memerah, membuat Jayaseta semakin gemas.
"Satu hal yang aku khawatirkan, Dara," ujar Jayaseta tiba-tiba.
"Apa itu, abang?" Dara Cempaka juga mendadak ikut galau dengan ucapan sang suami.
"Saat ini aku tidak merasa menjadi seorang pendekar, Dara. Kau tahu aku takut air, bukan? Kepalaku mulai pening dan perutku terasa aneh. Sementara ini kau yang harus menjagaku ya?" jawab Jayaseta.
Dara Cempaka tersenyum geli, lega karena hal yang dikhawatirkan Jayaseta bukan hal apapun yang perlu benar-benar ditakutkan. "Maka dari itu aku sedang memelukmu erat, abang Jayaseta."
__ADS_1