Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jemparing


__ADS_3

Karsan membawa dua buah gandhewa atau busur. Gandhewa yang pertama ia selempangkan menyilang di bahunya. Gandhewa ini sedikit lebih panjang dari gandhewa satunya dan terbuat dari bambu petung, meski ia juga memiliki busur lainnya yang terbuat dari bambu ori.


Di tangannya, ia menggenggam busur yang terbuat dari kayu berleyan yang lentur. Biasanya bilah kayu yang digunakan sebagai bahan gandhewa adalah bahan baku yang lentur sehingga dapat ditekur sampai menjadi setengah lingkaran seperti wulet, walikukum, dan secang selain berleyan.


Anak-anak panahnya menggantung di tempatnya yang berbentuk bulat panjang dari kulit kayu yang disampirkan di pinggang. Anak-anak panah itu berbeda dengan anak-anak panah gaya Cina atau Turki Utsmaniyah yang mata panahnya menggunakan logam berbentuk segitiga. Anak panah gaya Jawa ini adalah ujung kayu yang dilancipkan atau dengan logam yang juga lancip tanpa lekukan serta ukuran batang anak panahnya jauh lebih pendek.


Walau Karsan adalah orang Melayu yang berasal dari pulau Samudra, gaya panahannya sangat dipengaruhi oleh Jawa, terutama daerah kerajaan Mataram.


Gandhewa nya saja merupakan bentuk gaya prajurit Mataram yang terdiri dari tiga bagian yaitu cengkolak; pegangan busur yang terbuat dari kayu sonokeling, lar; bilah yang terdapat di kiri dan kanan cengkolak, dan kendheng; yaitu tali busur yang terbuat dari kulit sapi.


Sedangkan anak panahnya memiliki empat bagian yang terdiri atas deder; yaitu batang anak panah yang biasanya bisa terbuat dari kayu atau bambu, bedor; yaitu bagian mata panah dari logam atau batang kayu itu sendiri yang dilancipkan, wulu; yaitu bulu pada pangkal panah dari bulu burung atau entok dan kalkun, dan nyenyep; bagian paling pangkal dari anak panah tempat diselipkan pada tali gandhewa.



Anak-anak panah Karsan yang dalam bahasa Jawa disebut jemparing ini terbuat dari bambu petung tua yang berulang kali ia gosok dengan minyak kemiri sehingga berwarna gelap dan halus. Ini sangat diperlukan agar anak panah itu lepas dari busurnya dengan lancar dan gesit.


Mendengar letusan senapan di kejauhan, Karsan langsung paham bahwa bala bantuan Betawi sudah datang. Ia memandang ketiga pasangan belati dan memberikan tanda bahwa ia akan menghadapi bala bantuan tersebut seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Kesuma, Mahendra dan Sasangka mengangguk hampir berbarengan.


Karsan menukar gandhewa kayunya dengan gandhewa bambunya. Gandhewa bambunya ini terbuat dari bambu ori. Ada syarat yang mutlak untuk sebuah gandhewa dari bambu ori, bahannya harus berusia lebih dari tujuh tahun agar liat dan kuat serta tidak berubah dalam hal bentuk dan kelenturannya.


Gandhewa Karsan ini lebih panjang. Ia juga menyiapkan jemparingan yang sedikit lebih panjang dari anak-anak panah yang lain pula karena dari sudut matanya ia sudah melihat kepulan debu dari beberapa kuda di bawah sana.


Ada Pratiwi terlihat di atas pelana kuda terdepan memimpin pasukan Betawi yang terdiri dari kurang lebih enam atau tujuh orang. Karsan yakin tadinya pasti rombongan bantuan ini lebih banyak. Katilapan dan Narendra pastilah sudah berhasil menghadang beberapa bagian lainnya.


Karsan mencabut satu anak panah dari kantongnya. Menarik tali gandhewa, mengarahkannya ke atas. Ia merasakan arah hembusan angin dan mengatur tarikan kendhengnya. Membiarkan anak panahnya jatuh dengan sendirinya, sesuai hukum alam


Anak panah terlepas.


Pratiwi mendengar desingan anak panah itu di atas kepalanya. Dengan satu tangan memegang kendali kuda, satunya mencabut keris tanpa luk nya.


Batang anak panah meluncur melewati keris Pratiwi, hanya menyentuhnya sedikit kemudian jatuh menancap di kaki salah satu kuda anak buah Pratiwi.

__ADS_1


Kuda tersebut meringkik keras dan melemparkan sang pengendara. Sontak sisa pengendara kuda memberhentikan kuda-kuda mereka, termasuk Pratiwi yang berteriak memberikan perintah, "Turun, tinggalkan kuda kalian!"


Tanpa menunggu perintah lanjutan semuanya turun dan menghunus senjata mereka. Mereka berlindung di pepohonan namun tetap mengendap-endap naik ke perbukitan ke arah Karsan berada, termasuk prajurit pengendara kuda yang jatuh terlempar dari kudanya tadi.


Pratiwi melompat ringan dari atas kuda dan menempelkan punggungnya di balik pohon. Ia tersenyum, memasukkan kembali kerisnya dan mengambil bedil yang diselempangkan di punggungnya.


Ketika anak-anal buahnya melihat ke arahnya, ia memberikan tanda untuk tetap naik. "Pemanah itu mengincarku. Dari awal ia berpikir untuk memotong kepala ular agar badannya mati," ujarnya kepada para prajuritnya.


Ini dibalas dengan anggukan serentak.


Benar adanya bahwa Karsan memang mengincar Pratiwi. Ia berpikiran untuk memberhentikan para prajurit, atau paling tidak membuat mereka berpikir untuk maju ketika pemimpin mereka tewas. Namun benar bahwasanya Pratiwi adalah seorang perempuan pendekar muda yang mumpuni.


Pratiwi tersenyum.


Para prajurit terlihat berjalan naik mengendap-endap. Karsan bisa saja memanah mereka dengan leluasa, namun ia ingin mencoba sekali lagi menancapkan satu anak panah ke tubuh Pratiwi.


Busur kembali teregang. Anak panah siap dilepaskan.


DAR!


Namun Karsan tak terluka.


Ia terbelalak dan langsung menunduk. Karsan mengumpat, "Sial! Perempuan itu mumpuni juga dalam menggunakan bedil," ucapnya kepada diri sendiri.


Ia membuang gandhewa bambunya yang telah patah menjadi dua, salah satu busur kesayangannya.


Pratiwi sendiri sudah kembali mengisi bedil dengan kecepatan dan kecakapan yang luar biasa.


Bisa dikatakan tembakannya tadi sangat tepat. Karsanlah yang beruntung karena tembakan Pratiwi mengenai busur, bukan tubuhnya.


Karsan sadar itu.

__ADS_1


Ia mengambil gandhewa kayunya. Namun jarak mereka terlalu jauh. Ia harus mendekat bila anak panahnya ingin mencapai sasaran.


Kesuma muncul di belakang Karsan. "Kar, kau tak apa-apa?" ujarnya dengan suara rendah.


"Menunduk, Kesuma! Pratiwi yang menembak. Bidikannya bagus. Aku harus menyerangnya," ujarnya pada Kesuma.


Kesuma yang langsung menunduk kemudian memperhatikan sosok-sosok lain yang mengendap-endap mendekati tempat mereka. Ia menghunus belatinya. "Kau yakin bisa menghadapi Pratiwi?" ujarnya.


"Aku harus mendekat, Kesuma. Ia mematahkan busurku, sedangkan busur kayu ini memiliki jarak terbatas. Kau jaga saja tempat ini dari prajurit-prajurit itu. Aku akan mengambil jalan memutar," tanpa menunggu persetujuan Kesuma, Karsan meluncur turun.


DAR!


Bunyi tembakan Pratiwi kembali terdengar. Asap tebal mengepul dari moncong bedilnya.


***** timah menghajar rerimbunan pohon bambu sejengkal di samping Karsan. Karsan tersentak dan mengutuk. "Sial, sial! Perempuan itu hebat juga," rutuknya. Namun ada sungging senyuman terhias di bibirnya. Lawan yang pantas, pikirnya.


Sebatang jemparing sudah terpasang di gandhewanya. Karsan berlari menunduk dengan cepat dan ketika merasa jaraknya sudah cukup, ia menarik tali busur dan mengangkat kepalanya.


Pratiwi tidak bodoh. Ia sudah meninggalkan tempatnya semula di balik pohon, menyisakan kepulan asap bubuk api dari bedilnya. Ia tahu bahwa Karsan pasti memburu keberadaannya dengan merujuk pada asap yang dihasilkan bedilnya.


Namun sepasang mata Karsan yang tajam sempat melihat moncong bedil Pratiwi di balik sebuah pohon.


SEEET!


Jemparing terlepas menyasar bidikan.


Anak panah itu mengelupas kulit kayu dan hampir mengenai wajah Pratiwi.


Sadar tembakan panah musuh tak mengenainya, Pratiwi membalas menembakkan bedilnya.


DAR!

__ADS_1


__ADS_2