Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kemungkinan Selalu Ada


__ADS_3

Jaka Pasirluhur tersenyum dan jual mahal. Ia melipat kedua tangan di depan dadanya dan memandang ke arah lain. “Kau dulu yang bercerita, Kisanak. Apa hubunganmu dengan Jayaseta dan mengapa sampai harus menyamar menjadi dirinya?”


Sasangka memandang Jaka Pasirluhur lamat-lamat. “Aku sedang mengikutinya sebelum kapal yang kita tumpangi diserang para perompak Annam dan Champa itu,” ujar Sasangka dingin.


Sepasang mata Jaka Pasirluhur membelalak. “Sungguh? Kau bersungguh-sungguh dengan perkataanmu? Jayaseta si Pendekar Topeng Seribu, bukan? Dia sunggah ada di tanah Siam?” tanya Jaka Pasirluhur begitu bersemangat.


Sasangka menghela nafas. Ia sedang mempertimbangkan untuk menceritakan saja segalanya. Diam-diam ia juga sudah malu karena menggunakan nama Pendekar Topeng Seribu kemudian berhadapan dengan orang lain yang juga mengaku sebagai sosok yang sama. Sialnya, keduanya sama-sama paham bahwa mereka bukanlah Jayaseta.


“Ya, aku tahu benar siapa Jayaseta. Dulu, sebelum dia mahsyur dengan gelarnya, aku sudah sempat berlayar dan berkelana dengannya. Beberapa waktu yang lalu, aku tanpa sengaja melihat Jayaseta di tanah Malaka berjalan bersama rombongan orang-orang yang aku kenal,” lanjut Sasangka.


“Lalu, mengapa tidak kau tegur saja sekalian dia? Mengapa malah kau ikuti? Bukannya kalian sudah saling mengenal? Malah ada orang-orang lain yang kau katakan berada bersama rombongannya juga kau kenal, bukan?” cecar Jaka Pasirluhur.


“Kau banyak tanya ternyata,” ujar Sasangka ketus.


Jaka Pasirluhur tertawa renyah.

__ADS_1


“Aku memiliki hubungan yang tidak terlalu baik dengan Jayaseta. Jangan kau tanya mengapa,” ancam Sasangka.


Jaka Pasirluhur tergelak kemudian mengangguk-angguk. Ia tak menjawab atau berkata apapun.


“Begitu juga dengan teman-temanku yang ikut dengannya. Intinya aku tidak bisa langsung saja menyapa mereka, tetapi aku ingin tahu apa yang mereka lakukan di tempat ini,” lanjut Sasangka.


“Ah, jadi begitu rupanya. Apa mau dikata, bukan? Beginilah jalan nasib. Baiklah, namaku adalah Jaka Pasirluhur. Jelas kau tahu, aku bukan si Pendekar Topeng Seribu,” jelas Jaka Pasirluhur sembari kembali tergelak-gelak. “Aku sebenarnya adalah pimpinan prajurit pengawal dan penjaga Nyai Almira, istri Jayaseta yang tinggal di Semarang. Tanganku ini buntung oleh salah seorang pendekar gila yang ingin membunuh Nyaiku. Terus terang aku berhasil selamat karena dua pendekar dari Betawi yang mungkin sekali adalah rekan-rekan Jayaseta sendiri,” ujar Jaka Pasirluhur.


Tak bisa dihindari, kini malah Sasangka yang membelalak. “Apa katamu? Kau yang tinggal di Semarang itu?” tanya Sasangka tak percaya. “Katilapan dan Narendra adalah nama kedua orang yang menyelamatkan nyawamu dan Nyaimu itu. Aku sendiri di tempat lain, membunuh pentolan kelompok dari Betawi tersebut.”


“Namaku Sasangka. Tapi, tunggu dulu. Kau mengatakan bahwa kau meminta ijjin kepada Nyaimu? Lalu siapa perempuan yang ikut dengan rombongan Jayaseta? Bukankah ia istrinya?” ujar Sasangka sembari menyipitkan kedua matanya.


“Sungguh? Nyai Almira adalah seorang perempuan berdarah Arab. Apa kau melihat ciri-ciri itu pada sang perempuan?” tanya Jaka Pasirluhur. Tentu saja ia yakin bahwa siapapun yang bersama Jayaseta bukanlah Almira.


Sasangka mengangkat kedua bahunya tak acuh. “Mungkin istri barunya. Barangkali Jayaseta sudah memiliki istri lain yang kini ikut dengannya.”

__ADS_1


Jaka Pasirluhur kembali tertawa. Hanya saja, kali ini tawanya memang terdengar palsu. Ia tak sampai berpikiran sampai sejauh itu. Namun, bagaimana kalau benar? Bukankah kemungkinan selalu ada?


Mendadak suara gemeresak rumput dan ilalang terdengar.


Naluri kependekaran kedua orang yang baru saja saling kenal dalam cara yang aneh dan ganjil tersebut langsung bekerja. Sontak mereka secara berbarengan menutupi wajah mereka. Sasangka dengan selembar kain menutupi mulutnya, sedangkan Jaka Pasirluhur dengan topeng penthul tembemnya.


Sosok arthit muncul.


“Ah, dua orang bertopeng? Menarik, menarik …,” gumamnya dalam bahasa yang tidak dipahami baik Jaka Pasirluhur maupun Sasangka.


Hawa kekuatan Arthit meruap dari lapisan kulitnya. Sasangka dan Jaka Pasirluhur merasakan getaran yang tidak bisa dari dalam tubuh mereka. hampir tanpa rencana, kedua pendekar itu mendadak memasang kuda-kuda siap tarung. Kedatangan orang asing aneh ini menjatuhkan suasana dan keadaan yang sama anehnya. Tanpa kata tanpa bahasa, salam kependekaran dan pertarungan sudah merebak di lahan berumput tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mohon maaf para pembaca yang budiman. Janji akan dua tiga bab yang diupload bulan ini belum bisa terlaksana. Mungkin dilain waktu. Namun cerita tidak akan berhenti sama sekali serta akan berjalan dengan kecepatan normal. Perjalanan Jayaseta adalah perjalanan sang penulis pula.

__ADS_1


__ADS_2