Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Arthit si Muay Paak Klang


__ADS_3

Dua hari jauhnya dari rombongan Jayaseta, melewati lembah, hutan sungai-sungai yang menjalar di tanah Ayutthaya bagai ular, sedang ada keramaian di sebuah perkampungan.


Nada dari tetabuhan mengalun laju dan nyaring. Orang-orang di hunian itu berkumpul di sepetak lahan yang sepertinya merupakan gelanggang pertarungan.


Para perempuan memiliki gaya berbusana dan berpenampilan yang cukup berbeda dibandingkan warga Melayu. Rambut mereka begitu pendek, bahkan di bagian samping dan tengkui dipangkas sampai habis. Rambut panjang ciri perempuan nusantara nampaknya tak melekat di dalam pertimbangan penampilan mereka.


Mengenai gaya rambut ini, tidak terlalu jauh berbeda antara warga miskin di kampung ini dengan para wanita berdarah biru atau yang kaya. Pakaian lah yang terlihat begitu berbeda.


Para perempuan miskin sekadar mengenakan selembar kain untuk menutupi dada dan selembar kain lagi dijadikan sebagai semacam cawat untuk menutupi bagian bawah tubuh. Warna hitam dan abu-abu adalah warna awam bahkan seragam yang bisa ditemukan.


Anak-anak berlarian atau menempel di lengan ibu mereka bertelanjang bulat.


Kaum laki-laki lah yang begitu bersemangat. Mereka bersorak-sorai, menepuk tangan dan menghentak-hentakkan kaki ke tanah. Semuanya bertelanjang dada dan bercawat.

__ADS_1


Warga kampung ini membentuk lingkaran yang tak sempurna mengelilingi sebuah dua orang laki-laki yang sedang saling berhadapan. Itulah sebuah gelanggang pertarungan yang hanya dibatasi oleh kumpulan orang.


Pertandingan yang dilakukan ini sebenarnya adalah bagian dari budaya masyarakat tidak hanya kampung ini, tapi juga menyebar sampai ke seluruh wilayah Ayutthaya, bahkan Burma, Kamboja dan tanah orang-orang Lao.


Jenis tanah di kampung ini adalah tanah liat. Bagi para petarung, jenis tanah untuk sebuah pertandingan satu lawan satu yang resmi, bukannya pertandingan jalanan, mengetahui jenis tanah sangatlah penting untuk menentukan cara bertarung pula.


Di tanah yang liat, gerakan silat Muay Boran orang-orang Siam ini akan terbatas terutama di serangan-serangan tinju dan sikutan. Tanah yang padat lah yang paling dipilih para petarung, terutama dengan gerakan kaki yang cepat. Ada pula pertarungan di daerah pesisir dengan pasirnya. Para petarung akan bergerak dengan sangat hati-hati.


Mereka juga bisa mengharapkan para pelancong atau musafir yang ingin mendapatkan hiburan. Malah tidak jarang pelancong itu juga ikut meramaikannya dengan menjadi salah satu petarungnya.


Namun, dari sekian alasan kebiasaan ini dilakukan, salah satu yang menjadi pertimbangan mereka adalah perhatian dari kerajaan Ayutthaya atau para tuan tanah yang kaya agar bisa dipertimbangkan menjadi prajurit, tukang pukul, atau jawara. Dengan ini para petarung akan menaikkan derajat mereka.


Tapi tidak begitu dengan seorang petarung, pendekar Siam bernama Arthit. Ia tak peduli dengan semua itu. Yang ia inginkan adalah bertarung. Dari puluhan pertarungan yang pernah ia jalankan, ia hanya sekali kalah. Itupun terjadi pada waktu ia masih muda dan bermodalkan kenekadan. Sisanya, benerapa kali bahkan musuh di dalam gelanggangnya harus tewas di tangannya.

__ADS_1


Semua orang sudah paham dengan tujuan dan kehebatannya. Ketika Arthit hadir mengikuti pertarungan, para warga tidak bertaruh siapa yang menang. Namun, berapa lama lawannya bertahan, hidup atau mati, atau serangan dengan jurus apa yang dapat membuat musuhnya terjengkang kalah. Entah sikut, tinju, lutut, tendangan, atau bantingan serta kuncian.


Arthit memang merupakan seorang adibintang pertarungan antarkampung yang melanglangbuana. Ia bahkan memiliki gelar dan julukannya sendiri. Yaitu Muay Paak Klang atau si petarung silat Muay Boran aliran Tengah. Ini karena memang jurus-jurusnya sangat berciri khas sehingga membedakannya dengan silat Mauy Siam lainnya.


Konon, laki-laki berumur dua puluhan itu mempelajari ilmu silat Muay ketika ia sempat berbakti pada kerajaan Ayyuttha di bawah kemaharajaan Prasat Thong yang telah dimulai sejak tahun 1600 Masehi sampai sekarang.


Pada masa itulah, Arthit diceritakan mempelajari ilmu silat prajurit Ayutthaya dan menambahkannya dengan beragam gaya dari prajurit-prajurit negara-negara sahabat Ayutthya yang juga kerap berbagi ilmu kedigdayaan dan berlatih bersama. Salah satunya adalah negeri Jepun.


Keliarannya dan kehausannya akan silat Muay Boran membuatnya tak betah di ketentaraan. Ia telah mengalahkan banyak teman prajurit, satu dua prajurit Jepun, orang-orang Burma, Melayu pula. Semua membuatnya sadar bahwasanya ia adalah seorang petarung gelanggang. Maka, ia keluar dari ketentaraan Ayutthaya dan mengabdikan diri sebagai seorang pendekar petarung gelanggang.


Hari ini, suara riuh bergema menyambut kehadirannya. Kampung yang sudah beberapa kali disambanginya ini memiliki bau yang akrab, desah angin yang begitu dikenalnya, termasuk warga, pemuda dan petarung-petarungnya.


Arthit si Muay Paak Klang memandang penuh bersemangat petarung di depannya yang sudah siap dengan kuda-kudanya. Pemuda itu bukan orang kampung ini. Dengar-dengar ia berjalan jauh dari Pattani untuk sengaja menemuinya, menjajal ilmu kanuragannya. Darah Melayu dan Siam Pattani dari sang pemuda bergolak bersemangat menyaksikan lawan yang sudah lama dicarinya itu sudah benar-benar siap menghadapinya.

__ADS_1


__ADS_2