Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kapal Dagang Melayu


__ADS_3

Kakek Keling terbelalak tak percaya dengan semua cerita yang disampaikan Jayaseta dan segenap rombongannya. Jayaseta sendiri tak bercerita banyak, hanya menyampaikan seperlunya. Namun, setiap kepala dalam kelompok, termasuk Ireng dan Siam, menceritakan secara utuh pengalaman mereka yang berkaitan dengan Jayaseta. Bahwa ia adalah seorang pendekar terkenal dan mahsyur, bahwa ia mengalahkan pendekar Jepun, Walanda, Daya, dan sebut saja lainnya. Kemampuan Jurus Tanpa Jurus nya yang khas membuat musuh takluk.


"Dan kau sudah memiliki seorang istri?" bisik sang Kakek guru dari Keling tanah Hindustan itu.


"Dua, kakek, dua ...," jawab Katilapan sembari terkekeh, namun terdiam seketika merasa tak enak ketika melihat lirikan Datuk Mas Kuning.


Kakek Keling sudah bertemu dan berkenalan dengan Dara Cempaka. Jelas ia juga sudah paham - sekaligus terkejut - bahwa gadis manis ini adalah istri Jayaseta serta tujuan mereka ke Ayutthaya negeri orang-orang Siam adalah untuk mengobati racun kutukan yang diderita sang gadis. Keprihatinan bercampur kelegaan karena Jayaseta telah berhasil sembuh, namun kini istrinya yang mengalami hal serupa.


Kakek Keling juga sudah mendapatkan penjelasan tentang Almira yang sedang hamil di Semarang dari Katilapan dan Narendra sebelumnya. Namun tentu saja pembicaraan mengenai 'istri' ini dilakukan ketika Dara Cempaka sedang tidak bersama mereka.


Percakapan para pemuda dan para tetua ini ternyata berlangsung dengan sangat akrab dan penuh dengan lelucon dan beragam berita.


Jung Raja Nio telah menempel di kapal Jala Jangkung. Yang sekarang terjadi adalah Raja Nio mengembalikan tahanan ke kapal yang semula dipimpin oleh Jala Jangkung dan de Paula itu. Sedangkan kapal ini diserahkan oleh para budak dan awak kepada Kakek Keling beserta dua rekan dari Bali nya. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan berlayar kembali ke Nias untuk menyelesaikan beragam permasalahan yang masih menggantung di sana.


"Nampaknya, aku juga akan memiliki pengembaraan di masa tuaku ini, ngger," ujarnya kepada Jayaseta. "Lihat, bahkan si renta Mas Kuning pun tak mau diam di rumah. Walaupun alasannya bahwa ia hendak mengantar cucunya, jelas-jelas dalam hati ia sangat menanti-nanti petualangan yang mengingatkannya pada masa muda," ujar Kakek Keling sembari tertawa.


Percakapan masih terus dilakukan dengan penuh keakraban yang datang tiba-tiba diantara mereka yang beberapa sangat saling mengenal, beberapa belum terlalu, dan beberapa sama sekali tidak saling tahu, sembari awak dan prajurit pengawal jung Raja Nio 'membereskan' beragam hal diantara dua kapal besar tersebut.

__ADS_1


***


Suara dentuman meriam masih sesekali terdengar bersamaan dengan letusan bedil, menggema di udara dan merayap di angkasa.


"Entah berapa banyak korban dan darah tertumpah lagi hari ini untuk segala kekisruhan dalam perihal kekuasaan ini serta berapa lama kita akan saling membunuh," ujar Kakek Keling yang berdiri di samping Jayaseta di tepian kapal sembari memandang jauh ke peperangan di depan mereka, di atas lautan dangkal tersebut.


"Aku tak bisa menjawabnya, Kakek. Tak ada dari satupun kita yang dapat. Apalagi, kedua tangan kita juga berlumuran darah. Kita membunuh semua orang yang kita anggap membahayakan kemanusiaan dan perdamaian. Kita merasa menjadi para pahlawan yang berjuang demi keadilan dan melawan kebatilan. Padahal, bukankah sedari awal semua ini hanya kepentingan pribadi, Kakek?" jawab Jayaseta.


Matahari yang telah mulai senja menyinari kulit legam tembaga Kakek Keling yang tak tertutup dada. Ia terkekeh, "Dari dulu kau masih belum berubah. Rasa bangga dan percaya dirimu sebagai seorang pendekar pilih tanding ternyata masih berjalan beriringan dengan segala keraguan," balas si Kakek Keling. "Tapi, kau sudah dewasa, ngger. Engkau menjadi orang yang melebihi harapan mendiang kakek dan rama mu sendiri. Kau suka atau tidak, kenyataannya, kau dilahirkan dari sebuah keluarga dengan budaya ilmu kanuragan dan kependekaran. Maka, menjadi seorang pendekar digdaya sudah wajar adanya dan mengalir dalam darahmu. Masalah bagaimana jalan dan tujuan hidupmu, itu bukan persoalan lagi. Walau engkau bukan seorang prajurit yang mengabdi pada kekuasaan tertentu seperti ayahmu, pilihan hidup dan jalanmu tetaplah merupakan sebuah keputusan yang didasari atas didikan jiwa pendekar dan ksatria. Maka dari itu, tidak ada yang bisa menyalahkanmu," jelas sang kakek panjang lebar.


"Lalu, kek. Sebenarnya ada urusan apa kakek sampai kembali turun ke dunia persilatan di nusantara yang sedang kisruh dimana-mana oleh perebutan kekuasaan ini?" lanjut Jayaseta.


"Waktu kita tak banyak, Jayaseta. Jung mu harus melanjutkan perjalanan ke Melaka dan aku juga harus memimpin kapal ini menjauh dari medan pertempuran, atau kita akan terlibat masalah pelik negeri dan bangsa-bangsa yang sedang bertikai itu. Oleh sebab itu, singkat saja kujelaskan bahwa secara tak sengaja aku membantu dua pendekar Bali itu untuk melepaskan para budak kapal dari kekuasaan para bangsa bule. Hal itu membawa kami sampai kesini," cerita sang kakek yang memang benar-benar singkat tersebut.


Jayaseta terlihat kecewa dan tak puas dengan penjelasan sang guru. Kakek Keling menggaruk-garuk dagunya yang berjenggot putih jarang dan berkata, "Sudah kukatakan, waktu kita terlalu singkat hari ini. Tapi intinya, semua adalah ketidaksengajaan. Nah, pertemuan kita pun tak direncana sama sekali. Maka aku yakin kita akan berjodoh lagi, Jayaseta. Ketika kelak kita berjumpa lagi, aku akan menceritakan secara utuh dan lengkap semuanya."


Jayaseta menarik nafas kecewa namun juga paham disaat yang bersamaan. Apalagi ia melihat Dara Cempaka berdiri di atas jung Raja Nio menunggu dirinya serta gejolak peperangan kapal-kapal yang masih menguapkan asap bubuk api.

__ADS_1


Jayaseta memeluk erat sang kakek. "Selamat tinggal, kakek. Aku benar-benar bahagia dapat bertemu denganmu walau sejenak. Kakek adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku, merawat dan menjadi guruku ketika aku sudah sebatang kara dan sendirian. Kakek juga memberikanku tujuan hidup. Aku sudah paham bahwa memang mungkin benar jalan hidupku sebagai seorang pendekar, maka tak akan kusia-siakan kemampuan, bakat dan anugrah ini," ujar Jayaseta.


Kakek Keling terkekeh namun terlihat sekali ia juga terharu. "Engkaulah yang membuatku bangga, ngger. Tak kusangka aku memiliki keberuntungan memiliki murid sehebat dirimu, Jayaseta, sang Pendekar Topeng Seribu. Tidak hanya aku, mendiang kakek dan rama mu, bahkan ibumu di surga juga pasti bangga, ngger."


***


Kapal-kapal nelayan sudah lama menjauh dari medan perang. Mereka bersauh di berbagai titik yang aman dari terjangan pel*or besi meriam atau mimis bedil. Sudah seharian kapal-kapal nelayan tak mau ambil akibat untuk berlayar ke laut lepas. Begitu juga terlihat beberapa perahu atau kapal dagang Melayu yang berciri dua atau tiga tiang, lambung perahu yang berpasak, kemudi kembar dan lunas.


Kapal-kapal dagang Melayu itu serupa dengan beberapa jenis jung Jawa. Bedanya, bila jung-jung Jawa dibuat dari kayu jati dari kawasan Rembang dan kayu-kayu pulau Tanjung Pura, kapal-kapal dagang Melayu ini dibuat dengan kayu jati asal Burma dan Ayutthaya serta dikerjakan tukang-tukang dari Pegu.


Salah satu kapal dagang Melayu yang diam bersauh itu adalah kapal yang dibuat di galangan kapal di Martaban, bandar Pegu untuk penjualan besar-besaran kayu jati Burma. Martaban juga memasok banyak jung-jung terbesar di nusantara bagi para saudagar Melaka. Bisa dipastikan, kapal dagang Melayu buatan galangan Martaban Pegu ini juga merupakan milik salah satu saudagar Melaka.


Namun, kapal ini bersauh bukan untuk melintas, melainkan rehat dan memperhatikan peperangan yang berlangsung sejak pagi tadi. Para pedagang dan pengusaha di atas geladak nya rupa-rupanya ingin ikut memahami apa yang sedang terjadi. Mereka berpikir akan memahami dengan lebih baik keadaan pertikaian antar bangsa di semenajung Malaya ini agar dapat memutuskan kebijakan yang penting bagi usaha dagang mereka.


Tak heran, mereka adalah para pedagang dari pulau Jawa, tepatnya yang berangkat dari Betawi hendak ke Melaka. Mungkin hanya Sasangka yang gerah dan tak sabaran menunggu kapal untuk menarik jangkar dan segera pergi dari tempat itu ke tujuan utamanya, Melaka, meski pada dasarnya ia berangkat sebagai seorang saudagar dan pengusaha arak dari Betawi.


Tak lama kelegaannya datang mengguyur bagai air hujan ketika kapal dagang Melayu itu menarik jangkar dan melanjutkan perjalanan. Kapal yang ditumpangi Sasangka berjarak setengah hari dengan jung Raja Nio yang juga berlayar ke arah Melaka, tepat di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2