Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lumpur


__ADS_3

Jayaseta terbangun. Tubuhnya setengah terangkat. Ia masih mengecap rasa karat darah di mulutnya. Tak lama kiriman rasa sakit dari seluruh bagian tubuhnya sampai ke otak melalui syaraf-syarafnya.


Ia mendengus dan menggeliat.


Satu tangannya melingkar di bahu Dara Cempaka. Ia sedang dipapah.


"Dara ... Berhenti!" ujarnya segera.


Dara Cempaka terkejut melihat Jayaseta telah bangun. "Abang ... Abang Jayaseta telah sadar?"


"Aku tidak apa, Dara. Tidak perlu memapahku. Engkau sendiri sedang terluka," jawab Jayaseta sembari melirik ke arah bahu Dara Cempaka yang masih berdarah.


"Tapi kita harus segera merawat abang. Kita harus kembali bertemu Datuk agar abang dapat segera diobati."


"Aku rasa itu bukan keputusan yang baik, Dara. Datuk sudah dalam penanganan para prajurit dan orang-orang yang ada di sana. Kita akan merepotkan Datuk kembali bila kita memaksakan diri pulang ke rumah Datuk."


Dara Cempaka terdiam. Ia belum melepaskan lengan kokoh Jayaseta yang masih melingkar di bahunya. Kedua wajah mereka sangat dekat, membuat wajahnya sendiri memerah. Tapi kali ini Dara Cempaka melawannya, ia tak membuang muka karena malu, sebaliknya ia sedang menikmati wajah tampan Jayaseta yang basah, penuh lumpur dam cipratan darah tersebut.


"Tunggu sebentar, Dara," ujar Jayaseta. Ia melepaskan lengannya di bahu mungil Dara Cempaka.


Jayaseta kemudian berjalan tertatih-tatih mencari sesuatu.


Di satu pojokan di bawah rerimbunan batang anak-anak pohon, Jayaseta memungut cindai ternoda yang sempat ia jadikan topeng penutup mulut sekaligus senjata.


Ia kemudian berjalan lagi, memungut potongan kepala Karsa yang berdarah, berlumpur dan basah. Jayaseta membungkus kepala itu dengan cindai milik Dara Cempaka. "Maaf, Dara, cindaimu kupakai. Akan kuberikan cindai baru untukmu kelak. Kepala orang ini akan kubawa dan akan kubakar nanti setelah kita bisa menemukan atau membuat api. Ia terlalu bahaya. Aku tak yakin ia benar-benar mati. Aku harus membawa kepala ini untuk jaga-jaga," ujar Jayaseta.


Dara Cempaka menahan nafasnya, mengatur rasa mual di dalam perutnya. Namun kemudian, sejenak saja, ia sudah dapat mengatasinya.


"Lalu, kita akan kemana, abang?"


"Engkau ikut aku ke jung, Dara. Kau tak keberatan, bukan? Kita akan meminta pertolongan, istirahat sejenak di sana sembari memeriksa keadaan temanku pula, tuan nakhoda, yang sempat diserang dan dilukai Karsa," ujar Jayaseta sembari menatap Dara Cempaka. Gadis itu sendiri melihat tatapan sang pendekar seakan ingin mengatakan, "Adik akan ikut kemanapun kakang menginginkannya," namun tentu saja ia tak berkata demikian.


"Baiklah kakang. Adik rasa itu rencana yang tepat. Lagipula, pasti di rumah Datuk keadaan sedang menghebohkan," tiba-tiba Dara Cempaka seperti teringat sesuatu. Ia menepuk keningnya. "Ah, bodoh sekali aku," ujarnya pada diri sendiri.

__ADS_1


"Abang, adik nanti akan menceritakan beberapa hal kepada abang. Datuk juga sudah meminta bila terjadi sesuatu kepada abang, terutama karena abang sudah dengan terpaksa menggunakan tenaga dalam, kita harus pergi bertemu Temenggung Beruang, sahabat lama Datuk."


Jayaseta tentu menjadi penasaran. Namun rasa sakit kembali menyerang tubuhnya. Ia jatuh berlutut.


"Abang! Abang kenapa?" jerit Dara Cempaka.


Jayaseta mengangkat tangannya mencegah Dara Cempaka. "Aku tak apa, Dara. Mari, kita harus pergi ke jung tempat aku dahulu berlayar dari pulau Jawa."


Dara Cempaka kali ini tak mengindahkan larangan Jayaseta untuk menolong dan mendekatinya. Ia langsung meraih lengan pendekar muda itu, kemudian merangkulkannya di bahunya sedangkan tangan Jayaseta yang satunya menggenggam kepala Karsa berbungkus cindai berdarah.


Jayaseta juga tak menolak. Ia memang merasakan akibat yang cukup menyita tenaganya. Tenaga dalam yang ia lontarkan adalah pantangan yang jelas tak boleh ia langgar.


"Mengapa abang harus mengeluarkan tenaga dalam ketika melawan kakek pendekar itu tadi?" tanya Dara Cempaka kepada Jayaseta sembari memapahnya.


"Aku terpaksa menggunakan tenaga dalam untuk mengalahkannya, Dara."


"Tapi, kita masih belum tahu akibat yang terjadi pada tubuh abang, terutama karena rajah bunga Kenanga sudah ditorehkan ke tubuh abang. Bahkan Datuk berpesan kepada adik dengan sungguh-sungguh bahwa jangan sampai abang menggunakan ilmu tenaga dalam tersebut."


"Aku harus menggunakannya, Dara. Aku memang tidak tahu seberapa buruk akibat dari penggunaan tenaga dalam itu. Tapi, aku tak bisa membiarkan Karsa melukai siapapun karena diriku, terlebih bila orang-orang itu adalah orang-orang penting bagiku."


Dara Cempaka merasa konyol. Bisa-bisanya disaat yang seperti ini ia memikirkan perasaannya kepada Jayaseta serta merasa girang karena ada setitik perasaan dan kepedulian pendekar muda nan sakti itu kepada dirinya.


"Dara ...," Jayaseta membuyarkan lamunan Dara Cempaka yang sejenak membawanya terbang ke angkasa, menembus lapisan semesta.


"Ah ... Iya, abang ...."


"Aku mendengar kau tadi menyebut nama Temenggung Beruang. Siapakah dia?"


Dara menarik nafas. Luka di bahunya tak terlalu terasa lagi, padahal ini juga sedang memapah Jayaseta.


"Ia adalah sahabat Datuk Mas Kuning di masa lalu. Ia adalah kepala suku kelompok suku Daya yang bertempat tinggal di pedalaman pulau ini, tepat di tepi sungai di dalam sebuah benteng dari kayu ulin. Butuh beberapa hari untuk bisa sampai ke sana dengan perahu atau kapal sungai."


"Lalu, mengapa Datuk berpesan kepadamu untuk membawaku ke sana? Mengapa bukan Datuk sendiri yang mencoba kembali mengobatiku bila memang akibat kenekadanku menggunakan tenaga dalam dalam masa pemulihan ini menjadi parah?"

__ADS_1


"Untuk perihal itu, adik juga terus terang tidak tahu-menahu, abang Jayaseta. Namun permintaan Datuk pasti memiliki maksud tertentu. Hanya saja, adik jelas paham bahwa para prajurit Daya yang menyerang kita berasal dari suku Daya musuh warga kampung suku yang dikepalai oleh Temenggung Beruang."


Jayaseta mengangguk-angguk, mulai mencoba mengerti keadaan yang ada.


"Adik juga kemudian penasaran, mengapa mereka keluar dari pedalaman ke pesisir. Ada keterlibatan kakek pendekar yang telah abang bunuh dan potong kepalanya itu," ujar Dara Cempaka sembari melirik ke arah buntalan kepala di dalam cindai berdarah nya.


"Ya, Dara. Sudah bisa kupastikan mereka memiliki rencana dan kesepakatan tertentu yang berhubungan dengan suku Temenggung Beruang, Karsa, serta Datuk Mas Kuning. Untuk menjawabnya, memang engkau harus mengantarkanku kepada Temenggung Beruang itu sendiri, Dara. Kita jangan usik sang Datuk dahulu sementara ini."


Dara Cempaka tersenyum. Ia sama sekali tak keberatan mendapatkan perintah membawa Jayaseta kepada Temenggung Beruang. Padahal, saat itu, Jayaseta sama sekali tidak memikirkan dan tak mengetahui seberapa berat dan lama perjalanan yang akan mereka tempuh. Bahkan untuk seorang Jayaseta, perjalanan tersebut akan menjadi salah satu tantangan terbesarnya.


Dara Cempaka, seorang gadis muda nan manis, dengan kulit putih terawat, meski memiliki keberanian luar biasa, sifat keras kepala dan bekal ilmu silat yang lumayan, tetap adalah seorang perempuan yang sama sekali belum mengenal petualangan dan kerasnya kehidupan di luar sana.


Kelak, Jayaseta akan mati-matian melawan perasaan bingung, dan kegundahan yang luar biasa. Namun, sekarang ia belum sampai pada pikiran semacam itu. Ia toh juga belum mengenal bagaimana pulau Tanjung Pura ini sebenarnya.


***


Prajurit Daya itu bangun tiba-tiba. Tubuhnya terluka di bagian dalam. Entah berapa tulang yang patah, termasuk tulang pipi di wajahnya akibat dijejak oleh lawannya, si Pendekar Topeng Seribu dari pulau Jawa yang ternyata memang sakti itu.


Tubuhnya terbenam di lumpur berair tanah berawa. Meski rasa sakit menyebar ke segala arah, ia ternyata memang masih hidup.


Dengan sekuat tenaga ia berusaha bangkit.


Dilihatnya sekeliling. Dalam gelap ia berhasil melihat tubuh Karsa yang sudah tanpa kepala, serta tubuh kedua prajurit sekampungnya dengan leher terbuka lebar, terkoyak sehingga mengirkan darah tak henti-henti.


Sang prajurit Daya ini mendengus. Ia mendekati tubuh Karsa dan memeriksanya. Ia heran karena tak menemukan kepala pendekar tua tersebut. Ia sadar betul bahwa yang mereka hadapi tadi bukanlah seorang dari suku Daya pengayau yang mengambil kepala musuh sebagai bentuk dari kebiasaannya.


Lalu kemanakah kepala Karsa Sang Penyair Baka?


Ia menggelengkan kepalanya. Gerakan itu malah membuat tubuhnya kembali sakit.


Ia memutuskan untuk menggotong tubuh Karsa dan membawanya pergi.


Malang baginya, setiap gerakan, termasuk mengangkat tubuh tanpa kepala itu merupakan penderitaan karena rasa sakit di bagian-bagian tubuhnya menjerit-jerit.

__ADS_1


Ia berteriak tertahan dalam gelap, namun tetap membawa pergi mayat Karsa langkah demi langkah.


__ADS_2