
Suku Thai di negeri Siam adalah suku terbesar dan utama di sana. Awalnya mereka adalah penutur bahasa Tai uang tinggal di pegunungan sebelah selatan sungai Yangtze, Yunnan di Cina. Itu sebabnya, bahasa suku Thai memang telah dikenal sejak abad ke-6 Sebelum Masehi. Di Cina sana, awal mulanya, kelompok-kelompok suku Tai yang tersebar di beragam tempat ini dipimpin oleh tuan tanah-tuan tanah yang kuat dan berkuasa.
Pada abad ke-7 Masehi, pada masa kerajaan Nanzhao yang berkembang pesat, kerajaan ini
berbenturan dengan wangsa-wangsa Cina. Terjadilah pertempuran dan gesekan terus-menerus di masa ini. Maka, orang-orang suku Tai keluar dari Yunnan menuju ke Burma dan daerah hulu sungai Mekong. Orang Tai yang sampai di Burma disebut dengan nama orang-orang Shan, sedangkan yang sampai di daerah sungai Mekong bernama orang-orang Lao. Tidak sampai disitu, orang-orang Tai yang sampai di wilayah Đại Việt disebut Tai Dam atau Tai Hitam, Tai Deng atau Tai Merah, Tai Khao atau Tai Putih serta Nung. Namun, sebagian besar bangsa Tai sampai di bagian utara wilayah kerajaan Khmer. Di sanalah, ketika bangsa Tai mengalahkan orang-orang Khmer dan membentuk kerajaan Sukhothai, mereka menyebut diri mereka sebagai orang-orang Thai.
Empat orang laki-laki suku Thai Siam, berjalan setengah hari dengan tujuan untuk berburu. Mereka sebenarnya tidak terlalu jauh dari perkampungan mereka, tetapi juga tidak bisa dikatakan dekat, karena perkampungan dimana mereka tinggal cukup tertutup dari pandangan pelancong. Terutama lagi karena kampung mereka masuk ke pedalaman dan
tidak berada di tepi sungai. Saat itulah, tak jauh dari darimana mereka berjalan, mereka melihat rombongan orang asing dengan bahasa yang tak mereka kenal.
“Engkau benar-benar menghabisi mereka semua, tuan Jayaseta?” tanya Siam, tanpa tahu ada
__ADS_1
empat orang yang memerhatikan mereka.
Kini rombongan yang terdiri dari Jayaseta, Dara Cempaka, Siam, Ireng, Narendra dan Katilapan itu sedang menyusuri hutan di tepian sungai negeri Siam. Jayaseta kini sudah begitu lega karena kedua telapak kakinya telah menyentuh tanah setelah terlalu lama berada di atas air.
Jayaseta memandang ke arah Siam. “Sebisa mungkin aku harus membunuh mereka. Dengan begitu, rahasia apapun, kelompok manapun yang mengejar kita akan kehilangan arah, paling tidak untuk sementara. Ingat, tujuan kita adalah untuk mencapai Ayutthaya sesegera mungkin. Bahkan ketika kita sampai ke tujuan pun, rasa-rasanya tidak akan mudah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan,” ujar Jayaseta. Tangannya menggenggam tangan Dara Cempaka erat. Dara Cempaka memahami pemikiran suaminya
tersebut.
Siam mengangguk.Ia semakin sadar dengan siapa ia berkelana.
“Malam sudah akan datang, sedangkan kita masih belum sampai di perkampungan warga. Namun, kita juga tetap harus pergi sejauh mungkin dari bekas pertempuran tadi. Bagaimanapun kita juga tetap harus beristirahat dan mencari tempat untuk berlindung,” ujar Siam.
__ADS_1
Semua setuju, tetapi mereka masih berjalan beberapa jauh lagi sampai menjelang petang. Saat itulah mereka menemukan sebuah tempat di bawah bukit. Ada semacam ceruk seperti gua yang terlindung dari langit bilama hujan, tetapi juga berada di tempat yang
tidak terlalu rendah. Pepohonan besar melindungi tempat ini dari binatang buas atau paling tidak melindungi dari pemandangan musuh.
Di sanalah saat ketika beberapa orang dari suku Thai melihat kedatangan orang-orang asing tersebut. Orang-orang Thai tersebut berasal dari sebuah kampung tersembunyi yang memang tidak begitu ramah terhadap orang asing. Setengah hari perjalanan bukanlah jarak yang cukup jauh bagi kampung mereka untuk diketahui oleh orang
lain. Dan ini menjadi sebuah hal yang cukup berbahaya bagi tempat tinggal mereka.
Mau tak mau, keempat laki-laki Thai dengan perlengkapan senjata untuk berburu yang juga
sangat mampu untuk membunuh manusia itu berjalan mengendap-endap mendekati rombongan Jayaseta untuk melihat mereka dengan lebih jelas.
__ADS_1