
Berhari-hari jauh jaraknya dari pepohonan dimana Jayaseta terpaksa melarikan diri bersama Dara Cempaka dari kejaran para pengayau dan Karsa Sang Penyair Baka, melewati hutan belantara dan rimba raya serta aliran sungai yang berkelok-kelok, berdirilah sebuah perkampungan orang-orang dari sebuah suku pedalaman Tanjung Pura.
Dari luar saja jelas terlihat bahwa tempat ini bukan perkampungan suku Daya biasa.
Berdiri di tepi sungai, dikelilingi benteng yang didirikan dari batang-batang kayu ulin yang ditancapkan ke tanah, disusun rapat-rapat menyerupai pagar keliling yang begitu tinggi, mungkin lima kali tinggi laki-laki dewasa. Ada pula menara pengintai di sudut-sudut benteng tersebut.
Ada beberapa pintu masuk yang letaknya agak di atas, sehingga hanya bisa dibuka dengan meniti tangga kayu yang panjang.
Ada patung-patung macan dahan serta wajah raksasa berwujud seram dengan sepasang mata melotot dan lidah panjang terjulur. Kedua sosok ini menjadi penjaga pintu masuk dan penghalau hal-hal buruk. Mereka adalah penghadang ilmu gaib musuh.
Sungai lebar yang airnya mengalir deras di depan benteng ini tetap menunjukkan kegiatan para warga kampung yang menggunakan perahu dan sampan untuk keperluan dan sarana perjalanan serta kegiatan sehari-hari, seperti mencari ikan atau pergi berburu ke tempat lain.
Pepohonan kelapa menjulang di berbagai tempat, diselingi dengan pepohonan pisang dan lainnya yang berdaun rimbun.
Jenis benteng ini juga memiliki beragam nama, salah satunya disebut Kuta, istilah dalam bahasa orang-orang Biaju di bagian Tengah pulau Tanjung Pura.
Di dalam benteng inilah penduduk desa tinggal berdiam di rumah-rumah betang, jejeran rumah yang dibangun tinggi di atas tanah dan memanjang, sehingga memungkinkan beberapa kepala keluarga yang biasanya masih berkerabat meninggalinya.
Di depan rumah betang ini terdapat kuburan nenek moyang berupa rumah panggung kecil, berisi tulang-belulang tokoh yang warga kampung hormati.
Budaya memiliki benteng ini sudah ada ratusan tahun yang lalu. Salah satu benteng Kuta tertua orang Biaju, yaitu Kuta Mapot telah berdiri sejak abad ke-4 Masehi.
Itu sebabnya, warga Daya ini juga sangat memiliki kehidupan pertahanan yang terpola. Misalnya saja bahwa sumber makanan tersedia si lambung di dalam benteng serta ada bangunan kecil berisi para pejuang, prajurit, penjaga kelompok masyarakat di dalam benteng itu sendiri.
Ada puluhan bahkan ratusan perkampungan berbenteng tersebar di pedalaman pulau Tanjung Pura yang sudah dihuni sejak abad ke-12 sampai abad ke-15 Masehi.
Kampung-kampung berbenteng ini ada karena masa peperangan antar suku yang besar. Banyak orang terbunuh dan melarikan diri mencari selamat, kemudian menemukan hunian baru serta membikin tempat perlindungan sendiri kembali.
__ADS_1
Terlihat selain warga yang hilir mudik dari berburu, mencari ikan dengan perahu-perahu mereka serta berladang, beberapa pemuda menjaga benteng.
Seperti semua suku pedalaman Tanjung Pura, tubuh mereka penuh dengan rajah. Mereka menggenggam tombak di tangan kanan, Parang Ilang, atau dikenal juga sebagai Do, menggantung di pinggang. Tangan satunya memegang Klebit Bok, sebuah perisai kayu bersegi enam setinggi pinggang diukur dari kaki.
Baik Do maupun perisai mereka dihiasi tempelan rambut manusia yang diambil dari korban pertarungan yang berhasil mereka bunuh dan tewaskan. Ini berguna untuk menambah kesaktian, kepercayaan diri, derajat dan menciptakan rasa takut pada musuh.
Salah satu dari penjaga itu adalah putra kepala suku bernama Punyan.
Pemuda ini bertubuh jangkung dan ramping. Otot-otot tubuhnya ditutupi beragam rajah.
Rajah orang-orang suku asli pulau Tanjung Pura ini memang sudah menjadi budaya sejak tahun 1500 sampai 500 Sebelum Masehi.
Bagi suku Punyan, rajah ini disebut sebagai Pantang. Ia sendiri memiliki pantang bergaya tegulun di buku-buku jarinya, tanda ia pernah turut mengayau atau membunuh musuh dengan memenggal kepalanya.
Ada pula pantang bunga terung di kedua bahu bagian depannya sebagai tanda kedewasaan, keberanian, kekuatan dan kejantanan. Pantang uker degok berbentuk bulat memanjang dirajah dari pangkal leher bagan depan hingga bagian bawah dagu menjadi citra diri anggota sukunya.
Rajah-rajah lain menghiasi seluruh tubuhnya dengan beragam pemaknaan dan tujuan.
Sudah berhari-hari sang ayah atau apai dalam bahasa Iban, kepala suku, yang digelari Temenggung Beruang, berdiam di tempat semedinya, di sebuah gua batu di dalam hutan rimba belantara.
Sang apai mengatakan bahwa ia bermimpi bertemu dengan para tetua nenek moyang suku mereka, yaitu Iban dan Bidayuh, yang tinggal di desa Tampun Juah, tempat asal muasal suku mereka berasal ratusan tahun yang lalu. Para tetua ini mengatakan bahwa akan ada orang penting yang hadir di pulau Tanjung Pura ini.
Namun, sang apai juga mengatakan bahwa akan ada kekacauan cukup besar yang melanda beragam suku pedalaman menyangkut sejarah panjang pertumpahan darah, kekuasaan dan harkat hidup masyarakat banyak. Ini juga melibatkan kedatangan tokoh penting itu.
Masalahnya bagi Punyan, sang apai sudah terlalu lama berdiam di dalam gua keramat tersebut, sedangkan beberapa hari terakhir tercium tanda-tanda penyerangan kembali dari suku-suku diluar perkampungan.
Saat ini sudah mulai musim perang dan pengayauan.
Banyak suku yang sudah masuk masa berpanen di ladang mereka. Kebutuhan untuk mengayau sangat penting sebagai bagian dari upacara syukur. Selain itu pemuda-pemuda Daya juga sudah dewasa. Pergi dari perkampungan mereka mencari lawan untuk dibunuh dan kepalanya dibawa pulang. Ini untuk syarat kedewasaan dan keberanian mereka, walaupun tidak jarang mereka sendiri yang tewas dikayau suku lain yang membela diri atau juga memiliki tujuan yang sama.
__ADS_1
Kadang-kadang warga kampung yang berladang harus berlari pulang ke benteng kayu ketika melihat sekelebat sosok-sosok yang bukan berasal dari kampung mereka.
Kalau sudah begini, mau tak mau para penjaga harus berkeliling ke segala penjuru mata angin dengan senjata lengkap, bertiga-tiga bahkan berlima-lima, untuk mencari tahu siapa gerangan orang yang mengusik ketentraman kampung.
Punyan seketika melihat wajah para prajurit mendadak cerah. Mereka melihat ke arah balik punggung Punyan.
Tak perlu diberitahu lagi, Punyan berbalik memandang ke belakang.
Ada Temenggung Beruang berdiri di sana. Tubuhnya kecil, namun orang akan gampang saja tertipu dengan penampilannya.
Tubuhnya meski tua, tak bungkuk dan wajahnya hanya sedikit berkeriput. Orang dapat mengetahui bahwa ia sudah tua mungkin hanya dari rambutnya yang sudah memutih, panjang, mencuat keluar dari balik penutup kepala burung enggang gading yang telah diawetkan. Ia mengenakan kalung dengan biasa cakar macan dahan dan beruang. Di sebatang tombak yang ia genggam, menggantung sebuah tengkorak kepala manusia.
***
Jayaseta masih merasa konyol dan pengecut karena harus berlari seperti ini. Tapi ia juga mengakui tubuhnya tak bisa digunakan dengan baik. Karena sudah mempelajari ilmu silat untuk memahami tubuhnya dengan baik, ia paham benar bahwasanya ada bagian-bagian tubuhnya yang sedang rehat dan akan sulit digunakan ketika bertempur.
Di sisi lain, ia juga merasa malu kepada Datuk Mas Kuning karena ternyata ilmu kesabarannya sama sekali belum meningkat.
Ia sedang dalam keadaan tak bisa menahan diri. Dulu ... Dulu sekali, ia merasa bangga memiliki perasaan peka terhadap kejahatan dan kesewenang-wenangan. Ia dengan ringan tangan akan membantu siapa saja yang kesusahan dan berusaha melawan kebatilan.
Tapi setelah belajar silat Melayu ini, ia harusnya sudah sadar dan paham bahwasanya palagan tidak selalu menjadi jalan keluar. Pengorbanan menjadi salah satu cara untuk menahan kesombongan diri. Kesombongan dan ketidaksabaran menutupi kelemahan diri.
Jayaseta mengerti bahwa ada kemungkinan bahwa ia bisa saja kalah dalam pertarungan ini. Bila ia tak mau mengakui ini, maka akan ada banyak permasalahan kembali.
Apa gunanya pengorbanan Datuk Mas Kuning dan Dara Cempaka, bila toh bukannya sembuh dari luka, ia malah tewas?
Jayaseta masih sibuk dengan pikirannyaa sendiri ketika ia harus berjumpalitan di tanah saat kepekaan kependekarannya merasakan sebuah benda terlempar ke arahnya.
Sebuah Do mencap di batang pohon setelah Jayaseta berhasil menghindar.
__ADS_1
Dara Cempaka menghentikan larinya.
Kini baik Dara Cempaka maupun Jayaseta berdiri berpunggung-punggungan melihat empat sosok yang mengejar mereka muncul dari balik gelap. Saking gelapnya malam itu, bahkan yang terlihat dari Karsa Sang Penyair Baka hanya kedua putih bola matanya yang perlahan memerah oleh semangat membunuh.