Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kotak Kayu


__ADS_3

Siam, Ireng dan Datuk Mas Kuning sudah jauh-jauh hari mempersiapkan segala sesuatu. Ketiga nya lah yang paling getol merencanakan, membahas dan akhirnya melatih rombongan untuk menjalankan pemikiran tersebut.


Kittisak dan sisa pasukan Siam yang tak dapat ditemui Dewa Langkah Tiga dan para pendekar Melayu Kedah, ternyata mempersiapkan diri mereka di beberapa titik perbatasan. Mereka menjaga jembatan penyebrangan di atas sungai tempat orang-orang, baik warga asing maupun Ayutthaya berlalu lalang.


Pemeriksaan dilaksanakan dengan cukup ketat dan terukur. Ketegangan antar negeri Siam dan Melayu itu membuat pasukan Siam menjaga perbatasan, bukan dari orang-orang Melayu, tapi lebih kepada orang-orang mencurigakan yang hendak mengganggu dan memperparah keadaan serta merongrong kejayaan Ayutthaya.


Misalnya saja, keberadaan berita dan kabar angin mengenai sosok Pendekar Topeng Seribu yang terlihat di beragam tempat itu sangat membingungkan. Tidak ada yang tahu pasti apa tujuan pendekar tak dikenal itu. Sepak terjangnya di benteng Malaka membantai para penyusup dari pihak Walanda Betawi serta paling baru adalah penyerangannya pada pendekar-pendekar Siam yang mengabdi pada Khun Wanchay na Ayyutthaya, seakan-akan menempatkan dirinya di pihak Melayu Kedah.


Namun, apakah itu sejatinya? Kittisak tak bisa menyimpulkan apapun, yang jelas, sebagai salah seorang punggawa kerajaan Ayyuthaya yang memiliki tanggung jawab di salah satu sudut perbatasan kedua negara, ia harus siap dengan beragam kemungkinan, termasuk menjaga kedatangan sang pendekar tersohor tersebut.


Lima orang prajurit Siam bersenjatakan pedang ganda di punggung sedang memeriksa orang-orang yang melewati sebuah jembatan di atas sebuah sungai. Memang wilayah itu sebenarnya sudah masuk bagian dari kerajaan Ayutthaya, hanya memang belum jauh dari daerah Kesultanan Kedah.

__ADS_1


Siam dan Ireng berada di depan rombongan. Dengan sebuah gerakan yang terlihat luwes dan alami, Siam langsung saja mendekati para prajurit tersebut.


Di belakang kelima prajurit Siam Ayutthaya yang sedang memeriksa setiap orang yang hendak melewati jembatan tersebut ada beberapa bangunan kayu darurat yang nampak baru dibangun. Bangunan-bangunan kayu tersebut ditempati oleh banyak prajurit lagi yang sedang rehat dan bergantian berjaga. Ada beberapa ekor kuda yang ditambatkan, serta Kittisak sang punggawa yang selalu berdiri dan berjalan mondar-mandir memerhatikan kegiatan penjagaan ini.


"Ah, saudaraku, para prajurit Ayutthaya yang agung. Ada apa gerangan sehingga tidak seperti biasanya selama bertahun-tahun ada pemeriksaan seketat dan semacam ini di Ayutthaya?" tanya Siam tentu dalam bahasa Siam.


"Kau orang Siam, hah? Bagaimana bisa kau tak tahu ada masalah apa selama ini? Lagipula kau sedang dari Kedah, bukan?" balas salah satu prajurit Siam yang berpakaian serba merah tersebut.


Jelas-jelas bahkan kelima prajurit Siam itu mendadak tertarik ketika mendengar kata 'Tanjung Pura'. Namun, tentu mereka menyembunyikan rasa tertarik itu sebaik mungkin.


"Ah, kau dari Tanjung Pura? Lalu apa yang kau bawa dari sana untuk diperdagangkan?" tanya salah satu prajurit lainnya.

__ADS_1


Ireng maju ke muka. Seperti yang lain telah ketahui, Ireng juga nyata-nyata mampu berbahasa Siam, walau tidak sempurna.


Ia meletakkan buntalan kain yang berlapis kulit nya ke tanah, kemudian membukanya.


Ada sebuah kotak kayu dilapisi logam yang indah. Ketika kotak kayu itu dibuka, raut wajah para prajurit sudah tak bisa ditutupi lagi. Pesona keindahan senjata di dalam kotak itu membutakan mereka.


Ada beberapa bilah keris bergaya Jawa dan Melayu Tanjung Pura. Bahkan ada beberapa belati bergaya Siam dan Cina. Ireng mengambil satu keris Jawa berluk tiga belas dan mencabut dari warangkanya.


Ireng mengangkat keris Mataram yang dibuat dengan bahan campuran logam pulau Tanjung Pura itu dan memamerkannya di depan para prajurit Siam. Mata mereka terbelalak dengan guratan, pamor dan lekukan indah senjata itu.


Harusnya alasan kelompok Siam dan Ireng menjual senjata ke Ayutthaya ini akan berhasil. Para prajurit Siam saja telah terlihat tertarik dengan hasil pandai besi tersebut yang telah disiapkan oleh Datuk Mas Kuning sebelumnya. Harusnya mereka percaya bahwa rombongan ini adalah para pedagang senjata dengan mutu yang baik.

__ADS_1


"Untuk apa kalian menjual senjata-senjata Jawa dan Melayu itu ke Ayutthaya? Apakah kalian berpikir bahwa senjata-senjata orang-orang Siam tidak bermutu sehingga perlu membeli dagangan yang kalian bawa tersebut?" seru seorang prajurit yang muncul mendadak. "Apa kalian tidak berpikir bahwa kami juga memiliki bentuk senjata sendiri dengan mutu dan seni yang lebih tepat dan sesuai dengan kebiasaan serta kesukaan kami?" lanjut sang prajurit.


__ADS_2