
Agama Islam memasuki Champa sejak abad ke-10 Masehi, dimana sebelumnya agama Siwa dari tanah Hindustan memengaruhi kepercayaan penduduknya seperti layaknya di Jawa. Setelah itu, Champa diduduki oleh Lê Thánh Tông, seorang beragama Buddha¸ penguasa kerajaan Đại Việt pula dari tahun 1442 sampai 1497 Masehi.
Namun, setelah serangan Đại Việt tahun 1471 Masehi, orang-orang Champa malah semakin banyak memeluk agama Islam yang datang dari negeri Hindustan maupun perdagangan laut langsung dari tanah Arab. Mungkin ini merupakan bentuk perlawanan terhadap Đại Việt dan jati diri bangsa Champa.
Hanya saja, sama seperti orang-orang Jawa di masa itu, pengaruh agama Siwa masih sangat kuat mengakar di kehidupan mereka. Orang-orang Champa terdiri atas tiga kelompok berdasarkan kepercayaan mereka. Yang sedang mulai tbertambah saaat ini adalah Cham Islam. Kemudian yang kedua Cham Awal yang dikenal dengan Cham Bani dan Cham Akhir atau Cham Siwa. Cham Awal tidaklah menganut Islam secara penuh karena tidak melakukan sembahyang lima kali sehari seprti layaknya umat Muslim pada umumnya, melainkan hanya shalat Jum’at saja. Mereka juga tidak diharuskan berpuasa pada bulan Ramawan, yaitu Ramadhan bagi umat Cham Islam. Hanya imam atau para tetua saja yang berpuasa untuk mewakilinya.
Kepercayaan sudah menyatu menjadi bagian dari jati diri bangsa Champa. Maka, tidak sedikit dari mereka yang menganggap Islam sebagai budaya dibanding agama. Para perompak ini apalagi. Mereka menggunakan kekuatan gelap yang dikenal dalam agama sekaligus budaya Islam dan menggunakannya untuk keperluannya sendiri.
__ADS_1
Jann adalah nama untuk menjelaskan seara umum beragam jenis jinn. Jinn yang digunakan oleh sang pemimpin perompak Champa ini nyatanya memang sudah berkuasa di dalam bumi sebelum manusia sendiri diciptakan. Ketika awal diciptakan oleh sang Maha Kuasa pemilik alam semesta dari api murni tanpa asap, para Jinn beranak-pinak di bumi. Mereka memiliki pemerintahan dan peradaban sendiri, hukum, bahkan agama dan kenabiannya sendiri. Sayangnya, jann menyerang dan menentang jinn-jinn baik diantara mereka sendiri untuk menebarkan kejahatan di muka dunia dan mengganggu seluruh mahluk, sehingga sang Maha Kuasa mengirimkan para malaikat mengambil alih bumi dan menghukum para jinn. Banyak diantara mereka bersembunyi di beragam tempat di seluruh penjuru bumi, atau tertangkap para malaikat.
Itulah yang dijelaskan oleh Zakariya al-Qazwini, seorang alhi falak dari Parsi keturunan Arab yang lahir pada tahun 600 Hijriyah atau 1200 Masehi.
Jann jahanam yang berpaling dari ajaran kebaikan yang Maha Kuasa, yang bersembunyi di sudut-sudut gelap dunia menunggu manusia untuk dijadikan kendaraan mereka menebarkan kejahatan dan kekuasaan atas bumi kembali.
“Ilmu kebalmu hanyalah salah satu dari kegelapan yang wira-wiri di dunia sejak masa manusia belum tercipta. Tidak ada yang istimewa selain perbudakan yang dipinta oleh mereka, wahai sang Champa,” ujar Fong Pak Laoya dalam bahasa Champa yang cukup fasih hingga bisa dipahami oleh sang lawan. Ia meremas kertas kuning yang bertuliskan aksara kuno Cina dari darah, kemudian memasukkan ke mulut dan mencoba menelannya.
__ADS_1
Sang perompak mengerang dengan wajah menggarang. Kalimat-kalimat sang Laoya tidak bermakna baginya, meski ia paham seluruhnya, tiap kata. Kini sudah saatnya bagi sang pemimpin perompak untuk membalas serangan-serangan yang sedari tadi mengenai tubuhnya.
“Kau yang harusnya diam, dukun sialan!” teriak sang pemimpin perompak. Tubuh kecilnya meluncur ke arah Fong Pak Laoya. Pedangnya terentang siap menebas kepala sang Laoya.
Fong Pak Laoya sudah menanti serangan dari perompak dengan ilmu kebal yang didapatkan dari karya para jinn tersebut. Sialnya, sebenarnya mantranya belum selesai dibaca. Ia masih memerlukan beberapa saat untuk mendapatkan hasil terbaik. Namun, apa mau dikata, terpaksa ia mundur jauh dan kembali menggunakan langkah-langkah jurus Tàijíquán nya yang lembut sekaligus tegas di saat yang bersamaan, sembari merapal mantra di dalam hari. Kertas kuning masih berada di dalam mulutnya, belum tertelan.
Satu tebasan liar hampir saja memapras kepala sang Laoya. Dua tebasan menyilang lagi mencoba menggapai perut dan dadanya. Fong Pak Laoya masih saja berusaha menghindar tanpa melakukan serangan balasan. Sebuah pemandangan yang sangat berbeda dengan sebelumnya, apalagi kini sang Laoya telah memasukkan senjatanya kembali ke dalam sabuknya.
__ADS_1
“Apa yang sedang kau lakukan, Laoya. Mengapa kau hanya menghindar? Balas dengan ilmu gaibmu!” seru Yu terlihat cukup khawatir dengan perubahan yang ada. Pratiwi sendiri nampaknya juga sudah mempersiapkan serangannya. Bukan mengapa, tetapi sudah ada tambahan tiga sabetan lagi dari musuh dan sang Laoya hanya berkelit menghindar belaka. Sampai kapan ini akan terjadi?