
Baharuddin Labbiri mengatupkan kedua tangannya di atas kepala. Sebuah cara menghormat yang lebih mirip dengan budaya orang-orang Jawa dibanding Melayu yang biasanya mengatupkan kedua telapak tangan di depan wajah atau dada. Jayaseta membalasnya dengan cara Jawa yang memang lebih akrab dengannya.
Sepasang mata Jayaseta memandang setiap gerak-gerik lawan dengan seksama.
Baharuddin Labbiri mengepalkan kedua tangannya. Mengangkat keatas kepala, kemudian kedua lengannya dengan kepalan itu saling diputarkan sembari perlahan mengangkat satu kaki dan menghempaskan ke tanah. Satu kaki di belakang menyusul diangkat dan seperti sedang melangkah maju, juga dijejakkan ke tanah. Tubuh membungkuk. Kedua kepalan masih saling diputarkan di depan muka atau sedikit di atas kepala. Apakah ini semacam kuda-kuda dan bunga-bunga silatnya? Pikir Jayaseta.
Pandangan Baharuddin Labbiri begitu tajam di sela-sela lengan dan kepalan yang terus berputar, seperti bunga dan kembang-kembang silat. Bedanya, bunga-bunga silat Baharuddin Labbiri ini cenderung berupa kepalan bukannya jari-jari yang terbuka.
Jayaseta baru saja hendak menyerang ketika Baharuddin Labbiri telah lebih dahulu membaca gerakannya. Maka, tendangan menyamping Jayaseta ke arah kepala ditahan dengan mengangkat kedua lengan terkepal yang ditekuk. Tendangan Jayaseta benar-benar tertahan, sedangkan pada saat yang sama, Baharuddin Labbiri membalas dengan sebuah tendangan di sisi yang lain.
Jayaseta tersentak ke samping meski telah sempat menangkis tendangan balasan itu. Para penonton tak berani melakukan apa-apa. Bukan mengapa, meski terlihat Jayaseta mengalami kesulitan dalam serangan awal ini, bukan berarti ia kalah, seperti sebelum-sebelumnya.
"Jangan ragu untuk menggunakan tenaga dalam, Jayaseta. Bukankah kau ingin berbagi?" seru Baharuddin Labbiri.
"Silat apa yang Bapak gunakan sebenarnya?" balas Jayaseta.
"Aku akan katakan setelah kau mampu menahan seranganku ini, Jayaseta," ujar sang Labbiri sembari meluncur maju. Ia menendang ke samping tubuh Jayaseta yang menghindar ke belakang. Tendangan itu lolos, namun tubuh Baharuddin Labbiri berputar, kemudian kembali menyerang dengan sebuah lompatan panjang menyudut ke atas dan menyerang dengan lutunya.
Jayaseta mencoba menepis dengan kedua lengannya, namun merasakan seperti dihantam batu. Ia kembali tersentak ke belakang. Baharuddin Labbiri menggunakan kesempatan ini untuk menjejak lambung Jayaseta yang ternyata mengenai sasaran.
__ADS_1
Jayaseta mundur kembali sehingga Baharuddin Labbiri maju, kemudian berputar untuk memotong jarak karena ia menghantam Jayaseta degan serangan sikunya. Jayaseta menahan siku yang diarahkan ke bagian samping kepalanya dengan tangannya.
Setiap serangan Baharuddin Labbiri benar-benar berat dan bertenaga. tenaga dalam yang ia salurkan nampak-nampaknya juga berasal dari bentuk latihannya. Tendangan silat Baharuddin Labbiri ini begitu cepat dan memiliki beban karena memainkan pinggul, sehingga separuh badan akan ikut bekerja ketika tendangan dilepaskan. Begitu juga dengan serangan tangan seperti siku yang membutuhkan bahu untuk ikut serta.
Bagi para pendekar dalam tingkatan tertentu, memiliki kekuatan luar maupun tenaga dalam yang mampu mematahkan meja dari kayu jati, atau menghancurkan batu menjadi debu adalah hal yang awam. Namun lawan bukanlah kayu atau batu yang tak bergerak. Selain itu, tubuh manusia dapat menahan serangan-serangan kuat tersebut dengan gerak dan jurus tertentu. Begitu pula dengan serangan Baharuddin Labbiri yang tidak hanya cepat, namun juga memiliki beban yang luar biasa berat. Bila Jayaseta tak menghindar, menangkis dan menepis dengan gerak tubuhnya, ia hanya akan menjadi kayu atau batu tersebut.
Baharuddin Labbiri mundur. Kedua kakinya naik turun dan berjinjit-jinjit sedangkan kedua lengannya terus berputar di depan wajah atau atas kepalanya, sedangkan tubuhnya membungkuk dalam gaya bertahan yang khas. "Namanya Silat Tomoi, Jayaseta," ujar Baharuddin Labbiri kepada Jayaseta. Ia menepati janji karena bagaimanapun, Jayaseta dapat menahan semua serangannya dan tak semudah itu ambruk apalagi kalah.
"Kata Tomoi dalam silat ini sebenarnya berasal dari bahasa Siam, Toi Muay, yang kurang lebih berarti silat atau seni pertarungan dengan tangan atau kaki, atau ada juga yang mengartikan degan silat menggunakan tangan yang dililit tali," ujar Datuk Mas Kuning kepada Dara Cempaka. Keduanya memperhatikan jalannya pertarungan dengan sungguh-sungguh. Awalnya sang Datuk memang tak berniat menceritakan mengenai silat tomoi kepada Dara Cempaka. Namun kecerdasan dan rayuan maut sang cucu sulit untuk ditandingi.
"Mengapa pesilat tomoi harus melilit lengannya dengan tali, Datuk?" tanya Dara Cempaka.
Dara Cempaka mengangguk-angguk paham. "Nah, Datuk tadi mengatakan bahwa silat Tomoi awalnya berasal dari silat orang-orang Siam yang dikenal dengan nama Muay Boran, bukan?"
"Ya, Dara. Muay Boran yang berarti seni pertarungan kuno itu sudah ada sejak jaman kerajaan Ayutthaya di abad ke-15 Masehi. Silat ini pun juga sangat mungkin merupakan perkembangan dan pengaruh dari silat-silat serupa sebelumnya dari negeri Khmer. Tapi intinya, berbeda dengan silat Melayu atau Jawa, silat Muay Boran dan beragam jenis aliran serta pecahannya, memusatkan pada serangan-serangan tajam dengan kepalan, sikut dan lutut karena ketiga bagian tubih dari manusia itulah yang paling keras dan dapat membunuh dengan cepat," jelas Datuk Mas Kuning. "Labbiri nampaknya berusaha memperkenalkan Jayaseta dengan silat gaya Siam. Ia tidak sekadar menguji Jayaseta, namun memberikan secuil gambaran tentang apa yang bakal Jayaseta dan kalian hadapi di negeri Siam kelak," lanjutnya.
"Sudah Bapak katakan, Jayaseta. Jangan sungkan menggunakan tenaga dalammu," seru Baharuddin Labbiri. Pandangan matanya bagai anak kecil nakal. Kedua lengannya berputar di depan wajah, sedangkan kakinya bergantian berjinjit.
Bukan hanya Jayaseta, atau Datuk Mas Kuning yang merasa tertarik dengan gaya silat Tomoi ini, bahkan keempat Harimau Gayong Melayu pun terkejut bahwa sang guru malah menggunakan silat dengan pengaruh orang-orang Siam, Khmer atau Burma itu bukannya silat Gayong Melayu. Tapi yang jelas, hal ini membuat keempat murid utama dan murid-murid lain menjadi semakin hormat dengan beliau.
__ADS_1
Jayaseta tersenyum. Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi jenis silat yang berbeda. Ia pernah menghadapi gaya silat Jepun, Cina, atau orang-orang Walanda. Kesemuanya memiliki kekuatan, keunggulan dan kekurangannya sendiri. Bukan masalah apakah seorang petarung menggunakan tenaga dalam, kekuatan luar, ilmu sihir atau kemampuan memainkan jurus, intinya silat gaya apapun harus mampu digunakan dengan baik oleh sang pengguna.
Jayaseta membiarkan tubuhnya melemas, mengijinkan kekuatan semesta bersatu dengannya.
Baharuddin Labbiri akhirnya lah yang pertama memutuskan untuk menyerbu pertama, yang lagi-lagi dengan serangan lutut. Dilanjutkan dengan tinju lurus, tinju melengkung, dan sikut berputar. Jayaseta menahan semuanya dengan tangkisan dan tepisan. Seperti banyak pendekar sepuh atau yang sudah berumur, kemampuan silat mereka sudah tertempa jaman dan pengalaman. Maka Jayaseta tak heran walau Baharuddin Labbiri sudah setengah baya, serangan-serangannya begitu keras dan bertenaga. Gabungan dari tenaga dalam dan tenaga luar hasil dari latihan yang keras.
Sebuah pertarungan yang cukup panjang bila dihitung dari jual beli serangan. Itu yang dipikirkan oleh Katilapan. Seperti membaca pikirannya, Narendra mendadak berkata, "Bapak Baharuddin Labbiri sedang mengajari Jayaseta," ujarnya. Katilapan sontak mengangguk sadar.
***
Almira bermimpi tentang Jayaseta. Suami tercintanya itu sedang melawan seekor harimau. Bila berhadapan dengan perampok, begal atau pendekar lainnya, Almira tidak akan terlalu khawatir mengingat sang suami adalah seorang pendekar yang pilih tanding. Tapi melawan kebiasaan seekor binatang? Tak tahulah apa yang akan terjadi.
Ia terbangun dengan keringat bercucuran dan tubuh yang lemas. Calon cabang bayi di dalam perutnya mungkin adalah seorang anak yang keras, yang membuat ibunya sampai selemah ini. "Seperti apapun engkau kelak, anakku. Kedua orangtuamu akan tetap mencintaimu," ujar Almira perlahan dengan perasaan yang campur aduk antara rindu luar biasa, khawatir luar biasa dan ketidaktahuan yang juga luar biasa atas keadaan dan kabar sang suami.
Pintu jati diketuk. Setelah diijinkan, Jaka Pasirluhur masuk ke dalam ruangan kamat ndoro putri nya itu dengan berjongkok. "Maaf, Nyai. Sudah diputuskan bahwa paman nyai yang akan melaksanakan semua kegiatan perniagaan. Nyai perlu istirahat dengan baik karena kehamilan Nyai masih terlalu muda. Lagipula, masa belum terlalu lama untuk menunggu gerombolan orang-orang yang hendak mencelakai Nyai untuk tidak muncul kembali. Kita tidak bisa mengambil kesempatan buruk, Nyai," ujar sang pengawal itu panjang lebar.
Tidak ada nada keberatan atau pandangan menolak dari Almira. Ia bahkan mengangguk mantap kemudian melihat tangan kiri Jaka Pasirluhur yang tiada, karena telah terpotong dalam pertarungan sebelumnya. "Bagaimana denganmu sendiri, kakang Jaka? Bagaimana dengan tanganmu?" tanya sang tuan putri.
Jaka Pasirluhur memandang tangannya yang puntung, kemudian tersenyum. Bukan sebuah senyum yang dibuat-buat, tapi tulus, Almira bahkan paham itu. "Hanya tangan, Nyai. Bukan nyawaku," ujarnya tenang.
__ADS_1