Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Rajah Kembang Kenanga


__ADS_3

Rasa bangga membuncah di dalam dada Datuk Mas Kuning melihat perkembangan Jayaseta. Ia tak terkejut sama sekali bahwasanya sang pendekar muda ini mampu menguasai pelajaran dan ilmu yang ia berikan, tapi bukan berarti usaha yang laki-laki tersebut tidak perlu dipuji.


Selama berlatih gerakan silat yang lebih tertata ini Jayaseta tak terlihat pernah mengeluh dan menyepelekan perintah dan permintaan sang guru.


Gerakan silatnya yang bagai menari itu makin sempurna. Nampak sekali Jayaseta benar-benar mencoba mengenal tubuhnya lebih dalam.


Dara Cempaka tak habis-habisnya kagum dengan segala hal yang menempel pada diri Jayaseta. Selain ketampanan dan pesona jasmaninya, Jayaseta adalah seseorang yang memiliki pribadi dan tatakrama yang baik. Ia sopan, sangat menghargai Datuk Mas Kuning sebagai guru dan orang yang lebih tua, serta Dara Cempaka, sebagai seorang perempuan yang lebih muda namun memiliki tempat yang ditinggikan.


Keduanya setiap malam selalu berpasangan melakukan gerakan jurus-jurus lembut namun luas dari silat Melayu ini.


Meski jelas terasa bahwa Dara Cempaka benar-benar menikmati kebersamaan ini setiap malamnya, sang gadis tetap tidak bermain-main dalam hal latihan ilmu kanuragan ini. Ia sama sungguh-sungguhnya dengan Jayaseta dan berperilaku sebagai seorang murid yang teladan pula.


Kebetulan pula, kedua orangtuanya yang memiliki jabatan khusus dan istimewa di kerajaan Sukadana, sekarang pergi sebagai duta utusan ke Kerajaan Banjarmasin. Mereka harus pergi untuk beberapa lama meninggalkan Dara Cempaka.


"Aku bukan gadis kecil lagi, Ayah," ujar Dara Cempaka ketika sang Ayah menunjukkan kekhawatirannya meninggalkan putri sati-satunya mereka itu di Sukadana.


"Ya, ya ... Memang kau bukan anak kecil lagi. Maka janganlah bertindak seperti anak kecil. Kau membuat kami khawatir terus-menerus," jawab sang Ayah.


"Maksud Ayah, karena aku terus mengunjungi Datuk?"


"Tentu. Kau sadar kan bahwa Datukmu itu bukan orang sembarangan? Ia adalah seorang tahanan rumah. Sampai saat ini Ayah tak bisa melakukan banyak untuknya. Itu karena ia yang memaksa Ayah untuk tak melakukan apa-apa."


"Nah, Ayah saja patuh pada Datuk, apalagi aku. Datuk tak keberatan aku datang ke rumahnya terus. Ia bahkan mengajariku silat, sama seperti ketika ia mengajari Ayah dahulu. Mana bisa seorang murid melawan gurunya, bukan begitu, Ayah?"


Kalau sudah seperti ini, sang Ayah hanya dapat menggeleng. Percuma melawan dan bertekak dengan anak perempuannya itu.


Dengan keberangkatan kedua orangtuanya ke Banjarmasih dalam tugas kerajaan, sudah pasti Dara Cempaka tidak hanya datang bertamu ke rumah sang Datuk, ia malah bisa dikatakan saat ini tinggal di sana.


Jayaseta sendiri mengikuti arahan dan ajaran sang Datuk guru untuk memusatkan semuanya kali ini semata-mata hanya pada gerakan dan pemahaman akan tubuhnya, bukan tenaga dalam yang bersumber dari amarah.

__ADS_1


"Aku rasa engkau sudah cukup menguasai semua jurus yang aku ajarkan?"


Jayaseta tersentak. "Sungguh, Datuk? Apakah hamba tidak melakukan kesalahan?" ujar Jayaseta sedikit curiga karena hampir tak percaya akan kemajuan dirinya ini.


Datuk Mas Kuning mengangguk mantap. "Kalau kau orang biasa, butuh bertahun-tahun untuk mempelajari keseluruhan jurus-jurus ini dengan sempurna. Kalau kau pendekar biasa, satu bulan penuh diperlukan. Tapi, kau bisa menguasainya hanya dalam beberapa hari, nakmas."


Jayaseta tak pandai menyepelekan sebuah ajaran. Ia bukan jenis seorang pendekar jumawa yang merasa mampu menguasai ilmu silat dari seorang guru atau pengalaman, dan kemudian berpikir bahwa ia sudah menjadi sempurna dalam olah kanuragan tersebut.


Dara Cempaka juga sama tak terkejutnya. Ia sudah sadar diri sedari awal dan memahami bahwa ia tak ada bandingannya sedikitpun dengan Jayaseta. Ia tak bisa membandingkan cara berguru Jayaseta dengan dirinya. Hampir segalanya bisa dikatakan sangat berbeda.


Betapa Jayaseta begitu mudah mengikuti gerakan-gerakan jurus silat Melayu ini. Bukan hanya meniru namun juga menyerap intisari dan penggunaan setiap gerakan.


"Sudah saatnya pula bagiku untuk mencoba memberikanmu perawatan pada luka akibat racun kutukan tombak sakti Kyai Ageng Plered," gumam sang Datuk.


Jayaseta menarik nafas lega. Jantungnya bergemuruh, ia sangat menantikan saat ini. Inilah titik yang ia nanti-nanti. Apakah ia sungguh-sungguh bisa terlepas dari tenaga asing yang begitu menguasai tubuhnya tersebut? Apakah ia bisa kembali ke pelukan Almira sebagai seorang lelaki pendekar tanpa tanding yang telah waras dan sehat?


Inilah malam yang menentukan.


Jayaseta bertelanjang dada. Luka-luka yang ia dapatkan akibat pertarungan di atas geladak kapal sudah bisa dikatakan sembuh, mungkin secara ajaib, mungkin pula karena tubuhnya memang terlatih untuk dapat menyembuhkan luka dengan baik.


Dengan kemampuan sasmitanya, sang Datuk dapat melihat jelas rajah Nagataksaka dan Garuda Sentanu yang belum selesai tergambar menyala di sekeliling bekas luka tusukan Tombak Pusaka Kyai Plered.


Sesuai perintah sang Datuk, Jayaseta duduk bersila dan keadaan khusuk dan mengatur nafasnya, mengenali setiap syaraf dan ototnya sendiri. Kali ini ia diharuskan tak melibatkan tenaga dalamnya dalam bentuk apapun. Sebuah usaha yang tidak main-main. Maka dari itu sang Datuk mengajarkannya silat Melayu tersebut untuk mempersiapkannya dengan keadaan ini.


Suasana menjadi sangat menegangkan. Bahkan Dara Cempaka tak bisa menikmati pemandangan tubuh laki-laki yang ia sukai itu karena ia sendiri merasakan detak jantungnya berdetak kencang. Ia waswas dan berharap semuanya akan berjalan lancar.


Datuk Mas Kuning menggenggam tusuk konde emas dengan hiasan bunga milik cucunya, Dara Cempaka, yang sempat digunakan Dara untuk menyerang Jayaseta pada saat keduanya pertama kali bertemu.


Ujung tusuk konde yang tajam sekarang telah menusuk kulit Jayaseta, membuatnya berdarah. Jayaseta mengernyit, sedangkan Dara Cempaka menahan nafas dan teriakan.

__ADS_1


Sebuah rajah ditorehkan membentuk sebuah kuntum bunga, Rajah Kembang Kenanga.



Darah terus mengalir dari luka torehan tusuk konde itu. Perlahan Dara melihat sang kakek menorehkan rajah kembang kenanga itu ke tubuh Jayaseta dengan pandangan miris. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana sakitnya yang dirasakan Jayaseta. Jayaseta sendiri mengeluarkan kemampuan terbaiknya.


Ia tidak menghindari rasa sakit, sebaliknya ia mengakrabkan diri dengan rasa itu. Tubuh ini adalah miliknya, rasa sakit itu hanyalah tamu yang datang sementara, maka begitu juga dengan racun kutukan tombak Kyai Ageng Plered, Nagataksaka maupun Garuda Sentanu.


Tidak ada perang tenaga-tenaga itu dengan racun kutukan Kyai Plered di dalam tubuhnya. Tidak bisa dibayangkan bila Garuda Sentanu yang belum selesai dirajahkan oleh Kakek Salman akan harus kembali bertarung dengan racun Kyai Ageng Plered.


Dengan bercucuran peluh dan darah Jayaseta menahan sekaligus merasakan rasa sakit yang bergejolak dalam tubuhnya, sedangkan Dara Cempaka terus meringis setiap kali ujung tusuk kondenya menggores kulit Jayaseta dan melukainya.


Akhirnya Datuk Mas Kuning berhasil menyelesaikan kelopak kembang kenanga dan menorehkan untuk terakhir kali, sebuah garis yang menyerupai batang bunga ke arah paruh Garuda Sentanu.


Sekarang ada tiga rajah menyala di dada Jayaseta. Seekor Nagataksaka yang dicengkram seekor Garuda Sentanu yang bertujuan meredam ganasnya sang naga. Sedangkan kembang kenanga yang dijepit di paruh sang Garuda dirajahkan untuk meredam amarah sang burung.


Selesai sudah.


Jayaseta membuka matanya, merasakan ada hawa kekuatan baru di dalam tubuhnya.


Selesai sudah.


Benarkan ini semua sudah selesai? Benerkan ini adalah akhir dari perjalannya melawan kutukan Kyai Ageng Plered?


"Kau harus menunggu beberapa saat lagi, nakmas Jayaseta. Kau tak boleh menggunakan tenaga dalammu sama sekali dalam beberapa hari, mungkin lebih lama, sampai lukamu mengering. Kembang cempaka yang harum itu membantu meredakan kekuatan amarah tenaga dalam dan menghilangkan racun. Namun, kau harus sabar, nakmas. Bila kau sampai menggunakan tenaga dalammu, bahkan sedikit saja, maka hasilnya akan lebih parah dan mengerikan. Itu sebabnya, aku telah berusaha sebaik mungkin untuk mengajarimu bersabar dan mengenali tubuhmu dengan seni silat serupa tari itu selama ini."


Jayaseta mengangguk. Ia paham benar maksud perkataan sang Datuk. Ia sudah sampai di tempat ini dengan perjuangan. Sedikit kesabaran lagi apalah artinya.


Saat itulah, baik Jayaseta, sang Datuk maupun Dara Cempaka mendengar bunyi keributan di bawah.

__ADS_1


Datuk Mas Kuning mengangkat tangan agar Jayaseta dan Dara Cempaka tidak melihat keluar. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, melihat apa yang terjadi di luar sana.


__ADS_2