Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Caping


__ADS_3

Kerajaan Mataram pada tahun 1639 Masehi adalah masa dimana negeri itu sedang menanjak ke puncak kejayaan. Seni, agama, kesejahteraan rakyat serta kemajuan pemikiran sedang digalak-galakkannya.


Bukan di dalam bidang pelayaran dan pelabuhan, namun pertanian lah Mataram jaya. Negeri-negeri pelabuhan sudah berada di dalam genggaman Mataram. Pelabuhan-pelabuhan itu memberikan keuntungan bagi Mataram melalui pajak, upeti dan hasil perdagangan yang dipasok ke pusat kerajaan yang terletak di pedalaman pulau Jawa.


Namun warisan utama Sultan Agung terletak pada perubahan besar-besaran dalam bidang pengaturan ketatanegaraan yang ia lakukan di wilayah kekuasaannya. Ia menciptakan sebuah aturan yang terencana dan masun akal. Ia menciptakan daerah-daerah dengan menunjuk orang sebagai Adipati yang bertugas sebagai kepala wilayah Kadipaten, khususnya wilayah-wilayah di bagian barat Jawa, di mana Mataram menghadapi Walanda di Betawi. Sebuah kabupaten seperti Karawang, misalnya, diciptakan ketika Sultan Agung mengangkat pangeran Kertabumi sebagai adipati pertamanya pada tahun 1636 Masehi.


Ini dilakukan sebagai bagian dari ketatanegaraannya dan perlawanan terhadap kekuasaan Betawi.


Di sisi lain, semangat untuk menundukkan negeri lain dan melebarkan kekuasaan ke seantero nusantara menjadikan Mataram adalah sebuah negara yang kuat sekaligus mengerikan bagi banyak kerajaan.


Daerah-daerah di bagian Barat kekuasaan Sultan Agung dipenuhi oleh para prajurit Mataram maupun negara-negara bawahan.


Oleh sebab itu, kejumawaan negeri ini juga mempengaruhi penduduknya, terutama para pendekar, jawara bahkan perampok atau orang-orang yang suka bertukar ilmu kanuragan. Mereka kerap berbuat rusuh hanya untuk membuktikan kehebatan mereka sebagai bagian dari kerajaan Mataram, meski daerah tersebut bisa dikatakan hanya sebagai negara bawahan.


Contohnya saja di sebuah kota pelabuhan bernama Semarang ini. Sejak tahun 6 Masehi, Semarang sudah merupakan sebuah daerah pesisir yang waktu itu dikenal dengan nama Pragota dan berada di dalam kekuasaan kerajaan Mataram kuno.


Daerah ini pada masa lalu memang sudah merupakan sebuah pelabuhan dengan gugusan pulau-pulau kecil. Bisa dikatakan saat ini banyak daerah di Semarang dulunya adalah laut dimana pulau-pulau tersebut menyatu menjadi daratan dalam waktu ratusan tahun.


Pelabuhan Semarang ini juga menjadi tempat yang sangat bersejarah ketika rombongan kapal Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1435 Masehi. Jelas bahwasanya kemudian Semarang dipahami sebagai sebuah daerah pesisir, yang mana kemudian menjadi desa yang diresmikan oleh pendirinya, Kyai Ageng Pandan Arang Pertama dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh sang putra, Pandan Arang Kedua yang juga lebih dikenal sebagai Sunan Pandanaran Bayat.


Kemajuan Semarang di bawah Sunan Bayat menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang sehingga kemudian dijadikan sebuah daerah setingkat Kabupaten. Setelah itu, pada tahun 1547, Semarang menjadi bagian dari Kerajaan Mataram seiring jatuhnya Kesultanan Pajang ke tangan Kesultanan Mataram.

__ADS_1


Pelabuhan Semarang yang terletak di bukit Simongan tidaklah sebaik dan semenguntungkan pelabuhan Tuban, Jepara atau Gresik misalnya bagi Mataram. Endapan lumpur terjadi terus-menerus di aliran sungai sehingga tidak mudah mengirimkan barang ke daerah-daerah lain melalui pelayaran.


Namun, tetap saja, hiruk-pikuk kegiatan manusia di daerah sekitar pelabuhan Semarang ini ramai.


Para pendekar dan jawara kerap berkumpul di kedai tuak yang tersebar di beberapa tempat. Sebagai orang sakti, tentu saja para jagoan ini kerap memamerkan kedigdayaan mereka dengan bergaya, mengancam orang baik pedagang maupun pendatang atau musafir, berkelahi dengan sesama pendekar, maupun mabuk-mabukan dan berbuat onar.


Mereka memang berbeda dengan para perampok dan perompak, namun kesombongan mereka menghasilkan hal yang tidak jauh berbeda dengan para penjahat. Mereka mencari makan dengan menyewakan jasa mereka untuk menjaga barang-barang yang akan diantarkan ke daerah lain dari pelabuhan melalui sungai atau daratan. Kadang mereka juga menerima bayaran dari menerima pekerjaan menjaga pengiriman barang di kapal dalam pelayaran dari perompakan bajak laut Melayu Minangkabau, Bugis atau Mangkasar.


Tapi, bila sedang tak ada kerjaan, mereka cenderung mencari masalah. Toh, hal yang utama bagi mereka adalah bahwa mereka bisa dikenal sebagai para pendekar jaya yang siap melawan siapapun, terutama orang-orang yang datang dari bagian Barat Jawa. Siapa tahu dengan berperilaku seperti ini, para pendekar dapat menarik perhatian Kesultanan Mataram untuk dijadikan pejabat daerah atau punggawa setidak-tidaknya.


***


Kedai tuak itu hancur di banyak tempat. Tidak hanya itu, pelayan dan penjualnya luka berat. Dua kedai kecil penjual ikan juga hancur berantakan dengan para penjualnya yang nyaris tewas karena perkelahian yang membabibuta.


Bila pertengkaran antar prajurit atau pendekar yang terjadi di lapangan, atau alas yang tak melibatkan masyarakat biasa, sosok itu tak akan ambil pusing. Tapi dengan korban di sana-sini, para pendekar yang mabuk ini harus diberikan pelajaran setimpal. Apalagi mereka belum menunjukkan kemungkinan berhenti. Masih bakal ada calon korban lainnya.


Sang sosok adalah seorang laki-laki dewasa. Ia mengenakan celana pangsi hitam yang menggantung sepanjang betis. Kain wulung membelit pinggangnya serangkan tubuhnya yang bertelanjang dada dihiasi bekas luka di berbagai tempat. Warna kulitnya yang sedikit lebih terang dibandingkan rata-rata laki-laki Jawa, berkilat-kilat oleh pantulan mentari di keringatnya.



Tak tampak wajahnya karena ia mengenakan sebuah caping petani menutupi kepalanya sedangkan di bagian mulutnya juga ditutupi oleh selembar sobekan kain berwarna hitam.

__ADS_1


Ia mengepalkan kedua tangannya dan bersiap meluncur.


Satu tolakan melesatkan sosok berpenutup mulut ini ke ladang perkelahian. Ia berputar di angkasa sekali saja dan membenamkan tumitnya di tengkuk salah satu dari empat pendekar yang sedang mengeroyok satu pendekar lainnya.


BRUK!


Tak ayal, tendangan yang dikembangkan sendiri dari jurus Tendangan Guntur dari Selatan itu langsung saja membuat yang diserang jatuh tak sadarkan diri. Nampaknya belum mati, namun sudah pasti mendapatkan sebuah luka yang parah.


"Bang*sat! Siapa mun*yuk yang berani-beraninya membokong kami ini?" ujar salah satu dari rekan empat pendekar tersebut dengan amarah yang meluap-luap, melihat bahwasanya ia sendiri memang sedang dalam sebuah pertarungan dan juga setengah mabuk.


"Aku lah sang Pendekar Topeng Seribu," ujar sosok tersebut yang ternyata benar Jayaseta adanya.


"Berhenti membuat onar. Berkelahilah di tepi pantai, sehingga bila kalian mati, mayat kalian akan segera terbawa air laut.


"Cuih. Aku sudah sering mendengar kebesaran namamu. Masalah apa kau benar si pendekar itu atau hanya orang sinting yang mengaku-ngaku saja, bukanlah menjadi soal. Aku, Jaka Pasirluhur yang dikenal sebagai Sang Kudi Langit, pendekar dari tanah Banyumas, tidak akan membiarkan engkau menghina kemampuanku mengalahkan jawara-jawara rendahan ini," kali ini pendekar yang dikeroyok yang unjuk bicara sembari mengangkat tinggi-tinggi sebuah senjata tajam berbentuk khas yang seperti campuran parang, arit dan kampak bernama kudi tersebut.


"Mumpung aku sedang haus darah hari ini, kau yang mengaku sebagai pendekar mahsyur itu beserta kalian semua majulah berbarengan. Jaka Pasirluhur akan mengantar nyawa kalian langsung ke neraka!"


Ketiga pendekar yang mengeroyok Sang Kudi Langit saling berpandangan. Mereka memutuskan untuk undur diri, membantu rekan mereka yang pingsan dihajar tendangan pendekar yang datang tiba-tiba tersebut. Mereka juga sengaja ingin melihat bagaimana Sang Kudi Langit berhadapan dengan orang yang mengaku sebagai Pendekar Topeng Seribu yang tersohor seantero Pulau Jawa tersebut serta menakar kemampuan kedua pihak.


Bagaimanapun pertarungan ini akan luar biasa menarik, mengingat teman mereka tumbang dalam satu gebrakan saja, walau pada dasarnya ia dibokong. Mereka memasukkan kembali golok dan keris mereka ke sarungnya dan berdiri sekitar tiga tombak jauhnya.

__ADS_1


__ADS_2