Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Keris Berhulu Anak Ayam


__ADS_3

Pucok Gunong merasa bahwa sebagai seorang pemimpin ia harus menunjukkan kepada para pendekar Melayu sebuah perintah yang dibarengi contoh nyata. Maka ia melompat lebih dahulu menusukkan kerisnya.


Dua pendekar Siam bercawat merah ikut maju menyongsong. Seperti sudah diperkirakan Pucok Gunong, para pendekar Siam ini menggunakan silat Lethwei yang mungkin sekali diajarkan atau setidaknya dipengaruhi oleh tiga orang pendekar Burma yang ada diantara mereka itu.


Sebagai akibatnya, Pucok Gunong tidak menyerang amuk, ia menahan diri dan dengan cepat mundur ke belakang satu langkah. Satu pendekar Siam melompat menyerang dengan lutut terbangnya. Sedikit berbeda dengan Tomoi atau Muay Boran, lututan ini berjarak pendek namun dilakukan dengan cepat dan tinggi. Namun, kepahaman Pucok Gunong atas ciri jurus-jurus Lethwei membuat lututan lolos dari sasarannya. Pendekar lainnya memberikan sebuah sikutan panjang dan keras. Lagi-lagi, Pucok Gunong juga bisa menghindari serangan itu karena menarik serangannya sendri. Ia sabar dan telaten.


Dua serangan berurutan dari dua pendekar Siam, termasuk salah satunya adalah sang petarung Burma dengan rajah tertatah penuh di kedua pahanya, juga dengan baik dihindari Pucok Gunong. Kini ia berada di tengah-tengah gelaran pertempuran musuh. Keris yang tergenggam di tangan kanannya melesat cepat menggores paha satu pendekar Siam serta menancap menembus pinggang lainnya.


Keris Melayu berhulu anak ayam yang melengkung itu akhirnya memakan darah. Berbeda dengan keris Jawa yang rata-rata berciri hulu demam, dimama bentuknya seperti orang yang sedang bersedekap, keris-keris Melayu memiliki hulu dengan beragam bentuk. Keris berhulu anak ayam milik Pucok Gunong yang berhasil melukai musuh membuat para pendekar Melayu terhenyak. Tidak ada terlihat rasa sakit tergambar dari wajah para pendekar Siam, namun jelas mereka hilang keseimbangan dan terjatuh. Darah mengalir deras dari luka-luka mereka. Mungkin benar adanya bahwasnya jampi-jampi ilmu gaib menghilangkan ras sakit mereka.

__ADS_1


Namun apapun itu, para pendekar Melayu telah paham dengan apa yang harus mereka lakukan. Semangat melihat sang pimpinan berhasil melukai musuh, para pendekar Melayu Kedah pimpinan si Harimau Belang itu semakin terbakar nafsunya. Teriakan keras membahana kembali. Apalagi walau pendekar-pendekar Siam itu jelas dibekali ilmu tanpa rasa sakit, toh darah tetap tercurah dan mereka sendiri berjatuhan karena hilang keseimbangan atau puyeng akibat luka yang disebabkan oleh keris tersebut.


Serangan para pendekar Melayu berikutnya benar-benar mengikuti contoh yang diberikan sang pemimpin. Mereka tidak menyerang amuk atau membabibuta, sebaliknya mereka memainkan jarak dengan cara membatalkan tusukan kemudian mundur, atau memberikan serangan gertakan dan tipuan. Setelah serangan para pendekar Melayu yang bersifat menyongsong dan berkelahi dalam jarak yang dekat itu telah dapat dihindari, maka tusuk-tusukan senjata tikam berupa keris itulah mulai dilakukan.


Peta pertarungan akhirnya terlihat jelas. Para pendekar Melayu yang bersenjata keris berhulu anak ayam, tapak kuda dan pekaka, mulai mendapatkan alur dan celah. Ujung keris mereka menusuk dan menggores dalam-dalam kulit musuh. Satu pendekar Siam yang nekad menjulurkan kepalanya untuk melakukan sebuah sundulan tajam terpaksa harus merelakan lehernya sobek terkena keris. Darah tumpah ruah keluar bagai seekor ayam yang disembelih.


Pertarungan yang berdarah ini berlangsung dengan korban di kedua pihak.


Perbedaannya, tidak ada raungan kesakitan atau teriakan kepiluan dari para pendekar Siam dan Burma. Walau tubuh mereka dihiasi luka, selama mereka masih bisa bergerak, walau terseok-seok atau kehilangan keseimbangan dan kecepatan, maka tetap ada gemeretak tulang yang hancur oleh serangan berbahaya mereka.

__ADS_1


Pertempuran akhirnya melambat setelah tiga tegukan tuak.


Para petarung Siam tergeletak di tanah. Sebagian besar tak mampu bangun karena luka yang cukup parah membuat mereka tak sadarkan diri, dan tentu saja beberapa tewas serta sekarat. Dari pihak pendekar Melayu, sama saja. Tulang-belulang mereka hancur lebur. Mereka mengaduh-aduh dengan diselipi sumpah serapah. Tak bisa dipungkiri kematian dari mereka juga cukup mengejutkan mengingat para pendekar Siam tak berbekal senjata jenis apapun.


Pucok Gunong sang Harimau Belang berdiri berkuda-kuda silat Harimau Melayu Kedah. Kerisnya sudah bermansi darah. Kakinya sedikit oleng karena dadanya sempat diterjang dua tendangan musuh. Tapi melihat pendekar-pendekar Melayu lainnya, ia terbilang berada dalam keadaan yang sangat baik dan siap melanjutkan pertempuran. Di sisi lawan, dua pendekar Burma dengan luka sobek dan gores di berbagai bagian di tubuh mereka juga berdiri menantang di antara rekan-rekan mereka yang bergelimpangan.


Pertarungan akan berlanjut dan menunjukkan hasil akhirnya sejenak lagi.


__ADS_1


__ADS_2