Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Atas Sungai Bagian Ketujuhbelas: Nama Itu Untuk Dirimu


__ADS_3

Para prajurit Lan Xang bersorak-sorai memerhatikan kepergian puluhan perahu para perompak Annam dan Champa. Mayat-mayat mengambang di air terbawa arus, sedangkan sisanya banyak yang masih tergeletak di atas perahu kecil dan besar yang tertambat oleh semacam jangkar bergoyang-goyang di atas sungai. Kini hanya tersisa dua kapal, besar dan kecil, serta beberapa perahu bekas para perompak.


Yu dan Pratiwi ikut memandang kepergian para perompak di sela-sela teriakan riuh penuh semangat para prajurit Lan Xang. Keduanya menghela nafas lega selagi melihat salah satu kapal dari tiga kapal pedagang yang membantu kapal ini mendekat ke arah mereka.


“Kita aman untuk saat ini, Yu. Tapi aku yakin, ada sesuatu dengan kapal ini sehingga para perompak yang jumlahnya banyak tersebut rela menghabiskan sumber kekuatan mereka dan mengorbankan nyawa para perompak hanya untuk menghancurkan satu kapal,” gumam Pratiwi.


Yu juga berpikir sama. Tetapi ia tidak mengatakan apapun karena saat ini saja ia sudah terlalu lega untuk tidak terlibat peperangan lagi.


“Kita tidak perlu ikut campur terlalu dalam. Dan yang jelas, kita tidak akan menumpang kapal ini,” lanjut Pratiwi.

__ADS_1


“Baik. Aku setuju Yu. Kita sudah mengalami halangan yang luar biasa hari ini. Sudah cukup. Tujuan kita harus tetap terlaksana, Pratiwi. Kau harus segera disembuhkan. Bila kau terus bertarung, suatu saat kau terpaksa harus menggunakan tenaga dalammu. Dan kau tahu itu yang sangat aku khawatirkan, bukan?” ujar Yu.


Pratiwi memandang suaminya kemudian mengangguk. Senyum tipis terlukis di wajahnya.


“Tapi, kita harus memanggil Laoya. Aku harap ia tidak apa-apa di depan sana,” ujar Yu. Bagaimanapun, meski masih belum bisa melihat keberadaan Fong Pak Laoya, hampir tidak ada keraguan dalam hati mereka berdua bahwa sang Laoya baik-baik saja. Bagaimanapun sang tabib sekaligus dukun Cina itu adalah seorang pendekar pilih tanding yang penuh dengan kejutan. Ia tidak hanya bisa menjaga diri, Fong Pak Laoya adalah penyelamat mereka.


“Aku yang akan ke depan dan mencarinya, Pratiwi. Engkau persiapkan saja perahu untuk kita pergi ke kapal sebelah,” lanjut Yu.


Tidak sedikit perompak yang berjatuhan ke sungai, entah dalam keadaan terluka atau bahkan tewas. Perompak yang terjatuh tetapi dalam keadaan baik-baik saja, kemudian memutuskan untuk berenang ke perahunya dan minggat sekalian saja, terutama karena mendengar perintah yang datang untuk meninggalkan kapal tersebut.

__ADS_1


“Ah, kalian berdua luar biasa, kisanak. Dua orang pendekar bertutup muka dan bertopeng. Andai umurku lebih panjang dan kita berjodoh, atau mungkin suatu saat di dunia yang lain, bisa saja ketiga dari kita adalah pasangan pendekar,” ujar Fong Pak Laoya sumringah. “Aku Fong Pak. Aku juga adalah seorang tabib. Maka, biasa pula aku dipanggil dengan Laoya,” ujar Fong Pak Laoya memperkenalkan diri.


“Aku tak peduli siapa kau,” ujar Sasangka ketus. “Terutama kau, si buntung yang bertopeng. Aku adalah satu-satunya Pendekar Topeng Seribu di sini. Hanya karena mengenakan topeng Penthul Tembem dan memiliki jurus-jurus aneh, tidak membuat kau menjadi Pendekar Topeng Seribu,” lanjutnya dingin.


“Wah, wah, wah … mohon maaf, aku tak tahu apa yang sedang terjadi diantara kalian berdua disini sebelum kedatanganku, kisanak sekalian. Namun, baiklah, aku tak perlu ikut campur. Yang jelas kini kita telah mampu mengusir para perompak sehingga tidak perlu lagi saling mengganggu. Bukan begitu, kisanak?” tanya Fong Pak Laoya.


“Aku juga tidak peduli. Kalau kau memang ingin berlaku sebagai Pendekar Topeng Seribu, aku pun tidak ada masalah. Ambil saja nama itu untuk dirimu sendiri,” balas Jaka Pasirluhur dari balik topeng jenakanya.


Ia kemudian memandang ke arah Fong Pak Laoya. “Laoya, apa rencanamu? Aku tak mungkin satu kapal dengan orang ini. Bisa-bisa kami berdua akan saling rebut nama dan gelar pendekar itu,” ujarnya kemudian.

__ADS_1


“Hmm, baiklah. Aku sebenarnya datang dari kapal yang terbakar itu bersama dengan dua orang lagi yang membantu mempertahankan kapal di bagian buritan,” ujar Fong Pak Laoya sembari memandang ke arah Sasangka, memberikan sindiran keras, bahwa kedatangannya dan para prajurit Lan Xang lainnya lah yang membuat kapal ini selamat dan utuh. “Namun, aku lihat, satu kapal dagang itu masih dalam keadaan baik-baik saja dan sedang menuju ke arah kapal ini. Aku akan meminta nakhoda untuk membagi prajurit Lan Xang ke dua kapal. Lagipula kapal ini sudah kehabisan prajurit karena tewas sehingga menyisakan cukup banyak ruang untuk prajurit lain. Hitung-hitung menjaga-jaga dari kemungkinan serangan lanjutan atau kejutan apapun yang mungkin muncul di depan sana. Engkau, wahai pendekar Jawa bertopeng jenaka, baiklah ikut aku dan dua orang temanku di buritan sana untuk berpindah ke kapal lain,” jelas Fong Pak Laoya panjang lebar.


__ADS_2