Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sarti


__ADS_3

Melihat serangan tiba-tiba musuh mereka yang semula dipikir tewas atau paling tidak terluka oleh tembakan Sarti, kedua pendekar lain yang masih berdiri, Parta si toya besi dan si Cina dengan rantai cambuk yang sudah dilepaskan dari pinggangnya sontak secara serentak menyerang Jayaseta.


Rantai menyambar, Jayaseta berguling dan menjauh dari serangan rantai tersebut dan mengincar Parta yang toya juga sudah diputarkan menderu-deru mengincar bagian kepala Jayaseta.


Jayaseta menunduk dan berguling.


Toya lolos melewati kepalanya. Jurus-jurus Parta tak berhenti.


Toyanya terus digunakan untuk menyodok dan membabat. Jayaseta menghindar dan mencoba menyerang si rantai cambuk yang segera disambut lecutan cambuk rantai tersebut.


Kali ini Jayaseta melenting dan melemparkan cakramnya yang dengan cepat ia ambil dari atas kepalanya sembari melenting tadi. Cakram tersebut berhasil ditangkis dengan putaran rantai yang digerakkan dengan sekali hentak dan membentuk semacam perisai.


Jayaseta undur kembali dan menyerang Parta si toya baja. Parta sudah siap untuk juga menyerang Jayaseta yang meluncur ke arahnya, namun Jayaseta menghentikan serangannya dan mundur selangkah, toya tersebut dua jengkal saja jaraknya dari wajah Jayaseta.


Sekarang sempurna sudah. Jayaseta memang menginginkan jarak ini dimana toya dan rantai semakin mendekatinya.


“Hei Tiang Goan!” Parta berteriak ketika rantai menyambar toyanya, dua bunyi besi beradu berpendar.


Si pendekar cambuk rantai yang ternyata bernama Tiang Goan tersebut spontan menarik cambuk rantainya agar tidak melukai Parta. Jayaseta tahu bahwa bila lebih dari satu orang menyerangnya dengan beragam senjata yang berbeda, maka semua serangan tersebut malah akan menjadi sulit dan petaka bagi para penyerangnya sendiri karena setiap senjata malah akan bertubrukan dan sulit untuk melihat serangan mana yang harus didahulukan.



Bagi Jayaseta, rantai cambuk lah yang akan memberinya banyak kesempatan untuk melancarkan serangan karena cambuk rantai itu akan menyulitkan para penyerang yang lain.


“Bajingan!” tiba-tiba Kangsa sudah bangun dan memungut pedangnya yang tersisa satu karena satu pedang lainnya terlempar jauh. Langsung saja Kangsa ikut masuk ke dalam pertempuran dan memberikan serangan terbaiknya.


Dari sudut matanya, Jayaseta dapat melihat Damar juga telah siap dengan kedua cabangnya dan yang juga langsung masuk ke dalam pertarungan dengan gemasnya. Kangsa maupun Damar berselang-seling membabat atau menusukkan senjata mereka. Ketika kedua pendekar tersebut tak dapat memasukkan satu seranganpun ke tubuh Jayaseta, Parta pun tidak tahan untuk menusukkan toya nya. Ia menusuk dan bahkan membabat.


Jayaseta sangat cerdas sehingga ia tidak melayani serangan Parta, malah melenting dan memberikan satu pukulan terkerasnya kepada Kangsa yang sedang lengah pada satu titik. Sekali saja Tinju Besi masuk menghajar dada kirinya.


Kangsa pun mundur tapi tetap dalam keadaan berdiri. Pedangnya jatuh dan ia tak mampu untuk mengambilnya kembali.


Tulang dadanya retak!


Perlahan ia ikut ambruk ke tanah setelah rasa nyeri di dadanya menyerang.


Melihat ini seluruh temannya menggila. Bahkan Sarti pun tak mau berdiam diri saja. Ia mengambil pistol nya dan mulai menembak ke arah Jayaseta. Akibatnya semua serangan menjadi berantakan.


“Sarti, perhatikan tembakanmu!” Ucap Parta keras khawatir Sarti salah tembak.


Teriakan Parta bisa dimaklumi karena yang mereka hadapi bukan orang biasa. Parta tak meremehkan kehebatan bidikan Sarti, namun Jayaseta sendiri terus bergerak, berputar-putar menggunakan setiap celah bagi keuntungannya.


Buktinya kali ini Damar menjadi korbannya. Jaraknya adalah yang paling pendek karena tiga pendekar lain menggunakan senjata panjang.


Jayaseta berhasil menangkap lengan kiri Damar dan memuntirnya. Damar ikut berputar dan jatuh di tanah. Belum sempat bangun wajahnya sudah dihajar tumit Jayaseta. Hanya sekali tendang namun dengan kecepatan yang luar biasa yang Jayaseta ambil dari jurus Tendangan Guntur dari Selatan. Damar langsung tak sadarkan diri.


Sekarang tinggal tiga orang pendekar yang masih memutar-mutarkan senjatanya dengan bengis. Sarti pun masih menembakkan pistolnya. Jayaseta tidak bisa membiarkan ini terus berlangsung. Tongkat rotannya tergeletak tak di tangan, cambuk rantai Tiang Goan masih terus menyambar.

__ADS_1


BRET!


Lengan kiri Jayaseta terkena ujung rantai yang tajam. Menyobekkan lengan bajunya dan meggores kulitnya. Sejenak Jayaseta kehilangan kuda-kuda, saat itu pulalah tongkat besi Parta menyodok dadanya tiga kali sekaligus dengan cepat dan pukulan terakhir menghantam kepala Jayaseta. Ia ambruk dan merasakan sedikit darah menetes ke keningnya.


Namun syukur, ia masih sadar.


Dua lempeng cakram menyelamatkannya dari hantaman toya besi Parta. Jayaseta langsung berguling di tanah. Walau ambruk, ia harus tetap bergerak karena ia tidak mau menjadi sasaran ***** Sarti yang mengincar kelemahannya.


Jayaseta terus berguling di tanah, Tiang Goan dan Parta terus menghujaminya dengan serangan demi serangan. Debu-debu beterbangan akibat serangan-serangan luar biasa ini.


Ketika Jayaseta akhirnya mampu berdiri, ia langsung menyerang Parta dengan tinju dan tendangannya. Semua dapat ditangkis oleh Parta dengan toya nya. Lengan dan kaki Jayaseta beradu dengan toya besi itu. Latihan keras bertahun-tahun sudah membiasakan dan mengharuskan ia memukul benda-benda keras untuk menguatkan kaki dan tangannya, sehingga sepasang kaki dan tangannya tersebut juga sama bahayanya dengan senjata.


Jayaseta meloncat dan menendang menggunakan kedua kakinya ke arah Parta yang menangkis dengan toya. Namun malang bagi Parta. Tendangan itu bukan tendangan biasa, namun telah dialiri hampir separuh tenaga dalam Jayaseta.


Toya yang digunakan untuk menahan tendangan Jayaseta menghantam dada Parta sendiri, membuatnya terpental beberapa tombak jauhnya dan membuat nafasnya tercekat dan tak sadarkan diri. Jayaseta melakukan ini sekaligus untuk mendapatkan ruang sejenak dimana ia kemudian melepaskan cakramnya yang kedua ke arah Tiang Goan.


TRANG!


Tiang Goan kembali berhasil menangkis cakram tersebut.


Ia terkekeh, “He he he, masih coba menyerang dengan cara yang sama heh? Coba kasih yang bahaya punya,” ujar Tiang Goan dengan bahasa Melayu aksen khas Cina.


Sial pula bagi Tiang Goan yang dengan gampang menyepelekan lawan. Karena tepat setelah mengejek Jayaseta tiba-tiba kepalanya dihantam keras oleh tendangan Jayaseta.


Kepalanya puyeng, namun ia masih mampu mencoba memberikan serangan. Segera saja rantainya berputar kembali. Sayang Jayaseta sudah terlanjur mendekat. Rantai ditangkap dengan tangan kanan Jayaseta, sedangkan tangan kirinya meninju wajah Tiang Goan berkali-kali sampai wajahnya hampir tak berbentuk. Satu tendangan penutup kemudian menghantam dada Tiang Goan hingga ia terpental ke arah Sarti.


Sarti pun langsung bersiap lagi setengah berjongkok dan membidik Jayaseta kembali dengan pistolnya yang baru saja diisi kembali.


Di depannya Jayaseta sudah berdiri dan menatap tajam ke arahnya.


Di tangan kanannya, tepatnya di jari telunjuknya, ia sedang memutar-mutarkan sebuah lempengan besi bertentuk gelang. Itu adalah cakram yang sudah dua kali digunakan oleh Jayaseta untuk menyerang Tiang Goan. Rupanya ia masih memiliki satu benda itu, pikir Sarti.


“Kau sudah siap bocah?” suara Sarti yang ternyata cukup halus untuk seorang pendekar perempuan yang bengis.


“Kita lihat siapa yang paling cepat, ***** pistol ku, atau senjata lemparmu itu,” ujar Sarti melanjutkan.


Jayaseta sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Pertama, pistol di tangan Sarti adalah pistol milik Kompeni Walanda yang cara kerjanya adalah dengan memasukkan ***** ke dalam lubang larasnya, kemudian disodok masuk bersama bubuk api. Setiap tembakan berarti sekali lagi tindakan yang sama.


Senapan Sarti yang juga sudah tidak bisa digunakan tadi juga memiliki cara kerja yang sama. Berarti, satu tembakan Sarti kali ini harus mengenai Jayaseta, bila tidak, ia memerlukan sedikit waktu lagi untuk melakukan penyerangan. Sedangkan cakram yang Jayaseta putar di jari telunjuknya sekarang juga merupakan cakram terakhir yang ia simpan di atas kepalanya.


DAR!


Sarti menembakkan pistolnya. Suara menggelegar dan asap memenuhi udara.


Senapan sundut dengan serta senapan dan pistol kopak dengan alat picu bersumbu, alat picu berbatu api atau alat picu berputar dari tanah seberang ini sebenarnya masih kalah dengan busur dan panah. Kecepatan dan ketepatannya ketinggalan oleh senjata yang lebih kuno itu.


Hanya saja ada hasil yang memang cukup berbeda. Ledakan bubuk api dan suaranya cukup membuat musuh gentar. Peluru bulat logamnya juga mampu menembus tameng dan baju besi sekalipun. Hampir bisa dikatakan bahwa korban yang terkena tembakan sudah hampir pasti tak akan selamat.

__ADS_1


TING!


Suara logam dan logam beradu. Tanpa Sarti sangka, pelurunya menghantam cakram Jayaseta. Cakram itu kemudian terpental dan menancap di tanah, sedangkan peluru pistolnya terus melaju dan berhasil melukai Jayaseta walau tidak tepat seperti yang ia incar.


Pelornya menembus sisi leher Jayaseta.


Sarti tersenyum lebar melihat pelurunya berhasil melukai lawan. Namun itu tidak lama, karena sebuah benda melaju ke arahnya. Jayaseta yang melemparkannya.


PLETAK!


Kepala Sarti terkena lemparan tiba-tiba itu. Sarti hanya memegang kepalanya dan bingung benda apa yang mengenai kepalanya. Ia kemudian melihat benda itu jatuh di tanah, sebuah topeng berwarna merah muda sedang meringis ke arahnya.


Sarti meregang karena kesal, namun tanpa disangka Jayaseta sudah menerjang cepat dan berhasil memberikan tendangan ke sisi tubuh Sarti.


Tendangan secepat kilat itu itu berhasil Sarti tepis, namun pistolnya terlepas dan sekali lagi Sarti berguling ke samping. Kemudian dengan secepat kilat pula Sarti berdiri dan menghunus kerisnya.


Jayaseta menekan luka di lehernya yang masih mengeluarkan darah. Luka itu tidak begitu besar karena hanya menembus sisi lehernya saja. Namun bagaimanapun ia harus menyelesaikan pertandingan ini dengan cepat sebelum darahnya semakin banyak mengalir keluar.


“Apakah julukan Pendekar Topeng Seribu merujuk pada topeng merah mudamu itu?” kata Sarti dengan lembut namun begitu tegas.


Jayaseta tidak menjawab dan mengambil topeng Sambanya yang tergeletak di tanah, kemudian mengenakannya. Namun baru saja Jayaseta selesai mengenakan topeng tersebut, Sarti sudah menyerbu ke arahnya.


“Heyaaaaaa …. “ sambil berteriak Sarti meloncat dengan tinggi menerjang Jayaseta dengan kerisnya.


Jayaseta bergeser, namun keris Sarti bagai ratusan ular kobra yang mematuk dengan cepat. Jayaseta heran dan terkejut karena walau ia pernah berhadapan langsung dengan beberapa pendekar yang menggunakan jurus keris, tapi Sarti sangat berbeda. Jurus-jurus tusukan kerisnya jauh melebihi Si Lebah Siluman hampir dalam segala segi. Kecepatan dan tenaganya luar biasa. Jayaseta mulai kewalahan. Ia tak bisa lagi menghadapi setiap tusukan Sarti tanpa senjata.


BUG!


Tendangan Sarti menghantam rusuk kiri Jayaseta sewaktu ia sibuk menghindari tusukan-tusukan keris Sarti yang sangat berbahaya.


“Heyaaaa ….!”


BUG!


Sarti melompat begitu tinggi dan memutarkan badannya sedikit, satu tendangan putar Sarti mengenai dada Jayaseta. Ia terlempar jauh dan menggelosor di tanah.


Gerakan Sarti ternyata tidak selembut suaranya. Bahkan walau teriakan perangnya juga terbilang lembut, tapi serangannya begitu garang dan ganas. Ia sepertinya tidak akan berhenti sampai sang musuh benar-benar tewas di ujung kerisnya.


Jayaseta terpaksa kembali bergulingan setengah mati karena Sarti tak memberikan nafas sedikit saja untuknya. Topeng yang ia kenakan sama sekali tidak dipedulikan Sarti, tidak ada pengaruh ketakutan atau misteri yang biasa terjadi pada musuh-musuh lainnya.


Jayaseta semakin heran dibuatnya. Dari lima orang pendekar penyerangnya, hanya Sarti yang sulit ditundukkan. Semula ia berpikir Sarti hanya berpegang dan bergantung pada senapannya. Ternyata keganasannya terlihat malah ketika ia sedang memegang keris. Kecepatannya luar biasa, menderu-deru dan tanpa jeda sama sekali. Jayaseta mengakui bahwa ia keteteran.


Namun tiba-tiba Jayaseta sadar akan sesuatu. Sekali lagi Jayaseta berguling ke belakang dan mencelat sejauh-jauhnya menghindari Sarti. Ia tahu ini hanya sementara, namun cukup untuk mempersiapkan kuda-kudanya.


Seperti yang sudah diperkirakan, Sarti tak berhenti, ia langsung menghambur ke arah Jayaseta. Jayaseta sendiri dalam keadaan merangkak sekarang telah memegang senapan rusak milik Sarti yang ujungnya berpisau. Jayaseta menyongsong datangnya tusukan Sarti dengan mencelat seperti seekor katak.


Tangan Sarti yang menggenggam keris mengambang di udara, hampir dua lengan jaraknya ke wajah Jayaseta. Sedangkan pisau yang ada di ujung senapan nya sendiri yang kini digunakan Jayaseta telah menancap tepat di tengah dada Sarti.

__ADS_1


__ADS_2