Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kesabaran


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Sang Penyair Baka dan Datuk Mas Kuning saling berhadap-hadapan, Jayaseta sudah lebih dahulu mengajukan dirinya untuk menghadapi pendekar renta yang ternyata masih hidup itu.


"Datuk, biarkan hamba yang menyelesaikan masalah ini. Hamba cukup terkejut bahwa pendekar itu masih hidup, tapi kali ini, ia tak akan bisa berulah lebih buruk lagi."


"Namun, Abang baru saja menerima rajah Kembang Kenanga. Abang masih terluka, dan tenaga Abang sepertinya cukup terkuras," ujar Dara Cempaka jelas khawatir.


"Dan kau tak bisa dan tak boleh menggunakan tenaga dalammu sama sekali. Rajah itu bukan hanya tak berguna lagi, sebaliknya ia akan membahayakan dirimu, nakmas," Datuk Mas Kuning kali ini yang berbicara.


"Datuk tidak perlu khawatir. Tanpa tenaga dalampun, hamba masih bisa melawan orang itu."


Datuk Mas Kuning menggelengkan kepalanya.


Jayaseta memandang ini sebagai bentuk ketidakpercayaan sang Datuk terhadap kemampuannya. "Datuk akan lihat sendiri bahwa hamba bisa mengalahkan orangtua yang berbahaya itu, dengan atau tanpa tenaga dalam."


"Nakmas Jayaseta, aku tak pernah meragukanmu sama sekali. Tapi apa kau yakin bahwa keinginanmu melawan Karsa sahabatku dulu itu adalah murni keinginan untuk membelaku, atau sekadar memenuhi nafsu berperangmu. Kau ingin menunjukkan padaku, pada dunia, bahwa Jayaseta memang pantas menyandang gelar Pendekar Topeng Seribu?"


Jayaseta kaget dan terhenyak mendengar ucapan sang Datuk.


"Sudah berhari-hari aku melatih tidak hanya badan jasmanimu, tetapi juga jiwa rohanimu. Harusnya kau sudah mengenal tubuhmu dengan lebih baik. Tenaga dalam yang pasti akan kau gunakan kelak dalam melawan Karsa, akan menjadi jebakan bagi dirimu sendiri. Bila sudah seperti itu, semua akan menjadi sia-sia dan percuma, bukan?"


"Datuk ... Sungguh, hamba tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. Mungkin hamba khilaf dan jauh di lubuk hati kesombongan itu memang masih ada di sana," ujar Jayaseta sungguh-sungguh.


"Aku sudah tua, nakmas. Sudah terlalu banyak dosa yang kukumpulkan. Aku tak mau mati dalam keadaan sebagai seorang pengecut dan pelarian dari masa lalu yang kelam."


"Apa maksud, Datuk?" kali ini Dara Cempaka yang setengah menjerit berkata kepada Datuknya.


Sang Datuk sendiri tersenyum kepada sang cucu tercintanya. "Kemarilah Dara Cempaka, Datuk ingin mengatakan sesuatu," Datuk Mas Kuning membawa Dara Cempaka ke sudut ruangan.


"Tolong bila sesuatu terjadi kepada Jayaseta, apapun itu, segera kau bawa ia kepada sahabatku, Temenggung Beruang. Ia pasti tahu apa yang dilakukan."

__ADS_1


"Datuk! Aku tak paham dengan apa yang Datuk ucapkan. Kita bisa menyerang orang itu bersama-sama. Kita bisa melumpuhkannya," ujar Dara Cempaka tak terima.


"Dengar Dara, Datuk tak mau mengorbankan banyak orang lagi. Semakin lama kira berbicara di sini, Karsa akan membunuh lebih banyak prajurit. Engkau tahu bahwa Datuk tak bersedia berontak dan keluar dari rumah ini karena menghindari pertumpahan darah lebih lanjut, bukan? Datuk tak mau mengorbankan, kau, cucuku. Begitu pula dengan Jayaseta. Karsa mungkin tak sesakti yang kita takutkan, tapi Jayaseta sedang berada dalam titik terendahnya."


Dara Cempaka menahan air matanya yang hendak tumpah. "Jadi, Datuk lah yang akan mengorbankan diri? Lalu bagaimana dengan aku, Datuk? Aku hanya seorang perempuan. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan bila sampai hal buruk menimpa Datuk."


"Dara ... Dara. Engkau sendiri yang mengatakan bahwa kau bukan anak-anak lagi. Kau bertanggungjawab penuh atas segala tindakanmu. Maka, inilah saatnya! Yakinkan Datuk, jangan sampai Jayaseta ikut dalam pertempuran. Bila Datuk dapat mengalahkan Karsa, kalian boleh keluar dari persembunyian. Namun bila yang terjadi sebaliknya, segeralah pergi, lari menjauh dari tempat ini. Hindari Karsa sebisa mungkin. Tetap pergilah mencari Temenggung Beruang, minta perlindungannya."


Dara Cempaka tak kuasa menahan air mata yang tumpah. Namun ia segera menghapusnya serta mengangguk mantap. Ia meraih tangan sang Datuk yang bergetar pelan karena telah menggunakan tenaga dalam yang cukup lumayan ketika menorehkan rajah Kembang Kenanga di tubuh Jayaseta, kemudian mencium punggung tangan sang Datuk tersebut.


***


"Dara, aku merasa menjadi seorang pengecut. Mengapa aku bersembunyi di sini, sedang Datuk berhadapan dengan bang*sat itu di sana?!" ujar Jayaseta geram.


"Abang harus sabar. Itu inti pelajaran yang Abang terima selama ini dari Datuk. Bila gegabah, Datuk akan sedih karena ilmunya tak benar-benar terserap oleh murid yang paling ia sukai ini. Semuanya juga akan mencari sia-sia dan tak bermakna," ucap Dara Cempaka dengan masih berusaha menyembunyikan rasa sedihnya sekuat ia mampu.


"Tak adakah yang bisa kita lakukan? Melapor kepada prajurit keraton? Warga masyarakat? Datukmu, seorang tokoh masyarakat yang memiliki nama besar sedang menghadapi seorang pendekar kejam haus darah. Datuk bisa saja dibunuhnya. Lagipula, orang itu mencari aku. Mana bisa kukorbankan orang lain hanya karena ingin melindungiku. Aku sudah berkali-kali merasakan dan mengalami hal yang persis seperti ini."


Jayaseta mendeprok di lantai. Ia menarik nafas. Bayangan wajah Almira, mendiang Badranaya sang paman, Karsan dan yang lainnya silih berganti.


Ia sadar, tubuhnya menggelora. Ia menyadari bahwa selama ini permasalahannya ada pada dirinya sendiri. Ia tak bisa lepas dari nafsu, amarah dan angkaramurka. Maklum rasanya bila tenaga dalam asing betah di dalam tubuhnya, menggerogoti jiwanya.


Jayaseta memandang Dara Cempaka, "Engkau benar, Dara. Bantu aku untuk dapat menjadi lebih sabar dan mengendalikan diriku sendiri. Sampai saat ini, hanya kau lah yang menjadi tumpuan bantuan dan bimbinganku."


***


Karsa membabat ke arah pinggul Datuk Mas Kuning. Ia tak main-main. Bila mungkin ia harus membunuh sang sahabat di masa lalu, maka ia pasti akan melakukannya.


Datuk Mas Kuning menempelkan pergelangan tangan bagian luarnya ke sisi dalam lengan Karsa yang memegang pedang.

__ADS_1


Kemudian dengan lengannya inilah Datuk Mas Kuning menolakkan serangan Karsa. Lengannya membabat jauh ke ruang kosong.


Karsa berputar dan kembali menyerang sahabat lamanya tersebut dengan tebasan mendarat ke arah dada atau leher Datuk Mas Kuning.


Yang diserang menarik tubuhnya ke belakang sedikit saja, serangan itu kembali menyasar ruang hampa.


Tapi ternyata serangan kedua ini hanya pengalihan, karena sepakan Karsa tepat mengenai kaki Datuk sehingga membuatnya terguling.


Karsa terlalu beringas, karena ia sudah langsung saja membabat musuhnya ketika masih berada di tanah.


Sang Datuk berguling ke depan dan ke belakang menghindari lima serangan Karsa yang mencongkeli tanah berumput tersebut.


Datuk Mas Kuning kemudian segera berdiri merunduk dalam sebuah kesempatan serta langsung saja menujamkan keris Kyai Pulau Bertuah nya ke arah dada Karsa.


Yang diserang tersentak dan mundur bergulingan ke belakang, menjauh dari Datuk Mas Kuning.


"Ha ha ha ... Luar biasa, Kuning. Bisa-bisanya aku terkejut setengah mati dengan serangan kerismu itu. Padahal, kita sama-sama tahu, tak ada luka yang bisa dihasilkan dari senjata tajam macam apapun di kulitku. Mungin karena sudah lama tak beradu kanuragan denganmu dan gerakanmu masih luar biasa gesit dan lentur bak penari, sama seperti dahulu. Bahkan Salman yang menggelari dirinya Si Pisau Terbang Penari pun masih kalah lihai dan gemulainya dibanding silat Melayu mu itu," ujar Karsa.


"Kau sendiri semakin percaya diri Karsa. Mungkin alam bawah sadarmu yang berpikir bahwa kerisku bisa saja membunuhmu. Kau hanya enggan mengakui karena saking sombong dan angkuhnya dirimu," balas Datuk Mas Kuning.


Karsa tak mengacuhkan ucapan Datuk Mas Kuning. "Jadi, benar, kau mengajari anak muda itu ilmu berpikir, selain ilmu silatmu? Kau ajari dia omong kosong falsafahmu? Ada apa dengan anak itu sebenarnya Kuning? Aku melihat dengan mata kepala sendiri kedahsyatan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya. Tapi tenaga itu begitu liar dan tak terkendali. Aku ingin menjajalnya. Bahkan, bila aku bisa memiliki kekuatan itu, aku akan merasa sempurna, Kuning."


"Oleh sebab itu, orang-orang semacam kau tak mungkin dianugerahi kekuatan besar tersebut. Anak itu melawannya, sedangkan kau, ingin memilikinya!"


"Ha ha ha ... Sumpah, Kuning. Aku semakin penasaran. Dimana anak itu sekarang? Kita selesaikan saja pertarungan ini disini, sekarang juga. Anggap saja temu kangen. Serahkan anak itu, dan kau bisa melihat kemampuan terbaikku ketika mengalahkan dan membantainya dengan kedua tanganku ini," Karsa terkekeh.


"Karsa ... Karsa ... Kau sudah kenal diriku, bukan? Tentu aku pasti menjawab tidak. Kita bisa selesaikan semuanya sekarang. Apapun yang pernah dan masih ada di dalam pikiran dan hatimu mengenai diriku, kita selesaikan hari ini untuk selamanya."


Karsa mendadak berair muka sungguh-sungguh, "Aku sudah tahu itu yang menjadi jawabanmu, sahabat."

__ADS_1


Karsa meluncur dengan secepat kilat ke arah Datuk Mas Kuning, menyasar leher dan dadanya dengan bilah pedang yang memantulkan cahaya obor.


__ADS_2