Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Ancaman Nyata


__ADS_3

Jayaseta sudah menyatu dalam kekelaman malam yang kini berlaku layaknya kepanjangan tangan dan indranya. Ia berhasil dengan baik menangani setiap pergerakan, langkah dan serangan musuh. Bahkan nafas keempat pemuda Thai tersebut mengalir dalam udara bagai sulur-sulur akar yang teraba di permukaan kulit Jayaseta.


Jayaseta menunduk dan menepis tusukan tombak yang ditujukan secara acak itu. Namun, kali ini ia tidak sekadar menghindar dan mendorong musuh. Ia menggenggam batang tombak dengan erat, kemudian satu tangannya memberikan satu tinju ke dada sang pemegang sembari tangan yang menggenggam tombak menyentak keras.


BUG!


Tombak terlepas dari tangan sang pemuda Thai kemudian terlempar entah kemana di dalam semak-semak. Ia sendiri terpaksa terdorong mundur dengan dada yang terasa retak terkena palu godam. Tak lama ia tersandung oleh tubuh temannya sendiri yang sedang menunduk sehingga jatuh ke atas tanah berumput.


Ketika ia merutuk dan temannya dalam keadaan tersentak kaget dan bingung, Jayaseta meluncur cepat menghajar pemuda Thai yang kaget itu. Ia memang sempat menyadari ketika tendangan Jayaseta meluncur ke arahnya dari balik kegelapan. Deruan bunyi tendangan yang datang ke arahnya jelas menunjukan betapa kuat serangan itu.


Sang pemuda Thai secara naluriah menyilangkan tombak di depan tubuhnya.


PRAK!

__ADS_1


BUG!


Tombak patah jadi dua dan terlepas dari tangan yang empunya. Tidak sampai disitu, tendangan Jayaseta terus masuk menembus pertahanan dan melesak mengenai dada kanannya. Ia terlontar menyamping menubruk sebatang pohon kecil.


Mendengar erangan kedua temannya, kedua rekan mereka yang lain yang buta dalam kegelapan menjadi semakin jengah. Apalagi mereka sedari tadi telah beberapa kali didorong, ditolak, dan disentak mundur oleh soaoak tak terlihat.


"Bangsat! Siapapun kau tak akan bisa membahayakan kelompok kami. Kau harus mati demi melindungi keluarga dan kerabat-kerabat kami. Ayo, kita tidak bisa menyerah!" Seru salah satu pemuda Thai dengan lantang, lebih cenderung kepada temannya. Ia tak peduli apakah sosok yang mereka hadapi paham kata-katanya atau tidak.


Dua pemuda Thai itu kini semakin menyerang membabi buta, tidak hanya dengan tombak, tetapi juga belati. Keduanya berteriak-teriak dalam bahasa Siam. "Pergi kau dari tanah kami. Tidak akan kami biarkan kau mengancam keselamatan warga kampung!"


Dalam dua gerakan lagi, Jayaseta membetot lengan lawan dan membuat mereka terpaksa melepaskan belatinya. Gerakan-gerakan Jayaseta ini sedikit berbeda dengan jurus-jurus dalam tatanan Jurus Tanpa Jurusnya. Meskipun sama-sama bersifat menyesuaikan dan cenderung bebas, gerakannya kali ini terpatah-patah tapi tegas.


Jayaseta kembali tersenyum di dalam hati. Sifat adiwira sekaligus kependekarannya terpercik. Ia mendapatkan lagi peningkatan dalam olah kanuragannya.

__ADS_1


Saatnya menyelesaikan permainan ini, pikir Jayaseta. Ia bersiap menghabisi keempat orang tak dikenal itu. Tenaga dalam dialirkan merata ke seluruh tubuhnya untuk menjadikan semua anggota badan sebagai senjata.


"Tunggu, tuan Jayaseta. Mereka bukan orang berbahaya!" mendadak terdengar suara Siam dari kejauhan.


"Tuan Jayaseta. Kau dimana? Apakah kau dengar aku? Tolong jangan bunuh mereka," lanjut Siam.


Jelas sekali bahwasanya Siam tak dapat melihat keberadaan mereka, tetapi bisa dipastikan Jayaseta jelas lebih unggul dibanding orang-orang tak dikenal yang merunduk-runduk menuju ke perkemahan mereka di gua tersebut.


Jayaseta menghentikan kelanjutan rencana serangannya. Ia menunduk dalam diam. Begitu pula keempat pemuda Thai. Bedanya, Jayaseta tahun setiap jengkal langkah mereka dan dimana mereka berada, sedangkan keempatt pemuda Thai meraba dalam gelap dan memicingkan mata mencoba menyerap pendaran cahaya lemah dari langit yang susah payah menembus rerimbunan pepohonan.


"Apakah kalian orang-orang Siam? Dari kampung mana kalian berasal? Kami tidak ingin mencari masalah," ujar Siam kemudian, kali ini dalam bahasa Siam.


Tidak terdengar jawaban. Siam kembali berteriak, "Aku tahu siapa kalian. Jangan khawatir, aku tegaskan sekali lagi, kami bukan musuh kalian."

__ADS_1


Siam kemudian berteriak kepada Jayaseta. "Tuan Jayaseta. Mereka bukan petarung. Mereka hanya pemburu dari kampung mereka. Ancaman nyata bukan dari mereka. Nampaknya masih ada perompak Champa yang datang ke arah tempat kita berada. Ireng sedang melihat mereka sekarang dari atas bukit," ujarnya.


__ADS_2