Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Rujakpala


__ADS_3

Jayaseta meledakkan tenaga dalam ke dada seorang perompak. Bunyi retakan tulang terdengar jelas. Sang perompak roboh sembari memegang dadanya. Darah keluar dari mulut dan hidungnya.


Sudah dua perompak terkena tinju atau telapak bertenaga dalam yang dilontarkan Jayaseta. Keduanya terkapar dalam keadaan yang mengenaskan, terutama karena mereka belum tentu langsung tewas.


Kelimabelas perompak tambahan ini jelas-jelas merepotkan Jayaseta. Ia harus mengatur tenaga dalamnya agar tak digunakan sembarangan dan semena-mena. Jayaseta harus mampu membagi penggunaan tenaga dalamnya agar ia tak keteteran dan kelelahan.


Ia sendiri masih melawan rasa mabuknya dengan hawa murni yang setiap hari ia gunakan. Akan berantakan bila 'kemenangan' melawan rasa mabuk laut ini harus bubrah hari ini, apalagi para perompak ini memiliki tingkatan ilmu silat, kegesitan dan kanuragan terutama kekebalan yang setingkat lebih tinggi di atas perompak pendahulu mereka.


Silat sepapan mereka digunakan dengan baik. Gerakan lurus tanpa basa-basi membuat para penembak harus berlarian mundur. Setiap mereka tertembak, mereka akan bangun kembali dan langsung menyerang dengan badik terhunus.


Sang Raja Nio juga mau tak mau ikut turun ke pertempuran. Ia membabatkan kelewangnya kesana-kemari. Lima perompak terbabat di sana-sini walau sama sekali tak terluka. Ini membuat keadaannya juga menjadi sangat rentan diserang.


Benar saja, satu perompak menyobek kulit paha dan bahunya. Raja Nio ditarik mundur salah satu awak kapalnya, digantikan dengan seorang penembak bedil.


Melihat keadaan di geladak membuat Jayaseta hampir lengah ketika dua perompak sekaligus maju menusuk ke arah kepala dan perutnya.


Jayaseta mundur dan berguling sekali ke belakang. Punggungnya menubruk tiang layar. Kedua ujung badik tiba-tiba sudah berada di depannya.


BRET!


BRET!


Jayaseta bergerak menyamping secepatnya, namun kalah cepat dengan kedua badik yang berhasil merobek bahunya.


Dua garis luka langsung menyemburkan darah.


Melihat lawannya terluka, kedua perompak semakin haus darah. Mereka kembali menyerang Jayaeseta dengan tusukan-tusukan mematikan ke semua titik berbahaya.


Jayaseta sempat berdiri namun harus mengelakkan lima sampai sepuluh tusukan bertubi-tubi.


Tak mau berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan ini, Jayaseta kemudian menjatuhkan diri dan memutarkan kakinya di atas lantai menyapu bagian bawah tubuh musuh.


Kedua perompak tak menyangka serangan ini sama sekali.


Keduanya ambruk.


Jayaseta mencelat ke udara bagai seekor katak kemudian menjejak leher kedua musuh.


Karena saking kuat beban serangan Jayaseta yang dilakukan dari udara ditambah keterampilan silat, bunyi berderak patah kembali terdengar dari dua leher musuh tersebut. Terdengar suara teriakan yang tercekik.


Jayaseta tak berhenti disitu saja. Ia mencabut badik dari balik ikat pinggangnya - badik yang ia pungut di geladak, milik salah satu dari kedelapan perompak yang menyerang jung tersebut pertama kali.


Jayaseta menancapkan bilah itu ke mata sang musuh yang terbaring lumpuh. Bilah badik menembus sampai ke otak musuh dan membunuhnya seketika.


Jayaseta kemudian mencabut senjata berjenis belati itu dan menusukkan ke salah satu mata perompak lainnya. Ia juga tewas seketika.

__ADS_1


Jayaseta membiarkan badik menancap di situ.


***


Dua pembedil mati. Mereka tak sanggup lagi menahan gempuran para perompak kebal tersebut. Badik menusuki dagu, leher, perut sampai ************ mereka.


Tiga budak bahkan mati lebih mengenaskan, ditusuk-tusuk secepat kilat di setiap jengkal tubuh mereka, membuat badan mereka hanya bagai seonggok daging mentah yang dijual di pasar.


***


Lima muda-muda dan beberapa budak menghambur maju menyerang para perompak. Mereka baru saja keluar dari ruangan kapal di buritan dengan membawa segala jenis senjata pemukul dari kayu, seperti gada, pentungan sampai dayung.


Raja Nio melemparkan kelewangnya dan menerima sebuah gada kayu dari seorang budak, "Ini tuan. Kami mendapatkan beberapa senjata gada dari buritan kapal," ujar seorang budak.



Tatapan Raja Nio bertubrukan dengan tatapan Jayaseta.


"Jangan menghakimiku. Aku juga benci harus membawa budak di kapal ini, tapi itu sudah aturannya. Gada-gada dan pentungan kayu ini memang digunakan untuk menghukum para budak yang bersalah, memberontak atau tak menurut. Tapi bukan pada saat aku menjadi nakhoda. Peralatan itu milik nakhoda sebelumnya. Oleh sebab itu aku meletakkannya di buritan kapal," ujar sang nakhoda.


Sepertinya pandangan Jayaeseta dibalik topeng mampu menembus rasa jiwa Raja Nio. Tatapan menuduh itu segera dibalas oleh Raja Nio dengan penjelasan bahwasanya dirinya termasuk orang yang menolak perbudakan.


Itu sebabnya Raja Nio meninggalkan daerahnya di Larantuka, Nusatenggara, sebagai bentuk penolakan jual beli budak yang merupakan orang-orang sebangsanya sendiri.


"Aku tak memiliki hak untuk menilaimu, tuan Antonio," jawab Jayaseta pendek. Meski di dalam hati, Jayaseta memang sempat sebal melihat gada dan pentungan kayu tersebut.



Ia juga ingat bahwa Katilapan dan kapal dimana ia sempat bertarung dengan gerombolan paman Badra nya tersebut menyediakan tongkat-tongkat rotan sebagai bagian persenjataan para prajurit sewaan tersebut.


Gada kayu yang digenggam sang nakhoda berukuran sedang, hanya sedikit lebih panjang dari lengan bawah, namun terbuat dari kayu yang keras dan padat.


Di cerita pewayangan dan sejarah raja-raja, tercatat banyak penggunaan senjata gada yang terbuat dari kuningan atau jenis logam lain. Sebut saja Wrekodara atau cukup awam dikenal dengan nama Bima, putra kedua keluarga Pandawa yang bertubuh raksasa tersebut, terkenal mahir memainkan gada yang juga berukuran besar bernama Gada Rujakpala. Dinamakan demikian karena gada ini dapat menghancurkan musuh sampai benar-benar hancur seperti rujak saja.


Gada adalah senjata jenis pemukul yang memiliki akibat kerusakan yang berbeda dengan senjata tajam seperti pedang atau tombak.


Gada dengan kepadatan bahannya bertujuan menghancurkan bagian dalam tubuh seperti daging, urat dan tulang. Berbeda dengan pedang yang menyobek lapisan kulit, gada lebih bertujuan menghancurkan bagian dalam, meski dalam banyak kejadian, kekuatan sang pengguna gada akan lebih mengakibatkan kehancuran yang lebih parah dibanding pedang atau senjata tajam logam lainnya.


Jayaseta kemudian merebut gada dalam genggaman Raja Nio.


Menyadari ini sang nakhoda terkaget dan berteriak, "Apa yang kau lakukan, kisanak?"


"Perhatikan baik-baik kapal induk para pembajak, tuan. Aku pikir mereka masih memiliki kejutan. Hemat orang-orang kita, jangan sampai mereka mati konyol oleh para perompak pendekar kebal itu."


Jayaseta ternyata mencegah sang nakhoda untuk turun bertempur. Bagaimanapun pemimpin kapal sangat diperlukan untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan pelayaran mereka.

__ADS_1


Bila sampai Raja Nio sampai kembali terluka, baik terluka parah atau lebih buruk, yaitu tewas, Jayaseta sendiri akan kelimpungan karena mungkin kapal jung ini akan terkatung-katung lebih lama di samudra.


Meski cukup sebal karena dicegah turun tangan langsung, Raja Nio paham benar dengan tujuan Jayaseta yang cukup masuk akal.


Ia kembali ke bagian atas kapal dan berteriak-teriak memberikan perintah kepada jurumudi dan mualim untuk memperhatikan setiap gerakan kapal musuh.


***


Gada kayu tersebut cukup nyaman berada di tangan Jayaseta. Ia tak perlu mengeluarkan terlalu banyak tenaga dalam ketika menyerang para perompak.


Beberapa muda-muda dan budak yang ikut menyerang para perompak kebal tersebut terluka di beberapa bagian, namun syukurnya, para pembedil yang masih berdiri cukup memberikan bantuan.


Ketika perompak berhasil tumbang tertembak, para muda dan budak menyerang mereka dengan pentungan, gada dan dayung. Ini membuat musuh cukup terluka.


Gerakan mereka tentu menjadi penuh perhitungan karena senjata kayu tersebut menggebuk mereka dan mengejutkan rasa sakit yang menyebar dari tulang dan daging di balik kulit kebal mereka.


Bagi Jayaseta, setiap gebukan yang mengena menderakkan tulang.


Dengan Jurus Tanpa Jurusnya, Jayaseta menggulung bagai ombak. Tiga perompak terpelanting karena dihantam Jayaseta di bagian kaki, paha, dada bahkan kepala. Jayaseta melakukannya dengan gerakan pendek-pendek nan cepat.


Gebukan gadanya tidak dilakukan dengan mengayunkannya sekuat tenaga dengan melebarkan jarak tangan ke arah sasaran, namun hanya dengan memainkan siku dan pergelangan tangan.


Sorak-sorai awak kapal jung mulai riuh rendah, melihat keadaan sudah benar-benar berbalik.


Jayaseta seakan pemimpin serangan para awak yang dibantu pembedil serta budak dan muda-muda.


Tak lama lagi semua perompak pasti sudah bakal bisa dilumpuhkan secara keseluruhan. Hampir semua perompak sekarang berjatuhan di lantai tak sanggup berdiri. Kekebalan tubuh mereka tak mampu menahan pukulan dan melindungi tulang-belulang mereka.


Beberapa nampak tewas perlahan karena pecahan tulang menembus merobek daging mereka dari dalam. Beberapa diantaranya mengaduh kesakitan.


Masih ada satu perompak yang berdiri di depan Jayaseta. Tulang kering kaki kanannya telah retak dihajar Jayaseta dengan gada kayunya, namun walau terpincang-pincang ia masih nekad menghadapi Jayaseta.


Tak perlu lama Jayaseta menghambur maju dan sedikit melompat untuk menghajar kepala sang lawan.


DAG!


Tanpa disangka-sangka, tubuh Jayaseta terlempar mundur sekitar tiga tombak jauhnya menubruk beberapa awak kapal yang berdiri di belakangnya.


Gada kayu terlepas dari tangan Jayaseta. Dadanya terasa pedas, namun ia masih bisa berdiri dan mencoba menahan rasa sakit tersebut.


Berdiri tiba-tiba tiga tombak di depan Jayaseta, seorang laki-laki dengan ikat rambut tinggi bergaya Mangkasara, berbaju tanpa lengan dan kancing berwarna merah terang. Kain sarung yang melingkari bagian bawah tubuhnya berkibar ditiup angin.


Sepasang kakinya menekuk rendah. Tangan kanannya lurus mengepal di depan. Tangan itulah yang tadi digunakan untuk menyerang Jayaseta.


Kecepatannya yang luar biasa membuat Jayaseta cukup heran karena bahkan ia tak sempat melihat kehadiran sang penyerang.

__ADS_1


Laki-laki itu kemudian menarik tangannya dan meluruskan kedua kakinya, berdiri tegak menantang. Dagunya ia angkat ke atas sembari berteriak lantang ke arah semua awak kapal bukan sekadar Jayaseta yang barunm saja ia serang, "Aku adalah Si Gelembung Lotong. Selamat datang di kematian!"


__ADS_2