Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Lethwei Thaing


__ADS_3

Para pendekar Siam berdiri berdampingan melebar bagai susunan pagar. Semuanya bersiap menghadapi serangan pendekar Melayu Kedah yang menggulung laksana gelombang samudra.


Pendekar-pendekar Siam yang bercawat dan berikat kepala merah ini memutar kepalan mereka, mengangkat kaki dan menghentakkan kaki ke bumi bagai paku besar yang menancap ke tanah.


Pasukan pendekar Melayu berlompatan menusukkan keris mereka seakan haus darah. Bukannya menghindar, para pendekar Siam itu malah maju dan menyongsong serangan.


Hujan serangan dari langit melawan ledakan dari tanah.


Tusukan keris pendekar Melayu tidak sampai mengenai kulit apalagi tubuh para pejuang Siam dari kelompok Khun Wanchay na Ayuttahaya tersebut karena dengan cekatan pendekar-pendekar Siam menyeruduk bagai banteng liar. Siku, tinju, lutut dan tentunya kepalan tinju menghajar wilayah tubuh lawan yang rentan terluka seperti ulu hati, leher dan wajah.


Pendekar Melayu berjatuhan, gugur bagai kelopak bunga di musim kemarau. Ketika mereka rubuh ke tanah oleh serangan lawan itu, rekan lain dengan mudahnya menjejak dada atau bahkan wajah bagai kumpulan gajah.

__ADS_1


Sepuluh orang berkesan berlipat-lipat banyaknya karena kesemuanya berputar dalam gelar tarung yang rapat namun tepat guna. Satu pukulan dilepaskan harus mengenai musuh dan mengakibatkan hasil yang besar. Bila kurang, maka rekan lainnya akan menyelesaikannya.


Barulah ketika beberapa petarung Siam menggunakan kepala mereka untuk menghajar para pendekar Melayu yang kesulitan menusukkan keris mereka, mereka mulai sadar bahwa silat kaum Siam ini bukanlah bergaya Muay Boran atau Silat Tomoi seperti yang biasa mereka hadapi dan kenal.


"Mundur, jangan boroskan tusukan kalian. Mereka menggunakan silat Lethwei Thaing dari orang-orang Burma," seru Pucok Gunong sang Harimau Belang. Ia tidak bisa membiarkan pasukan Melayu dikalahkan dan dipermalukan menggunakan jurus-jurus silat Burma yang terkenal kotor itu.


Di sela-sela para pendekar Siam yang bercawat dan berikat kepala merah, ada tiga orang pesilat dengan rajah memenuhi paha mereka, rambut yang dikepang dan digelung, serta cawat dari sarung, disebut Longyi, yang diikat dan disimpul membentuk cawat. Mereka sudah pasti adalah orang-orang Burma yang memang terkenal dengan silat Thaing mereka.


Thaing adalah nama silat dari Burma yang termasuk di dalamnya beragam jenis gaya, seperti yang dihadapi pendekar-pendekar Melayu ini, yaitu Lethwei, atau silat tangan kosong. Thaing sendiri juga terdiri atas Bando, yang juga merupakan tangan kosong, serta silat Banshay yang menggunakan senjata seperti pedang, tongkat atau tombak.


Sedangkan yang dimaksud oleh Pucok Gunong bahwasanya silat Lethwei ini adalah ilmu tarung yang 'kotor', adalah penggunaan kepala dalam jurus-jurusnya untuk menyerang lawan. Tidak hanya itu, setiap anggota tubuh dijadikan senjata, sama bahayanya dengan pentungan atau bahkan belati dan pedang.

__ADS_1


Untuk menempatkan serangan kepala ke wajah terutama pelipis musuh, para pendekar Siam ini harus menerobos masuk dan menciptakan jarak yang sangat dekat. Karena bila tidak, maka mereka akan mempertaruhkan kepala mereka sendiri menjadi sasaran keris para pendekar Melayu.


Jelas sudah mengapa para pendekar Siam ini begitu berani mempertaruhkan nyawa mereka melawan keris-keris para pendekar Melayu. Namun tentu saja, selain berani, gerakan mereka harus begitu cepat, gesit dan tepat sasaran.


Sudah empat orang pendekar Melayu terkapar di tanah tak mampu bangun lagi, entah tewas, entah terluka parah. Sisanya masih ada dua orang lagi yang berdarah-darah di bagian wajah mereka karena sundulan kepala para pendekar Siam itu.


Para pendekar Siam itu kembali membetulkan gelar perang mereka setelah melihat lawan mundur. Mereka saling memutarkan kepalan, mengangkat kaki kanan dan kiri, kemudian menghunjamkannya ke bumi. Sedangkan ketiga pendekar Lethwei Burma yang tak berikat kepalan atau lengan, mengangkat lutut mereka dan menepuk-nepuk dada serta ketiak mereka sebagai bentuk kuda-kuda Lethwei.


Keadaan mereka pun tidak bisa dikatakan sempurna. Darah mengalir dari luka terserempet keris di bagian bahu atau paha, meski tak sebanding dengan apa yang dihasilkan dari perlawanan mereka. Ada desas desua mengatakan bahwa para pendekar Siam ini dilengkapi dengan ilmu sihir atau jampi-jampi yang membuat mereka tidak merasa sakit bila terluka, sehingga gerakan kecepatan serangan mereka sama sekali tak terpengaruh.


Pucok Gunong melihat keadaan empat orang pendekar yang terkapar, kemudian memindai lawan. "Jaga jarak," bisik nya pada para pendekar Melayu. "Jangan menyerang amuk, sebaliknya beri ruang yang cukup untuk tusukan keris-keris kalian. Bila perlu mundur. Mereka akan mencoba menempel dan mendekat rapat agar bisa menyundulkan kepala mereka ke bagian lembut di wajah kita. Begitu juga dengan jurus lutut terbang mereka yang berbeda dengan Muay Boran orang-orang Siam, mereka juga melakukannya dalam jarak yang sangat dekat," lanjut Pucok Gunong.

__ADS_1


Tentu, semua pendekar Melayu Kedah telah kembali bersiap melaksanakan perintah sang pimpinan. Kali ini darah harus menghiasi bilah keris mereka.



__ADS_2