
Jayaseta bukannya mundur mendapatkan serangan mendadak dari Siam tersebut. Ia malah maju kedepan dan beguling. Cakar Siam lolos dari kepalanya.
“Bangsat!” seru Katilapan. Ia mencabut ginuntingnya dan mendekat cepat ke arah Ireng. “Kau juga terlibat dalam hal ini, Ireng? Kau dan Siam selalu bersama dan seperti tak terpisahkan. Kau pastilah salah satu dari mereke!”
Ireng mundur dan terjengkang ke belakang. “Tunggu, tuan Katilapan. Aku tidak tahu-menahu. Aku sama bingungnya dengan kalian,” balas Ireng.
“Tunggu, abang Katilapan. Abang Ireng tidak terlibat apa-apa. Abang Siam meminta abang Ireng untuk memindahkan mayat sang pemimpin Champa yang bernama Lâm. Itulah sebabnya di jari-jarinya masih melekat darah Lâm yang sudah kering. Aku mendengar pembicaraannya dengan para pemburu Thai itu. Abang Jayaseta awalnya juga curiga dengan keterlibatan Ireng. Tapi yakinlah, abang Katilapan, empat orang pemburu Thai itu lah lawan kita sesungguhnya. Kampung yang mereka maksud bukanlah kampung Thai sebenarnya. Disana adalah perkemahan rahasia Dunia Baru. Kalau tak salah, selain ada para pendekar sewaan, mereka juga mempersiapkan diri dengan dua sejoli pendekar dari Khmer bernama Sokhem dan Sovanara,” jelas Dara Cempaka tiba-tiba.
Siam terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Baiklah. Kalian ternyata sudah tahu. Sungguh aku tak menduga Dara memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia memang cerdas. Aku baru sadar. Awalnya, aku merasa tidak terlalu percaya diri menghadapimu, Jayaseta. Tapi kau juga sudah menghadapi banyak musuh selama beberapa hari ini. Kita lihat, seberapa besar kemampuanmu menghadapiku. Dan, aku tak perlu meminta maaf kepada Ireng karena telah bertahun-tahun lamanya tertipu olehku. Setiap orang memiliki rahasia dan keinginan di dalam dirinya, bukan?”
__ADS_1
Ireng berdiri. Kerisnya tergenggam erat di tangannya. “Bajingan! Akan kubunuh kau dengan tanganku, Siam!” serunya penuh amarah.
“Kau bukan lawanku, Ireng. Aku bisa pastikan itu. Kalau kau sempat, perhatikan bagimana sebenarnya kemampuanku. Asal kau dan kalian semua tahu, aku adalah salah satu dari sembilan pendekar Dunia Baru yang dikenal dengan gelar Harimau Siam. Memang benar, nama yang sejatinya tidak sesuai mengingat aku adalah orang berdarah Champa,” seru Siam. “Tapi, kalau kau masih ingin sedikit mengeluarkan amarahmu, jangan khawatir, ada empat orang Thai yang siap kau jajal. Setiap dari kalian pas sekali mendapatkan satu lawan. Jadi, biar aku tuntaskan ini dahulu,” lanjut Siam semakin menantang.
Tak lama ia memerintahkan empat orang pemburu Thai yang sebenarnya adalah para prajurit bayaran Dunia Baru itu untuk bersiap menyerang Dara Cempaka, Ireng, Katilapan dan Narendra.
Melihat pergerakan dari keempat pemburu Thai itu, Narendra tertawa mengejek. Ia mencabut tombak trisula pendeknya, kemudian dengan cepat dan cekatan memasangkannya ke gagang yang lebih panjang. “Untuk urusan mereka berempat, aku sendiri pun bisa melakukannya!”
“Baik, baik. Kau ambil dua, aku ambil dua. Adil, bukan?” balasnya kepada Katilapan. Narendra kemudian melihat ke arah Ireng. “Ireng, kau bersiap-siap saja.” Ia lalu juga melihat ke arah Dara Cempaka. “Bukan aku menyepelekanmu, Dara. Tapi kau tak perlu repot-repot untuk ikut turun untuk menghadapi cecunguk-cecunguk tak bisa diuntung ini.”
__ADS_1
Katilapan dan Narendra kini berdiri berdampingan. Keduanya saling pandang dan tersenyum. “Akhirnya, kita diberikan kesempatan untuk kembali bertarung. Aku hampir mati bosan,” ujar Katilapan. Ucapannya ini dibalas dengan tawa ringan bermakna Narendra.
Siam meludah ke tanah melihat hal ini. Ia memandang ke arah Jayaseta. “Kau adalah lawanku, Jayaseta. Aku selama ini telah menjadi saksi kehebatanmu. Tapi, apa kau sanggup melawanku?” tantangnya.
Siam meraba pinggang bagian belakangnya dan meraih sesuatu. Itu adalah sebuah senjata yang berbentuk tidak biasa. Siam kemudian memasukkan benda itu di sela-sela jari kirinya. Sebuah penutup tinju dan kepalan dari perunggu dengan gerigi-gerigi tajam dan melengkung. Ini adalah salah satu jenis senjata purba orang Champa yang digunakan dalam pertarungan satu lawan satu. Ia kemudian merendahkan kuda-kudanya lagi. Tangan kanannya yang tidak menggenggam senjata kembali membentuk cakar. “Bersiaplah menghadapi sang Harimau Siam, hai Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu!” seru Siam dengan penuh semangat. “Terima jurus-jurus Harimau Menggerogoti Bangkai Rusa milikku ini!”
Siam melesat maju kemudian ketika hanya beberapa langkah saja jaraknya dari Jayaseta, langsung melompat. Cakarnya mengarah ke leher Jayaseta, sedangkan tangan kirinya yang menggenggam pelindung kepalan bergerigi dari perunggu itu mengarah ke dada Jayaseta, siap menghancurkannya.
__ADS_1
Di sisi lain pun, empat prajurit Thai bertombak langsung ikut melakukan penyerangan. Tombak panjang mereka sudah mengarah ke Katilapan dan Narendra. Sekali lagi, keempat prajurit Thai harus menunjukkan kemampuan mereka di depan sang Harimau Siam agar dapat resmi masuk ke dalam kelompok Dunia Baru. Itu harapan mereka selama ini. Mereka tidak hanya ingin dibayar untuk melakukan beragam tugas, terutama dari dua pasangan Khmer, Sokhem Sovanara, tetapi ingin menjadi bagian dari pasukan inti Dunia Baru. Sayangnya, mereka sama sekali tidak paham, siapa yang mereka hadapi saat ini.