Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Logam-Logam Pengait


__ADS_3

Tembakan meriam hanya membuncaikan sedikit perompak Đại Việt dan perahu-perahunya. Namun, puluhan perahu lainnya sudah terlajur merangkak mendekat dengan cepat, dan menempel erat ke kapal Lan Xang itu bagai rombongan semut rangrang mengerubuti serangga.


"Bodoh! Penggunaan meriam hanya akan membuat mereka masuk dengan cepat," gumam Sasangka di dalam hati dengan dongkol. Ia berada di geladak bagian muka dengan para awak prajurit Lan Xang serta beberapa orang penumpang yang telah menghunus senjata mereka. Asap meriam mengambang di udara menutupi jarak pandang. Inilah yang membuat Sasangka kesal. Harusnya meriam tidak digunakan dalam pertama peperangan di atas perairan sempit semacam ini.


Benar saja, dua batang tombak mendadak muncul menembus asap dan langsung menghujam ke satu lengan prajurit serta satunya lagi menyobek perut kiri prajurit lainnya.


Logam-logam pengait mencapai sisi kapal. Pengait-pengait melengkung tersebut terikat tali-tali yang digunakan untuk memanjat ke geladak kapal dari perahu-perahu yang ada di sungai.


Para prajurit menyerbu kedatangan lawan dengan mencoba memutuskan tali dan melempari para penyerang dengan tombak mereka. Gemuruh teriakan terdengar memekakkan telinga.


"Dungu, goblok!" gumam Sasangka lagi di dalam hati. Tombak yang para prajurit pegang harusnya tidak dilemparkan sebagai lembing seperti itu. Jumlah penyerang masih sangat banyak, para prajurit di atas geladak kapal akan kehabisan senjata dengan gampangnya.


Para perompak Đại Việt dan Champa memang merayap cepat bagai tokek. Tubuh mereka yang kecil nyatanya membuat gerakan mereka begitu gesit. Bahkan sangat mengangetkan, mereka memanjat tali hanya dengan menggunakan satu tangan, sedangkan tangan lainnya tetap menggenggam tombak yang digunakan menusuk ke atas bila para prajurit Lan Xang mencoba menahan mereka dari atas. Tidak hanya itu saja, mereka pun mampu melontarkan tombak ke atas sembari terus menanjak naik dengan cepat.

__ADS_1


Pertahanan bobol. Hanya beberapa perompak saja yang jatuh ke sungai karena tali mereka putus, menghindari serangan, atau terluka dan tertusuk tombak. Sisanya berhasil melompat ke atas dengan terlebih dahulu membuat beberapa prajurit terluka berat bahkan terluka.


Sudah lebih dari sepuluh orang Đại Việt benar-benar berada di atas geladak. Mereka menusukkan tombak mereka secara membabibuta ke arah siapapun yang mencoba menahan. Suasana riuh, pertarungan di ruang sempit langsung meledak.


Pertarungan tak terlihat berjalan baik. Tusukan demi tusukan menyobek kulit dan daging tanpa ampun, tetapi tak jarang semua orang bertubrukan. Kawan maupun lawan kerap tak bisa dibedakan oleh para prajurit Lan Xang. Dengan cepat mereka berjatuhan karena menubruk teman sendiri atau tersandung senjata yang terjatuh.


Bila sudah seperti itu, maka musuh dengan gampang menyemai nyawa para prajurit Lan Xang dengan menusuk-nusukkan tombak mereka bagai berburu ikan saja.


Sasangka melompat dari geladak atas dan menyambarkan wedhungnya ke kerumunan penyerang Đại Việt yang sibuk menusuki prajurit Lan Xang yang malang.


Dua orang Đại Việt meregang nyawa, bahkan tak sempat terkejut ketika punggung dan tengkuk mereka disobek oleh bilang wedhung sosok tak dikenal dengan mulut ditutupi selembar kain itu.


Sasangka berteriak keras dan lantang, membuyarkan jalanya pertempuran. Gerakan tuga jurusnya membuat para penyerang gelagapan. Dalam dua sabetan, tiga orang Đại Việt kembali tumbang. Salah satu diantaranya tewas di tempat. Para penyerang kapal itu juga semakin dibuat bingung dengan senjata yang digunakan orang tak dikenal tersebut. Tiga bilah belati yang dua diantaranya menempel di bagian hulu.

__ADS_1


"Apa yang kalian tunggu? Cepat putuskan tali-tali itu sebelum mereka terus merangkak naik!" seru Sasangka.


Sasangka menghela nafas. Ia lupa bahwa orang-orang Lan Xang ini tak berbicara dalam lidahnya. Mereka hanya melongo dalam kekagetan dan kecemasan.


"Sialan!" rutuk Sasangka. Ia langsung bergerak cepat memaras tali pengait. Dalam sekali gerakan, tiga tali putus dan orang-orang Đại Việt yang sedang memanjat, kembali terjatuh ke laut.


"Seperti ini. Kalian paham, bukan?" kembali Sasangka berseru. Ia tak mau kerepotan menghadapi para penyerang yang terus-menerus berdatangan sendirian.


Para pasukan Lan Xang mengangguk. Pertama ragu-ragu, kemudian secara seragam semua mengangguk paham. Langsung saja setelah itu mereka menghunus belati dan beranjak memotong tali-tali tersebut.


Tentu saja perompak Đại Việt yang sudah ada di atas geladak tidak begitu saja menerima. Melihat rekan-rekan mereka terluka bahkan tewas, sedangkan rekan-rekan lainnya yang masih hendak naik ke atas geladak dihalang-halangi, tentu mereka tidak mau membiarkannya begitu saja.


Namun, Sasangka sudah berdiri siap di depan para perompak Đại Việt dengan kuda-kuda tiga jurus.

__ADS_1


__ADS_2