
Sasangka menderu maju, namun bukan melompat, bukan menerjang. Gerakan tiga jurusnya yang terkesan sederhana namun tapat guna dan mematikan itu memungkinkan Sasangka untuk meluncur dalam tiga langkah ke tiga penjuru mata angin.
Kedua kakinya menjejak mantap di bumi, bergeser seperlunya, namun gesit dan trengginas.
Dua anggota Jarum Bumi Neraka memasang badan, berkesan melindungi Kamisan dan memutuskan menyerang Sasangka lebih dahulu. Keduanya melepaskan masing-masing satu paku beracun.
Sasangka sudah terlebih dahulu memahami bahwasanya senjata rahasia mereka itu hanya tertinggal beberapa buah saja. Sedangkan, mereka tidak dilengkapi dengan senjata tajam atau snejata lain jenis apapun. Mungkin hanya si ketua yang memiliki pentungan kayu berbentuk pikulan tersebut.
Jadi, jelas, serangan mereka hanya akan berupa lemparan atau serangan pendek dengan menusukkan paku-paku itu. Penghematan senjata rahasia itu jelas merupakan pilihan utama.
Sasangka bergeser dalam langkah kedua, satu paku melewati kepalanya. Sebelum satu paku dilepaskan oleh anggota Jarum Bumi Neraka satunya, Sasangka menghabiskan langkah panjang ketiga, menebas pergelangan tangan musuh dengan wedhung di tangan kirinya. Tangan itu putus, terlepas dari pergelangan. Selanjutnya, dengan dua buah wedhung yang terkait di pangkal gagangnya tergenggam di tangan kanan, Sasangka menyobek perut dari sisi pinggang kedua lawan. Jurus terakhir, kedua tangannya merentang dan membabat cepat. Kedua musuh jatuh berdemum ke bumi, tewas bermandi darah.
Kamisan berteriak keras, penuh amarah dan kedengkian. Pikulannya diputarkan satu lingkaran penuh menyasar ke kepala Sasangka. Bila Sasangka tidak mundur, kepalanya pasti sudah hancur bagai telur.
"Bang*sat! Baj*ingan. Rupa-rupanya begini bentuk Pendekar Topeng Seribu yang diburu Kompeni Walanda Betawi dan merugikan kelompok Jarum Bumi Neraka besar-besaran. Jangan panggil aku si Pikulan Sakti bila tak bisa membuatmu mampus hari ini. Akan kubuka penutup wajahmu itu. Aku aku lihat baik-baik mukamu sebelum aku hancurkan dengan pikulanku ini," seru Kamisan penuh amarah.
Empat anggota Jarum Bumi Neraka yang lain sudah mempersiapkan kuda-kuda menyerang. Paku-paku beracun sudah terselip di buku-buku jari dan kepalan mereka.
"Kakang, biar kami serang dia bersama-sama. Engkau tak perlu repot turun tangan," ujar salah satu diantaranya.
"Tidak! Kalian mundur. Aku tak mau ada korban lagi. Biarkan aku yang membunuh bang*sat ini dengan tanganku sendiri," balas Kamisan.
__ADS_1
"Maju saja semua. Toh, tak ada satupun dari kalian yang akan selamat dan hidup setelah bertarung denganku," ujar Sasangka dingin.
Kata-kata Sasangka ibarat pancingan buat amarah Kamisan yang sudah menggelegak sedari lama. Tak menunggu waktu lama, Kamisan langsung kembali menyerang ke arah Sasangka dengan membabi buta.
Dua gebukan menderu ke arah kepala dan bahu atau leher Sasangka. Keduanya lolos. Serangan ketiga yang direncanakan membelah dari atas kepala musuh ke bawah, jurus Pikulan Bulan Menumbuk Bumi, gagal sepenuhnya. Sasangka membabat ke arah tungkai kaki Kamisan yang sontak membatalkan serangan dan berguling ke depan menghindari serangan mematikan itu.
Melihat sang ketua dalam keadaan tak menguntungkan, empat rekan Kamisan menyerang bersamaan. Paku-paku beracun menderu ke arah Sasangka bagai hujan.
Jurus-jurus Sàam Kûn-thâu Sasangka yang sederhana namun menyeluruh, ditambah jurus belati tiga mengubah sosok Sasangka seakan menjadi tiga orang yang berbeda.
Tubuhnya seakan mengganda, menyelip diantara desingan paku tanpa menepis atau menangkis dengan ketiga buah wedhungnya. Mendadak saja, Sasangka sudah mendekat ke arah musuh. Wedhung di tangan kirinya membacok dan menebas dalam sekali gerakan panjang namun cepat dan tegas. Sedangkan sepasang wedhung di tangan kanannya membabat dan memutar, membobol kulit dan daging lawan dalam satu potongan yang dalam.
Dua orang lagi kembali tumbang. Satunya masih berusaha bangun, walau perutnya sobek besar. Sayang ia tak berhasil berdiri lagi karena Sasangka menghajar dadanya dengan sebuah tendangan keras dilumuri tenaga dalam. Dada sang malang retak dan nyawa nya melayang sudah.
Bertiga mereka menyerang bersama-sama, serentak. Dua orang melemparkan paku-paku mereka, bertahap, dua sampai tiga kali. Sedangkan Kamisan menderu dengan pikulannya. Dengan serangan berlapis ini diharapkan sang Pendekar Topeng Seribu dapat keteteran dan akhirnya kebobolan pertahanannya.
Tapi, jurus tiga arah Sasangka jelas-jelas dirancang untuk menghadapi tiga musuh dan kelipatannya, artinya ketika lawan menyerang mengeroyok, apalagi secara bersamaan, di situlah jurusnya bekerja paling baik.
Sasangka menggeser kakinya, bergerak gesit, cepat. Ia menghindar sekaligus menyerang. Tiga langkah lurus dan menyamping meloloskan tubuhnya dari lemparan lima paku beracun warangan. Wadhung di tangan kirinya menepis gebukan pikulan Kamisan. Langkah berikutnya membuat tubuh Sasangka masuk ke dalam jantung serangan ketiga musuhnya yang berpikir ia telah terkepung.
Wedhung kembar dempet di tangan kanannya berputar namun digerakkan lurus dalam sekali sabetan. Satu paku yang terlempar ke arahnya ditangkis dan berdenting akibat putaran wedhungnya, kemudian terus lurus masuk membabat bahu sang penyerang.
__ADS_1
Sang lawan tersentak rasa sakit yang menusuk kemudian mundur memegang luka beset panjang di bahunya.
"Sial! Harusnya gerakan tadi membunuhnya," ujar Sasangka dalam hati. Nampak-nampaknya ia kecewa dengan serangan jurus-jurusnya yang sudah ditata sedemikian rupa dan ringkas agar tepat guna membunuh dengan cepat.
Pikulan kayu Kamisan menderu lagi ke arah dada atas dan lehernya. Gerakan tiga jurus Sasangka pantang mundur, pantang berputar. Maka, Sasangka menangkis pukulan itu dari bawah dengan wedhung dempet di tangan kanannya.
Serangan pikulan sakti Kamisan kembali tertepis. Sasangka memasukkan sebuah tendangan pendek lurus namun keras menembus rusuk Kamisan yang kemudian terjengkang ke belakang. Wajah tak percaya sekilas terlukis di wajah sang pemimpin gerakan Jarum Bumi Neraka yang terakhir ini ketika wedhung di tangan kiri Sasangka melesak ke dalam batok kepalanya.
Kamisan tewas berdiri di tempat. Tubuhnya baru jatuh berdebum ke tanah setelah Sasangka yang mengaku sebagai Pendekar Topeng Seribu menarik wedhungnya yang melesak dalam di kepala sang lawan.
Dua bawahan Kamisan saling pandang dengan penuh rasa tak percaya sekaligus takut. Salah satunya bahkan terlupa bahwa bahunya terluka cukup parah tadi. Walau darah masih mengalir di sela-sela jari yang berusaha menutupi lukanya tersebut, ia sudah memikirkan untuk mempertahankan nyawanya. Ia berbalik arah dan melarikan diri sekuat tenaga dari tempat itu.
Rekannya baru sadar dari ketercengagannya setalah temannya pergi berbalik beberapa langkah. Ia menjatuhkan paku-paku di kedua tangannya dan ikut membalikkan tubuh melarikan diri ke arah yang berbeda. Ia berpikir jauh lebih mungkin melarikan diri daripada melemparkan senjata rahasianya tersebut.
Pikirannya salah besar. Malahan ia yang tewas terlebih dahulu ketika Sasangka melemparkan wedhung tunggal dari tangan kirinya. Senjata itu berputar di udara menimbulkan bunyi berdesing berat, kemudian menancap di punggungnya.
Ia jatuh terjerembab, berusaha menarik keluar senjata tajam tersebut dari punggungnya yang memang tak mungkin. Butuh waktu dua tarikan nafas sampai ia benar-benar kehilangan nyawa.
Sasangka memandang lawannya yang satu lagi. Meski ia lebih dahulu memutuskan untuk melarikan diri dari medan pertempuran, luka si bahunya mengakibatkan ia berlari cukup lambat dan terseok-seok.
Sasangka meninting dengan baik sosok tubuh yang sedang berlari menjauh itu. Ia memusatkan tenaga dalam ke tangan kanannya dan melemparkan wedhung kembar dempet dari tangan kanannya.
__ADS_1
Sepasang senjata itu berputar mendatar bagai senjata cakra Prabu Kresna di udara, menetak putus leher musuh. Kepalanya terlempar ke samping, sedangkan tubuh tanya nyawanya jatuh terjerembab ke depan, mengejang sejenak kemudian diam untuk selama-lamanya.
Sasangka berjalan cepat. Memungut tiga buah senjatanya, membersihkan bilah tajamnya dari darah menggunakan pakaian musuh-musuhnya, kemudian melepaskan penutup mulutnya. Setelah kembali berbusana bagai orang biasa, Sasangka celingak-celinguk ke kiri kanan. Ketika tak ada seorangpun yang ia lihat, Sasangka melenggang pergi dari tempat pembantaian tersebut dengan santai.