
Gaya silat Minangkabau diceritakan mulai diciptakan dan dikembangkan pada masa kepemimpinan Datuak Suri Dirajo pada tahun 1119 Masehi di Pariangan, Padangpanjang, kepulauan Melayu Samudra bagian Barat.
Saat itu rumusan silat ini berasal dari beberapa guru besar atau pendekar aliran silat dari beragam negeri dan gaya. Pendekar pertama berjuluk Kambiang Utan yang diperkirakan berasal dari negeri Kambuja. Pendekar kedua bergelar Harimau Campo yang diperkirakan berasal dari daerah Campa. Pendekar selanjutnya bergelar Kuciang Siam yang seperti namanya, datang dari negeri orang-orang Siam, serta terakhir bergelar Anjiang Mualim yang datang dari Parsi.
Empat pendekar tersebut adalah pengawal pribadi dan kepercayaan Datuak Suri Dirajo.
Pada masa inilah silek Minangkabau pertama kali diramu dengan warna dari gaya bertarung serta gerakan jurus beladiri dari empat pengawal tersebut.
Hubungan sang Datuk dengan para pengawal yang berasal dari beragam negeri itu bisa dimaklumi mengingat hubungan perdagangan yang berumur ratusan sampai ribuan tahun antara pesisir pantai barat kawasan Minangkabau seperti Tiku, Pariaman, Air Bangis, Bandar Sepuluh dan Kerajaan Indrapura dengan Gujarat, Parsi, Hadhramaut, Mesir, Campa dan bahkan sampai ke Madagaskar. Tentu, bukan tidak mungkin silat Minangkabau memiliki pengaruh dari beladiri yang dimiliki oleh empat pendekar pengawal tersebut.
Silat di Minangkabau adalah ramuan baru gabungan dari ilmu silat setempat, ditambah dengan beladiri yang datang dari luar kawasan Nusantara. Diiketahui bahwa khusus untuk langkah silat di Minangkabau yang khas itu adalah buah karya para pendekar Minangkabau.
Cirinya adalah langkah silat yang sederhana namun bila dipelajari dengan lebih dalam, langkah-langkah silek Minagkabau dapat dikembangkan sedemikian rupa menjadi lebih rumit tergantung keperluan.
Bahkan salah satu kehebatan guru-guru silek atau pandeka yang lihai adalah orang yang benar-benar paham rahasia dari langkah silat yang sederhana itu, sehingga mereka bisa mengolahnya menjadi bentuk-bentuk gerakan silat sampai tidak terhingga jumlahnya.
"Aku digelari Pendekar Harimau Muda Kudangan, karena aku berasal dari kerajaan Kudangan di pulau ini yang didirikan oleh Datuk Malikur Besar, berasal dari kesultanan Pagarruyung. Darah Daya dan Minangku memberi hormat kepada Pendekar Topeng Seribu dari pulau Jawa. Namun, bila boleh kutahu, mengapa engkau tak mengenakan topeng, seperti yang orang-orang katakan?" ujar si pendekar Kudangan.
Jayaseta tidak heran lagi dengan sikap para pendekar yang selalu ingin menunjukkan kemegahan dala kemenangan mereka bila bisa mengalahkan para pendekar secara nyata. Dalam hal ini, tentu saja Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu harus menjadi yang sesuai dengan namanya sendiri.
Jayaseta sama sekali tak berniat memuaskan musuhnya. Ia tak juga berniat mengenakan apapun untuk menutupi wajahnya sebagai bentuk topeng.
Terlihat sekali sang Pendekar Harimau Muda Kudangan kecewa dan tak mau melanjutkan bahasa sopan dan basa-basinya.
__ADS_1
Kedua tangannya terangkat sejajar dengan bahu, jari-jarinya terbuka membentuk cakar, sedangkan kuda-kudanya begitu rendah.
"Tapi itu bukan kuda-kuda jurus silek Harimau yang asli. Kita lihat apakah dia menggunakan jurus-jurus serangan kuncian, tangkapan, atau cekikan. Karena setahuku, silek harimau diambil dari jurus-jurus milik Harimau Campo," ujar Siam tiba-tiba kepada Ireng dan Dara Cempaka. Nampaknya ia cukup akrab dengan salah satu gaya silat Minang ini.
Ireng dan Dara Cempaka hanya memperhatikan sekaligus mempersiapkan diri mereka dari serangan yang bisa saja tiba-tiba dilakukan oleh pihak musuh.
Jayaseta melihat kuda-kuda lawan juga kemudian mengambil sikap. Tidak seperti dahulu, dimana ia biasa tak menggunakan kuda-kuda tertentu, kali ini, setelah pelajaran panjang yang ia terima dari Datuk Mas Kuning, Jayaseta menerapkam sedikit saja bunga silat Melayu. Tujuannya untuk menaksir gerakan lawan, memberikan semacam tipuan, serta memberikan tambahan gerakan dan serangan melalui penguasaan gerakan tubuhnya sendiri.
Sang Pendekar Harimau Muda Kudangan melontarkan tubuhnya bagai seekor harimau yang menyergap binatang buruan. Seperti diutarakan Siam, gaya silat yang meniru gerak harimau ini mengunakan kekuatan jari-jari serupa cakar yang ditujukan pada bagian-bagian berbahaya tubuh manusia. Urat leher Jayaseta adalah sasarannya.
Dengan cakar semacam itu, harusnya hasil yang diakibatkan sangatlah bahaya, kematian yang cepat.
Jayaseta mengibaskan tangannya untuk menangkis. Kali ini juga serupa, dimana biasanya ia cenderung berkilah atau menghindar, bukannya langsung menangkis.
Tapi gerakan serangan lawan juga bukan sekadar serangan pembuka atau pengecoh. Semuanya ditujukan untuk membunuh.
Harusnya serangan-serangan sang pendekar keturunan Minang dan Daya itu sangat berbahaya. Jurus-jurus silek Minang sama terkenalnya dengan silat Bugis dan Mangkasara yang dirancang sedemikian rupa bagi para penggunanya yang pergi merantau jauh dari kampung halamannya, tidak hanya untuk mempertahankan diri, namun juga untuk melumpuhkan musuh dengan cepat dan tepat.
Dan memang benar adanya, dua serangan sang pendekar Kudangan itu memang menyasar bagian berbahaya di tubuh Jayaseta. Bila tak hati-hati, nyawa Jayaseta pasti sudah hilang.
Jayaseta mundur dan memasang kuda-kuda lagi ketika pendekar Kudangan menderu, menyapu kaki dan hendak menusuk kedua mata Jayaseta dengan jari-jarinya.
Jayaseta mengangkat satu kaki dan menepis serangan kedua. Ia kembali mundur. Sialan, pikir Jayaseta, orang ini dari awal memang tidak berencana untuk menjajal dan berbagi ilmu. Ia ingin membunuhnya!
__ADS_1
Sang Pendekar Harimau Muda Kudangan kembali melompat menyerang Jayaseta. Lagi-lagi Jayaseta menepis serangan itu, namun alih-alih terhindar, lengan Jayaseta malah dikunci oleh jari-jari yang seakan cakar itu.
Dalam sekali hentak, Jayaseta terlempar ke depan dan segera berguling menghindari serangan susulan. Lengan Jayaseta tergores oleh kerasnya jari-jari tersebut.
Kini Jayaseta paham bahwa ilmu silat yang digunakan sepertinya bukan murni silek harimau dari tanah Minang. Setelah lama lepas dari kesultanan Pagarruyung, kemungkinan besar jurus-jurus asli sudah tak terpelihara. Sebagai hasilnya, para ahli silat Kudangan menambahkan dan menyatukan jurus-jurus silat yang didapatkan oleh orang-orang suku Daya di Kudangan itu sendiri.
Cakar harimau dari Minang itu diubah menjadi cakar macan dahan yang lebih rapat dibandingkan harimau tanah Melayu. Gerakan jurus-jurusnya pun menjadi lebih liar dan ditujukan untuk membunuh. Mungkin ini akibat dahulu rombongan Datuk Malikur Besar harus menghadapi para pengayau yang sakti dan menakutkan, sehingga jurus-jurus Pagarruyung dan silek harimau juga harus disesuaikan dan dikembangkan.
Pendekar Harimau Muda Kudangan tersenyum melihat musuhnya dapat tersentuh, bahkan sepertinya terluka. Hanya saja, kebanggaannya sedikit pudar ketika Jayaseta kali ini yang menyerangnya dengan tiba-tiba. Ia tak sempat berpikir bahwa sang lawan akan melakukan tindakan ini.
Sang pendekar bahkan harus mundur sejauh tiga langkah ketika tinju Jayaseta menyasar dada dan wajahnya.
Tak mau malu karena terkejut, Pendekar Harimau Muda Kudangan menunduk rendah kemudian kembali mencelat dengan cakar nya yang kembali ditujukan ke leher Jayaseta.
Kedua mata sang pendekar di wajah tampannya membulat, ketika tahu bahkan silek harimau yang menggunakan cakar macan dahan itu berhasil dikunci Jayaseta. Jari-jari Jayaseta juga membentuk cakar, namun lebih lebar, cakar harimau yang lebih mendekati jurus asli silek Minang.
Cakar harimau Jayaseta menyelip di jemari lawannya dan menekuknya sehingga Pendekar Harimau Muda Kudangan merasakan ngilu di jari-jarinya. Tubuhnya sendiri menjadi menunduk karena kuatnya kuncian tersebut.
Belum sempat berpikir untuk melepaskan kuncian ini, dengan satu tangannya yang lain, Jayaseta memuntir lengan yang sama dan membantingnya.
Sang pendekar terlempar tiga tombak jauhnya. Ia segera bangun dan mempersiapkan kuda-kuda rendahnya.
Rasa perih tiba-tiba terasa, ketika ia melihat bahwa lengannya terluka oleh cakar Jayaseta. Bekas jari-jari musuh terlihat jelas disana.
__ADS_1
Pendekar Harimau Muda Kudangan mendengus. Amarah sudah sampai di puncak kepalanya serasa ingin memancur keluar.
Ia memcabut kerambit dari sarungnya yang terselip di pinggang bagian belakang. Tanpa tunggu aba-aba lagi, ia lontarkan tubuhnya menyerang Jayaseta dengan bilah kerambit yang tajam mengkilat siap menyobek-nyobek tubuh musuh.