Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tiga


__ADS_3

Kekacauan meletup kecil-kecil di berbagai tempat. Terutama di Kedah, terjadi lah desas desus bahwasanya di Malaka telah terjadi serangan dan penjegalan dari dalam oleh kelompok tak dikenal.


Kedah yang juga ditaklukkan oleh Pranggi setelah negeri bule itu mengalahkan Malaka, kini rupa-rupanya mempersiapkan diri untuk berjaga-jaga. Meskipun bisa dikatakan bahwa Kedah dikalahkan dan ditaklukkan oleh Pranggi, kekhawatiran mereka sebenarnya adalah oleh negeri Siam. Negeri Siam Ayutthaya sendiri memang sudah bernafsu untuk menyerang dan menguasai Kesultanan Kedah atas latar belakang sejarah yang panjang, serta tentu letaknya yang berbatasan antara negeri Siam yang beragama Buddha dan negeri Melayu yang beragama Islam.


Maka, dengan kabar yang berhembus melalui laut dan udara bahwa sebentar lagi Walanda dan pasukannya akan menyerang Bangsa Pranggi yang menguasai Malaka, maka kekacauan tentu akan terjadi. Bisa saja orang-orang Siam akan mengambil keuntungan dengan menyerang Kedah yang tak memiliki pelindung, dimana Pranggi akan sibuk mengurusi serangan-serangan bangsa bule Walanda dari Betawi tersebut. Belum lagi mengenai berita terbaru mengenai kisruh yang terjadi di dalam benteng kota oleh orang-orang pribumi yang diduga merupakan gerombolan Jarum Bumi Neraka yang berbakti pada Walanda.


Maka yang terjadi adalah penutupan jalur darat maupun sungai dari dan ke negeri Siam tersebut. Banyak pedagang dan pelancong yang melalui Kedah kerap harus menghadapi prajurit dari Kesultanan Kedah yang memiliki pemeriksaan luar biasa rumit, atau lebih parah, para perampok baik dari Kedah maupun negeri Siam Ayutthaya yang memancing di air keruh.


"Nampaknya kita perlu menunda beberapa hari untuk berangkat ke Ayutthaya, Jayaseta," ujar Datuk Mas Kuning.


"Tapi, Datuk memang tak ikut rombongan kami, bukan? Sesuai rencana awal bahwasanya Datuk akan menunggu kedatangan kami kembali ke Malaka. Hamba sudah memiliki Narendra, Katilapan, Ireng dan Siam, dan itu sudah lebih dari cukup, Datuk," balas Jayaseta.

__ADS_1


Sang Datuk menggelengkan kepalanya. "Bukan, bukan itu maksudku. Kau tetap berangkat sesuai dengan rencana. Tapi, kau harus menunggu barang beberapa hari demi melihat perkembangan keadaan. Aku pun ingin perjalanan kalian segera selesai. Toh, ini berhubungan dengan cucu perempuanku sendiri. Tapi, ini bukan masalah perjalanan biasa. Perampok dan begundal jalanan dapat kau libas semudah membalikkan telapak tangan, namun kali ini kita sedang menghadapi keadaan kenegaraan yang pelik dan rumit. Apalagi, entah bagaimana, nasib dan takdir sudah bekerja sedemikian rupa agar namamu sudah didengar sampai belahan dunia inj, Jayaseta. Ingat, bahwa para murid Baharuddin Labbiri mengisahkan tentang sepak terjang Pendekar Topeng Seribu yang mengalahkan telak para penyusup dan pengganggu dari Betawi itu sehingga isi kota tak terlalu hancur," jelas sang Datuk panjang lebar.


Jayaseta mengangguk. "Suka tak suka dengan kenyataan ini, tapi gelar kependekaranku nyatanya membawa serta hal buruk pula. Bahkan, terdengar kabar juga bahwa di lautan sana, Pendekar Topeng Seribu juga menunjukkan taringnya. Gaya cerita, penggambaran dan garis waktu nya tidak sesuai kejadian yang aku alami, Datuk. Jelas ada seseorang yang menjadi peniru ku, atau sejelek-jeleknya, orang-orang menyimpulkannya demikian."


"Jangan khawatir dulu, Jayaseta. Dara Cempaka sementara ini akan aman bersama kita. Cukup lama racun ilmu kutukan Cuca Bangkai tidak memengaruhi istrimu itu. Berarti ia sedang dalam keadaan baik. Sebaliknya, ada aku, kau dan kalau perlu, Labbiri, untuk menggunakan hawa murni bila saja racun itu kembali datang dan Dara Cempaka kumat," ujar sang Datuk menenangkan Jayaseta.


Sekali lagi Jayaseta mengangguk menunjukkan penerimaan dan kepahamannya.


"Bangsa*t! Siapa orang itu sebenarnya? Harga diriku diinjak habis-habisan. Bukan hanya karena aku kalah telak, namun juga karena si bajin*gan tengik itu mengerti segala seluk-beluk sejarah kehidupanku, termasuk menggunakan nama besar Pendekar Topeng Seribu untuk setiap sepak terjangku di dalam dunia persilatan," begitu jerit batin Sasangka yang tadi harus berenang dan naik ke darat melalui tali tambang dan rantai jangkar kapal-kapal yang berlabuh.


Pukulan Dewa Langkah Tiga masih sempat ia tahan dengan mengalirkan tenaga dalam ke dadanya sehingga tumbukan pukulan sang pendekar tua baya itu hanya mementalkannya, tidak meremukkan tulangnya.

__ADS_1


Betapa malunya ia pada sosok tak dikenal yang seakan menelanjanginya itu. Sasangka merasa menjadi seseorang yang bermain-main menjadi pesilat pahlawan atau adiwira yang melawan musuh sebagai bentuk penerapan falsafah hidupnya yaitu membantu, menolong dan membela yang lemah, tetapi pada dasarnya hanya ingin memuaskan nafsu jemawa nya sendiri. Itu terbukti dari dirinya memakai nama pendekar lain yang sebenarnya merupakan adiwira sejati.


Selain itu Sasangka juga merasa bahwa keberadaannya di Malaka sudah diketahui sepenuhnya oleh Dewa Langkah Tiga, termasuk niat dan tujuannya dalam perihal perniagaan. Akan semakin runyam bila ia tak menyelesaikan masalah ini segera. Ia akan terus dikejar-kejar perasaan bahwa ia sedang diintai, dan itu jelas buruk untuk usahanya. Ia tak bisa tinggal lama lagi, namun sebaliknya, semuanya akan kacau kalau orang itu masih hidup.


Sasangka menutup mata untuk memikirkan matang-matang langkahnya ketika mendadak sebuah gambaran lengkap terbentuk di dalam otaknya, yaitu jurus-jurus Langkah Tiga sang lawan.


Sasangka memasukkan kembali ketiga belati wedhung nya yang selamat ia bawa sewaktu jatuh ke laut itu ke sarungnya. Ia melepas sabuk tempat menggantungkan ketiga belati nya itu dan meletakkannya di atas pasir, di sebuah wilayah tidak terlalu jauh dari pelabuhan, namun tersembunyi dari banyak orang. Ia juga melepaskan bajunya yang basah serta penutup kepalanya.


Pikiran sekelebat mengenai jurus Langkah Tiga itu sangat mengganggu Sasangka. Kata 'tiga' rupa-rupanya terlalu membekas di hatinya.


Sasangkan menghentakkan kakinya di atas pasir, kuda-kuda gerakan Tiga Jurusnya. Kemudian ia menarik kedua tangannya membentuk salah satu dari kuda-kuda jurus Langkah Tiga yang membayang di pelupuk matanya.

__ADS_1



__ADS_2