Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pemabuk


__ADS_3

Keterkejutan yang luar biasa tak bisa disembunyikan dari raut wajah kedua sahabat Sasangka, Katilapan dan Narendra. Mereka saling pandang dan tak bisa berkata apapun jua.


Namun Sasangka bergeming. Pandangannya masih tertuju ke langit sebelah Barat.


Ia ingat benar masa penting pertemuannya dengan Lau Siufan saat itu.


Sejak pertama kali melihat Lau Siufan, Sasangka sudah mulai berubah. Ia sudah memangkas rambut dan merapikan kumis dan jenggotnya. Mengenakan penutup kepala yang baru dan lebih segar. Pakaiannya bahkan berwarna abu-abu cerah.


Ia sudah berjalan pagi-pagi sekali dengan sedikit terpincang-pincang karena rasa sakit masih menusuk di paha dan pinggulnya.


Ngalimin yang masih kerap datang ke gubuk di tempat mereka dirawat bersama Katilapan dan Narendra sebenarnya sudah mencegah Sasangka untuk bepergian. Selain alasan kesehatan, kemungkinan orang-orang Walanda Betawi, terutama bawahan Pratiwi bisa saja melihatnya.


Namun demi melihat semangat baru Sasangka, Ngalimin tidak bisa berbuat banyak. Apalagi kedua sahabatnya mengatakan bahwa Sasangka dapat menyamar dan menjaga diri. Dengan ia berjalan keluar dan menggerakkan tubuhnya, kemungkinan untuk ia sehat juga akan semakin besar.


Kesedihannya yang mendalam juga sepertinya semakin bisa diatasinya.


***


Sesampainya Sasangka di sebuah tanah lapang di dekat sungai, ia duduk di bawah pepohonan bambu dan menunggu gadis Cina itu lewat.


Babah Lau, ayah Lau Siufan, adalah seorang pedagang dan pemilik kedai arak di dekat pasar di luar benteng Betawi. Ia bekerjasama dengan para Cina penyuling arak yang sudah lebih dahulu tinggal di Betawi.


Siufan, anak gadisnya yang berumur lima belas tahun itu kerap datang ke pasar untuk membawakan makanan atau keperluan sang ayah.


Serupa dengan hari ini.


Siufan berbusana putih bersih. Rambutnya digulung rapi di puncak kepalanya. Leher jenjangnya terpampang jelas di bawah sinar mentari. Sasangka menahan nafasnya ketika mata mereka beradu pandang.


Dunia Sasangka serasa tersedot habis ke dalam pusaran pesona sang gadis, padahal Siufan sebenarnya hanya sekadar melirik. Namun benturan tatapan ini meruntuhkan segala pertahanan Sasangka, lelaki berusia dua puluh lima tahun yang telah matang itu.


Pandangan Sasangka tak lepas dari sosok ramping yang berjalan dengan langkah pendek-pendek dan gesit itu sampai-sampai ia tak memerhatikan ada tiga orang laki-laki berdiri menghalangi jalan sang gadis. Entah sejak kapan mereka berdiri di sana.


"Woi Sipan. Sipan ... Sipaaan ... Mana arak buatanmu? Boleh abang minta satu bambu?" ujar salah satu laki-laki di depannya dengan logat Melayu yang kuat. Ketiganya terlihat jelas sedang dalam keadaan mabuk.


Sebagai seorang pendekar, Sasangka merasakan gelagat yang tidak baik. Otot-ototnya menegang.


"Kenapa meminta kepadaku? Abang-abang sekalian bisa ke kedai babahku seperti biasa," ujar Siufan dengan santai.


"Hah, tuak Babah Lau memang enak, tapi anaknya lebih enak. Melihatmu saja membuat kami mabuk, ha ha ha...," ujar satu orang lainnya sembari tertawa. Tentu ini ditimpali dengan tawa pula oleh yang lain.


"Kau ikut kami saja, Sipan. Agar kami dapat bermabuk-mabuk selama beberapa hari tanpa harus membeli tuak dari babahmu, ha ha ha ...," kembali tawa para pemabuk terdengar.

__ADS_1


Ketiga laki-laki ini berdiri doyong seperti pohon kelapa tertiup angin. Mereka terus saja menggoda sang gadis dengan beragam kata-kata rayuan sampai kalimat-kalimat cabul.


Sasangka awalnya mencoba bertahan untuk tak ikut campur. Ia ingin melihat sampai mana perilaku mereka bisa didiamkan. Namun darahnya menggelegak ketika dua orang mabuk itu mulai menyentuh lengan dan bahu Siufan.


Sasangka berdiri kemudian menuruni tanah lapang ke arah jalan setapan di tepian sungai dimana ketiga laki-laki itu menahan Siufan.


"Jangan ganggu perempuan itu!" teriak Sasangka.


Tidak hanya tiga orang mabuk itu yang memandang Sasangka, bahkan Siufan pun menengok ke arahnya.


"Wah, wah, wah ... Apa orang ini kekasihmu, Sipan?" tanya salah satu dari ketiga lelaki pemabuk itu. Sasangka melihat ketiganya menyelipkan golok di pinggang mereka.


"Bukan urusanmu. Aku tidak ingin ada masalah. Kalian terlalu mabuk. Aku harus segera menemui babah," jawab Siufan masih terdengar santai dan dingin.


Laki-laki itu tak menggubris ucapan Siufan dan berjalan sempoyongan ke arah Sasangka. "Heh, kecoa buntung. Apa urusanmu, hah? Bila ingin macam-macam, harusnya kau berpikir matang-matang," ujar laki-laki itu dengan nada mengancam sambil memegang gagang goloknya. Untuk ukuran orang mabuk, kata-kata yang ia ucapkan terdengar sangat waras.


Kedua orang mabuk lainnya terkekeh dan membiarkan satu kawan mereka berurusan dengan laki-laki tak dikenal tersebut. Mereka terus saja dengan kegiatan mereka menggodai sang dara.


Siufan memandang ke arah Sasangka. Yang dipandang menerjemahkan pandangan ini sebagai bentuk permintaan tolong.


"Tunggu! Apa maumu sebenarnya, kisanak?" kedua tangan laki-laki mabuk itu menahan dada Sasangka. Tentu yang ditahan tak bisa menerima. Sasangka membalas dengan mendorong orang itu di bagian dadanya pula.


BUG!


Pukulan itu sebenarnya tak seberapa, namun Sasangka tidak sedang dalam keadaan yang sepenuhnya sehat. Ada rasa perih menyengat ke tulang pinggulnya walau serangan itu mendarat di dada.


Sasangka terbakar amarah. Ia membalas dengan melayangkan dua buah pukulan, satu di dada satunya menghajar kepala sang pemabuk.


BUG!


BRAK!


Si pemabuk roboh ke tanah tak sadarkan diri.


Namun sialnya, Sasangka ikut rubuh ke tanah. Jurus sederhana yang ia gunakan meminta bayaran. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Tulang pinggulnya serta luka di paha tak dapat menerima gerakan tersebut dan melemahkan kaki-kakinya.


Sasangka menjerit tertahan. Ototnya lama tak digunakan, apalagi dilatih. Kekakuan yang luar biasa membuat seakan tubuhnya retak disana-sini.


Dalam keadaan terkaparnya Sasangka melihat Siufan hendak berlari ke arahnya, namun kedua pemabuk sialan itu meraih kedua tangannya.


Sasangka kembali merasakan darahnya menggelegak. Ia ingin bangun dan menghabisi baji*ngan-bajing*an tersebut, namun tubuhnya tak bisa diajak kerjasama sama sekali.

__ADS_1


Hanya saja, Sasangka melihat kejadian yang diluar perkiraannya.


Dengan satu gerakan luwes, Siufan berputar, melepaskan pegangan pada lengannya sekaligus memukul dada satu pemabuk, menampar telinga, menendang lutut dan menghadiahi satu tinju di leher satu pemabuk di sebelah kanannya.


Empat serangan dalam satu jurus!


Tidak itu saja. Setelah dalam sekali putaran Siufan dapat melepaskan pegangan tangan kedua pemabuk dan berhasil menjatuhkan satu diantaranya, ia juga menampar kening pemabuk satunya, menjelak lutut dan menanamkan dua tinju menyamping ke perut lawan.


Pemabuk terakhir ambruk memegang perutnya.


***


"Kau bisa silat?" ujar Sasangka sedikit terkejut sekaligus terpesona.


"Tidak sehebat kau, kakang. Aku bukan pendekar," ujar Siufan. Ia mendekat ke arah pemabuk yang dihajar Sasangka sebelumnya dan memeriksa nafasnya.


"Kau hampir membunuhnya," ujar Siufan sembari menatap Sasangka.


Sasangka menjadi bingung. Harusnya ia mahfum bahwa orang semacam itu wajar untuk dihajar. Tadinya ia berpikir Siufan memandangnya untuk meminta tolong. Kemudian setelah satu pemabuk berhasil ia rubuhkan dan tubuhnya terasa sakit, Sasangka berpikir bahwa Siufan berlari ke arahnya untuk menolongnya.


Nyatanya gadis itu malah memeriksa keadaan sang pemabuk.


"Bukankah kau juga tadi mengajar mereka?" ujar Sasangka tak percaya.


"Mereka adalah jawara pemabuk langganan tuak babahku. Perilaku mereka memang seperti itu. Aku sudah biasa menghadapi mereka. Kadang aku hanya perlu menampar mereka untuk membuat mereka sadar dan berhenti menggangguku. Namun melihat seranganmu, kakang, kepada satu pemabuk ini, aku harus membuat membuat dua pemabuk lain rubuh juga untuk melihat keadaan pemabuk yang kau buat tak sadar ini."


"Tunggu. Jadi kau pikir ini salahku dan aku sudah keterlaluan? Mereka mengganggumu dan bukankah mereka pantas dihajar?"


"Bukan begitu, kakang. Jangan tersinggung. Terimakasih sudah menolongku. Silatku tadi bukan silat istimewa. Babah dan ibuku mengajari Sàam Kûn-thâu atau Kuntao Tiga Jurus ini untuk melindungi diri. Aku tak cukup hebat dan berani untuk membunuh orang. Lihatlah mereka, sekali dua pukul saja sudah terkapar. Itu karena memang mereka bukan orang-orang berbahaya, hanya mabuk. Tapi, kau adalah seorang pendekar. Bahkan dengan tubuh terluka, kecepatan dan tenagamu tak bisa dipungkiri kehebatannya," ujar Siufan panjang lebar.


Sasangka dapat memperhatikan wajah Siufan dari dekat. Sepasang matanya indah, tidak sipit seperti biasanya mata ciri khas perempuan Cina, namun kelopaknya tak berlengkung. Sepasang bibirnya tipis merah merekah.


"Kau tahu darimana bahkan aku adalah seorang pendekar yang terluka?" Sasangka terkejut.


Sepasang pipi putih Siufan bersemu merah. Ia melirik ke arah Sasangka. "Aku juga sudah memperhatikanmu sejak awal. Aku tahu, kau kakang juga memperhatikanku. Jadi aku mencari tahu kabar mengenai dirimu. Akhirnya aku tahu bahwa kau tinggal di sebuah gubuk  di dekat bukit bambu, dirawat oleh Ngalimin bersama kedua rekan-rekan pendekarmu," ujar Siufan tanpa basa-basi.


Sasangka menggaruk kepalanya, "Kau gadis yang tidak biasa Lau Siufan," ujarnya.


Kedua mata indah Siufan membelalak, "Kakang, tak banyak yang bisa menyebut namaku dengan baik. Orang-orang selain keluarga atau tetanggaku orang-orang Cina saja yang paham benar cara menyebutkan namaku. Bahkan ibuku sndiri memanggilku Sipan," ujarnya.


Keduanya tertawa.

__ADS_1


Tiba-tiba Siufan terdiam dan sadar akan sesuatu. Pipinya kembali bersemu merah. "Kakang, kau juga mencari tahu tentang aku?"


__ADS_2