
Letusan senapan sekaligus sabetan pedang para prajurit Siam itu seakan menghentikan waktu. Tiada yang dapat langsung mengerti maksud apalagi menanggapi perbuatan mengejutkan ini. Masing-masing kepala dalam waktu yang singkat berusaha menemui jawaban yang tepat terhadap keganjilan ini.
"Namaku Kittisak. Aku adalah pemimpin pasukan Siam yang agung dan terhormat. Kalian sendiri telah menyaksikan bahwa kami tidak bertanggung jawab atas tindakan bodoh dan lancang dari orang-orang yang mengaku membela Siam padahal adalah sampah dan pengkhianat bangsa. Orang Burma bukan sekutu kami, dan tak akan pernah. Dengan tindakan ini, aku harap jangan lagi mencobai kesabaran prajurit Siam. Orang-orang Kedah dipersilahkan untuk mempersiapkan diri saja sebelum kami akan benar-benar menyerang," seru sang punggawa Siam, sang pemimpin, yang mengaku bernama Kittisak itu masih dengan bahasa Melayu patah-patah namun cukup bisa dimengerti dengan baik.
Dengan satu tanda lagi menggunakan tangannya, para prajurit Siam mundur dan pergi menghilang tanpa banyak kata lagi.
Nuruddi sang pemimpin pasukan Melayu Kedah memandang kepergian pasukan Siam pimpinan Kittisak itu dengan pandangan kosong. Setelah yakin para prajurit Siam itu tak terlihat lagi, senyum lebar mengembang di wajahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Nuruddi?" ujar Pucong Gunong kebingungan. Para pendekar Siam yang terluka kini perlahan mundur. Mereka juga terlihat begitu terpukul dengan tindakan yang diambil Kittisak tadi.
"Khun Wanchay na Ayutthya bahkan tak dihargai oleh negeri nya sendiri, Ayutthaya. Bangsat dan bedebah yang berada di lingkaran kekuasaan ternyata hanya menginginkan kejayaan untuk mereka sendiri," ujar salah satu pendekar Siam yang nampaknya cukup dihormati dan dituakan diantara mereka dengan bahasa Siam, kepada rekan-rekan pendekarnya. Ia juga terlihat terluka si bagian bahu dan lehernya oleh keris orang-orang Kedah.
Nuruddi kini malah tak bisa menahan tawa nya. Gelegar tawa nya merayap angkasa. Tak lama dari rombongan pasukan Melayu Kedah, muncul sesosok tak dikenal mengenakan pakaian serupa dengan para prajurit, namun berukuran kecil sesuai dengan bentuk tubuhnya yang memang jauh lebih kecil dibanding rekan-rekan prajuritnya.
"Nah, sekarang lakukan apa yang perlu kau lakukan, orang tua," ujar Nuruddi setelah dapat mengatur tawanya.
"Aku bukan orang tua, tapi paruh baya," jawab sang sosok prajurit bertubuh kecil itu pelan. Saking pelannya, memang hanya Nuruddi yang dapat mendengarkannya.
Tidak ada yang benar-benar dapat melihat wajah sang sosok prajurit. Walau ia pun mengenakan busana keprajuritan yang serupa, dengan baju sutra, sarung di pinggang dengan keris terselip di bagian depan, penutup kepala tinggi dan tombak di tangan, sang prajurit menutup mulutnya dengan selembar kain.
Tak lama ia melepas penutup mulutnya dan mengambil sesuatu yang digantung di pinggangnya.
Sebuah topeng.
Ia mengenakannya.
Para pendekar Melayu di bawah kepemimpinan Pucok Gunong sang Harimau Belang terhenyak. Tapi tak ada yang bisa mengalahkan keterkejutan para pendekar Siam ketika mengenali topeng yang dikenakan prajurit Kedah itu sebagai topeng raksasa atau iblis dari pertunjukan seni dan budaya orang-orang Siam yang disebut Khon, membuat Pucok Gunong melongo dan kembali dibuat bingung.
Sang sosok prajurit bertubuh kecil yang mengenakan topeng iblis Khon itu menjatuhkan tombak nya ke tanah dan melucuti keris nya sendiri pula. Ia menggulung lengan panjang busana sutra nya, kemudian tanpa bicara sepatah kata pun menghambur maju ke arah kumpulan pendekar Siam dan Melayu yang terluka di padang pertempuran itu.
Pendekar Siam yang belum selesai dengan keterkejutan dan kemarahan mereka akibat terbunuhnya pendekar-pendekar Burma mereka oleh pasukan Ayutthaya itu kembali tak dapat banyak berbuat ketika sang sosok menyerang mereka dengan pukulan dan tinju yang keras dan mematikan.
__ADS_1
Luka-luka di tubuh mereka pun mempersulit gerakan mereka. Tapi bukan karena itu saja, pendekar Siam itu tidak bisa juga dikatakan lemah, tapi mereka tak sadar bahwa orang yang dihadapi mereka ternyata sangat sakti.
Pukulan, sikutan dan lututan bergaya Lethwei sekaligus tambahan Muay Boran, dapat dihindari dengan luwes oleh pendekar bertopeng dan bertubuh kecil itu. Kembangan jurus-jurusnya hampir tanpa batas, meski sebenarnya bila sempat ditilik lebih cermat, hanya terdiri dari tiga langkah utama.
Sang sosok pendekar bertopeng itu meliukkan tubuhnya, menangkap lengan, memuntir dan menghajar lawan dengan satu pukulan keras dan tepat di bagian rawan dan berbahaya lawan.
Darah menyembur dari mulut dan hidung para pendekar Siam. Semua berjatuhan kembali, tapi kali ini sama sekali tak mampu bangun, tewas dengan badan lebur!
Dua orang pendekar Siam terluka parah, hampir sekarat. Pandangan mereka membayang ketika topeng iblis Khon mendekat. Meski dalam keadaan tak mampu melakukan apa-apa, mereka jelas mendengar suara sosok itu berkata dalam bahasa Melayu yang bisa mereka pahami. "Aku adalah Pendekar Topeng Seribu. Aku bekerja untuk Malaka yang dipimpin oleh bangsa Pranggi. Sampaikan kepada orang-orang Siam di Ayutthaya untuk berhati-hati, karena Malaka adalah pelindung negeri Melayu, termasuk Kedah. Bumi Ayutthaya akan terbakar ketika aku kelak menyentuh tanahnya!"
Disaksikan dengan penuh takzim oleh para pendekar Melayu pimpinan Pucok Gunong, pendekar bertubuh kecil yang mengaku bergelar Pendekar Topeng Seribu itu pun meninggalkan padang pertempuran setelah menghabisi para pendekar Siam kelompok Khun Wanchay na Ayutthaya itu hanya dalam dua waktu kurang dari sepuluh tegukan air!
Nuruddi sang pemimpin pasukan Melayu Kesultanan Kedah itu kembali menyambung tawanya, bahkan sampai ia dan pasukannya berbalik arah meninggalkan wilayah itu bersama sang pendekar bertubuh kecil bertopeng iblis Khon.
Kejadian berdarah di perbatasan Siam dan Kedah ini berlangsung belasan hari setelah Sasangka dikalahkan oleh pendekar paruh baya bergelar Dewa Langkah Lima.
Para pembaca yang budiman, di kesempatan ini saya ingin menyampaikan beberapa hal. Pertama, bahwasanya Pendekar Topeng Seribu berada dalam satu universe dengan novel Angkaramurka (versi cetak berjudul Catur Angkara) dan Si Golok Terbang (yang sayangnya kemungkinan akan dilanjutkan di PF berbeda). Ketiga novel saya ini berada dalam jaga dunia fiksi berbeda genre, setting, dan plot namun saling berhubungan. Saya menyebutnya sebagai 'Semesta Jagoan'.
Hal selanjutnya yang ingin saya sampaikan adalah sebuah promosi belaka, haha ...
Barangkali ada yang berminat dan mendukung karya penulis.
Happy Valentine's Day, everyone.
Novel saya sudah terbit. Ini adalah novel romance pertama saya. Silahkan pesan di akun Instagram penerbit @lisaly.co:
https://www.instagram.com/p/CZ77xgIP75p/?utm\_medium\=copy\_link
__ADS_1
TELAH TERBIT!
Natalie Pregiwati Wongso dan Banu Kresna adalah sepasang sahabat sejak kecil. Bagai konsep "yin" dan "yang"—keduanya seimbang, saling mengisi celah dan merapat padat. Kedatangan Joseph ke kota kecil nan gersang di mana mereka tinggal itu, menambahkan elemen persahabatan yang semakin erat di antara ketiganya.
Tak disangka, Natt dan Jo akhirnya menjadi sepasang suami istri, karena toh sebongkah mutiara harus diikat oleh emas. Dalam pernikahan mereka, sosok Banu Kresna ternyata dituduh oleh Joseph menjadi duri dalam daging kehidupan biduk rumah tangga keduanya.
Sang Kala, sang Kronos-lah yang menunjukkan kepada ketiga insan manusia itu tentang kebenaran sejati dalam hidup mereka. Ketiganya, tak bisa lari sang Waktu bagai Kronos menelan anak-anaknya atau Batara Kala yang memangsa kaum Sukerta dan Sengkala.
Judul: Kronologi
Penulis: Nikodemus Yudho S
Kategori: Novel
Tebal: 178 hlm; 14 x 21 cm
Harga: Rp 58.000,-
Jilid: Hard Cover
Pesan Buku:
📩 ONLY VIA DM
_______
Terimakasih sebesar-besarnya atas kebesaran hati para pembaca membuang-buang waktu untuk membaca penjelasan ini. Namun, saya berjanji, Pendekar Topeng Seribu akan semakin seru dengan perkembangan cerita yang telah melalui paling tidak, penelitian, niat, kesungguhan bahkan hati.
SALAM PENDEKAR!
__ADS_1