
Tiga sosok tak dikenal muncul dari balik bayangan pepohonan. Mereka memperhatikan belasan orang yang berbondong-bondong setengah berlari menaiki bukit dengan menenteng beragam senjata.
Belasan orang itu nampak sebagai orang-orang Jawa yang menyambangi rumah Datuk Mas Kuning. Mereka mendengar bahwa tokoh yang mereka hormati karena sudah pernah membantu mereka tinggal dan mencari nafkah di Sukadana sedang dalam mara bahaya.
Sebelumnya mereka mendatangi sebuah jung yang bersauh di pelabuhan Sukadana dan mendengar cerita secara utuh mengenai seorang pendekar tua yang datang dari pulau Jawa mengganggu keamanan kapal tersebut. Siapa dia dan apa maunya dengan cepat segera dipahami oleh orang-orang Jawa ini.
Maka mereka tak peduli lagi dengan keadaan sang Datuk yang menjadi tawanan negara. Mereka harus datang membantu sang Datuk.
Tiga sosok tak dikenal yang menyelip di bayangan pepohonan yang gelap tanpa suara meloncat-loncat lincah bagai kijang, namun tak terdengar bagai hantu, mengikuti rombongan tersebut.
***
Andai pertarungan ini bukanlah mengenai hidup dan mati, orang-orang sudah pasti akan terpana melihat keindahan serangan demi serangan yang bermutu tinggi.
Datuk Mas Kuning bergerak dengan luwes namun gesit. Setiap serangan pedang Karsa dapat dihindari dengan baik. Sebaliknya, Karsa juga tak mau memberikan begitu saja tubuhnya untuk ditusuk keris pusaka sang Datuk.
Keduanya telah menghabiskan dua puluhan jurus, yang bisa dikatakan termasuk lama untuk sebuah pertempuran. Bisa jadi Karsa sengaja memperlamanya demi yang ia katakan sebagai temu kangen.
Hanya saja Karsa kemudian tersadar bahwa ia telah terlalu lama tenggelam dalam permainan adu jurus ini. Ia memiliki tujuan yang jauh lebih penting saat ini.
Karsa mengubah gerakannya dengan sedikit memperlambatnya. Setiap gerakan kaki dan bunga-bunga jurusnya. Perubahan yang tiba-tiba ini dilihat sebagai lubang kesempatan bagi Datuk Mas Kuning. Sehingga, tanpa membuang-buang kesempatan, dua tusukan keris Kyai Pulau Bertuah membentur rusuk Karsa.
Sang Penyair Baka terlempar sejauh dua tombak.
Datuk Mas Kuning hendak kembali menyerang karena ia paham bahwa tusukannya tadi kemungkinan besar tak memberikan pengaruh pada kulit sang lawan karena ilmu kebalnya. Sang Datuk hanya menyalurkan sedikit saja tenaga dalamnya ke keris Kyai Pulau Bertuah tersebut. Itu sebabnya kemungkinan kecil sekali Karsa terluka.
Dugaan sang Datuk sama sekali tak salah. Yang tak diperkirakan Datuk Mas Kuning adalah bahwa Karsa sengaja mengumpankan tubuhnya agar dapat melukai lawannya.
Sang Datuk membatalkan serangannya ketika merasakan darah kental mengalir dari lambungnya.
"Maaf, Kuning. Sudah cukup kita bermain-main mengingat masa lalu. Tapi kau bukan tandinganku, tidak pernah menjadi tandinganku!" ujar Karsa.
Datuk Mas Kuning rubuh ke tanah. Ia baru sadar bahwa Karsa sedari awal memainkan tenaganya sehingga ia kelelahan. Sang Datuk sudah kehabisan tenaga karena menggambar rajah Kembang Cempaka pada Jayaseta tadi.
__ADS_1
Ilmu silat Datuk Mas Kuning memang berada setingkat diatas Karsa dalam hal kelincahan dan permainan jurus. Bila dituruti dalam keadaan wajar, Karsa bisa saja kalah karena serangan bertenaga Datuk Mas Kuning.
Namun, Karsa memiliki banyak pengalaman dan kelicikan bertarung sampai di waktu senja nya akibat pengalaman yang tak habis-habis. Ia paham bagaimana mencari celah untuk menyelesaikan pertarungan.
Karsa mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mendekat ke arah sahabat lamanya itu siap melepaskan kepala dari tubuh sahabat lamanya tersebut.
Semua prajurit yang menyaksikan pertarungan ini menahan nafas, menunggu yang akan terjadi berikutnya.
Otot-otot Jayaseta menegang. Ia sudah siap meluncur ke medan pertempuran untuk menyelamatkan sang Datuk.
Dara Cempaka menahan Jayaseta dengan memegang erat lengannya. Sepasang matanya sudah merah basah oleh air mata. "Maaf, Abang Jayaseta, Datuk memintaku untuk mencegah Abang melawan pendekar tua itu, apapun yang terjadi."
"Engkau yakin kita harus tidak mengacuhkan kejadian di depan mata kita? Datuk sedang terluka, Dara!"
"Dan Abang juga!" jawab Dara Cempaka. "Ia datuk adik, tentu adik memiliki rasa peduli yang sangat besar pada kakek kandung adik itu. Tapi Datuk sudah berpesan pada adik. Adik harus memenuhi keinginan Datuk. Itu adalah pengorbanan besar adik sebagai bukti pada Datuk akan kedewasaan adik."
Jayaseta melihat air mata Dara Cempaka menetes deras. Ia menjadi bimbang sekaligus geram karena sekali lagi tak bisa melakukan apa-apa. Namun, jelas ada sebuah perasaan dalam yang terjadi diantara Datuk dan cucunya tersebut.
Kalimat-kalimat sang Datuk mengenai kesabaran juga terus terngiang di dalam telinganya. Apa ini jalan hidupnya? Kembali mengorbankan orang lain? Demi apa? Demi keuntungan dirinya sendiri?
***
Belasan orang laki-laki datang tiba-tiba sembari mengacung-acungkan senjata mereka. Dua orang langsung memberikan pertolongan pada sang Datuk.
"Mengapa kalian kemari? Urusan ini tidak boleh melibatkan kalian," ujar sang Datuk khawatir sekaligus merasa sangat lemah akibat tusukan di lambungnya.
"Tidak, Datuk. Kami tidak akan membiarkan orang itu membuat kekacauan di tempat ini," ujar salah satu orang Jawa yang membantunya.
"Heh, kalian para prajurit dungu, Bukankah kalian lihat sendiri orang itu membunuh dan melukai rekan-rekan kalian? Mengapa diam saja ketika Datuk Mas Kuning terancam? Kita serang, kita keroyok bersama-sama!" ujar orang Jawa yang lain.
Jelas, dengan kedatangan banyak orang dengan bersenjata pula, para prajurit yang awalnya ragu kembali tergedor semangatnya. Mereka melihat kembali rekan-rekan mereka yang terluka yang sedang di rawat di dalam rumah sang Datuk serta lainnya yang telah tewas. Bagaimanapun juga, Datuk ini adalah tanggung jawab mereka.
"Ah ... Bangs*at! Mengapa tak Kau biarkan aku sedikit senang? Mengapa selalu saja ada cecunguk-cecunguk tak tahu diri yang hinggap di hidupku bagai lalat-lalat kotor?" ujar Karsa berteriak ke langit, seakan sedang kesal kepada Tuhan dan semesta.
__ADS_1
"Kalian minggir semua! Jangan membuat hariku runyam seutuhnya, atau kalian akan merasakan akibatnya!" ujar Karsa. Tapi jelas sepertinya ancaman Karsa sedikit kurang garang. Ia nampaknya sedikit ciut dan kesal tak segera menyelesaikan pertarungan dengan Datuk Mas Kuning serta mengejar Jayaseta, karena orang-orang Jawa ini selain membawa beragam senjata, juga membawa obor-obor besar dengan apinya yang menyala-nyala liar.
Ancaman Karsa dibalas dengan lemparan tombak. Karsa kembali menghindar dengan berguling ke samping. Ia berjumpalitan lagi ketika satu obor melayang ke arahnya. Batang obor dari bambu itu jatuh ke tanah, mambakar bambu sekaligus rerumputan yang sebenarnya masih basah oleh embun malam.
Orang-orang Jawa beserta para prajurit menyerang hampir bersamaan. Beberapa sengaja membakar ujung tombak mereka yang telah dililit kain.
Kejadian ini menjadi semacam tontonan orang-orang yang sedang berburu binatang liar.
Karsa bergulingan menghindari api, tusukan dan sabetan. Ia sendiri juga harus memasang jarak dari para penyerangnya dengan membabatkan pedangnya.
Karsa luar biasa kesal sekaligus kebingungan dengan keadaan ini.
Ia melompat bagai seekor katak, membabatkan pedangnya pada satu orang Jawa yang lengah karena terlalu bersemangat ingin mencacah tubuh Karsa.
Hampir saja nyawanya melayang bila sabetan Karsa tidak ditangkis salah satu temannya dengan parang. Percikan api dari kedua batang senjata itu terlihat. Nyawa si orang Jawa terselamatkan.
Karsa berteriak bagai seekor serigala terluka. Ia begitu marah dan kesal.
Satu tusukan di dada mendorongnya berguling ke belakang sejauh dua tombak.
Ketika ia berdiri lagi, ia harus memapras lemparan obor. Batang obor dari bambu itu pecah oleh pedangnya, namun itu malah membuatnya semakin parah. Anak-anak api mengenai rambut dan beberapa bagian di tubuhnya. Ia melepaskan pedang dan menggunakan kedua tangannya untuk mematikan api tersebut.
Tindakan Karsa ini membuat dua orang prajurit kalap. Mereka ingat dengan baik bahwa orang ini, Karsa, telah membunuh rekan mereka, melukai beberapa yang lain, dan membuat mereka menjadi malu atas diri mereka sendiri. Bisa-bisanya sebagai prajurit mereka lepas tangan menghadapi seorang pendekar yang datang secara tiba-tiba dan mengobrak-abrik ketenangan dan keamanan? Dimana harga diri dan tanggung jawab mereka sebagai prajurit.
Berbekal pemikiran dan semangat ini, kedua prajurit maju terlebih dahulu, memburu Karsa yang masih menggusah api yang membakar rambut serta cawatnya dengan tombak dan pedang mereka.
SRET!
SRET!
Kedua kepala prajurit tersebut jatuh dan bergulingan di tanah berumput, lepas dari tubuh mereka yang menyusul rubuh ke tanah.
Dari balik kegelapan mendadak muncul tiga orang dengan pedang pendek, dikenal dengan beragam nama termasuk do, sudah terhunus. Salah satu do meneteskan darah.
__ADS_1
Ketiganya mengenakan cawat, tubuh penuh dengan rajah, kepala mereka dibalut penutup kepala dengan bulu burung. Tatapan tajam mereka memberikan hawa pembunuh yang kental.
"Pengayau!" ujar beberapa orang Jawa dan prajurit yang tersisa hampir bersamaan.