Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pelajaran Keempat - Terpancing


__ADS_3

Almira berjalan-jalan di pekarangan rumahnya di Mataram. Kehamilan membuatnya sedikit lemas karena sering muntah dan ia sendiri kehilangan selera makan yang tinggi.


"Engkau memang jabang bayi yang istimewa, anakku," ujar Almira sembari mengelus-elus perutnya yang masih sama sekali tak terlihat ciri-ciri kehamilannya karena memang masih sangat muda.


Kecantikan perempuan ini semakin terlihat jelas oleh pacaran sinar matahari sore yang melemah. Walau ia sendiri mulai kehilangan berat tubuh akibat kurang makan dan hampir selalu muntah setiap pagi, pesona nya tidak pernah luntur atau menghilang sedikitpun.


"Mengapa Nyai tidak istirahat di kamar saja?" mendadak dua orang prajurit penjaga rumah datang. Salah satunya yang berbicara.


"Ah, aku sudah terlalu lama di kamar. Kapan aku bisa sehat. Calon anakku ini memang bandel, mungkin juga kuat seperti bapaknya. Jadi, mana mungkin aku yang lemah. Bagaimana kelak aku mempersiapkan kelahiran nya, si bandel dan kuat ini?" balas Almira.


Jaka Pasirluhur tak lama muncul dari balik pagar bersama dua emban putri yang biasa menjaga dan merawat Almira pada saat kehamilan mudany ini. Ia memberi isyarat kepada kedua penjaga untuk undur diri.


"Nyai. Kalau memang Nyai masih lemah, memang ada baiknya aku rasa untuk lebih banyak istirahat dahulu. Lagipula ada kedua emban yang selalu menjaga Nyai. Salah satu diantara mereka juga mengetahui ilmu dukun bayi, ilmu persalinan, Nyai," kata Jaka Pasirluhur.


Almira tersenyum. "Jangan terlalu khawatir berlebihan, kakang Jaka. Aku paham batasanku. Lagipula, kalau terlalu manja, kelak aku akan rugi sendiri."

__ADS_1


Jaka Pasirluhur mengangguk. Ada perubahan yang mendasar pada raga dan sifat kepala kelompok prajurit dan penjaganya ini, pikir Almira. Terutama sejak ia kehilangan satu tangannya. Memang, tiada yang bisa menyalahkan perubahan yang terjadi bila hal naas itu terjadi pada seseorang. Tapi, perubahan pada Jaka Pasirluhur bukan melulu perubahan yang buruk.


Ia memang menjadi sedikit lebih pendiam dan sungguh-sungguh karena tak selalu bercanda seperti dahulu. Namun, tubuhnya kini menjadi lebih ramping namun padat dan gesit. Ia sudah menjauhi arak, berjudi serta bersenang-senang. Waktu banyak dihabiskannya untuk berlatih ilmu kanuragan. Ketiadaan telapak tangan kirinya membuatnya harus memikirkan ulang jurus-jurusnya agar dapat digunakan demi keuntungannya ketika melawan musuh. Sampai saat ini, ia cukup puas dengan kemajuan pesat dalam waktu yang singkat itu.


Jaka Pasirluhur memandang kedua emban putri Almira. "Nyai nampaknya masih ingin di sini. Pergilah membereskan kamar dan tunggu Nyai disana," perintahnya.


Ketika kedua emban telah pergi, ia mengatupkan kedua telapak tangannya di depan kening, mengangguk kepada Almira, kemudian berkata, "Nyai, ijinkan aku untuk mencari suami Nyai, Jayaseta," ujarnya meminta ijin.


Almira tersentak. Terkejut dan tak siap dengan apa yang diucapkan dan diminta Jaka Pasirluhur.


Jaka Pasirluhur menghela nafas, menundukkan wajahnya. "Jayaseta sebenarnya sedang berada di negeri Melayu, Nyai. Desas desus sampai ke seluruh negeri. Semua orang sedang membicarakan kemunculan Pendekar Topeng Seribu di Kesultanan Johor Riau, sampai Melaka."


***


Jayaseta melemaskan tubuh dan menghilangkan kuda-kudanya. Ia paham sekarang, Jurus Segala Bentuk adalah sebuah paduan sempurna dari semua gaya silat dan jurus-jurus yang dikuasai Baharuddin Labbiri. Semua jurus dengan kecerdasan yang luar biasa, dijadikan sebuah gaya silat baru dimana satu serangan mengandung beragam jurus yang dicampur.

__ADS_1


Luar biasa, pikir Jayaseta.


Berkebalikan dengan Jurus Tanpa Jurus Jayaseta, dimana semua jurus yang ia kuasai dilebur sehingga tidak lagi berbentuk jurus, melainkan sebuah cara mengalahkan musuh dengan paling tepat.


Jayaseta menghentakkan kakinya ke tanah. Sebuah gerakan pancingan, seakan ia hendak menyerang.


Baharuddin Labbiri terpancing.


Ia melesat maju. Jayaseta sudah siap.


Urutan serangan Baharuddin Labbiri kini yang masuk dalam perangkapnya. Jurus Tanpa Jurus Jayaseta menyerap setiap serangan Baharuddin Labbiri dan meleburkannya dengan cara melakukan pembalikan jurus.


Ketika siku Baharuddin Labbiri menyerang dalam gaya Silat Tomoi, Jayaseta menggunakan Silat Gayong Pattani. Bila serangan Silat Kelantan digunakan, Jayaseta menahannya dengan silat Kedah. Ketika Baharuddin Labbiri menggunakan serangan jurus Gayong Terengganu, Jayaseta menanamkan lutut Silat Tomoi nya.


Baharuddin Labbiri kebingungan karena jurusnya hancur lebur. Maka, Jayaseta melesat maju menghadiahkan Bogem Watu Gunung, Tendangan Guntur dari Selatan dan Tapak Buddha ke tubuh sang Tun Guru.

__ADS_1


Baharuddin Labbiri menahan semua serangan dengan lengan dan bahunya. Ia mundur jauh ke belakang, kemudian mengangkat satu tangannya tinggi. "Berhenti, Jayaseta. Pelajaran telah berakhir. Kau menang," serunya.


__ADS_2