
Angin siang menjelang sore ini meniupi dedaunan membuatnya bergemerisik pelan. Sosok tak dikenal itu berdiri di depan Sasangka dengan kuda-kuda yang aneh. Tak terlihat berbahaya namun jelas menantang. Wajah sang tua baya yang ditumbuhi kumis dan jenggot tipis tak beraturan itu menghadap Sasangka dengan dingin.
Sasangka memandang sang tua baya dengan perasaan aneh yang tak dapat digambarkan. Bagaimana bisa orang ini mengetahui banyak hal yang berhubungan dengannya? Narendra, Katilapan, Jayaseta adalah nama-nama yang melekat dalam sanubarinya.
"Apa urusanmu denganku sebenarnya, hai orang asing?" tanya Sasangka.
"Nah, nah. Sudah kukatakan betapa rumit cara kalian berpikir. Lakukan saja selayaknya seorang pendekar, seperti dedaunan yang mengikuti kemana angin membawa."
"Omonganmu semakin tidak dapat kupahami, orang tua. Segera katakan saja apa maumu, jangan bertele-tele sembari memberikanku beragam teka-teki lagi," ujar Sasangka.
"Kau boleh menyerangku dulu, Sasangka. Aku jamin itu tak akan mengecewakan," ujarnya.
Sasangka kembali tersentak. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mengatupkan rahangnya kuat-kuat.
__ADS_1
"Tak adil rasanya memancing kemarahan musuh untuk sebuah pertempuran. Itu bukan cara yang bijak. Lawan akan menyerang dengan kemurkaan. Pertarungan menjadi tak murni lagi," sang paruh baya kemudian berdiri tegak tanpa kuda-kuda. Ia menggeleng dan menepuk kepalanya sendiri pelan. "Bodoh sekali, kau," ujarnya, juga kepada dirinya sendiri.
Ketika sedang berdiri tegak inilah Sasangka mendadak merasakan hawa sakti yang luar biasa meruap dari tubuh orang tak dikenal tersebut. Gayanya yang nyeleneh dan tak masuk akal nyata-nyatanya adalah semacam cangkang yang menyembunyikan mutu dan makna di dalamnya.
Sasangka mendadak bergetar. Naluri kependekarannya tersibak, membuat ia diam-diam memersiapkan kuda-kudanya dan meraba tiga buah gagang wedhung di pinggangnya.
Sang paruh baya melirik ke arah Sasangka dan langsung mengetahui semua gerak-geriknya. Ia tersenyum tipis kemudian mendeprok duduk bersila di tanah. "Ah, kau ini, Sasangka. Tadi aku ajak berkelahi kau menolaknya dan malah bingung. Sekarang aku tak melakukan apa-apa kau justru ketar-ketir," ujar laki-laki santai. Ia kemudian malah kembali mengunyah sirih.
Ucapan lugas dari sang paruh baya semakin membuat Sasangka terkesima dan terkejut sampai-sampai tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Laki-laki meludah ke tanah. "Gelarku adalah Dewa Langkah Tiga," ujarnya. "Aku adalah orang dari suku Kerinci yang tinggal di wilayah perbukitan bagian dari jejeran bukit Barisan perbatasan antara negeri Minangkabau dan negeri Melayu Jambi. Bukit dimana aku dilahirkan dan besar bertanah merah dan ditumbuhi padang ilalang. Tempat itu tidak terlalu subur, juga tidak terlalu gersang. Tanahnya bertebaran dengan batu gahang atau batu garam, pasir-pasir kasar. Anehnya, di bukit yang lebih tinggi dari dataran ini terdapat mata air yang mengalir tak habis-habis. Inilah yang disebut dengan Sungai Akar."
Sasangka tak mengendurkan penjagaannya.
__ADS_1
"Di puncak bukit Sungai Akar ini dinamakan Pamatang Galangang. Selain mata air, ada pula sebuah gua yang dinamakan Pahoh. Dahulu gua ini merupakan sarang harimau."
Sasangka hendak menyanggah cerita laki-laki paruh baya yang menggelari dirinya Dewa Langkah Tiga itu. Tapi entah kenapa, ada semacam sihir yang membuatnya enggan malah sebaliknya, begitu tertarik dengan cerita sang Dewa Langkah Tiga tersebut.
"Pamatang Galangang adalah dataran tempat para pendekar Kerinci mengadu keahlian dan kesaktian setelah terlebih dahulu mengadu ayam. Tentu, saat itu aku adalah salah satu dari para pesilat dan jagoan Kerinci Pamatang Galangang. Kau tahu, Sasangka. Aku dahulu selalu kalah dalam setiap uji ketangkasan dan adu kanuragan. Sampai suatu masa dimana aku mendapatkan rahasia ilmu silat Langkah Tiga yang purba dari dalam gua Pahoh. Singkat cerita, aku menjadi pendekar yang terhebat di kampungku, mengalahkan dan membunuh para pendekar di sana," Dewa Langkah Tiga tertawa. Sebuah tawa serak yang mengerikan.
"Aku berpetualang, mengalahkan banyak pendekar dari Minangkabau, Melayu, Jawa bahkan Cina. Intinya, aku sebenarnya terlahir sebagai seorang pendekar yang terus menginginkan pertarungan untuk menunjukkan siapa yang terbaik. Ketika mendengar sepak terjang Pendekar Topeng Seribu dari tanah Jawa, aku memutuskan mencari tahu dan ingin sekali menantangnya. Nah, inilah yang membedakanku dengan pendekar-pendekar lain," kata Dewa Langkah Tiga sembari menunjuk ke dahinya, "Aku cerdas. Tak sekadar menantang musuh membabi-buta."
Sasangka tiba-tiba menerjang maju dengan sebuah sepakkan pendek namun bertenaga.
Tak dinyana, Dewa Langkah Tiga sudah berdiri bahkan sebelum tendangan Sasangka sampai. Ia bergerak menyamping sehingga lolos dari serangan kemudian mendorong tubuh Sasangka dengan bahunya.
Sasangka berguling sekali ke samping akibat dorongan itu. Wajahnya memerah geram. "Mau berapa lama lagi kau bercerita?!" serunya.
__ADS_1
"Nah, nah ... Apa perlu sekian lama buatmu siap melawanku, Sasangka. Sayang sekali kau tak akan sempat mendengarkan ceritaku sampai selesai. Bahkan aku sudah menghilangkan banyak perincian di kisahku itu untuk meringkasnya. Terutama masalah kecerdasanku sehingga aku tahu beragam kisah bahkan gerakan silat tiga jurusmu itu," ujar Dewa Langkah Tiga terkekeh kembali.
Darah Sasangka menggelegak marah. Serangannya dielakkan dengan gampangnya, bahkan ia didorong dengan keras. Di sisi lain, orang itu seakan tahu semua tentang dirinya serta segala hal yang berhubungan dengannya.