Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kesultanan Johor-Riau


__ADS_3

Jung yang dinakhodai Raja Nio memutuskan untuk berlabuh di negara Kesultanan Johor sebelum dari sana berangkat dengan jalan darat menuju ke Malaka.


Malaka saat ini tidak dipegang oleh penguasa dan raja Melayu, namun oleh orang bule Pranggi. Hubungan yang rumit terjadi pada negara-negara di sekitar selat Malaya dimana negara-negara bangsa Melayu ini berada membuat Datuk Mas Kuning harus benar-benar memperhatikan gejolak yang terjadi sehingga mereka tak salah jalan.


Penaklukkan Pranggi atas Malaka tahun 1511 Masehi membuat Malaka menjadi sebuah negara yang kerap menyalakan api permusuhan karena diperintah oleh orang asing yang merebutnya dari Raja Melayu. Tetapi karena Datuk Mas Kuning menekankan bahwa mereka harus tetap berangkat ke Malaka untuk sebuah urusan sebelum melanjutkan ke Pattani dan Ayutthaya, bukannya berlayar langsung ke Ayutthaya, pusat negara orang-orang Siam tersebut, maka persinggahan tersebut tak mungkin dihindari.


Sejarah Johor dimulai pada masa pemerintahan Kesultanan Malaka dimana sebelumnya daerah Johor merupakan bagian dari Kesultanan Malaka, sebelum kemudian Malaka jatuh akibat penaklukan Pranggi pada tahun 1511 Masehi tersebut. Dari sini diketahuilah hubungan sejarah yang erat antara Malaka dan Johor. Setelah wafatnya Sultan Malaka yang bernama Mahmud Syah tahun 1528 Masehi di Kampar, Sultan Alauddin Syah, salah seorang putra raja Malaka, menjadikan Johor sebagai pusat pemerintahannya dan yang kemudian dikenal sebagai Kesultanan Johor.


Sesudah Sultan Alauddin Syah membangun pusat pemerintahan baru pada kawasan muara Sungai Johor, dari sini perlawanan terhadap penaklukan Pranggi terus dikobarkan dan berlanjut. Pada masa yang sama, dari kawasan utara Pulau Samudra Melayu, muncul kekuatan baru di Kesultanan Aceh yang mulai melakukan perluasan wilayah kekuasaan dengan menaklukan beberapa kawasan Melayu dan berusaha mangatur jalur pelayaran di Selat Melaka. Kesultanan Aceh selain juga mencoba menyerang kedudukan Pranggi di Malaka, juga menyerang kedudukan Sultan Johor. Akhirnya pada tahun 1613 Masehi, Sultan Iskandar Muda menaklukan Johor, Sultan Johor beserta seluruh kerabatnya ditawan dan dibawa ke Aceh.


Kesultanan Johor lama yang terkadang juga disebut Kesultanan Johor-Riau yang didirikan di paruh pertama abad ke-16 Masehi oleh sultan Melaka yang digu-


lingkan, yang kemudian memerintah bersama dengan para ahli warisnya tersebut, merupakan salah satu dari kekuatan negara yang bersaing ketat untuk memantapkan perannya sebagai ahli waris Melaka yang sudah dicaplok Pranggi.

__ADS_1


Masa dimana rombongan Jayaseta berlayar ke negara Kesultanan Johor ini adalah masa awal puncak kemasyhuran dan kewibawaannya dimana  Kesultanan Johor-Riau perlahan menerima sumpah kesetiaan dari masyarakat yang tinggal di seluruh kawasan yang merentang sanpai bagian-bagian selatan Jazirah Melayu, Kepulauan Riau dan pulau Singapura yang disebut Temasek pada masa kerajaan Majapahit, kepulauan Anambas, Tambelan dan kelompok pulau Natuna, kawasan di sekitar Sungai Sambas di pulau Tanjung Pura bagian barat-daya dan Siak di pulau Samudra Melayu bagian tengah-timur.


Selain itu, Kesultanan Johor-Riau juga menyatakan bahwa orang-orang yang diperintah oleh para penguasa Kampar, bendahara Pahang dan Terengganu adalah kawulanya. Lebih jauh, di antara para sekutunya, terdapat Champa yang penguasanya sudah memeluk agama Islam dan menjalin hubungan resmi dengan Johor pada tahun 1606 Masehi.


Tidak heran, Datuk Mas Kuning menjelaskan pengalamannya sewaktu menjelajah dan belajar beragam jenis ilmu kanuragan silat Melayu di Johor, Malaka sampai Pattani. Karena, ternyata, hubungan Johor dengan Sambas, dimana ia menempa ilmu dengan guru orang Cina dahulu, cukup erat.


Saking luasnya kekuasaan Kesultanan Johor di tanah Melayu, maka terjadi pula keragaman penduduk dan daerahnya. Ciri kekuatan kenegaraan Melayu dalam kurun pada masa iniadalah bahwa para penguasanya mencurahkan perhatian kepada masyarakatnya dan tidak pada lahan atau kawasan sehingga gaya kesetiaan penduduknya bersifat mengalir dan tidak tetap.


Oleh karena rasa kesetiaan di antara para penduduknya yang cair, maka terdapat banyak kawasan abu-abu di dalam sebuah rentang daerah kekuasaan negara, terutama di kawasan perbatasan. Bisa dilihat bahwa para datuk dan maharaja memberi upeti serta menyatakan kesetiaan kepada lebih dari seorang maharaja pada waktu yang sama.


Ri’ayat Shah Keriga dengan laksamana Belanda Jacob van Heemskerk. Bahkan Johor merupakan salah satu di antara kekuatan-kekuatan di wilayah nusantara yang pertama kali mengirimkan utusan kenegaraan ke Negeri Walanda di tahun 1603 Masehi. Ketika tiga tahun kemudian para utusan kedutaan Johor itu kembali dengan selamat menumpang kapal perang Laksamana Matelieff, dua buah perjanjian diresmikan antara Johor dan VOC pada tahun 1606 Masehi.


Kesimpulannya, seperti banyak negeri dan kerajaan lain di Jawa pula, kerajaan Melayu memiliki kepentingan-kepentingan sendiri. Kebencian kepada orang bule Pranggi tidak sejalan dengan kerjasama dengan bule Walanda, padahal kekuatan Walanda juga ditentang di banyak tempat, terutama oleh Mataram di pulau Jawa.

__ADS_1


Banyak Datuk dan tuan tanah yang berkuasa memainkan peran yang mementingkan dan menguntungkan diri dan kelompok mereka sendiri. Ketegangan terjadi di mana-mana.


Misalnya saja, ketegangan antara para Datuk Johor dan Riau dengan para penguasa di Jambi dalam memperebutkan kekuasaan, usaha dan tanah atau wilayah dan lahan.


Para pendekar Johor dan Riau yang dikenal dengan gaya bertarung penuh kuncian, permainan siku serta pedang kembar kerap bermasalah dan bertarung dengan para pendekar Jambi yang juga terkenal dengan pisau dan pedang kembar yang disebut pisau dan pedang duo, serta jurus-jurus langkah kaki miring dan memutar tangan serta senjata di kepala bagai orang sedang menyisir sebagai bentuk pertahanan dan ancang-ancang menyerang.


Kelompok-kelompok yang bersengketa ini menggunakan para pendekar sakti yang juga sama-sama menyelelipkan badik tumbuk lada atau tumbuk lado, senjata yang akrab digunakan oleh suku-suku Melayu di Riau dan Jambi, serta Melayu pesisir pulau Samudra bagian Timur seperti Melayu Deli dan Melayu Serdang. Senjata tikam ini serupa dengan senjata badik orang-orang Bugis dan Mangkasara - yang juga memang dipengaruhi oleh mereka - namun juga serupa dengan keris lurus pulau Jawa.



Kelompok pendekar dan jawara Johor dan Riau dibawah pimpinan Datuk Sri Harimau Selatan melawan para pesilat dibawah perintah Datuk Meghak Bulunyo Megha atau kurang lebih diartikan dengan Datuk Burung Bulunya Merah dari Jambi.


Entah perjalanan seperti apa kelak yang terhampar di depan rombongan Jaayaseta di Kesultanan Johor ini. Maksud hati Datuk Mas Kuning ingin menghindari perjalanan langsung ke pelabuhan Malaka, malah bersinggungan dengan persengkataan antar pendekar yang sedang ramai marak antara Kesultanan Johor-Riau dan Kerajaan Jambi.

__ADS_1


Namun begitu, entah untuk keberapa kalinya kelak di tanah Melayu ini, Jayaseta juga akan mendapatkan pengalaman hebat di dalam hidupnya untuk menjadi pendekar paripurna menjajal ilmu kanuragan seorang pendekar Kerinci yang terkenal cepat, berjurus silat yang disebut Langkah Dua dan Langkah Tiga, tanpa menggunakan senjata.


Jayaseta akan mendapatkan bekal berarti dan berharga dari pendekar Kerinci berupa silat tangan kosong tersebut, yang akan bermanfaat besar ketika nantinya ia menghadapi kekuatan-kekuatan luar biasa dan gaib di Ayutthaya.


__ADS_2