
Keempat pemburu Thai tersentak terkejut ketika melihat sosok tak dikenal itu bergerak dengan luar biasa cepat. Belum lagi ketika mendadak api unggun di gua yang mereka saksikan dari jauh tadi kini juga padam, menyisakan kepekatan malam.
Topeng perang prajurit Thai yang mereka kenakan berhasil menutupi raut wajah terkejut mereka. Tapi percuma, karena sosok itu mampu membaca raut wajah dan ketakutan mereka bagai seekor singa meninting mangsa.
Tombak langsung ditusukkan ke arah sosok yang bergerak cepat dlam kegelapan di balik pepohonan dan semak-semak. Yang terjadi malah si penyerang yang terlontar mundur. Tombaknya ditepis dengan gampang, sedangkan ia sendiri merasa sebuah dorongan keras di bagian dadanya sehingga ia mundur ke belakang.
Lainnya, satu persatu tercpental sampai dua langkah menubruk tetumbuhan, mematahkan ranting-ranting. Sungguh aneh dalam kegelapan, baik keempat pria pemburu suku Thai itu, maupun sang sosok tak dikenal harusnya sama-sama tak mampu saling melihat. Sebaliknya, mereka merasa sedang dipermainkan.
Jelas bahwa sosok itu dalam satu kedipan mata saja dapat menyerang keempatnya, tetapi memilih untuk mendorong atau menolak mereka entah bagaimana caranya. Bahkan mungkin sosok itu tak memerlukan mata untuk berkedip dalam kegelapan seperti ini.
"Bangsat! Ia mempermainkan kita. Bunuh orang itu. Kampung kita akan terancam bila orang semacam ini dibiarkan bernafas," seru salah satu dari pemburu Thai itu.
Keempatnya menghajar sekeliling mereka dengan tusukan-tusukan tajam. Sayangnya, mereka melakukannya harus dengan hati-hati dan ragu-ragu, karena kepekatan malam tersebut dapat membuat mereka salah menusuk ke arah teman mereka sendiri.
__ADS_1
Setiap tusukan menemui udara kosong, atau tetumbuhan belaka.
Lagi-lagi, tubuh mereka tersentak ke belakang, sampai dua langkah jauhnya. Sosok itu menyelip dalam gelap dengan lincah dan cekatan kemudian memberikan tepukan di bahu dan punggung mereka dengan cukup keras sehingga langkah mereka doyong. Kadang, sosok itu juga memberikan tolakan cepat dan penuh tenaga dengan menggunakan telapak tangan.
Semuanya tersandung kaki mereka sendiri, atau terselip akar serta ranting-ranting pepohonan. Teriakan amarah keluar dari mulut mereka sembari terus mencoba memusatkan pandangan sebisa mungkin mencari sosok tak dikenal yang terus saja menghancurkan kuda-kuda dan persiapan mereka.
Topeng-topeng baja tipis berwajah sedih atau menganga itu sekarang sama sekali tidak menjadi susah ditebak atau membuat musuh kebingungan dan ketakutan. Tujuan utama topeng perang memang adalah membuat musuh-musuh mereka tak bisa menebak raut wajah penyerang mereka sekaligus membuat lawan gentar.
Lalu siapa sosok itu sebenarnya?
Jayaseta. Sedari awal, ia sudah mengetahui dengan baik bahwa mereka sedang dikuntit dan diperhatikan. Naluri kependekarannya sudah terlalu tajam untuk hal semacam ini.
Belum lama tadi, ia sudah bertempur dengan para perompak, kini ia sudah harus menghadapi orang-orang asing berbekal senjata lengkap.
__ADS_1
Masalahnya, ia masih belum paham apa tujuan keempat orang ini. Mereka berbusana seperti orang-orang Siam pada umumnya, termasuk senjata yang mereka gunakan. Oleh sebab itu, Jayaseta berencana untuk tidak secara sembrono membunuh mereka. Ia ingin mencari tahu lebih banyak. Sudah banyak nyawa yang hilang di tangannya hari ini.
Ia memutuskan untuk melucuti mereka dahulu.
Anehnya, bagai seorang pertapa yang mendapatkan wangsit, Jayaseta memejamkan mata. Ia tadi memang telah meminta kakang-kakangnya untuk mematikan api unggun dengan tujuan menciptakan kegelapan menyeluruh.
Dalam kegelapan itu, Jayaseta bukannya membuka mata selebar-lebarnya untuk melihat musuh, sebaliknya, ia malah menutup mata untuk merasakan kegelapan menyatu dalam nalurinya. Jayaseta menajamkan semua indranya, selain kedua matanya yang kini digunakan untuk menyerap kekelaman.
Permukaan kulitnya merasakan angin yang berhembus, meraba gerakan lawan dari hembusan udara yang berubah. Telinganya menjadi luar biasa tajam, mendengar langkah musuh, gerakan tangan dan tubuh, pergerakan dan perpindahan mereka, suara yang menajam dari senjata yang ditusukkan ke udara, dan terutama suara rutukan dan sumpah serapah mereka.
Jayaseta tersenyum. Tubuhnya malam ini adalah mata. Setiap jengkal kulitnya mengirimkan berita dan peringatan. Nalurinya yang sudah lama tertahan di atas lautan dan sungai kini terlepas sudah.
"Terimakasih laut dan sungai. Kini kepekaanku ketika berada di atas tanah berkali-kali lipat tumbuhnya. Aku dapat menyukuri keadaan dimana aku dapat berjaya dengan sebelumnya harus menderita terlebih dahulu. Kekhawatiran dna ketakutanku menyadarkan akan kemampuanku lain yang masih tersembunyi," gumam Jayaseta dalam hati.
__ADS_1