Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Kejayaan dan Kepuasan


__ADS_3

Jayaseta melihat rombongan perahu berdayung dengan layar, sepuluh jumlahnya, dengan masing-masing berisi lima sampai delapan orang yang menyembunyikan senjata di dalam perahu mereka, meluncur dari arah yang berlawanan.


Mungkin sudah hampir dua hari penuh jarak antar lancaran yang ia tumpangi ini dengan rombongan belasan sampai puluhan perahu besar kecil, berdayung dan dengan layar yang mereka temui waktu itu. Perahu-perahu sarat dengan orang-orang yang nampak sekali adalah rombongan perompak Annam dan Champa itu sama sekali tak menyentuh kapal yang ia tumpangi.


Sebagai seorang manusia biasa, Jayaseta merasakan perasaan tidak nyaman ketika harus berhadapan dengan para penjahat atau musuh di tempat yang tidak menguntungkannya. Dalam hal ini, di atas sebuah perairan, entah sungai, entah laut, adalah gelanggang tarung yang benar-benar membuatnya ciut. Meski dalam banyak kesempatan, bahkan air pun tak mampu menutupi kehebatan sang pendekar, dimana ia tetap saja hampir selalu memenangkan pertarungan.


Hanya saja, naluri kependekaran yang terasah hampir mendekati kesempurnaan yang ada pada dirinya langsung menyala. Kelemahan di atas air tidak mungkin bisa ia pungkiri. Setiap jurus memiliki cela, setiap ilmu kekebalan memiliki kelemahan, setiap keagungan pasti mempunyai keburukan. Bagitu pula dirinya. Di satu masa, ia bisa saja berseloroh bahwa ialah sang Pendekar Topeng Seribu yang namanya termahsyur tersebut. Ia bisa saja menyombongkan diri menyundul langit dan dengan mudah mengalahkan musuh-musuhnya. Namun di masa lain, ia sadar sepenuhnya bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini tak ubahnya hanya bagai butiran pasir di jagad raya tanpa batas. Ia bisa saja dungu, bodoh, ceroboh dan menjadi seorang pengecut ketika menghadapi hal-hal yang tak ia ketahui atau tak mampu ia bendung.

__ADS_1


Kali ini, kesadaran penuh meneranginya dari langit. Seakan taburan sinar memercik di atas kepalanya dan membuatnya terbangun.


Ketidaktahuannya yang semula mendadak diperlihatkan rajutan kejadian demi kejadian yang terjadi di sepanjang perjalanannya. Ia bahkan memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak dipikirkan dengan seksama, pastilah luput dari wawasannya.


Jayaseta tahu bahwa kakang-kakangnya, Narendara dan Katilapan, serta Ireng dan Siam, menyembunyikan pengetahuan mereka atas perahu-perahu orang Đại Việtdan Champa yang sepertinya sengaja menghindari layaran yang ia tumpangi; pertempurannya dengan gerombolan perampok gabungan Siam, Burma dan Khmer, serta tentu saja penjelasan Khaung tentang kelompok Dunia Baru, sedikit banyak telah berhasil disusun sedemikian rupa di dalam benak sang pendekar.


itu, marabahaya pertumpahan darah?” ujar Jayaseta panjang lebar kepada Dara Cempaka yang merangkul lengannya di sisinya.

__ADS_1


Jayaseta berpikir bahwa sang istri akan sangat terkejut dengan ucapannya yang penuh dengan kejujuran ini. Ternyata malah sebaliknya. Dara Cempaka tersenyum lebar. “Adik Dara sadar betul siapa abang Jayaseta. Nama besar abang yang nyatanya digunakan serabutan dan membabibuta oleh orang-orang tak dikenal dan tak bertanggungjawab itu memang merupakan suatu hal yang tidak bisa dibiarkan. Adik sendiri bila menjadi abang, dengan kemampuan yang mumpuni seperti ini, sudah pasti akan berpikir yang sama,” balas Dara Cempaka.


Jayaseta memandang wajah ayu, manis dan lembut sang istri. Ia menghela nafas. “Tujuan utama kita adalah mengobatimu, adik Dara,” tutur Jayaseta kemudian.


“Bukan, abang, bukan. Tujuan adik adalah mengikuti abang, menempuh segala halangan, rintangan dan gelombang kehidupan sebagai seorang istri dari pendekar pilih tanding. Abang memiliki garis yang mungkin sekali hanya abang yangk ketahui. Adik akan setia dan mendukung segala keputusan abang. Karena, bagaimanapun, adik sendiri memiliki tanggung jawab untuk menjalani kehidupan yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.”


Jayaseta memeluk erat tubuh ramping Dara Cempaka yang mengenakan pakaian bergaya laki-laki itu. Jayaseta mencium kening istrinya, memandang mata teduhnya dan berpaling ke arah Siam dan Ireng. Ia memanggil mereka, “Mungkinkan bagi kalian meminta sang nakhoda, atau siapapun untuk menurunkan aku ke sungai? Dengan perahu, aku, dengan bantuan kau dan Ireng, untuk mendekat ke arah perahu-perahu orang-orang itu untuk menanyakan tujuan mereka?”

__ADS_1


Tak pelak pertanyaan dan permintaan aneh Jayaseta ini membuat mereka terkejut dan saling berpandangan tak percaya.


__ADS_2