Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Sang Harimau Pattani


__ADS_3

“Aku berdiri di depan engkau, pendekar, sebagai seorang yang malu mengemban sebuah gelar yang nampaknya tak pantas lagi buatku, Sang Harimau Pattani. Namaku Yunus, saudaraku. Tolong berbaik hatilah padaku memberikan ilmu yang cukup dan berharga,” ujar Yunus, salah satu dari empat Harimau Gayong Melayu murid-murid Baharuddin Labbiri sembari menghormat, mengatupkan kedua telapak tangannya di depan muka.


Ketiga rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu dikalahkan oleh Jayaseta dengan cara yang mengejutkan mendengus hampir bersamaan. “Pandai sekali Yunus bermain kata. Dia hanya berusaha menyembunyikan malunya bila sampai nanti kalah,” ujar Mansur mencemooh namun dalam canda. Kata-katanya ini ditimpali senyum dan tawa tipis dari rekan-rekannya setuju.


Jayaseta membalas hormat Yunus dengan pula mengatupkan kedua telapak tangannya. “Baiklah saudaraku, Yunus. Aku Jayaseta. Mohon pula untuk tidak segan-segan berbagi pengalaman kanuragan denganku,” ujar Jayaseta mantap bersemangat. Tentu saja hal ini mau tidak mau membuat Yunus sedikit ciut nyalinya, meski di sisi lain, sebagai seorang pendekar, ia juga sama semangatnya karena penasaran ingin menjajal kesaktian dan berbagi jurus dengan Jayaseta.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Jayaseta untuk menghambur menyerbu menyerang Yunus. Serangan mendadak ini tidak tanggung-tanggung. Jayaseta memberikan satu pukulan keras lurus dan cepat bahkan dengan sedikit tenaga dalam yang tercurah. Mungkin inilah yang Jayaseta maksud dengan berbagi pengalaman kanuragan. Ia tak mau sang musuh hanya sibuk memikirkan bagaimana menunjukkan jurus-jurus ciri khasnya tanpa benar-benar melawan musuh. Maka Jayaseta meningkatkan beban pada serangannya.


Yunus dengan sigap mundur selangkah ke belakang sehingga tinju Jayaseta tak mengenainya. Namun akibatnya kini Yunus sadar bahwa Jayaseta bisa saja tidak main-main. Angin hawa tenaga dalam yang menghempas dirinya terasa sekali. Apalagi Jayaseta kemudian menyusul dengan serangan berikutnya. Yunus kembali mundur namun dengan cara melompat sembari menepis tinju Jayaseta. Benturan kedua tangan menjelaskan lebih dalam seberapa sungguh-sungguhnya Jayaseta. Ada yang berbeda dari tepisan lengan Yunus ini. Gerakannya begitu lembut namun mampu meredam tenaga dalam Jayaseta.


Setelah melakukan tepisan, Yunus kembali mundur lalu menunduk begitu rendah. Kedua tangannya menempel di tanah, satu kaki merentang lurus sedangkan satunya melengkung menopang tubuh. Jayaseta sadar, inilah salah satu kuda-kuda harimau Pattani. Namun baru saja Jayaseta mengetahui apa yang terjadi, Yunus melompat mumbul dengan melonjakkan tubuhnya menggunakan satu kaki yang menopang tubuhnya tadi.


Jayaseta kini yang mundur sampai dua langkah ke belakang oleh karena dua serangan beruntun berupa satu tinju lurus dan pukulan melingkar. Tidak sampai disitu, Yunus melompat dan melontarkan sebuah tendangan berputar ke arah kepala Jayaseta. Yunus tak sungkan-sungkan mengalirkan tenaga dalam murni ke dalam tendangannya tersebut.


Semua penonton menahan nafas ketika Jayaseta menahan tendangan keras itu dengan lengannya, membuat ia terdorong ke samping dan terpaksa bergulingan di tanah. Ketiga rekan pendekar Harimau Gayong Melayu ikut berdebar-debar menyaksikan pertandingan ini. Baharuddin Labbiri tersenyum lebar.


Jayaseta terenyum pula, namun di dalam hati. Wajahnya tetap terpasang sungguh-sungguh. Ini untuk memancing serangan-serangan Yunus agar lebih berani sehingga Yunus dapat mengeluarkan semua kemampuan dan jurus-jurusnya.


Benar saja, Yunus kali ini yang menderu maju. Ia kembali memulai serangan dengan sebuah lompatan yang memang ditujukan untuk mempertebal kekuatan dan kecepatan serangan. Tiga jurus serangan langsung dihadiahkan kepada Jayaseta. Satu pukulan menyamping yang dimulai dari sebuah gerakan lembut yang kemudian diledakkan dengan cepat. Begitu pula satu pukulan lurus dan tendangan rendah yang kesemuanya dimulai dengan gerakan perlahan yang diletupkan dengan keras.


Jayaseta menangkis dan menepis semua serangan Yunus tersebut. Akibatnya ia terlihat mundur dan terdesak. Ini ia lakukan sengaja untuk kembali memancing Yunus. Bukannya jemawa dan menganggap remeh Yunus dengan cara mempermainkannya, tetapi Jayaseta memang menginginkan pelajaran yang sejati dari jurus-jurus silat Gayong Melayu Pattani yang juga disebut silat Harimau Pattani tersebut. Sewaktu di Sukadana dahulu, ia mengecap silat Pattani dalam rupa Silat Pulut yang diajarkan sang Datuk Mas Kuning. Walau bukan berari Silat Pulut tidak bermakna baginya, melainkan ia masih menginginkan mendapatkan lebih banyak ilmu.


Silat Pattani yang mendapatkan pengaruh besar dari beladiri Hindustan di masa nusantara masih kebanyakan memeluk agam Hindu ini banyak mengambil falsafah dan gaya serta jurus-jurus yang didasarkan pada kisah Ramayana yang juga dikenal baik dalam kisah-kisah pewayangan di pulau Jawa. Dalam dunia Melayu, kisah dan cerita Ramayana ini dikenal sebagai Hikayat Seri Rama atau yang dikenal juga oleh orang-orang Siam sebagai Ramakien.

__ADS_1


Serangan-serangan Yunus yang lurus dan cepat, kemudian maju dan mundur sama cepat dan gesitnya sebenarnya


meniru gaya sang Seri Rama, atau dalam budaya Jawa dikenal sebagai Sri Rama, ketika sedang menarik anak panah dan melepaskannya. Sedangkan kelembutan awal serangan pukulan dan tendangan Yunus merujuk pada istri Seri Rama, yaitu Sita Dewi – dikenal di pulau Jawa sebagai Dewi Sinta – yang lembut namun


sangat ringkas. Jurus meniru kelembutan Sita Dewi inilah yang digunakan Yunus untuk menepis tinju bertenaga dalam Jayaseta di awal pertarungannya tadi.


Unsur terakhir yang digunakan Yunus dalam jurus-jurus Pattani yang dipengaruhi kisah Ramayana ini adalah


kekuatan sang kera sakti, Hanuman atau Anoman dalam budaya Jawa. Tak heran, Yunus menggandakan kekuatan serangannya dengan kerap melompat bagai Hanuman yang kuat dan lincah. Bisa dikatakan bahwa jurus-jurus silat Gayong Pattani ini terdiri dari unsur jantan betina serta lembut keras yang saling melengkapi. Tak heran, karena selain dipengaruhi beladiri Hindustan, silat Pattani juga mendapatkan pengaruh dari silat Cina yang dikenal dengan Xingyiguan yang memusatkan pada ledakan tenaga setelah sebelumnya dimulai dengan gerakan lembut.


Jayaseta memasang kuda-kuda lagi ketika akhirnya Yunus merasakan kepercayaan dirinya meningkat dan tak ragu menggunakan unsur-unsur penting lain dalam runtutan jurus-jurusnya, yaitu gaya bersilat dengan meniru gerak dan ciri-ciri binatang.


Yunus kembali melompat maju menyerang meski lompatannya kali ini sedikit berbeda karena lebih rendah namun lebih cepat. Itulah jurus pertama yang meniru seekor rusa atau dalam bahasa Melayu disebut ruso. Lompatan ini digunakan untuk membantu serangan kepalan dan tapak yang cepat, meniru seekor kero atau kera dan beruk. Maka gabungan rusa dan kera membuat serangan Yunus penuh lompatan dan serangan yang bak kilat.


Jayaseta tersentak ke belakang, bahkan hampir jatuh.


Para penonton terkesiap, kembali menahan nafas, melihat sang pendekar tak dikenal itu seakan sedang dalam keadaan yang tidak menguntungkan ketika melawan Yunus, saudara tua dan andalan seperguruan mereka.


Yunus semakin menjadi. Gaya tiga unggas dalam sekali gerakan dilancarkan. Seekor hele atau elang membuat


Yunus meluncur maju ke arah Jayaseta seperti terbang. Satu kakinya terangkat dan satunya menopang keseimbangan bagai seekor bangau. Kaki yang terangkat dilepaskan dengan cepat menyasar perut Jayaseta bagai seekor aye nyabung atau ayam jantan yang memainkan tajinya dalam sebuah sabung.


BUG!

__ADS_1


Jayaseta terdorong ke belakang dan menggelinding mundur.


Tak dapat ditahan, beberapa penonton, murid-murid silat Baharuddin Labbiri bersorak sorai senang, bangga dan memberikan semangat kepada Yunus.


Jayaseta sebaliknya malah girang. Berarti ia dapat menyaksikan dan mengalami sendiri jurus-jurus hebat silat gayong Pattani tersebut. Maka ia tak mau kalah pula. Jayaseta bangun cepat, kemudian mencoba membalas serangan Yunus dengan menggunakan Bogem Watu Gunung yang dialiri tenaga dalam cukup besar untuk mendapatkan hasil yang paling baik.


Yunus berputar dengan luwes. Ia menepis lengan atas Jayaseta, kemudian satu kakinya menyepak betis lawan. Itulah gerakan jurus nago atau naga yang menggeliatkan tubuhnya sedangkan sapuan kaki Yunus berguna sebagai sebuah ekor.


Jayaseta terjerembab, namun tidak sampai jatuh karena ia sudah kembali berguling di tanah.


Kali ini bahkan ketiga rekan Harimau Gayong Melayu tak tahan untuk bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Riuh rendah suara para penyemangat Yunus menyaksikan sepertinya hawa keunggulan dan kemenangan berada pada Yunus sang Harimau Pattani.


Yunus sendiri sudah kembali bersiap dengan kuda-kudanya. Jayaseta bangun, berdiri santai hampir tanpa kuda-kuda, menatap Yunus lurus tajam kemudian berujar pelan, “Kali ini tinggal jurus harimau, bukan, Yunus?”


Yunus terkesiap dan terkejut. Bagaimana sang lawan paham bahwa ia sudah menggunakan semua unsur jurus silat Gayong Pattani kecuali jurus atau gaya harimau?


______________________________________________________


Selamat datang kembali ke episode lanjutan perjalanan Jayaseta di dunia persilatan. Mohon maaf karena tidak dapat segera update episode dikarenakan ada beberapa episode yang telah saya tulis ternyata hilang. Ini benar-benar malapetaka. Sebagai akibatnya saya harus menulis ulang episode-episode tersebut, dan itu merupakan sebuah pekerjaan yang penuh dengan penderitaan. Kedua, memang ada beberapa kesibukan penulis pula yang membuat lanjutan cerita menjadi tersendat. Namun jangan khawatir, plot Jayaseta yang walau masih panjang, sudah tercetak dengan jelas, terukur, terstruktur dan termaktub dalam kitab kisah di dalam jiwa dan otak saya. Maka, ia tak akan hilang meski mungkin detil cerita akan mendapatkan beragam perubahan dan penyesuaian di sana sini.


Dalam kesempatan ini, saya juga ingin mengucapkan Selamat Hari Wayang Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 7 November, dimana seperti kita tahu bahwa Wayang Indonesia disyahkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Kebetulan pula dalam episode kali ini ada sedikit tema pewayangan versi Melayu dalam hubungannya dengan gaya atau jurus silat gayong. Maka saya pikir, cukup memiliki hubungan dengan perayaan Hari Wayang Sedunia.


Sekali lagi terimakasih atas kesabaran dan kesetiaan serta penghargaan para pembaca budiman pada karya saya yang tak seberapa ini.

__ADS_1



__ADS_2