Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jauh dari Kata Selesai


__ADS_3

Arthit menyerap semua serangan tangan kosong Sasangka dengan kedua lengannya yang disilangkan di depan dadanya bagai air yang menenggelamkan kerikil. Arthit kembali terkekeh di balik kedua tangannya yang menahan serangan-serangan Sasangka.


Jaka Pasirluruh melihat keadaan ini dengan tidak nyaman. Ia bertanya-tanya mengapa harus ikut memerankan permainan yang diberikan oleh musuh tak dikenal mereka tersebut? Pendekar Siam itu nampaknya bukan orang sembarangan dan tidak akan dengan bodoh menyerang mereka berdua tanpa persiapan, paling tidak dengan senjata tajam jenis apapun.


Jaka Pasirluhur pun sebenarnya tidak terlalu percaya diri dengan tangan kosong belaka. Selain tangannya sudah kutung, pertarungan ini terlalu konyol untuk terus dilanjutkan sedangkan ia masih di dalam kebingungan. Jaka Pasirluhur tak ambil pusing lagi. Ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa kuat dan cepatnya sang musuh. Bila perjalanan untuk mencari Jayaseta ini hendak dilakukan, ia tak bisa menghabiskan waktu untuk bertarung dengan sembarang orang, tak dikenal dan acak.


Baru saja ia mendapatkan kabar nyata bahwa sosok pendekar yang satu kapal dengannya memiliki hubungan dan bisa dikatakan tujuan yang sama dengannya, sekarang ia sudah harus melawan orang asing, yang cukup sakti pula.


Jaka Pasirluhur meloloskan senjatanya, kemudian menerjang maju. Jaka Pasirluhur membabatkan kudinya mendatar, mencoba menyerang dari sisi lain, yaitu ingin memapras pinggang Arthit.


Arthit mundur jauh dengan cepat, terlalu cepat bahkan. Namun, hanya dalam waktu yang sekejap pula, ia maju menyerang, membuat Jaka Pasirluhur tersentak kaget karena semula ia berpikir bahwa musuh hanya akan mundur belaka.


Jaka Pasirluhur menahan serangan lawan dengan membabatkan kudhinya ke depan, sebuah serangan yang berlaku sebagai pertahanan pula.


Arthit tentu bukan tanpa persiapan dan perhitungan. Ia menahan laju setengah langkah, membiarkan ada ruang sejenak diantara keduanya. Kudhi Jaka Pasirluhur membabat udara kosong. Kesempatan itu kemudian dimanfaatkan oleh Arthit untuk melanjutkan serangannya yang ditahan tadi. Sebuah tipuan yang membuat Jaka Pasirluhur terlanjur menyerang tadi.

__ADS_1


BRAK!


Jaka Pasirluhur tersentak mundur ketika lutut lawan menghajar bahunya.


Serangan lutut tersebut tak ubahnya terasa seperti potongan besi baja yang dilemparkan ke arahnya.


Jaka Pasirluhur berguling ke belakang tepat ketika musuh hendak menjejakkan kaki ke dadanya. Tanah yang menjadi korban atas injakan tersebut.


Sasangka nampaknya juga tak mau ambil pusing lagi dengan permainan lawan dan harga dirinya. Tiga bilah raja wedhung sudah tergenggam di kedua tangannya. Sasangka menerjang cepat dalam serangan tiga jurus. Menusuk, memutar wedhung dan memberikan satu babatan tambahan. Tiga jumlahnya.


Arthit ternyata memiliki gerak tubuh yang luwes. Serangan tajam itu dihindari dengan cepat tetapi Arthit bukan jenis orang yang suka mundur. Ia menghindar tetapi terus maju.


Yang diserang terjerembab. Tidak berbahaya, hanya memalukan.


Arthit terkekeh. Serangan membahayalan Sasangka dianggap mainan saja olehnya.

__ADS_1


Sasangka jenuh dengan perilaku para pendekar tak dikenal dengan kesaktian mereka yang luar biasa itu. Ia selalu saja dikagetkan oleh betapa hebat orang-orang yang terus-terusan mengadu nyawa dengannya. Ia memang angkuh, tetapi ia jenis yang tak bisa terima bila disepelekan pula. Batu lawan batu.


Sasangka tak langsung berhenti. Ia langsung menyerang lagi.


Satu tusuk lurus menggunakan wedhung di satu tangannya. Ini dilakukannya dengan sekali langkah panjang, menusuk ke arah lambung Arthit. Ketika sang lawan mundur, Sasangka melangkah jauh lagi dengan kaki belakangnya. Ini berarti jurus kedua. Babatan dari bawah menyerang membelah ke arah dagu Arthit, yang lagi-lagi dapat dihindari.


Sasangka sudah menduga bahwa Arthit tak pernah benar-benar menghindar dengan berlari menjauh. Lawannya itu sekadar menyamping dan hendak membalas serangan Sasangka sebelum serangan ketiga dilancarkan.


Sasangka kebetulan sudah paham lebih dahulu. Ia menarik wedhung yang harusnya digunakan untuk menutup jurus ketiga, sebaliknya kaki kanannya yang maju menendang. Sebuah serangan sederhana, tendangan rendah tetapi dimasukkan dengan tenaga dalam secukupnya.


Arthit yang memang sedang menunduk untuk melutut Sasangka sama sekali tak menyangka serangan tersebut.


BUG!


Dada Arthit tepat terkena tendangan Sasangka dengan cukup keras.

__ADS_1


Arthit terjatuh ke belakang, terjerembab dengan bokong menghajar tanah.


"Rasakan itu, keparat! Kau pikir tiga jurus-ku ini hanya melibatkan serangan wedhung belaka, heh?" gumam Sasangka puas, tetapi di dalam hati saja. Ia tahu pertarungan ini jauh dari kata selesai.


__ADS_2