
Fong Pak Laoya menyimpul dan mengikatkan selembar kain berwarna merah di kepalanya. Ia bersila dan meracik segala pernak-pernik perdukunan di depannya sembari mulutnya komat-kamit membaca mantra. Ia menuliskan beberapa kata salam aksara Cina kuno di atas selembar kertas berwarna kuning. Kertas itu kemudian dibakar dan dimasukkan ke dalam air di dalam bejana kuningan kecil sebelum api melahap habis kertas mantra. Bunyi berdesis terdengar di dalam air yang kemudian keruh oleh abu hitam dan kelabu. Fong Pak Laoya meminumkan cairan itu ke mulut Pratiwi yang setengah sadar dan setengah masih berat semaput.
***
Yu dan Fong Pak berasal dari daerah yang berbeda di daratan Cina sana. Walau pada dasarnya sama-sama orang dari daratan Tiongkok, keduanya memiliki bahasa, budaya bahkan agama yang berbeda.
Sejak awal, Yu bukanlah orang yang terlalu percaya pada hal-hal perdukunan. Ilmu pengobatan Cina yang ia kuasai masih bisa dijelaskan secara keilmuwan dan akal sehat, bahkan dalam banyak sisi kadangkala disejajarkan dengan ilmu pengobatan Barat yang ia terima dari Walanda dan Meester Equa. Namun, tabib-tabib Cina yang memanfaatkan kekuatan gaib, mahluk-mahluk adikodrati atau bahkan pertolongan arwah nenek moyang serta dewa-dewa, bukanlah ranahnya dan bukanlah tempatnya untuk menilainya.
Awalnya ia juga tak terlalu ambil pusing dengan beragam jenis penyakit yang konon dikabarkan diakibatkan oleh teluh, santet, kutukan atau serangan tenaga dalam seperti yang kerapkali diceritakan oleh Ngalimin, sang tabib pembantu Meester Equa yang berdarah Jawa itu.
Dunianya berubah sama sekali ketika ia mendapati luka dalam Pratiwi yang aneh dan sulit dijelaskan. Tenaga dalam seseorang memang benar adanya dan juga dapat mempengaruhi orang lain. Kurang lebih sama dengan chi dalam istilah Cina atau ki dalam istilah Jepun.
Kali inipun ia harus mencoba menerima jenis pengobatan dan kenyataan yang berbeda ketika sosok Fong Pak Laoya datang menjemput mereka di tepi sungai. Orang Cina itu berkata, "Gadis ini sebenarnya sudah sadar, namun tubuhnya sulit untuk digerakkan. Serangan tenaga dalam itu bukan tenaga dalam biasa, namun juga disertai dengan kutukan. Ilmu tusuk jarummu tak akan bisa terus-terusan meredakan sakitnya, apalagi bila ia masih terus mencoba bersilat dan menggunakan tenaga dalamnya. Segera, bantu aku bawa dia ke kuil," ujar Fong Pak Laoya.
Ucapan singkat ini mengejutkan Yu. Ia merasa belum pernah bertemu orang ini sebelumnya walau sama-sama orang Cina. Namun, si orang asing sudah berbicara kepadanya seakan telah kenal lama dengan dirinya padahal ia bersumpah baru saja melihatnya kali ini.
Sedikit cerita saja yang disampaikan oleh Fong Pak Laoya kepada Yu tentang asal-usul dan mengapa ia tinggal seorang diri di kuil kayu yang ia bangun sebelum kemudian Yu menyerahkan Pratiwi untuk diobati dengan cara dukun itu.
Pratiwi sendiri telah membuka mata namun benar seperti apa yang diujarkan sang Laoya bahwa gadis itu merasakan seluruh tubuhnya sakit dan tak dapat digerakkan.
__ADS_1
Asap dupa atau hio dalam istilah Cina memenuhi ruangan kuil itu. Ada lima hio yang dibakar, melambangkan lima unsur dasar kehidupan manusia, yaitu kayu, api, tanah, logam dan air. Hio sendiri yang berarti harum, memang menyebarkan bau khas ketika dibakar. Batang-batang sebesar lidi berwarna merah itu berkelap-kelip di bagian ujungnya yang terbakar dalam gelap.
***
"Kalau kalian benar-benar ingin menyembuhkan penyakit ini, aku sangat menyarankan untuk menemui Laoya yang lebih berpengalaman dibandingkan denganku. Untuk itu, kalian terpaksa harus menempuh jalan panjang melalui lautan lagi ke kepulauan Riau yang saat ini berada dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Johor," ujar Fong Pak Laoya setelah pengobatannya membuahkan hasil. Pratiwi terbangun setelah Fong Pak Laoya meminta ijin dan bantuan arwah leluhur dari Cina yang mengikuti perjalanannya sampai ke pulau ini.
Yu memandang Pratiwi yang terlihat tak acuh, kemudian kembali memandang Fong Pak Laoya. "Laoya yakin hanya itu satu-satunya cara?"
Sebelum Fong Pak Laoya menjawab, Pratiwi berdiri, "Tak perlu. Untuk apa susah-susah mengurus aku jauh-jauh. Kita sudah selesai dengan tujuan kita sampai ke pulau terkutuk ini. Membunuh kakang Jayaseta jelas merupakan pekerjaan yang mustahil, kita kalah, dan itu kenyataan pahit yang harus diambil. Urusan kedua, kakekku. Hmmm ... Aku masa bodoh dengannya. Kita sudah bertemu dengannya. Ia nampaknya memang susah mampus, namun toh ia sudah bau tanah. Tak ada gunanaya lelah memperhatikannya," ujar Pratiwi.
Fong Pak Laoya tersenyum kemudian berkata, "Kau memang seorang gadis yang keras kepala, bukan begitu Nyisanak?" Pratiwi bergeming. "Bila engkau memang berpikiran seperti itu, maka nyisanak beranggapan bahwa nyisanak sudah akan berhenti dari dunia persilatan?"
Pratiwi berbalik menghadap Fong Pak Laoya dan tersenyum mengesalkan. "Aku Pratiwi bisa mengurus diri sendiri, orang asing. Terimakasih kau sudah membuatku siuman dan hilang dari rasa sedikit sakit ini. Tapi, Yu atau tabib manapun dapat melakukannya. Aku bisa pulih tanpa perlu perawatan yang berlebihan," balas Pratiwi.
Untuk hal ini, bahkan Yu sendiri tidak setuju. Ia sudah bisa dikatakan hampir menyerah mencoba merawat dan mengobati Pratiwi. Selain karena sifat penyakit luka dalam yang diderita, sifat Pratiwi sendiri yang keras kepala kerap membuatnya kesal.
Fong Pak Laoya, berambut dikuncir di atas kepala dengan kain merah masih membelitnya, jubah sutra kuning menutupi sebagian besar tubuhnya ikut berdiri.
Dengan gerakan cepat dan tanpa diduga sang Laoya berkelebat dan menyerang Pratiwi yang sedang tanpa persiapan. Tubuh mungil gadis manis berkulit gelap itu terdorong ke belakang beberapa langkah akibat tendangan sang Laoya yang mengenai dadanya.
__ADS_1
Belum sempat sadar dengan apa yang terjadi, sang Laoya menerjang kembali bagai kilat memberikan sebuah tendangan berputar.
BUG!
Pratiwi kali ini benar-benar terlempar keluar kuil kecil dari kayu tersebut. Tibuhnya jatuh terlentang di atas tanah. Dadanya serasa remuk redam dihajar palu godam.
Yu bangun berdiri dan berlari keluar kuil dan mendekat ke arah Pratiwi. Dengan cemas dan keterkejutan yang sangat ia meraih tubuh gadis yang ia cintai itu. "Gila, edan, tidak waras kau, Laoya! Apa maksudmu ini?! Mengapa setelah kau baru saja sembuhkan dia kau malah menyerang dan melukainya?" seru Yu. Pratiwi mencoba bangun berdiri dengan dibantu Yu. Ia terbatuk-batuk dan tubuhnya lemas. Nampak sekali Pratiwi kesal dan ingin membalas, namun apa daya kekuatan hilang dari tubuh dan semangatnya.
"Seranganku sama sekali tak seberapa dibanding luka tenaga dalam yang diderita kekasihmu itu. Sebagai seorang pendekar, aku rasa gadismu itu setuju bahwa ia sudah kehilangan kepekaan dan ketajaman seorang jawara dan petarung. Aku tadi hanya ingin memastikan bahwa ia benar-benar ingin berhenti jadi pendekar selama-lamanya," ujar Fong Pak Laoya.
"Kau benar-benar tak waras, Laoya!" balas Yu.
Pratiwi menepiskan perlahan kedua tangan Yu yang memegang lengan dan bahunya.
"Heh, nyisanak. Pikirkan baik-baik. Kau mau berhenti menjadi pendekar dalam keadaan menyedihkan ini, atau berjuang sedikit untuk berusaha menyembuhkan lukamu dan kembali menguasai jurus-jurus perkasamu itu?" ujar Fong Pak Laoya. Ia berbalik dan meninggalkan Yu serta Pratiwi.
"Jangan benar-benar kau pikirkan, Pratiwi. Orang itu memang tak waras. Tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk memberikan dia perhitungan. Lebih baik sebentar lagi kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Tubuhmu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya walau orang gila itu tadi menyerangmu. Aku akan merawatmu, sama seperti biasanya. Jangan kau dengar kata-kata sialan itu," ujar Yu menenangkan Pratiwi.
Pratiwi sendiri kemudian memandang Yu lekat-lekat. "Kita berangkat ke Riau. Kau tetap harus merawatku seperti yang kau janjikan, apalagi kita akan melakukan perjalanan panjang. Tapi Sebelumnya, kita harus kawin. Itu seperti yang sudah aku janjikan. Apakah Laoya itu bisa mengawinkan orang?"
__ADS_1
Yu sama sekali tak mengira akan apa yang akan diucapkan Pratiwi. Ia terbengong-bengong menatap wajah ayu namun dingin Pratiwi.