Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tempat Arak dari Bambu


__ADS_3

Kamisan, dikenal juga dengan julukan kependekarannya, Pikulan Sakti, berjalan di paling depan barisan gerombolan Jarum Bumi Neraka pimpinannya. Kelompok ini pernah merasakan kejayaannya pada masa dipekerjakan oleh Kompeni Walanda memerangi pergerakan pasukan Sultan Agung ketika menyerang benteng Betawi. Tapi mereka terlena. Pelan namun pasti, anggota mereka mulai berkurang. Kelompok yang dibangun dari anggota-anggota yang pandai dan ahli pengkhianatan, tentu gemar dan gampang berkhianat pula. Melihat kelompok ini mulai kehilangan tajinya, banyak yang diam-diam pergi meninggalkannya.


Alasan lain keroposnya gerombolan Jarum Bumi Neraka adalah sepak terjang Jayaseta dan Pendekar Topeng Seribu yang mengosakasik sepak terjang mereka. Banyak jawara andalan mereka tewas di tangan sang pendekar sehingga memberikan gerombolan ini kerugian yang luar biasa besar. Bisa dikatakan Jarum Bumi Neraka hanya tinggal menunggu waktu untuk bubar karena tak memiliki sumber daya lagi dalam melaksanakan tugas-tugas yang diembankan kepada mereka.


Kelompok-kelompok kecil di bawah Kamisan sang Pikulan Sakti ini mungkin adalah usaha terakhir bagi Jarum Bumi Neraka untuk menaikkan daya jual dan pamor mereka di depan Kompeni Walanda kembali.


Tugas mereka sebenarnya sederhana. Sebagai kelompok yang sudah lama berkecimpung menjadi telik sandi, melakukan pengintaian, penjegalan bahkan pengkhianatan, mereka hanya perlu mencari tahu pemetaan letak tempat-tempat yang penting di Malaka. Baik pusat perdagangan, penduduk, dan terutama tempat pertahanan di penjuru kota, perbukitan dan tentunya benteng. Sudah beberapa bulan pekerjaan mereka membuahkan hasil yang lumayan bagus. Berita dan penjelasan yang mereka jual ke Walanda dibeli dengan harga pantas.


Mereka ketagihan.


Kamisan tidak sudi hanya bekerja sebagai seorang telik sandi. Ia di dalam kelompok Jarum Bumi Neraka bertindak sebagai seorang pendekar, jawara, jagoan dan petarung. Sudah berbulan-bulan ia tak mengajar apalagi membunuh seseorang. Ia khawatir ilmu kanuragannya bakal karatan.


Hari ini adalah kesempatannya dan orang-orang bawahannya untuk melaksanakan rencana terakhir sebelum pulang ke Betawi. Jelas ini bukanlah perintah yang diminta para pejabat dan perwira pasukan tentara Kompenu Walanda. Mereka pada dasarnya hanya diminta sekali lagi masuk ke dalam benteng dan membuat pemetaan menyeluruh mengenai isinya.


Itu pekerjaan yang terlalu mudah bagi Kamisan sang Pikulan Sakti. Ia tidak akan sekadar memberikan berita dan cerita bagi Walanda. Ia akan berikan api dan persembahan nyawa.


Hari ini, ia dan belasan anggotanya akan membuat keributan, menghancurkan tempat-tempat penting di salam benteng kota Melaka tempat orang-orang Pranggi bernaung. Ia akan menyampaikan bahwa mereka sedang berhadapan dengan kekuatan besar dari seberang lautan. Orang-orang Pranggi harus takut bukan pada Walanda, namun pada mereka, para pendekar pribumi Jawa yang secara naluriah juga memiliki dendam yang ditanamkan sejak Kerajaan Demak gagal menaklukkan Pranggi yang mengalahkan Kesultanan Melayu Malaka seratusan tahun yang lalu.


Kamisan saat ini sedang membawa sebatang kayu bulat sepanjang lengan yang digunakan untuk memikul sebuah kotak kayu berisi perkakas pertukangan. Walau rata-rata tukang di nusantara menggunakan pasak kayu untuk menempelkan dua bagian bangunan dari kayu, tidak sedikit pula yang memanfaatkan pengetahuan pertukangan yang sudah lebih mutakhir dengan paku besi. Oleh sebab itu, para penjaga gerbang benteng tak curiga sama sekali dengan kelompok yang mengaku sebagai para pekerja bangunan.


***

__ADS_1


Sasangka kesal karena teelambat berpikir. Ternyata ia harus menyerahkan senjatanya ke para prajurit penjaga pintu gerbang benteng Malaka. Masalahnya, ia yakin kelompok jawara dari Betawi itu masuk dengan berbekalkan senjata, walau ia tak yakin apa jenis dan bagaimana mereka menyembunyikannya dari para penjaga.


Selain itu, senjata yang ia bawa ada tiga buah, cukup untuk membuat para penjaga menaruh curiga akan maksud dab tujuannya. Bukankah memang para penjaga itu bertugas menangani keamanan kota di dalam benteng salah satunya dari masuknya penyusup? Sebilah keris, badik atau tumbuk lada masih lah dapat diterima dan diwajari dari seorang pelancong. Itupun harus dilucuti dan dititipkan di tempat penjagaan. Bagaimana bila sekaligus tiga?


***


Sasangka berhasil masuk dengan membawa dua dari tiga pasang belati wedhung nya. Namun ia terpaksa harus merelakan separuh pasokan arak mutu terbaiknya untuk digunakan menyogok para penjaga gerbang benteng.


Dengan kemampuan berbicaranya, Sasangka meyakinkan para penjaga bahwa arak-arak buatannya adalah yang terbaik. Ia mengaku ingin mencari pelanggan arak di Malaka. Ia sendiri telah memiliki pengetahuan dan keahlian dalam pembuatan arak. Di dalam benteng nanti, ia hendak menawarkan arak buatannya kepada pejabat penting atau orang-orang Pranggi yang tertarik. Sebagai penghargaan atas kebaikan hati para penjaga yang merupakan campuran prajurit Pranggi dan pribumi itu, Sasangka merelakan sebagian simpanan araknya sebagai sogokan.


"Luar biasa. Arakmu ini bermutu tinggi. Aku akui itu," ujar si prajurit Pranggi yang diangguki oleh yang lain. "Lalu, nanti setelah kau berhasil mendapatkan pelanggan di dalam kota, apa rencanamu berikutnya? Dimana engkau akan membuat dan menyuling arak?" lanjutnya.


"Ah, masalah itu, aku juga sudah memikirkan matang-matang. Aku akan ke kampung Sabba Sunting dan mencoba menawarkan keahlianku ini kepada mereka," jawab Sasangka.


"Nah, kisanak. Setelah nanti berhasil, kami ingin kau mengingat baik-baik nama kami. Bila engkau berhasil nanti, jangan lupa untuk memberikan kami jatah khusus dengan harga khusus," ujar salah satu prajurit penjaga tersebut.


"Ah, jangan khawatir tuan. Aku bisa memberikan cuma-cuma untuk tuan-tuan sekalian asalkan rencanaku ini lancar," balas Sasangka dibalas oleh gelak tawa puas para prajurit. "Aku titipkan ini kepada tuan-tuan sekalian. Hanya sekadar wedhung untuk berjaga-jaga dan memotong pohon nira," lanjutnya.


"Untuk urusan itu, tenang saja. Sudah pasti kau akan kuingat baik-baik. Setelah beres urusanmu, laporkan kepada kami dan kembali lah ke sini untuk mengambil belati wedhungmu," balas sang prajurit ramah.


Itulah yang membuat para prajurit tak lagi memeriksa Sasangka. Sepasang wedhung dengan gagang pengait masih aman di dalam salah satu tas kulitnya. Ia membawa serta pula sisa beberapa potong tempat arak dari bambu yang memang penting untuk pekerjaannya nanti.

__ADS_1


***


Sasangka meletakkan barang-barangnya di semak-semak di bawah sebuah pohon asam yang lebat. Sepasang wedhung diselipkan di pinggang dan ditutupi dengan selembar sarung. Ia juga mempersiapkan sehelai kain untuk menutupi mulutnya bila diperlukan nanti.


***


Belasan jawara Jawa dan Melayu asal Betawi menyebar ke segala penjuru. Paku-paku rahasia dan beracun sudah disiapkan secara matang untuk diluncurkan.


Kamisan dan dua orang jawara berjalan ke sebuah bangunan di atas bukit, di dekat sebuah bangunan tempat orang-orang Nasrani Katolik bersembahyang yang disebut gereja kecil atau kapel. Bangunan tersebut adalah sebuah tempat penyimpanan persenjataan seperti bedil dan bubuk api. Bangunan itu sebenarnya tidak terlalu besar karena nampaknya bukan tempat penyimpanan senjata yang utama.


Tapi bagi Kamisan si Pikulan Sakti, intinya adalah akibat yang ditimbulkannya, bukan seberapa besar tempat itu. Ia memberikan tanda kepada dua bawahannya untuk maju menyerang.


Ada lima orang penjaga yang terdiri dari tiga prajurit pribumi bersenjatakan tombak, tameng dan parang dan dua orang Pranggi dengan pelindung dada dan kepala dari besi bersenjatakan bedil panjang dan pedang menggantung di pinggang mereka.


Dua bawahan Kamisan melesat maju dan melepaskan masing-masing empat paku beracun yang langsung menembus leher dua orang prajurit pribumi. Keduanya tersentak dan tak sempat berteriak. Mereka jatuh berdebum ke bumi dengan leher tertembus paku logam. Darah yang mengalir dari tempat serangan berwarna hitam, sedangkan mulut keduanya mengeluarkan buih tanda mereka terkena racun.


Kamisan melemparkan kotak perkakas kayu ke arah satu prajurit Flores tepat ke kepalanya. Prajurit ini juga terkapar sekarat dengan kepala pecah akibat serangan itu. Nafasnya putus-putus sebelum sama sekali tak berjalan lagi.


Dengan menggunakan sebatang tongkat pikulan, Kamisan mencelat tinggi, menepis kedua bedil yang hampir saja ditembakkan dengan kecepatan luar biasa.


Tak menunggu waktu lama lagi, Kamisan memutarkan tongkat itu menghajar satu kepala prajurit bule yang bertutup kepala besi yang penyok dan meremukkan kepala penggunanya. Sungguh sebuah jurus bertenaga dalam yang mumpuni.

__ADS_1


Kamisan juga kemudian dengan cepat memutarkan tongkatnya lagi yang menghajar leher sisa prajurit Pranggi tersebut sampai patah. Semua serangannya dilakukan sekali saja dan membunuh musuh dengan cepat.


"Bakar bangunan ini," ujar Kamisan datar kepada kedua bawahannya setelh yakin kelima penjaga telah tewas dan tak ada prajurit lain yang ada di sekitar tempat itu.


__ADS_2