
Dua kapal bercadik pelaut Bugis berhasil menubruk kapal Minangkabau-Melayu Bengkulu dimana serangan meriam ke arah kapal-kapal mereka berasal. Dua kapal orang-orang Bugis dari empat keseluruhannya itu ternyata berhasil dikaramkan. Lebih dari separuh pelaut dari dua kapal yang lebur tewas, mengambang di laut dengan tubuh tak utuh lagi atau ikut tenggelam bersama pecahan kapal. sisanya berenang ke dua perahu lain dan langsung menyerang ke kapal penyerang.
Dengan keluwesan yang sudah dapat diperkirakan, para pelaut Bugis dengan baju dan ikat kepala merah sudah naik ke atas geladak kapal yang penuh dengan mayat dan genangan darah.
Labussa, sang pendekar Bugis yang kemungkinan besar adalah pemimpin dan jawara terkuat kelompok ini mengepalkan kedua tangannya. Air laut menetes dari kedua kepalannya.
Makkawaru, orang kedua, tangan kanan Labussa sang pendekar, berdiri di sampingnya agak sedikit ke belakang. Sisa para pendekar pelaut Bugis juga telah ikut berdiri siaga di atas kapal.
Meriam masih menguapkan asap putih berbau kuat bubuk api. Para perompak yang tadi membajak meriam kapal dan menembaki para pendekar Minangkabau dan Melayu Bengkulu sudah tak terlihat batang hidungnya, menghilang dalam sekejap, meninggalkan sisa para pendekar yang kebingungan.
"Siapa yang bertanggung jawab di kapal ini? Mengapa dengan lancang dan tak memiliki nurani menyerang kapal kami, para pelaut Bugis yang sedang mengejar para perompak?" seru Labussa lantang.
Tuan Rajo Intan, sang nakhoda berdarah Melayu Bengkulu maju kedepan. Ia memegang bahunya yang terluka terkena serpihan tembakan bedil dari para perompak yang muncul mendadak dan hilang pula secara tiba-tiba.
"Namaku Tuan Rajo Intan, nakhoda kapal ini. Aku yang bertanggung jawab kapal, keputusan dan perintah terhadap semua awak dan penumpang di geladak. Selamat datang wahai para pelaut pendekar Bugis yang kami hormati dan muliakan. Maafkan kami tiada memberikan sambutan yang pantas melihat keadaan yang juga berbeda dan tidak pas. Kapal ini beserta kapal yang ada di sana ...," sang nakhoda menunjuk ke arah satu kapal lainnya yang perlahan mendekat dengan asap membumbung di satu sisinya, "... adalah kapal milik orang-orang Minangkabau dan Bengkulu, termasuk pula ada beberapa dari kami merupakan pendekar Rejang."
"Ada urusan apa kapal kalian di perairan ini?" balas Labussa.
Sikap permusuhan ini tak disukai sang nakhoda, namun ia masih mencoba menjawab dengan sopan, "Maaf, tuan. Mungkin pertanyaan itu juga bisa disematkan pada kapal-kapal tuan. Perihal apa yang membuat tuan bekeperluan di lautan ini?" ujar Tuan Rajo Intan.
Labussa tak acuh. Ia memperhatikan sekitar. "Aku tak tahu permainan apa yang kalian lakukan dan peran apa yang kalian mainkan. Yang jelas, kapal-kapal kami karam akibat tembakan beruntun dari meriam-meriam dari kapal kalian."
__ADS_1
"Maksud tuan, tuan hendak menuduh kami lah pelakunya? Bukankah tuan saksikan sendiri bahwa geladak kapal ini penuh dengan mayat para perompak yang telah kami bunuh karena mereka naik ke kapal kami lari dari kejaran kapal-kapal kalian, orang-orang Bugis? Bukankah kalian juga melihat di lantai ini berserakan pendekar-pendekar Minangkabau dan Melayu kami yang tewas sedemikian rupa oleh serangan bedil dan bubuk api? Mereka pula lah yang menguasai meriam-meriam kapal ini untuk menembaki kapal-kapal tuan-tuan sekalian, termasuk kapal kami yang lain." balas Tuan Rajo Intan menaikkan nada suaranya.
Makkawaru meraba badik di pinggangnya. Rupa-rupanya balasan jawaban sang nakhoda tak membuat hatinya senang. Labussa menyentuh dan menahan lengannya, sebagai petunjuk untuk tidak tergesa-gesa melakukan tindakan apapun.
Memang beberapa waktu terakhir, para bajak laut melakukan banyak tindakan rusuh dan membuat beragam kelompok masyarakat gusar. Para pelaut, orang-orang yang tinggal di pesisir, sampai Kesultanan merasa perlu untuk mengejar dan memberi para perompak itu hukuman dan meminta perhitungan.
Masalahnya, tidak sedikit pihak: baik orang-orang Bugis, Jambi, Johor-Riau maupun Minangkabau-Bengkulu, yang paham bahwa pihak bule Pranggi penguasa Malaka ikut andil dalam perihal ini. Mungkin sekali Pranggi memiliki rencana licik untuk mengacaukan kerajaan dan daerah tetangga dan sekitar Malaka agar berperang diantara mereka dan terpecah belah. Bahkan bule Walanda dari Betawi juga dimungkinkan berperan dalam mendukung Kesultanan Johor-Riau untuk menjadi salah satu kekuatan besar di daerah Melayu agar mapan dan hebat sehingga kelak dapat menjatuhkan Malaka dan Pranggi.
Kebetulan sekali, pagi yang indah ini, tindakan para perompak dipergoki oleh semua kapal dan pihak yang dirugikan. Pihak-pihak tersebut, walau bagaimanapun curiga dan mungkin sekali telah paham bahwa ada bangsa bule yang berperan besar di belakang para perompak, mereka tak benar-benar peduli. Malah kesempatan ini bisa digunakan dan dimanfaatkan sekalian untuk menunjukkan kehebatan dan keagungan mereka sendiri.
"Kami pikir, kalian belum menemukan biang keladi dari masalah ini, bukan? Apakah kalian sudah menangkap para penyusup yang menyerang para awak dan pendekar kapal ini dengan bedil dan bubuk api?" ujar Labussa.
"Baik. Kami akan ikut mencari para penyusup tersebut," ujar Makkawaru tiba-tiba. Baju merahnya yang basah melekat menempel di tubuhnya yang liat.
Dua pendekar Minangkabau maju memasang badan di depan Makkawaru untuk menghalanginya. Keduanya masih menggenggam kelewang dan kerambit di kedua tangannya.
Udara ketegangan langsung terasa kental menaungi kapal. Para pelaut pendekar Bugis yang berdiri di belakang Labussa dan Makkawaru tanpa basa-basi lagi langsung mencabut badik dari sarungnya. Begitu juga para pendekar Minangkabau dan Melayu Bengkulu yang malah sudah mempersiapkan kuda-kuda silat cekak dan cikak harimau mereka.
Para pendekar Minangkabau-Bengkulu ini jelas tak bisa membiarkan siapapun naik ke kapal mereka dan bertindak lancang serta semena-mena. Apapun yang terjadi, kapal adalah sebuah kerajaan berdaulat bagi sang nakhoda, para awak dan siapapun yang ada di geladak tersebut.
Walau Tuan Rajo Intan paham bahwa penyusup sudah mengacaukan dan membuat kedua pihak salah paham, tindakan orang-orang Bugis ikut campur urusan kapal apalagi mengatur tentu tak dapat diterima. Para penyusup adalah tanggung jawab kapal ini untuk ditemukan, bukan orang lain yang naik ke kapal dan bertindak serampangan.
__ADS_1
Suasana tegang ini hampir menjadi sebuah pertempuran berdarah ketika kapal Minangkabau dan Bengkulu satunya merapat. Tak lama papan-papan diselonjorkan dan para pendekar menyebrang dengam gesit di atas papan-papan kayu tersebut.
"Maaf, tuan. Tuan tak bisa mencampuri urusan kapal ini. Kami sendiri yang akan mencari perusuh-perusuh tersebut dan menghukum mereka. Tuan bisa menunggu dan nanti ketika kami menemukan mereka, tuan sekalian pun akan mendapatkan kesempatan untuk memberikan mereka hukuman yang setimpal. Kami sama geramnya dengan tuan-tuan sekalian, apalagi banyak dari pendekar kami tewas di tangan mereka. Namun, untuk urusan di atas geladak, hanya kami yang berhak melakukannya," ujar Tuan Rajo Intan tidak lagi memegang bahunya yang terluka. Bahkan ia kini terlihat kembali sempurna, walau percikan darah terlihat dari luka besetan-besetan akibat pecahan bahan peledak.
"Kami hanya ingin membantu kalian. Tapi dengan penolakan yang berlebihan ini, rasa-rasanya ada yang kalian sembunyikan. Aku harap bukan seperti itu, Tuan Rajo Intan?" seru Makkawaru pantang. Sifat kerasnya ditambah kemarahan akibat serangan meriam itu menyembunyikan niatnya untuk bergaduh sekalian.
Tuan Rajo Intan menggeleng pelan kembali. "Kami paham dengan nama besar orang-orang Bugis sebagai pelaut dan pendekar ulung, raja samudra. Harusnya, tuan-tuan sekalian juga paham dengan aturan kehormatan dan daulat di atas kapal. Hanya saja, mungkin kami salah mendengar tentang sifat lain dari para pelaut Bugis yang konon terkenal keras kepala dan tak mau kalah. Jadi, apakah bisa disimpulkan bahwa kehebatan tuan-tuan sekalian dalam mengarungi lautan sama kerasnya dengan keinginan dan niat kalian?"
Makkawaru memandang Labussa. Keduanya mendengus dan tertawa kecil. Makkawaru kemudian memandang sekeliling kapal yang kini sudah menjadi padat dengan para pendekar yang siap bertarung. Ia lalu memusatkan pandangan pada Tuan Rajo Intan. "Apa maksud tuan?"
"Kami tahu bahwa kami tak mungkin mengentikan niat tuan untuk ikut menggeledah kapal kami, meski bagi kami itu adalah sebuah kelancangan. Namun bila kami menolak, maka para penyusup akan bersukaria melihat korban nyawa diantara kita makin banyak," jelas Tuan Rajo Intan. "Baiklah kita membuat sebuah kesepakatan. Salah satu dari kalian akan melawan saya. Sebuah pertarungan satu lawan satu dengan cepat, tangan kosong, tanpa senjata. Maksud hati kami agar tak perlu kita mengorbankan satu nyawa lagi. Namun, bila dalam pertarungan satu lawan satu ini salah satu dari kita harus gugur, bukannya terluka atau tak sadarkan diri, hal tersebut tetap harus diterima dan disepakati bersama."
Makkawaru, Labussa bahkan para pendekar Bugis lainnya tersenyum semakin lebar.
"Bila saya kalah, tuan-tuan boleh ikut menggeledah kapal bersama kami, dan memutuskan apa yang bisa diperbuat kelak bila berhasil menemukan atau tidak menemukan para penyusup. Bila saya yang menang, tuan-tuan harus tetap tanpa bergerak di tempat tuan-tuan berdiri sekarang. Kami juga berhak mengusir tuan-tuan dari geladak bila kami dapati tuan-tuan bertingkah yang tak menyenangkan hati kami," lanjut Tuan Rajo Intan.
Para awak dan pendekar Minang-Bengkulu, termasuk yang baru sampai di geladak dari kapal lain terlihat tidak begitu senang dengan keputusan sang nakhoda melihat luka yang ia dapatkan di bahunya. Namun di sisi lain, mereka paham siapa gerangan Tuan Rajo Intan sehingga mereka harus percaya dengannya.
"Makkawaru, kau terlihat begitu bersemangat. Maka, kuijinkan kau untuk maju," ujar Labussa perlahan. Makkawaru tertawa lebar, mengangguk dan melepaskan badik dan kerisnya. Ia menitipkan kedua bilah senjata belati itu kepada salah seorang pendekar Bugis di belakangnya.
"Kami setuju. Mari kita mulai tanpa membuang waktu," ujar Makkawaru kepada Tuan Rajo Intan sembari mengikat erat kembali sarung basah di pinggangnya.
__ADS_1