Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Mensa dan Jogo do Pau


__ADS_3

Pratiwi kembali terbaring di ranjang yang sama dengan saat pertama kali ia ditolong Yu. Di tempat ini pula Yu kembali menggunakan kemampuan Zhen Jiu nya, menusuk bagian-bagian tubuh Pratiwi yang sudah cukup ia kenal tersebut.


Mungkin Pratiwi akan bertambah kesal ketika nanti sadar bahwasanya ia dikalahkan oleh seorang perempuan Cina peranakan dengan kemampuan silatnya yang sebenarnya tak lebih hebat dari dirinya.


Ia mungkin juga akan lebih terbakar amarah nantinya ketika mengetahui bahwa orang yang ia kasihi, Jayaseta, sudah menikah dengan perempuan lain dan bahwasanya salah satu dari kakeknya yang kembar telah tewas demi menginginkan kematian sang istri dari Jayaseta tersebut.


Jaka Pasirluhur dengan tangan buntungnya, dengan demam yang merajalela, tetap memaksa rekan-rekannya untuk memastikan orang-orang yang menyerang mereka sudah benar-benar tewas, termasuk si pentolan, Mandura salah satu dari pendekar kembar Sang Penyair Baka.


Mayat mereka semua dibakar habis, sampai ke abu-abunya. Belum puas, Jaka sendiri yang membuang abu-abu tersebut ke lautan, di pelabuhan Semarang.


Sedangkan rekan-rekan prajurit pengawal Nyi Almira, dikuburkan dengan penuh hormat di Semarang.


Mereka kemudian bergegas pergi, pulang ke Kotagede, Mataram. Meski Almira sedang dalam keadaan hamil muda, namun keselamatannya adalah yang pertama. Mereka berjalan pelan beriringan dengan beragam pedati dan kereta kuda.


Jaka Pasirluhur tidak mau menerka-nerka apakah orang-orang dari Jarum Bumi Neraka sudah benar-benar habis dibunuh para pendekar yang mengaku merupakan teman-teman Jayaseta itu. Ia harus membawa Nyi Almira meninggalkan Semarang sesegera mungkin.


***


Memang Larantuka adalah kerajaan di pulau Flores di kepulauan Nusatenggara bagian timur nusantara yang menganut agama Nasrani Katolik karena pengaruh orang-orang bule Pranggi yang sangat besar. Namun bagitu, ada kerajaan-kerajaan yang menentang kekuasaan Pranggi di Timor ini.


Mereka adalah kerajaan-kerajaan yang menganut agama Islam dan tergabung dalam persekutuan Watan Lema atau diartikan sebagai Pantai Lima.


Salah satu dari kerajaan itu adalah Lamahala yang sudah hidup dan berkembang sebelum abad ke-13 Masehi. Ihwal keberadaan Kerajaan Lamahala juga termaktub dalam Kitab Negarakartagama, yang menyebutkan Lamahala merupakan kerajaan yang tergabung dalam persekutuan bernama Kerajaan Islam Solor Watan Lema bersama Kerajaan Terong, Kerajaan Lamakera, Kerajaan Lohayong, dan Kerajaan Lebala.


Sudah lama kedua poros ini saling bertentangan, bersaing dan berperang. Kerajaan Lamahala dan Watan Lema nya terkenal terlalu tangguh untuk dipengaruhi, apalagi ditaklukkan oleh Pranggi, berbeda dengan Larantuka yang menyerap budaya, agama dan pengaruh Pranggi dengan baik.


Walanda, negara bule pesaing Pranggi, menggunakan kesempatan ini untuk menancapkan kuku-kukunya di daerah Timor tersebut.


Walanda dan VOC nya sudah mulai mencoba menggunakan pengaruhnya sejak abad ke-15 masehi. Kala itu, VOC mulai memberikan tekanan terhadap Pranggi yang memang lebih memiliki pengaruh kuat di sana. Pada tahun 1613 Masehi, Walanda menaklukkan benteng Pranggi di Solor, pulau di sebelah timur Larantuka.


Kekalahan di Solor membuat Pranggi memusatkan kekuatannya di kerajaan Larantuka. Di sinilah persaingan politik antar-bangsa penjajah itu terjadi di Nusantara.


Pranggi tentu mendapatkan dukungan penuh dari Kerajaan Larantuka untuk mempertahankan penguasaan atas perdagangan cendana yang diincar oleh Walanda.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Walanda menggunakan caranya yang terkenal, yaitu adu domba. Kompeni merangkul kerajaan-kerajaan lain di Nusatenggara bagian timur yang memusuhi Pranggi, dalam hal ini tentu saja yang dimaksud adalah persekutuan kerajaan Islam yang tergabung dalam persekutuan Watan Lema.


Kemampuan silat para prajurit Kerajaan Solor Watan Lema sangat perlu diperhitungkan. Ini dibuktikan dari serangan Kerajaan Solor Watan Lema untuk mengusir Pranggi dari wilayah Kerajaan Lohayong, Solor, pada tahun 1613 Masehi yang diboncengi Walanda tersebut. Serangan ini dipimpin oleh Kapitan Lingga dari kerajaan Lamahala.


Silat kerajaan Lamahala ini dikenal dengan nama Mensa dengan gaya silat Melayu bercampur pengaruh Jawa.


Gerakan tangan yang cepat bagai menampar-nampar serta sapuan kaki adalah ciri khasnya.


Pasukan Lamahala dan Watan Lema menyerang Pranggi dengan gaya bertarung ini, sedangkan pasukan Larantuka memiliki gaya bersilat yang dipengaruhi silat kuno Pranggi bernama Jogo do Pau dan Pombo.



Jogo do Pau yang kurang lebih berarti 'permainan tongkat' adalah cara bertarung menggunakan senjata tongkat kayu, sedangkan Pombo adalah bersilat dengan kuncian dan bantingan serta bertarung menggunakan beragam senjata tajam, seperti kapak, pedang dan tombak.


Jogo do Pau dikenal sejak masa abad Pertengahan di Pranggi, yaitu sekitar tahun 1300an Masehi sebagai gaya bersilat masyarakat rendah atau biasa. Gaya silat ini juga digunakan oleh para prajurit berjalan yang biasanya diambil dari petani miskin yang tak mampu memiliki atau terlalu mahal untuk dibekali dengan senjata-senjata yang bermutu baik seperti pedang dan tombak, sehingga tongkat kayu panjang menjadi pilihannya.



Yang membedakannya gaya bersilat ini dengan penggunaan toya Cina, silat di Nusantara atau tombak adalah bahwasanya, tongkat kayu Jogo do Pau digunakan hampir seluruhnya untuk memukul, menggebuk atau membabat. Beda dengan toya yang juga bisa digunakan untuk menusuk.


Memang, meski Antonio da Silva atau sang Raja Nio beragama Nasrani Katolik karena berasal dari Larantuka, ia juga pernah mempelajari silat Mensa.


Bagaimanapun, sedikit banyak, walau pertentangan selalu mewarnai dua kubu, Larantuka dan Watan Lema, kedua daerah juga sama-sama saling mempengaruhi.


Raja Nio bukan seorang yang sakti, jauh dibandingkan dengan para jawara dan pendekar yang menghabiskan waktu menggembleng diri untuk menjadi lebih hebat dari waktu ke waktu.


Namun, sebagai seorang nakhoda, tentu, lelaki Larantuka tampan ini harus juga membekali dirinya dengan keberanian yang luar biasa, serta jelas saja, sedikit beladiri.


Setelah Jayaseta meninggalkan kapal seperti biasa, ketika matahari mulai tenggelam, Raja Nio melatih dirinya dengan tongkat Jogo do Pau digabungkan dengan langkah-langkah silat Mensa yang pendek-pendek namun cepat.


Semangat kembali melancipkan kepekaan silatnya ini dikarenakan oleh Jayaseta. Ia menjadi terdorong untuk berlatih kanuragan karena pengaruh kehebatan pendekar bertopeng itu.


Memegang tongkat di salah satu ujungnya, ia membabatkan ke depan, samping dan berputar. Kadang dengan satu lengan kerap kali juga dengan kedua lengannya.

__ADS_1


Tubuh gelapnya yang berpeluh tak tertutup pakaian bekeringat dan hampir tak terlihat dalam cahaya yang perlahan meredup dan menghilang.


Saat sudah mencapai sekitar dua puluh lima jurus ia latih, satu sosok muncul di atas geladak kapal di depannya. Pertama mengabur, lama-kelamaan menjadi jelas.


Mengenakan selembar cawat, bertubuh kurus bertelanjang dada, renta dan kotor, berdiri bungkuk kurang dari empat tombak di depan Raja Nio.


Sosok yang sangat ia kenal. Bagaimana tidak, Raja Nio ingat sekali bahwa ialah yang menebas putus kepala sosok tersebut dengan kelewang dan ia sendiri pula yang membuang mayat Karsa, si kakek yang mengaku sebagai pendekar berjuluk Sang Penyair Baka itu ke lautan.


Raja Nio tak percaya penglihatannya. Bagaimana mungkin manusia tua itu kembali hidup? Amarah dendam terlihat sekali di dalam kedua biji matanya.


Raja Nio bagai melihat hantu.


Namun, secara naluriah, didorong kepekaannya, percaya tidak percaya dengan apa yang yang dilihatnya, Raja Nio menengok ke kiri dan ke kanan mencari kelewangnya.


"Kau mencari ini, tuan nakhoda?" sosok yang benar-benar Karsa itu mengangkat sebilah kelewang, milik Raja Nio tentu saja, dengan tangan kanannya yang kurus kering.


Raja Nio sendirian di atas geladak kapal ini. Para awak berada di lambung, buritan atau turun ke pasar mencari keramaian atau menikmati tuak di sudut pelabuhan untuk sekadar bersantai menikmati keadaan selama berada di daratan.


Raja Nio benar-benar seorang diri sekarang.


"Aku tersanjung, kau hidup lagi hanya untuk membalas dendam kepadaku," ujar Raja Nio berusaha santai.


Karsa mengibaskan kelewang yang sempat digunakan untuk menebas kepalanya itu di udara, "Ah, jangan terlalu bangga dan percaya diri. Membunuhmu hanya mengotori tanganku. Tapi, ya, memang aku datang untuk mencabut nyawamu. Seorang manusia rendah yang berpikir bisa membokong dan membunuh Sang Penyair Baka dengan mudah? Kau bermimpi terlalu tinggi, tuan nakhoda."


Raja Nio menggenggam erat tongkat kayunya.


"Lalu, aku akan membunuh semua awak kapalmu, hanya untuk kepuasan semata. Selanjutnya pendekar yang kau angkut di kapalmu ini yang juga akan mencium aroma kematian yang keluar dari lukisan darahku."


Raja Nio mengangkat tongkatnya pelan, setinggi lutut dan mempersiapkan kuda-kuda Mensa.


Karsa terkekeh, "Kau masih percaya pada pendekar bertopeng itu, bahwa ilmu kebal bisa dilawan dengan pentungan, gada atau tongkat?" katanya sembari memanggul kelewangnya di bahu.


Karsa hendak membuka mulut dan kembali mengejek Raja Nio ketika tanpa aba-aba, sang nakhoda memutuskan menyerang sang kakek sakti tersebut.

__ADS_1


Raja Nio meloncat dan memukulkan tongkatnya lurus membelah dari atas ke bawah, ke arah kepala Sang Penyair Baka.


__ADS_2