Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Atas Sungai Bagian Kelima: Busana yang Sedikit Berbeda


__ADS_3

Pratiwi dan Yu menjadi sepasang pelengkap dalam kependekaran mereka. Ini sebenarnya tanpa disengaja. Pratiwi yang terpaksa tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya itu masih dapat bergerak lincah dan gesit. Senjata di kedua tangannya mutlak adanya, terutama untuk menuntaskan pertarungan secepat mungkin dengan membunuh musuh. Bila masih memiliki tenaga dalam, tangan kosong pun sanggup menghancurkan daging dan mematahkan tulang lawan.


Hanya saja, meski bisa dikatakan Pratiwi masih sama gesitnya, tetap saja dengan adanya Yu, serangan-serangannya menemukan sebuah perpanjangan dan pelengkap.


Yu melemparkan jarum yang mengenai titik di paha seorang perompak Đại Việt, membuatnya lumpuh sementara sehingga membuat Pratiwi leluasa melesakkan keris ke dadanya.


Begitu juga ketika sisa satu perompak Annam menyerang ke arah Yu, Pratiwi langsung menyergap dan membuat Yu terhindar dari mara bahaya. Dengan begitu, ia dapat membuka jarak yang tepat untuk kembali melemparkan jarumnya. Dua jarum sekaligus langsung menusuk dada lawan, di titik dimana musuh merasa kesulitan bernafas. Kembali Pratiwi maju dan melebas leher, membukanya dengan belati dan membuat musuh bagai ayam yang habis digorok, menggelepar tewas di atas geladak kapal.


Pratiwi menarik nafas pelan. Kelegaan menjalar di seluruh syaraf dan urat-urat tubuhnya. Rasa-rasanya sudah terlalu lama ia tidak melakukan hal ini, membunuh musuh. Kekuasaan dan kekuatan menguar dan meruap dari atas kepalanya.


Yu memandang tajam ke arah sang istri. Ia berusaha menemukan sisa-sisa rasa kekejian di wajah gadis itu. Namun Pratiwi sadar. Ia mampu menyembunyikan rasa puas itu. Bagaimanapun, ia tak bisa berbohong bahwa memang telah banyak perubahan yang terjadi pada dirnya. Ada rasa tidak enak dan sungkan yang aneh pada suaminya bila ia sampai ketahuan masih memiliki kenikmatan atas kekejaman yang dillakukannya. Padahal, dulu Pratiwi bukan semata-mata seorang pendekar perempuan. Di masa belia saja ia sudah menjadi seorang pembunuh, pembantai dan pemimpin para pembunuh pula.


“Kita sudah selesai disini,” ujar Pratiwi pendek pada Yu.


“Kita akan periksa nakhoda dahulu untuk memastikan ia sudah aman dan …,” Yu menangguhkan ucapannya ketika baik dirinya maupun Pratiwi melihat dengan jelas asap membumbung dari bagian tengah kapal yang mereka tinggal. Tak lama keriuhan dan kericuhan terdengar pula.

__ADS_1


Keduanya saling berpandangan.


“Yu, pekerjaan kita belum selesai. Kapal ini berhasil ditembus. Ada perompak lain yang naik ke kapal,” seru Pratiwi.


Yu ikutan berseru. “Fong Pak Laoya!”


Dengan cepat keduanya berlari kembali ke bagian tengah kapal. Dalam perjalanan mereka melihat para awak dan budak sudah menerjunkan tubuh mereka ke sungai sedangkan api sudah melahap bagian-bagian kapal.


Pratiwi melihat kumpulan perompak yang meski bertubuh sama kecil dengan orang-orang Annam tetapi memiliki raut muka, warna kulit dan busana yang sedikit berbeda.


Tubuh mungilnya baru saja hendak melesat menyerang ketika ia melihat sesuatu yang mengejutkan sekaligus mengagumkan.


SRET!


SRET!

__ADS_1


Fong Pak Laoya bergerak cepat di tengah kepungan para perompak Champa yang mencoba menghujaninya dengan serangan dari pedang, belati dan tombak. Dengan jelas Pratiwi juga dapat melihat senjata yang digunakan oleh sang Laoya, yaitu sebilah pedang yang tidak biasa. Bilah pedang itu begitu lentur bagai cindai atau cambuk saja, lentur dan berbunyi tegas ketiga disabetkan.


Pratiwi tak bisa menyangkal bahwa mendadak ia terkejut sekaligus terpesona dengan jurus-jurus yang digunakan oleh tabib sekaligus dukun itu. Ia bahkan hampir lupa bahwa sang Laoya bukanlah sekadar tabib semata, ia adalah seorang pendekar silat Cina yang cukup mumpuni. Buktinya saja ia berhasil sampai ke Sukadana di pulau Tanjung Pura dari tanah Cina, sedangkan rekan-rekannya telah bisa dikatakan tewas seluruhnya di perjalanan.


Fong Pak Laoya sendiri terlihat tenang dalam menghadapi para penyerangnya. Ia bahkan mendadak berteriak dalam bahasa yang dikenal oleh para penyerangnya itu. “Aku sudah melewati pesisir Champa sejak kalian masih berlarian telanjang. Majulah bila kalian memang menginginkan mati di tanganku!”


Keterkejutan para perompak Champa karena sang sosok asing tak dikenal itu mampu berbahasa dalam lidah mereka langsung ditambah sabetan pedang lentur yang menampar-nampak ke arah mereka. Bahkan tanpa disadari, dalam sekali sabet, walau terlihat masih jauh dari sasaran, lengan dan bahu mereka nyatanya tersayat. Entah bagaimana cara kerja pedang aneh itu.


Setelah mengancam para perompak dengan beberapa kali sabetan berbahaya sehingga mereka terpaksa mundur sedikit, Fong Pak Laoya memandang ke arah Pratiwi dan Yu. Ia berseru, “Kalian mau diam saja disana? Kapal ini akan segera habis terbakar. Orang-orang itu tak hendak meninggalkan kapal karena sudah terlanjur penasaran denganku. Kalian mau ikutan menghabisi mereka? Silahkan saja. Aku sudah menunggu dari tadi.”


Pratiwi tersenyum tipis. Ia meloncat ringan ke sisi sang Laoya diikuti Yu yang sudah menyiapkan jarum-jarumnya.


“Kau masih punya banyak jarum, Yu?” tanya Pratiwi.


“Sebenarnya jarumku hanya untuk mengobati, Pratiwi, bukan untuk membunuh. Sebentar lagi kita akan benar-benar kehabisan jarum, kecuali yang kusisakan untuk mengobatimu,” balas Yu.

__ADS_1


__ADS_2