Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Bokator


__ADS_3

Sudah cukup hari ini, pikir Jayaseta. Dara Cempaka sudah berada di atas sebuah perahu kecil dengan Katilapan. "Kau ikut perahu ini, Jayaseta!” seru Katilapan.


Jayaseta tak perlu berpikir dua kali lagi. Ia naik ke perahu tersebut dengan perlahan. Ketakutan dan kekhawatiran atas air tidak akan pernah hilang dari dirinya. Namun, kali ini, ia sudah dapat menguranginya dan menghadapi ketakutannya itu dengan lebih baik, jauh lebih baik.


Di perahu satunya, Ireng melompat ke dalam dengan Narendra di dalamnya. Kedua perahu itu langsung didayung dengan cepat mengikuti arus sungai. Kedua perahu menyusuri tepi sungai dengan cepat tetapi tetap hati-hati. Mereka tidak mau terlihat oleh musuh karena tidak hendak menghadapi musuh semacam apapun hari ini. Apalagi ketika mereka berada di atas sungai, maka tidak terlihat adalah sebuah keniscayaan. Jayaseta akan menjadi beban bagi Dara Cempaka, Narendra, Katilapan dan Ireng bila musuh mendadak menyerang mereka selagi mereka berada di atas perahu.

__ADS_1


Luka yang diakibatkan oleh Siam bukanlah luka yang tidak perlu dipertimbangkan. Bagaimanapun ia perlu waktu untuk kembali menyembuhkan luka-lukanya. Ketimbang jemawa dan termakan nafsu bertempur, lebih baik Jayaseta menggunakan kesempatan ini untuk menghindari pertarungan lebih lanjut, menjauh, menghilang dan memulihkan lukanya dengan tenaga dalam. Dengan begitu, ia tidak merepotkan dan membuat susah yang lain.


Nyatanya memang, ada limabelas pejuang bersenjata lengkap seperti tombak dan pedang melengkung seperti dha dan daap berderap mendekat. Ireng, Katilapan dan Narendra memang tak salah lihat. Rombongan ini adalah para pemburu Thai. Hanya saja, tidak semua merupakan orang-orang Thai Siam. Dua orang yang berada paling depan mengenakan busana yang berbeda, dan merupakan pasangan. Keduanya adalah dua pendekar sejoli Khmer yang bergelar Sepasang Kaki Tangan Dewa Kematian, Sokhem dan Sovanara.


Walau dikatakan sejoli, keduanya sama sekali tidak terlihat seperti pangeran dan putri yang tampan lagi cantik jelita. Raut wajah beringas dan penuh coretan pengalaman pertempuran membuat keduanya lebih terlihat sebagai pasangan iblis dari neraka.

__ADS_1


Sepasang Kaki Tangan Dewa Kematian dari Khmer ini terkenal sebagai salah satu dari sembilan pendekar Dunia Baru oleh kemampuan sialt Kambojanya yang masih berakar yang sama dengan ilmu-ilmu silat di negeri-negeri tetangganya seperti Muay Boran Siam atau Lethwei Burma.


Mereka menguasai ilmu silat purba yang dahulu digunakan oleh pasukan kerajaan-kerajaan lama di Kamboja, terutama oleh kemaharajaan Khmer yang berkuasa pada abad ke-9 Masehi sampai ke-15 Masehi. Nama silat itu adalah Bokator.


Menurut catatan sejarah, ilmu silat gaya Bokator ini telah digunakan ratusan bahkan seribu tahun yang lalu semenjak kerajaan-kerajaan awal Kamboja. Kata Bokator sendiri berasal dari kata labokatao yang berarti memukul seekor singa. Awalnya memang ilmu silat Bokator digunakan oleh orang yang harus mampu selamat dari serbuan macan, harimau atau singa dengan memanfaatkan senjata yang ia miliki, bahkan kerap tanpa senjata. Sebilah pisau akan sangat menguntungkan, tetapi tangan kosong juga dapat diandalkan. Dikisahkan bahwa seekor harimau menyerang sebuah desa. Kekalutan terjadi sampai seorang ksatria yang memiliki kemampuan silat mumpuni, mampu membunuh harimau itu hanya dengan sekali serang. Ia membunuh harimau tersebut dengan menggunakan serangan lututnya.

__ADS_1


Ilmu ini kemudian diturunkan secara turun-menurun secara rahasia. Meski prajurit Kamboja dan Khmer juga menggunakan jurus-jurus Bokator untuk memperkuat kemampuan pertarungannya, ilmu asli sang ksatria tetap masih menjadi rahasia. Sepasang sejoli Sokhem dan Sovanara inilah yang merupakan penguasa terakhir ilmu rahasia Bokator. Kini mereka sudah memutuskan untuk menjadi bagian dari kelompok Dunia Baru, maka tugas mereka telah jelas, menghancurkan Jayaseta sang Pendekar Topeng Seribu dari tanah Jawa beserta kelompoknya.


__ADS_2