Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Tameng


__ADS_3

Narendra memandang Sasangka dan Jayaseta yang tak sadarkan diri kemudian memandang Katilapan. "Kita harus membawa mereka untuk mencari pertolongan secepatnya. Untuk itu kita harus cepat membunuh perempuan jahanam itu."


"Kemana yang lain?" ujar Katilapan pelan di bawah nafasnya.


"Kita tak bisa memikirkan mereka sementara ini. Kita harus pusatkan perhatian kita untuk membunuhnya," jawab Narendra.


Angin bertiup kencang di atas bukit ini. Menggoyangkan batang-batang bambu yang saling bergesekan.


Pratiwi tak tersenyum sama sekali kali ini. Tidak ada tampang nakal, air muka manis manja atau perasaan ceria tergambar di wajahnya. Seperti ada hawa membunuh menjadi jubah tubuhnya apalagi demi melihat sang pujaan hati terbaring lemah tak berdaya.


Rasa-rasanya Pratiwi ingin menyalahkan dunia karena membuatnya dalam keadaan seperti ini. Ia kesal dan muak dengan semuanya. Keinginan untuk membunuh dua cecunguk yang menghalangi kebersamaannya dengan Jayaseta dan kesempatan untuk mengobati laki-laki yang ia anggap sebagai kekasihnya itu menjadi begitu besarnya.


Narendra menggenggam tombak bermata trisulanya di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mengambil sesuatu yang ia gantungkan di punggungnya. Sebuah tameng bergaya Mataram yang terbuat dari besi blanden dengan tambahan paku kuningan.



Ukurannya sebenarnya lumayan besar, namun memang tepat digunakan bagi para prajurit yang memakai senjata tombak.


Sebenarnya ada beberapa jenis tameng atau perisai yang digunakan oleh para prajurit di berbagai kerajaan di nusantara. Misalnya di kerajaan Cerbon, dikenal tameng kayu, rotan dan tameng rotan dengan campuran kulit.


Tameng kayu digunakan oleh prajurit biasa karena dianggap paling murah dan sederhana. Tameng rotan digunakan oleh para bintara dan perisai dengan lapisan kulit digunakan oleh para perwira.


Sedangkan Katilapan juga mengambil sebuah tameng yang sangat berciri perisai dari Kerajaan Aceh di ujung pulau Samudra. Perisai ini terbuat dari anyaman rotan yang kuat. Di lapisan luarnya terdapat enam paku keling kuningan dan satu lapisan kuningan berbentuk sebuah bintang besar si tengahnya.



Katilapan cukup mampu menggunakan tameng dalam jurus-jurusnya karena dalam silat kali Bisaya maupun kali Majapahit, sangat wajar menggunakan dua senjata di kedua tangan.


Pratiwi mendengus.


Ia mengenali baik kedua jenis tameng itu sebagai milik dua orang prajurit berkuda bawahannya.


Ia menggeleng. "Terlalu banyak korban hanya untuk menyelamatkan dua bule sampah itu," ujarnya.


"Cuih. Gadis sinting! Kau adalah bawahan dua bule Walanda itu. Tentu tugasmu untuk menyelamatkannya, dan sudah merupakan bagian dari akibatnya bila prajuritmu semua tuntas terbunuh oleh kami," jawab Narendra.


"Aku tidak berbicara denganmu, monyet! Aku cuma berbicara sendiri. Lagipula, cukuplah nyawa tiga orang pendekar dan satu dari kalian yang sedang sekarat itu dibanding dengan jumlah prajuritku yang tewas."


Katilapan dan Narendra tersentak. Apa maksud perempuan ini? Apakah yang dimaksud nyawa tiga orang pendekar itu adalah Kesuma, Mahendra dan Karsan yang tak terlihat di sekitar sini?


Seakan berhasil membaca hati kedua musuhnya, Pratiwi menjawab, "Ya. Dua orang dengan wedhung dan satu orang yang jago panah itu sudah tewas oleh kedua kerisku ini. Lihat, darah mereka masih menempel di kedua bilah kerisku?" katanya sembari memamerkan kedua kerisnya yang memang ditutupi cairan berwarna gelap. "Ketiga kawan kalian memang cukup merepotkanku. Nanti setelah kalian menyusul mereka, tolong sampaikan kepada teman kalian yang memegang busur itu bahwa ia cukup hebat."


Katilapan menggertakkan dagunya. Semua otot-ototnya meregang. Kemarahan naik ke puncak kepalanya serasa ingin meledakkan otaknya. "Kau saja yang langsung bertemu mereka sehingga mereka bisa menghajarmu di alam baka sana," balas Katilapa geram.

__ADS_1


Ia melompat maju dan membabatkan ginuntingnya ke arah gadis mungil namun kejam tersebut.


Pratiwi berkelit dari tiga babatan dan tusukan Katilapan. Ia hendak maju membalas serangan ketika tombak bermata tiga menyasar lehernya.


Pratiwi mundur dan berguling ke belakang.


Kali ini merasa bahwa ia bisa bermain jarak dengan Pratiwi, Narendra maju menusukkan tombaknya ke arah leher, bagian yang tak terlindungi lamina.


Pratiwi berkelit dengan mudah, kemudian berguling sekali ke samping dengan kecepatan luar biasa.


Mutlak sebuah kekeliruan menganggap bahwa Pratiwi memiliki kerugian ketika berhadapan dengan senjata tombak yang panjang.


Dengan tubuhnya yang mungil namun ulet, lentur dan trengginas, Pratiwi mudah saja mendekati musuh.


Tanpa menunggu lama, Pratiwi menusukkan kerisnya ke arah pinggang Narendra yang terbuka.


Yang diserang jelas kaget bukan kepalang. Untung dengan ketajaman rasanya, ia masih sempat menurunkan tameng besinya.


TANG!


Bunyi ujung keris membentur besi tameng.


Narendra mundur selangkah akibat kuatnya tusukan Pratiwi. Ia kemudian terjengkang jatuh ke belakang karena ketika mundur, kakinya tersandung unggukan tanah dan batu.


Seperti yang bisa diperkirakan, Pratiwi berkelit dengan mudahnya. Tapi kali ini ia langsung membalas, dua kali tusukan ke arah dada dan satu sabetan ke arah lutut Katilapan.


Dua serangan pertama tertahan sempurna oleh tameng rotan Aceh yang Katilapan ambil dari jasad salah satu prajurit bawahan Pratiwi, tapi sabetan ke lutut  tak bisa terselamatkan. Bilah keris Pratiwi menggores masuk sepanjang satu ruas jari.


Katilapan berteriak keras dan rubuh ke tanah. Pratiwi ingin segera menyelesaikannya dengan memburu ke arah rubuhnya Katilapan. Namun, tombak Narendra mengenai dada Pratiwi.


Percikan api berpijar dari benturan mata tombak trisula dengan baju besi Pratiwi.


Pratiwi sendiri hanya terdorong sedikit ke belakang. Dengan secepat itu pula Pratiwi melompat, berguling di tanah, menghindari tusukan tombak Narendra lagi, menepiskan satu serangan lagi, kemudian melompat menusuk arah wajah Narendra. Sebuah serangan mematikan.


Narendra mengangkat tamengnya.


TANG!


Percikan api kembali terlihat. Keris Pratiwi menubruk perisai besi tersebut. Namun serangan Pratiwi tersebut membuka jalan untuk tusukan keris satunya ke lambung Narendra.


Tombak bermata trisula sekaligus tamengnya terlepas dari kedua tangan Narendra. Ia mundur sejauh mungkin. Keris Pratiwi tidak sampai masuk terlalu dalam ke perut Narendra, meski jelas Narendra terluka.


Narendra memegangi sisi perutnya yang mengucurkan darah seakan bisa menambalnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Sudah selesai, pikir Pratiwi. Kedua musuhnya seperti lawan-lawannya yang lain,tidak begitu susah untuk dikalahkan, meski memang melewati pertarungan yang pantas. Sebentar lagi ia akan dapat menolong Jayaseta, sang kekasih.


Pratiwi memandang tajam kedua korban kerisnya. Ia akan menghabisi Katilapan dahulu dengan membenamkan kerisnya ke leher dan langsung membunuh Narendra dengan kembali merobek perutnya.


***


Kedua keris Pratiwi digenggam erat oleh Jayaseta. Tak terlihat rasa sakit dari wajahnya, bahkan kedua telapak tangannya yang menggenggam bilah keris juga tak menunjukkan luka sama sekali.


"Kakang Jayaseta. Kau sudah siuman?" ujar Pratiwi dengan sepasang mata berbinar memandang sang pujaan hati.


Wajah Jayaseta mengeras, tak terlihat bahwa ia sendiri mengendalikan jiwa dan raganya. Kekuatan tenaga dalam berperang di dalam tubuhnya, menyebabkan perasaannya diambil alih oleh kekuatan-kekuatan itu.


Ketika sedang terbaring tak sadarkan diri, sebenarnya Jayaseta sedang melawan kekuatan-kekuatan yang berusaha memperbudak dirinya. Namun, dalam keadaan tersebut ia dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang terjadi.


Kematian ketiga rekan-rekannya yang dibunuh gadis sinting ini. Belum lagi bayangan bahwa Pratiwi lah yang membunuh kakek Salman serta kemudian menyebabkan paman Badranaya wafat. Ketiga kakang-kakangnya ini juga sedang dalam ancaman kematian.


Maka, segala amarah dan luapan perasaan memancing kekuatan mengerikan di dalam dirinya untuk bangun.


Jayaseta sudah menggenggam erat kedua bilah keris Pratiwi. Tidak sampai disitu, dengan menggeram ia membengkokkan kedua bilah senjata tajam itu bagai tak ada artinya.


Sepasang mata Pratiwi membelalak, antara terkejut dan kagum atas kehebatan sang pujaan hati.


Namun sebaliknya, pikiran dan perasaan Jayaseta berkecamuk. Dengan kekuatan ini mudah baginya untuk membunuh dan menghancurkan perempuan jahat nan licik di depannya ini dengan sekali gebrak. Betapa ia ingin sekali melakukannya.


Akan tetapi, bila ia mengikuti kemauan jiwa amarahnya, semua kesadarannya akan diambil alih. Ia akan tidak dapat mengenali dirinya sendiri lagi. Lalu bantuan kakek Keling dan pengorbanan kakek Salman bakal tak ada gunanya.


Dalam sekali sentak, kedua keris Pratiwi yang sudah bengkok terlepas dan terlempar jauh.


Jayaseta meraung. Kedua tangannya terkepal dan menghajar dada Pratiwi.


Lempengan besi dan rantai lamina Pratiwi terputus, pecah dan lepas berserakan. Tubuh Pratiwi terlempar menabrak batang-batang bambu kemudian bergulingan dengan cepat jatuh ke bawah bukit. Tak lama tubuhnya tak terlihat sama sekali.


Jayaseta jatuh berlutut. Ia memuntahkan darah segar.


Sekuat tenaga ia bersila dan mengatur tenaga dalamnya.


Sampai saat ini ia berhasil memukul Pratiwi dengan kurang dari separuh tenaga dalamnya. Tujuannya memang hanya melukai dan menghancurkan lamina nya. Dengan begitu, ia masih bisa melawan tenaga-tenaga asing di dalam badannya tanpa harus kehilangan kesadaran dan jiwanya.


Narendra bangun dan mendekat ke arah Sasangka. Dengan susah payah ia memanggul tubuh sahabatnya itu. "Kau bawa Jayaseta, Katilapan. Sasangka akan kehabisan darah, begitu juga kita. Kita harus segera mencari pertolongan tabib," ujarnya.


Katilapan melihat jalan menurun dari atas bukit. Air matanya tiba-tiba berlinang memikirkan bahwa saat ini ia terpaksa harus meninggalkan jasad ketiga sahabatnya: Karsan, Kesuma dan Mahendra yang entah berada dimana di balik semak-semak di bawah sana dan entah bagaimana keadaan jasad tak bernyawa mereka.


Ia berpaling ke arah Jayaseta yang akhirnya lemah tertunduk pula setelah berusaha untuk bersila.

__ADS_1


Ia hapus air matanya dan mendekati Jayaseta dengan tertatih-tatih, mengangkat tubuh pendekar muda itu dan membawanya pergi mengikuti Narendra yang telah terlebih dahulu pergi membopong Sasangka.


__ADS_2