Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran Laut Dangkal Bagian Kedelapan - Gaduh dan Kisruh


__ADS_3

Sinar mentari pagi menciptakan semburat jingga bagai retakan di langit, sedangkan pantulannya di air laut dangkal bersinar keperakan. Namun suasana pagi itu sudah semakin panas, mendahului hukum alam, ketika jiwa-jiwa manusia berbeda bangsa bertikai pada kepentingan yang berbeda.


"Tunggu, saudara-saudara dan tuan-tuan yang aku hormati. Semuanya pasti kita bisa bicarakan. Bila berbicara mengenai masalah, tuan-tuan pasti paham dan sadar pula bahwa jung milikku juga sama ruginya dengan kapal-kapal tuan. Aku adalah nakhoda sebuah kapal yang murni berangkat untuk kepentingan perdagangan dan perniagaan. Aku, awak kapal dan penumpang sama sekali tidak ingin terlibat masalah dan enggan ikut campur urusan kenegaraan. Mengenai para perompak, pasti ada cara untuk mencari penyelesaian tanpa perlu ada korban lagi," ujar Raja Nio kepada kedua pihak yang bersitegang.


"Sudah, kau memang tak perlu ikut campur. Dalam hal ini orang Jambi yang berhak membawa para perompak ini. Tidak perlu ada perdebatan lagi. Kalian bisa pergi melanjutkan perjalanan setelah memberikan kami orang-orang suku Mah Meri itu."


"Apa kau bilang? Orang-orang Jambi yang berhak? Apa kau dan para prajurit bawahanmu tak tahu malu? Jung ini berhasil menangkap para perompak, dan kau mau ambil hasilnya begitu saja? Jangan mimpi di siang bolong!" balas pemimpin pasukan dari Johor dengan ketus. Ia kemudian memandang ke arah Raja Nio kemudian wajahnya menjadi sangat ramah. "Kapal kami yang sangat dirugikan. Beberapa pelaut tewas, dan beberapa lagi terluka parah. Namun begitu, orang-orang Johor dan Riau adalah orang-orang yang memiliki pemikiran terbuka. Kami tak lekas menuduh pelaku para perompak yang telah lama membikin masalah di perairan ini adalah orang-orang suku Mah Meri hanya karena melihat dari topeng yang mereka kenakan. Kami tak seperti orang-orang Jambi yang penuh kedunguan dan kecurigaan tersebut. Kami akan melakukan penyelidikan mendalam atas para bajak laut itu, dan kalian pasti akan diterima dengan baik di pelabuhan Johor ketika sampai nanti. Bahkan kami bersedia memberikan keterangan kepada pemerintahan Kesultanan Johor untuk mempermudah keperluan kalian selama di Johor, sebagai bentuk penghargaan. Lagipula, pemimpin kami, Datuk Sri Harimau Selatan adalah orang penting di Kesultanan. Ia sangat dihormati oleh banyak orang, bahkan Raja sendiri," bujuk panjang sang pemimpin pendekar Johor-Riau tersebut.


"Bangs*at! Kau sudah terlalu lancang memainkan kata-kata. Sudah terlalu lama kami menghabiskan waktu di tempat ini. Orang Jambi tak perlu meminta ijin pada jung ini atau kalian, orang-orang Johor." Ia kemudian mengangkat tangannya memberikan perintah kepada para prajurit bawahannya, "Cepat bawa para perompak itu ke kapal!"


Langsung beberapa pendekar Jambi bergerak meraih lengan para perompak dan menariknya. Tentu saja tindakan ini langsung menyebabkan kisruh. Bahkan tanpa melalui perintah kata-kata, tanda dari tangan pemimpin Johor yang terangkat langsung dilaksanakan oleh para prajurit-pendekar-pelaut Johor yang dengan perisainya mendorong dan mendesak para prajurit Jambi.


Dorong-dorongan yang kasar pun tak dapat dielakkan. Para prajurit yang tak ambil bagian seketika merengsek maju dengan mata tombak terarah ke depan.


"Tunggu, tuan-tuan, saudara-saudara. Kita pasti bisa bicarakan hal ini. Mohon jangan terburu nafsu," ujar Raja Nio sedikit menurunkan tongkatnya. Itulah sebabnya pula, para prajurit Jambi dengan gampang meraih lengan perampok yang telah dilumpuhkan dan tadi sempat ditahan olehnya dan para pengawal kapal.


Suasana kisruh ini tak mungkin dihindari lagi. Orang-orang Jambi yang sudah terlanjur basah memegang para perompak, mendorongka perisai mereka ke arah Raja Nio dan para pengawal jung yang berada di tengah kelompok mereka dan orang-orang Johor.

__ADS_1


Tidak sampai disitu, dua prajurit mengambil tongkat Raja Nio dengan paksa. Setelah menariknya paksa sampai lepas, salah satu diantaranya memukulkan tamengnya ke dada Raja Nio. Sontak sang nakhoda terdorong ke belakang. Tubuhnya terhuyung dan menubruk satu prajurit Johor yang menghambur maju. Secara naluriah dan karena telah digerogoti perasaan amarah dan semangat merebut tawanan perompak dari tangan orang-orang Jambi, sang prajurit Johor itu menepis tubuh Raja Nio dan membantingnya.


"Tuan ... Raja Nio!" pekik para pengawal.


Raja Nio tergeletak di lantai geladak dan karena ketidakawasannya bakal terinjak-injak oleh kerumunan prajurit Johar yang menyerbu.


Narendra langsung masuk ke dalam kerumunan para prajurit. Ia sadar bahwa dalam keadaan seperti inipun ia tak boleh terbawa perasaan. Apa artinya Raja Nio memerintahkan mereka untuk tak menggunakan senjata tajam bila akhirnya salah satu dari mereka bertindak kasar? Maka ia dengan cekatan dan gesit menyelip diantara para prajurit kemudian menarik sang nakhoda dengan cepat.


***


Tameng dan tameng beradu. Keadaan menjadi sangat gaduh dan kisruh. Tombak-tombak dipalangkan bersama tameng didorong dan ditolak-tolakkan. Yang tak kuat akan terjatuh dan kemungkinan besar terinjak. Teriakan membising, bunyi kelentang besi dan benturan tameng rotan berisik.


***


Raja Nio sudah menarik diri dan memerintahkan dengan cepat semua orang yang terlibat dari jung nya untuk menghindar ke sisi kapal. Puluhan orang yang bertikai di atas geladak membuat geladak kapal begitu sempit dan padat.


Namun begitu, keadaan ini tak akan lama sampai prajurit pertama memutuskan memulai menyerang dengan ujung tombaknya.

__ADS_1


Benar saja. Beberapa orang prajurit dari kedua belah pihak mendapatkan luka di lengan, bahu atau lehernya karena tidak sengaja tergores mata tombak, padahal mereka pun tak tahu dari mana luka itu awal mula berasal: tombak lawan atau tombak kawan mereka sendiri.


Tepat ketika amarah tak tertahankan lagi dan para prajurit menyiapkan mata tombak ke arah depan, lautan puluhan dari belasan prajurit masing-masing pihak itu tersibak.


Tiga sampai lima orang prajurit terlempar atau terpelanting. Tombak mereka lepas dari tangan. Beberapa orang, bahkan tameng mereka yang terikat erat di lengan juga terbuang jauh.


Tidak berhenti sampai di sana, puluhan orang yang berkerumun itu berjatuhan bagai ilalang yang ditebas, tak peduli dari kelompok Jambi ataupun Johor-Riau. Kaki mereka tertekuk dan membuat mereka oleng. Beberapa bergulingan ke depan seperti daun gugur tertiup angin.


Kebingungan merajai para prajurit. Bahkan kedua pemimpin prajurit pendekar Jambi dan Johor saling pandang dan sudah menghunus keris Melayu mereka yang lurus, tipis namun panjang tersebut. Satu tangan lagi juga meloloskan belati berupa tumbuk lada di tangan satunya.



Para prajurit yang terjatuh seketika bangun dan mundur. Di tengah-tengah mereka berdiri sosok tak dikenal yang berdiri gagah. Pakaiannya bergaya melayu, dari bahan kain sutra halus berwarna hijau muda. Kedua lengannya dibebat kain, sedangkan wajah dibawah kepalanya yang dibalut pelindung kepala tinggi, mengenakan topeng kayu kera meringis bergaya suku Mah Meri memamerkan gigi-gigi panjangnya.


"Muncul pula sekarang biang keladinya. Orang ini jelas merupakan pemimpin para perompak. Lihat topeng yang ia kenakan. Awalnya aku tertipu berpikir bahwa entah bagaimana suku Mah Meri terlibat dalam kegiatan perompakan ini, namun sekarang jelas para perompak mengada-ada. Siapapun kalian, aku tak peduli. Prajurit Jambi, segera bangun! Kita seret orang ini hidup atau mati!" seru sang pemimpin pasukan Jambi.


Pemimpin pasukan Johor melihat ke arah lawannya tadi. Suka tak suka, saat ini ia juga harus setuju pada sang pemimpin prajurit Jambi. Rupa-rupanya, sosok tak dikenal bertopeng kayu kera Mah Meri ini pastilah bukan orang sembarangan yang memiliki niat dan rencana buruk. Mereka harus membekuknya, hidup lebih baik.

__ADS_1


"Baik ... Baik ... Hei kau, orang Jambi. Bagaimana bila saat ini kita bersama bekerja sama untuk menangkap orang itu dahulu karena nampaknya ia bukan orang biasa melihat sepak terjangnya tadi. Nanti kita lanjutkan pembahasan kita bila sudah berhasil mengalahkannya," bisik pemimpin Johor pada lawannya tadi.


Sang pemimpin pasukan Johor hendak menentang dengan angkuh mengatakan bahwa pasukan Jambi dapat meringkus orang itu tanpa perlu bekerjasama dengan musuh. Tapi, ia tak bisa terlalu keakuan dan memikirkan diri sendiri. Secara kasat mata, semua dapat melihat betapa cepat dan dahsyat serangan tiba-tiba sosok tak dikenal tersebut.


__ADS_2