Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Jurus Berpasangan


__ADS_3

Para pendekar beragam bangsa mengerubuti keempat pendekar yang menjadi orang asing di kapal mereka seperti kumpulan semut rangrang. Para pendekar Mangkasara dan Bugis lebih-lebih lagi, mereka sudah bersiap memangsa Datuk Mas Kuning dengan kilatan bilah tajam dan lancip alamang serta badiknya.


Datuk Mas Kuning mengedarkan pandangan ke sekeliling. Geladak padat dengan para pendekar. "Mengapa banyak orang ini tak bisa belajar bahwa pertarungan dengan tempat sesempit dan pendekar sebanyak ini malah akan merugikan penyerang sendiri?" pikir sang Datuk. Ia tersenyum. Tangan kanannya yang memegang keris direndahkan. Tangan kirinya melepaskan sarung yang melingkari pinggangnya.


Seorang pendekar Aceh kembali mencoba peruntungannya membabat sang Datuk terlebih dahulu, namun ia tak sendiri, seorang Toba menusukkan hujur singiris dan dua orang Bugis yang juga bersenjata pedang pendek alamang merengsek maju.


Datuk Mas Kuning menepis peudeung dengan kibasan sarungnya, kemudian secepat itu pula menjejak pinggul musuh hingga pendekar Aceh itu mundur oleng. Sarung yang sama dikibaskan dengan sekali gerak dan berpuntir mengikat batang ramping hujur singiris pendekar Toba. Sekali sentak, tombak itu terikut gerakan tangan kiri Datuk Mas Kuning, menyilang di depan dua penyerang Bugis berpedang alamang.


TRAK!


TRAK!


Dua bilah alamang memapras hujur singiris. Dua pedang itu juga saling bertumbukan karena begitu sempit dan kisruhnya keadaan. Ini adalah keuntungan bagi sang Datuk. Ia menunduk dan membabatkan kerisnya ke bawah.


Teriakan kesal nan tertahan dua pendekar Bugis mendapati paha mereka tergores keris lawan. Keduanya mundur. Pendekar Toba yang mendapati tombaknya terikat sarung dan digunakan untuk menahan serangan dua pendekar Bugis mencoba menarik kembali tombaknya. Sang Datuk mengendurkan sarungnya, melepaskan dari ikatan, membuat si pendekar Toba tersentak terjengkang jatuh ke belakang. Kesempatan ini digunakan sang Datuk untuk menusukkan kerisnya pada saat si pendekar Toba itu mundur.


Sayang, kesempatan itu terbuang karena serangan peudeung sudah datang kembali mengejar dada Datuk Mas Kuning. Pendekar tua itu memundurkan dadanya, kemudian melompat karena pendekar Aceh langsung melanjutkan membabatkan peudeung nya ke kaki ketika serangan pertamanya tak mengenai musuh.


Beberapa pendekar Bugis diam-diam sudah siap dengan keris Bugis, Mangkasara dan badik mereka di belakang sang Datuk yang terbawa mundur akibat serangan tiba-tiba sang pendekar Aceh.


***


Jayaseta sudah menggenggam hujur singiris di tangannya. Pendekar Toba yang merasa senjatanya direbut langsung mencabut tumbuk lada Toba dari sabuknya. Dua pendekar Aceh memasang kuda-kuda yang begitu rendah. Mereka memainkan peudeung di tangan kanan mereka sedangkan tangan kiri siap dengan rencong.


Tanpa aba-aba, Jayaseta memutuskan menyerang kedua pendekar Aceh terlebih dahulu. Dua tusukan cepat dan pendek namun dalam jarak jauh yang menguntungkannya memaksa dua pendekar Aceh mengelak. Si pendekar Toba terkecoh. Ia berpikir ia memiliki kesempatan menyerang pendekar bertopeng ini dari belakang.


Ujung belakang hujur singiris yang tumpul menumbuk dada si pendekar Toba yang nekat menyerang. Ia jatuh ke belakang. Namun belum sempat pantatnya menyentuh lantai papan geladak, lehernya disembat oleh sisi batang tombak hujur singiris. Sang pendekar Toba tergeletak menghempas lantai. Mungkin tewas, mungkin pingsan.

__ADS_1


Jayaseta memutarkan hujur singiris dengan cepat. Dua pendekar Aceh merasakan darah menciprat dari wajah mereka. Keduanya terluka akibat mata tombak membeset kening dan hidung. Keduanya mundur jauh.


Jayaseta berpaling, mengangkat hujur singiris dan melepaskannya.


Tombak ramping itu melaju cepat dan menusuk menembus leher seorang pendekar Mangkasara yang hampir menusuk Datuk Mas Kuning dari belakang. Tubuhnya jatuh berdebum. Nyawa lepas dari raganya sebelum darah mengalir keluar dengan deras dari lehernya.


Kejadian ini mengejutkan pendekar-pendekar Bugis-Mangkasara yang semua berada di belakang Datuk Mas Kuning hendak membokongnya.


Keterkejutan mereka oleh serangan Jayaseta yang tak terduga sekarang menjadi keuntungan mutlak bagi Datuk Mas Kuning. Ia berbalik, membabatkan sarung ke wajah satu orang Mangkasara, membuatnya terkejut dan tak awas. Tusukan keris sang Datuk menyusul masuk menembus dada dan perutnya.


Inilah korban tewas yang kedua.


"Ban*gsat! Sempat-sempatnya kau membantu teman rentamu itu padahal sedang menghadapi kami. Kau rupa-rupanya menyepelekan kemampuan kami, hah? Jangan pikir dengan berhasil melukai wajah kami kau sudah unggul di atas angin," ujar satu pendekar Aceh kesal.


Jayaseta menggunakan gaya kuda-kuda kaki menyilang untuk menyeimbangkan tubuhnya, namun kemudian, kedua tungkai kakinya berguna sebagai alat penolak tubuhnya. Ia tak menjawab pertanyaan musuh tersebut, malah langsung menyerang. Tubuhnya mencelat tinggi kemudian menghujam dengan tendangan ala jurus Tendangan Guntur dari Selatan. Kehebatan Jurus tanpa Jurus Jayaseta adalah jurus-jurus apapun yang pernah dipelajarinya dapat digunakan dengan dicampur dan dilebur dengan jurus lainnya, bahkan dalam penggunaan yang sepertinya tak mungkin.


Pendekar itu tewas di tempat.


Rekan sang pendekar Aceh yang tewas itu memandang tak percaya. Sejenak saja, dalam beberapa jurus, temannya sudah tak bernyawa lagi menghadapi pendekar tak berwajah ini.


Para awak kapal sudah berhenti bekerja. Mereka berdiri di pojok-pojok kapal yang jauh dari medan pertempuran. Mereka menonton pertarungan ini bagai melihat aduan banteng dan harimau, begitu memukau. Salah satu awak yang terlihat paling tua diantara yang lain tersenyum melihat gebrakan pendekar bertopeng itu.


Jelas, kemenangan ini karena selain kesaktian Jayaseta, adalah kecerdasannya yang memanfaatkan kesombongan para pengeroyok yang merasa menang jumlah. Apalagi rata-rata pendekar di atas kapal ini juga memiliki harga diri yang sangat tinggi. Gampang sekali untuk dibuat gusar dan pada akhirnya mudah pula dikalahkan karena mereka tak dapat berpikir dengan baik dan jernih.


Teriakan amarah yang membakar dari pendekar Aceh melihat rekannya tewas terdengar nyata. Tangannya mengangkat peudeung tinggi-tinggi, kemudian menyerang Jayaseta dengan membabibuta. Ia membabat menyilang dua kali, kemudian membabat memutar dan menusukkan rencongnya. Jayaseta menghindar dengan luwes.


Pada gabungan serangan berikutnya, Jayaseta tak hendak menghindar. Ia masuk ke dalam kuda-kuda musuh. Tangan kanannya menggenggam lengan kiri pendekar Aceh yang menggenggam rencong, memuntirnya, kemudian mengarahkan tangan yang memegang belati itu menusuk pinggangnya sendiri. Teriakan kesakitan merebak di angkasa. Jayaseta kemudian memegang lengan kanan musuh yang menggenggam peudeung dengan kedua tangannya, kemudian berputar, menempelkan punggungnya ke dada musuh dan membantingnya.

__ADS_1


Peudeung sekarang ada di tangan Jayaseta, sedangkan pendekar yang semula memilikinya kini tewas sudah. Rencongnya masuk lebih dalam ketika Jayaseta membanting dan menghempaskan tubuhnya ke lantai papan geladak kapal milik de Paula tersebut.


***


De Paula mendadak gusar. Ia berdiri gelisah, kemudian berjalan mondar-mandir. Ia meraba dua buah pistol flintlock atau kancing batu api buatan Jermania dan Britania Raya di pinggangnya. Jala Jangkung melirik kegusaran tuannya itu. "Tenang, tuan de Paula. Engkau paham sekali bukan, bahwa para pendekar di bawah sana sedang menikmati pertarungan? Kematian di jalan pendekar adalah pencapaian mereka. Mereka sangat bahagia bila dapat berhadapan dengan pendekar-pendekar yang pantas mereka lawan dan berbagi ilmu kanuragan," ujar sang nakhoda santai dan tenang.




De Paula memicingkan mata dan memandang Jala Jangkung tajam. Ia berseru, "Tapi aku bukan pendekar, Jala Jangkung!"


Sang nakhoda terkekeh pelan.


***


Jayaseta memapraskan peudeung ke arah sisa rombongan pendekar Mangkasara-Bugis yang masih berusaha menyerang Datuk Mas Kuning. Kesemuanya berhamburan mundur menghindar.


"Maaf, Datuk. Bukannya lancang atau menyepelekan kesaktian Datuk, guru hamba sendiri, namun hamba rasa hamba tidak bisa membiarkan Datuk seorang diri bersenang-senang melawan mereka. Umur Datuk yang sudah senja ini harusnya membuat Datuk tak rakus memakan mereka sendirian," canda Jayaseta.


Sang Datuk tergelak, "Aku tak keberatan berbagi denganmu, Jayaseta."


***


Narendra dan Katilapan memutuskan bertarung bersama-sama dengan jurus berpasangan, bukannya sendiri-sendiri. Kini mereka saling menempelkan punggung. Sejenak tadi Narendra mendorong tubuh pendekar Aceh yang melompat ke arah Katilapan hendak memapras kepalanya. "Gantian, kau yang melindungi aku nanti, Katilapan," ujar Narendra.


Babiat Sibolang merendahkan kuda-kuda. Di sekeliling Narendra dan Katilapan, para pendekar Aceh dan satu pendekar Toba rekan Babiat Sibolang memutar-mutarkan senjata mereka siap menghujam bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2