Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Pertempuran di Atas Sungai Bagian Keempat: Unsur-Unsur Pedang Lentur


__ADS_3

Api disulut dengan mudah di atas geladak tanpa penjaga itu. Dua orang awak yang muncul dari dalam geladak kapal terkejut ketika api baru saja memakan kayu tiang layar. Keterkejutan dan pertanyaan mereka segera dijawab dengan sabetan pedang Champa dan tusukan belati bertubi-tubi di tubuh mereka. Keduanya berusaha berteriak, entah untuk memanggil dan memperingatkan orang-orang lain di bawah geladak atau hanya bentuk rasa sakit mereka, tetapi nyawa terlanjur terbang terlebih dahulu dari badan.


Tak lama, malah teriakan para budak dan awak pendayung dari dalam kapal terdengar, disertai dengan asap yang membumbung tinggi. Semua orang mulai berlarian keluar tidak peduli lagi dengan tanggung jawab pekerjaan mereka sebagai pendayung, atau pekerjaan awak kapal lain.


Di atas, para perompak sudah siap dengan senjata mereka.


Para awak dan budak yang keluar langsung disambut serangan mendadak. Nyawa diantarkan langsung kepada para pencabutnya. Ini bagaikan menunggu binatang yang keluar dari gua untuk dibantai.


Nampak-nampaknya, membakar kapal sama sekali tidak cukup bagi para perompak Champa itu. Mereka menginginkan kematian yang sempurna dan paripurna bagi para awak dan siapapun yang menumpang di kapal tersebut.


Empat orang perompak Champa menyerang membabi buta dan secara acak dengan pedang dan belati mereka. Ada pula yang menusuk dengan tombak ke arah lambung dan dada. Tiga orang sisanya, termasuk sang pemimpin, memantau dengan wajah dingin.


Akibatnya, tiga awak terkapar tewas dengan luka menganga. Mereka terkejut dan tak sempat mengelak dari serangan para perompak. Sisanya, entah berapa orang lagi yang terluka oleh bilah tajam senjata para perompak. Suasana langsung menjadi kalut kemelut. Api yang membakar ternyata memanaskan bagian dalam geladak sehingga siapapun yang ada di dalam ruangan, pasti akan langsung keluar.


Sampai saat ini, Pratiwi dan Yu belum menyadari kejadian ini. Keduanya baru saja berada di haluan dan berusaha mengalahkan dua orang perompak Annam yang mencoba mengambil alih meriam dan kapal secara keseluruhan. Di bagian tengah dan buritan kapal yang tak dijagai menjadi kosong melompong, terbakar serta berubah menjadi sarana pembunuhan besar-besaran.

__ADS_1


Fong Pak Laoya ikut keluar berbondong-bondong bersama orang-orang lain. Dengan jelas ia mendengar teriakan dan keributan di atas geladak kapal. Ia bahkan tahu bahwa teriakan-teriakan itu bukan hanya karena asap dan api yang membakar kapal, tetapi sesuatu yang lain.


Ia meraba sabuk di pinggangnya.


Benar sesuai dengan apa yang ia duga. Beberapa orang terkapar di atas sana sembari setiap orang seakan menunggu mendapatkan giliran untuk diserang dan dibunuh musuh.


Awak-awak kapal yang bertugas di lambung kapal dan sebagai juragan para budak pendayung melakukan perlawanan sebisa mereka. Mereka menerjang dengan belati dan kayu pentungan. Namun hanya dua kali gebrak saja tungkai lengan mereka terlepas, putus dari tubuh. Ketika mereka menggelepar sekarat di atas geladak, perompak Champa menusuk tubuh-tubuh bergetar itu dengan tombak sampai korban diam tak bergerak lagi.


Kekacauan terus terjadi sampai arus orang yang keluar dari lambung geladak kapal sampai


Tabib sekaligus dukun Cina itu menyentakkan sabuknya dengan kuat dan cepat ketika seorang perompak Champa menerjang ke arah dirinya dengan sebatang tombak terentang ke depan.


SETT!!


Tidak ada yang memerhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Kurang dari setarikan nafas saja sang penyerang roboh tewas. Nyawanya melayang cepat.

__ADS_1


Semua orang terdiam. Tidak para awak yang menjadi korban, tidak pula para penyerang yang bergerak. Sang perompak Champa yang tewas itu didapati memiliki luka beset panjang dari wajah, leher sampai ke dada.


Kesempatan ini, ketika semua orang terdiam, digunakan untuk para awak melompat ke sungai menghindari api yang perlahan tetapi pasti melahap kapal. Pilihan mereka hanya satu itu, mati terpanggang api atau mati di tangan para perompak. Maka, tanpa peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi, mereka melompat ke sungai untuk berenang ke tepian.


Tinggallah kini para korban terluka yang cukup parah yang tak bisa bangun atau melakukan apa-apa, para perompak, dan Fong Pak Laoya yang berdiri di hadapan orang-orang Champa tersebut.


“Kurang ajar! Apa ini orang yang membunuh rekan-rekan Annam kita?” ujar sang pemimpin kepada para perompak yang lain.


“Bisa jadi. Dia adalah orang Cina. Mungkin sekali membunuh orang-orang Annam adalah kemauannya,” ujar perompak yang lain.


“Namun orang ini terlihat telah berumur. Gaya pakaiannya menunjukkan bahwa dia mungkin seorang perniaga, pedagang, atau tabib Cina. Tak terlihat sama sekali bahwa dia adalah seorang pendekar,” ujar perompak lainnya.


“Masa bodoh! Siapapun di atas kapal ini harus dimusnahkan. Jangan tertipu dengan perawakan dan penampilannya. Jangan sepelekan dia. Cepat kepung dan habisi dia sebelum kapal ini benar-benar habis dimakan api. Kita tidak pula bisa membiarkan dia lepas dari kapal ini,” perintah sang pemimpin rombongan.


Fong Pak Laoya berdiri dengan gaya yang tak terbaca. Tubuhnya santai tetapi kedua kaki ditekuk dalam gaya kuda-kuda silat yang tersamarkan oleh busana panjang Cinanya. Kedua tangannya di belakang tubuh. Salah satu tangannya menggenggam gagang pedang dengan bentuk yang aneh. Pedang serupa jian yang ia cabut dari sabuknya tadi memiliki bilah yang sangat lentur bagai cindai saja. Tidak heran musuh tewas bagai tersabet pecut, bukannya pedang biasa.

__ADS_1


Diam-diam Fong Pak Laoya, dengan ilmu kanuragan silat Cinanya terpaksa harus menunjukkan siapa jati dirinya sesungguhnya. Ia akan menghadapi mereka semua. Ia sudah bertekad untuk sekalian saja menghabisi para pengganggu ini dengan mengusung jurus unsur-unsur pedang lentur.


__ADS_2