Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Dara Cempaka


__ADS_3

Dara dibuat kelabakan dengan empat serangan Jayaseta yang dilakukan dengan begitu cepat ke arah bagian atas tubuhnya. Ia harus membuka kipas untuk menahan dan mengaburkan perhatian si penyerang.


Jayaseta sama sekali tidak bermaksud kurang ajar dengan bermain-main dengan Dara dalam perkelahian ini. Sebaliknya, ia menganggap sungguh-sungguh sang Dara sehingga mencoba memberikan serangan mematikan yang dilancarkan dalam beberapa bentuk untuk melihat bagaimana Dara menerima dan menghadapi musuh.


Memang, andaikata yang ia lawan adalah musuh berbahaya, serangan mematikan yang ia gunakan mungkin berupa tipuan atau jurus tanpa bentuk untuk langsung membunuh lawan. Namun dengan Dara, ia tetap menjajal kemampuan Dara sebagai bentuk 'melayani' sang pendekar muda tersebut.


Bisa jadi karena ia telah 'direstui' sang datuk untuk bersungguh-sungguh memberikan pelajaran sekaligus belajar dari sang cucu. Ia juga mencoba untuk menghargai kemarahan dan kekesalan sang dara karena dianggap dipermainkan. Maka, menyerang dengan sungguh-sungguh sebenarnya adalah bentuk penghargaan itu sendiri.


Dara masih tak mau menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar musuh yang dihadapinya ini memang memiliki ilmu kanuragan yang berada jauh di atasnya.


Dara membalas dengan kembali memberikan tusukan dengan kipasnya ke arah dada Jayaseta. Yang diserang memundurkan tubuh sedikit, namun seperti yang disampaikan Dara sebelumnya, ia mengancam akan menggores leher Jayaseta, maka itulah yang dilakukannya.


SRET!!


Kipas membuka bagai sayap seekor garuda mencoba memotong leher sang pendekar.


Dengan cekatan, meniru intisari jurus cindai yang digunakan Dara sebelumnya, Jayaseta melepas kain yang menutupi pinggangnya, membebat lengan Dara dan menguncinya ke leher sang gadis.


Dara luar biasa terkejut karena jurusnya ditiru seluruhnya. Ia langsung melepaskan kipas dan mencabut salah satu dari beberapa tusuk konde nya dan menusukkannya ke arah Jayaseta.


Jayaseta terpaksa melepaskan kunciannya dan berguling mundur di lantai.


Melihat buruannya lepas, Dara melemparkan tusuk kondenya, bukan hanya satu tapi seluruhnya yang berjumlah tiga itu.


SLEP!


SLEP!


SLEP!

__ADS_1


Tiga tusuk konde menancap di topeng kayu Jayaseta. Ini karena Jayaseta tiba-tiba telah melepas topengnya dan menggunakannya sebagai senjata dengan kembali meniru jurus kipas silat gayong Dara.


Dalam sekali gerak Jayaseta maju, mengunci kedua lengan terulur Dara dengan sekali sabet kain jarit yang ia gunakan sebagai cindai kemudian topengnya yang tertancapi tusuk konde emas itu digerakkan dengan cepat memukul ke arah wajah, leher, dada dan perut Dara.


Empat serangan secepat kilat itu hanya seujung kuku saja jaraknya dari sasaran. Ini berarti Jayaseta sengaja tak mengenai Dara dengan serangan beruntunnya.


Dara terpaku. Angin keras serangan cepat dan luar biasa bertenaga itu menghempas wajah dan tubuhnya. Ia juga sempat melihat wajah sang penyerang dengan jelas dalam jarak yang juga sangat dekat.


Jayaseta mundur segera dan menjatuhkan kain dan meletakkkan topengnya di lantai kayu berwarga gelap mengkilat itu.


Ia bersimpuh. "Ampun, maafkan aku nimas. Namaku Jayaseta dari pulau Jawa. Maksud hati ingin bertemu dengan Datuk Mas Kuning karena ingin menyampaikan pesan dari seseorang yang mungkin beliau kenal serta memiliki sedikit keperluan pula," Jayaseta memandang Dara kemudian memandang sang datuk.


"Bila memang datuk adalah Datuk Mas Kuning, hamba juga meminta ampun beribu ampun karena dengan lancangnya menjadi tamu yang tak diundang, mengendap-endap bagai seorang pencuri. Namun hamba tidak ingin mempersulit dan menyusahkan datuk dengan masuk melalui pintu depan yang dijaga banyak prajurit."


Sang datuk kembali terkekeh. Ia memandang Dara yang masih berdiri terpaku, "Nah, nah, Dara. Kau masih belum puas ingin memberikan tamu kita ini pelajaran? Sekarang kita sudah tahu bahwa ia tak bermaksud buruk, bukan? Sekarang, bolehkah datuk berbicara dengan tamu kita ini?" ujar sang datuk yang ternyata memang Datuk Mas Kuning adanya tersebut. Sang datuk nampaknya paham dengan baik sifat dan tabiat Dara yang walau berwajah manis, rupawan, berkulit putih dan halus namun dengan perangai keras serta pantang menyerah itu.


Dara mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang tak lepas memandang Jayaseta. Ia sepertinya sadar dan memandang ke arah kakeknya. Lidahnya kelu tak bisa berkata apa-apa.


Bila memang bisa dikatakan mengenai satu-satunya kedunguan dan kebodohan Jayaseta, adalah ketidaktahuannya sendiri tentang pesona yang dapat ia sebarkan kepada lawan jenis.


Ia mungkin memiliki segudang ilmu kanuragan, namun masalah rupa diri, ia sama dengan seorang pandir.


Ia tak tahu sama sekali bahwa wajahnya yang begitu rupawan dan tampan; gabungan antara Jawa, Cina dan Parsi itu, membuat lawan jenis bertekuk lutut bahkan tanpa bertempur.


Almira dan Pratiwi, dua gadis yang tunduk hanya dalam pertemuan pertama. Sekarang Dara, yang merasakan sebuah gairah aneh pada tubuh 15 tahunnya itu. Ia merasa lemas melihat wajah tampan sang musuh yang berhasil mengalahkannya seluruhnya, baik pertarungan badan maupun jiwa. Ia kalah mutlak.


Wajah manisnya menjadi semakin manis. Kemarahan luntur membabibuta, digantikan letupan-letupan aneh di perut dan rongga dadanya. Dara tak bisa berbuat apa-apa selain melayang-layang tak karuan.


"Nimas ... Nimas tak apa-apa? Apakah seranganku mengenai nimas?" tanya Jayaseta mendadak khawatir.

__ADS_1


"Oh ... Oh ... Tidak ... Apa-apa..."


Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Semula Jayaseta sempat khawatir seorang Pratiwi hadir dalam diri Dara. Pratiwi yang merupakan seorang pendekar perempuan yang cantik, muda namun kejam dan menurut Jayaseta juga gila, mampu membuat hidupnya tak tenang. Entah apakah ia sudah tewas terkena serangannya berminggu-minggu lalu di Betawi.


Untungnya menurut Jayaseta ilmu Dara dirasa jauh dibawah Pratiwi, dan begitu pula sikapnya. Ia terlihat terpaku dan tak hendak menyerangnya lagi seperti sebelum-sebelumnya. Dalam keadaan yang jauh lebih tenang ini, Jayaseta dapat melihat Dara dengan lebih baik.


Parasnya mungil dan manis. Mungkin usianya tidak lebih dari enam belas tahun, pikirnya. Rambutnya panjang terurai, terlepas dari sanggulannya karena tusuk kondenya telah digunakan seluruhnya sebagai senjata.


Namun wajah gadis muda ini memerah, berbeda dengan sewaktu Dara marah kepadanya. Apa yang terjadi? Pikir Jayaseta. Apakah ia telah melukainya begitu berat, pikir Jayaseta lagi, begitu tidak paham dan bodohnya ia.


Sang datuk sudah paham masalah ini. Ia memandang sang cucu dengan penuh pengertian. "Akhirnya masalah anak-anak muda sudah dapat diselesaikan disini,” ujar sang datuk memecah kekakuan, terutama dari sudut Dara.


“Tidak disangka-sangka, jawara muda yang sakti, Pendekar Topeng Seribu dari pulau Jawa sampai juga ke tanah Sukadana di pulau Tanjung Pura ini,” ujar sang Datuk pelan namun memberikan hasil yang luar biasa.


Dara kembali tersentak mendengar ucapan sang datuk, sama halnya dengan Jayaseta sendiri. Pantas saja ia dengan gampang dikalahkan si laki-laki bertopeng. Bila memang pria tampan ini adalah benar seorang pendekar yang kemahsyuran namanya sudah mendahului kedatangaannya, maka ia baru saja berhadapan dengan seorang pendekar sakti.


Dara merasakan perutnya mulas, kepalanya pening dan lututnya melemah, sudah cukup keterkejutan untuk hari ini pikirnya. Rupa-rupanya pendekar muda nan gagah ini tidak hanya tampan, namun dia memang benar-benar nyata adanya.


Bahkan Jayaseta sendiri kaget bukan kepalang karena sang datuk bahkan mengenalinya dengan baik. Bagaimana orang tua ini bisa mengetahui siapa dirinya?


"Benar, aku dipanggil Datuk Mas Kuning. Dan sudah benar caramu menemuiku dengan sembunyi-sembunyi seperti ini. Sebagai seorang pendekar tidak baik bagi kita untuk gampang terkejut dan merasa terancam oleh kedatangan orang asing yang hendak bertamu dalam keadaan tidak biasa ini, bukan begitu, cucuku Dara Cempaka?"


"Ah ... Iya, iya ... Datuk," hanya itu yang bisa diucapkan gadis muda yang ternyata bernama lengkap Dara Cempaka itu.


"Hamba lah yang benar-benar meminta maaf. Memang keadaan yang tak biasa inilah yang menuntut hamba memutuskan menemui datuk dengan cara yang tak biasa pula. Hamba enggan mencari masalah dengan para prajurit. Apalagi harus memaksa masuk. Maka akan ada pertempuran lagi yang menyudutkan tempat datuk. Padahal, hamba memang harus bertemu dengan datuk karena sudah jauh-jauh dari Jawa dengan tujuan ini," jawab Jayaseta.


Sang datuk mengibas-ngibaskan tangannya, "Tidak menjadi persoalan bagiku. Aku hanya tak menyangka bahwa seorang pendekar tersohor di seantero nusantara ini sekarang sedang berbicara denganku. Bukankah begitu, Dara?"

__ADS_1


Dara kali ini berusaha setengah mati untuk tak menjadi kaku lagi. Ia tak mau kelihatan konyol di depan sang pendekar. "Benar, abang ... Jayaseta. Adik .. Ah ... Yang merasa bersalah karena sudah terlaku gegabah menyerang abang," ujarnya sebaik mungkin. Namun ia kemudian menyesal menggunakan bada bicara yang terlalu manis. Ia khawatir ia malah terdengar genit dan ganjen di depan Jayaseta.


Sedangkan si dungu Jayaseta hanya menarik nafas lega karena nampaknya kesalahpahaman mereka sudah teratasi. Padahal ia sama sekali tak bisa melihat wajah penuh cinta Dara Cempaka si manis ini dengan dadanya yang serasa ingin meledak karena kasmaran.


__ADS_2