Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Ilmu Sihir


__ADS_3

Perang benar-benar tak melihat alasan, hanya tujuan, yaitu membunuh atau dibunuh. Darah terus mengalir dan menggenang di tanah dan lantai kayu bangunan dimana pertarungan dan pembantaian terjadi.


Para warga memang telah dilepaskan dari ikatan mereka oleh Dara Cempaka, Katilapan dan Narendra, namun ini sama sekali bukan tanpa pertempuran dan pertumpahan darah.


Dara Cempaka meskipun memiliki kemampuan silat yang tak bisa dianggap remeh, namun untuk urusan bunuh-membunuh, tetap saja Katilapan yang harus menebaskan ginunting dan Narendra yang menusuk-nusukkan tombak trisulanya. Apalagi, yang ditugaskan menjagai dan menawan para warga untuk kelak dijadikan budak oleh penyerang Biaju ini adalah orang-orang Jawa yang sebelumnya diam-diam menyerang perahu jukung dimana mereka berada yang di dalamnya terdapat orang-orang Jawa pula.


Jelas ada permasalahan pribadi dalam hal ini bagi Katilapan dan Narendra. Keduanya menyerang dengan bersemangat, antara keinginan untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak yang ditawan, melindungi Dara Cempaka sesuai 'perintah' Jayaseta, dan memuntut balas atas pengkhianatan orang-orang Jawa itu di perahu Jukung waktu sebelumnya.


Orang-orang Jawa itu bagaimanapun juga bukan petarung yang tanpa bekal sedikitpun. Gaya silat Mataram dan Semarang yang sangat dipengaruhi gaya beladiri dari Cina bagian Utara ini menjadi andalan orang-orang Jawa ini.


Mereka cukup mahir menggunakan tombak dan tameng kecil dari rotan. Narendra terpaksa mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk menembus pertahanan mereka dan bekerjasama dengan Katilapan. Keduanya berlompatan, saling bergiliran menyerang musuh. Saat itulah Dara Cempaka melepaskan para perempuan dan anak-anak. Mereka semua akan berdiri di belakang gadis Melayu itu agar terlindungi.


Belum lagi kemahiran pasukan yang terdiri dari orang Jawa ini dalam menggunakan senjata api. Walau para penembak utama sudah tewas, sisanya juga mampu menggunakan bedil tersebut, dengan bisa dikatakan sama baiknya.


Bila dirunut sejak ratusan tahun yang lalu, orang-orang Jawa juga sudah akrab dan berpengetahuan yang baik dalam penggunaan senjata api.


Jaman Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada, berkembanglah pembuatan meriam kapal sederhana yang disebut Cetbang. Pengetahuan memanfatkan bubuk api diperoleh dari Kemaharajaan wangsa Yuan dari Cina untuk digunakan di kapal-kapal perang.


Cetbang dipasang sebagai meriam tetap atau meriam putar, sedangkan cetbang ukuran kecil dapat dengan mudah dipasang di kapal kecil yang disebut Penjajap dan juga Lancaran. Bedanya dengan meriam-meriam yang dipasang di kapal, cetbang ditujukan untuk menyasar para prajurit yang ada di geladak, bukannya kapal itu sendiri.


Ini dikarenakan sampai abad ke-17 Masehi inipun, prajurit angkatan laut bertempur di atas panggung di kapal yang disebut Balai. Maka cetbang akan sangat ampuh digunakan untuk mencoba kumpulan prajurit dengan pelu*ru sebar yang terdiri dari gotri yaitu logam-logam berbentuk bulat-bulat kecil, atau paku dan batu.


Lebih jauh, Majapahit memiliki pasukan istimewa yang bernama Bhayangkara. Tugas utama pasukan ini adalah untuk melindung raja dan kaum bangsawan, namun mereka juga dapat diterjunkan ke pertempuran jika diperlukan.

__ADS_1


Perlengkapan mereka berupa baju rantai, pedang, ikat kepala merah, senapan sundut, perisai besi dan perisai rotan atau dadap, tombak bermata lebar, busur dan anak panah serta tombak bersulam emas dan tameng Bali.


Prajurit yang lebih kaya dan berpangkat tinggi menggunakan baju pelindung yang disebut kawaca. Baju pelindung ini berbentuk seperti tabung panjang dan terbuat dari tembaga yang dicetak, walaupun prajurit yang lebih rendah pergi berperang dengan bertelanjang dada. Ada pula baju zirah lain yang dinamakan waju rante atau zirah rantai dan karambalangan, yaitu lapisan dan lempengan logam yang dikenakan di depan dada.


Mantri-mantri, yaitu menteri atau perwira Gajah Mada mengenakan baju besi dalam bentuk zirah rantai dengan hiasan emas dan mengenakan pakaian kuning untuk menunjukkan jabatan dan bentuk kegagahan serta wibawa mereka.


Mahapatih Gajah Mada sendiri mengenakan karambalangan berhias timbul dari emas, bersenjata tombak berlapis emas, dan perisai penuh dengan hiasan dari intan berlian.


Majapahit juga adalah kerajaan yang mengawali penggunaan senjata api di Nusantara. Meskipun pengetahuan membuat senjata yang memanfaatkan serbuk api di Nusantara sudah dikenal setelah serangan tentara Tartar ke Jawa, dan pendahulu senjata api, yaitu meriam galah atau bedil tombak, dicatat digunakan oleh Jawa pada tahun 1413 Masehi, pengetahuan membuat senjata api sejati datang jauh kemudian, yaitu setelah pertengahan abad ke-15 Masehi.



Ia dibawa oleh negara-negara Islam di Mancanegara, kemungkinan besar oleh orang Arab, yang tidak lebih awal dari tahun 1460 Masehi.


Catatan penggunaan senjata api tentara Majapahit ada pada pertempuran melawan pasukan Giri pada sekitar tahun 1500-1506 Masehi. Dimana pasukan Majapahit menembaki, sementara pasukan Giri berguguran karena mereka tidak kuat dihujani mimis atau pel*uru bulat.


Duarte Barbosa, penulis Pranggi lainnya, sekitar tahun 1514 Masehi mengatakan bahwa penduduk Jawa sangat ahli dalam membuat senjata api seperti bedil dan meriam serta merupakan penembak yang cekatan. Mereka membuat banyak meriam cetbang atau rentaka, senapan lontak panjang, bedil, meriam tangan, api Yunani atau api cair yang disemburkan, bedil besar atau meriam, dan senjata api atau kembang api lainnya. Setiap tempat di Jawa dianggap sangat baik dalam mencetak atau mengecor senjata api dan juga dalam ilmu penggunaanya.



Jadi sangat maklum bila para orang Jawa ini mungkin sekali telah memiliki budaya menggunakan senjata api dengan baik, tidak hanya pasukan dan prajurit Mataram.


Tak lama Dara Cempaka menarik nafas lega. Jayaseta datang menghambur maju mencoba menyelesaikan sisa orang-orang Jawa pengkhianat itu, mengantar mereka ke gerbang akhirat.

__ADS_1


Hanya saja pekerjaan ini tak semudah yang dipikirkan. Walau orang-orang Jawa itu menggunakan tombak dan tameng rotannya, ketika mereka memiliki kesempatan menggunakan bedil, maka itulah pilihan utamanya. Bahkan Jayaseta sempat ditolong Katilapan dan Narendra yang membokong para penembak ketika ia dihujani tembakan.


Cara satu-satunya untuk memotong jarak para penembak adalah Jayaseta melemparkan tongkat rotannya sebelum salah satu penembak mengarahkan bedil ke arahnya. Tongkat rotan itu menyabet lengan sang penembak dengan keras. Kemahiran Jayaseta dalam ilmu lempar sangat mumpuni, ditambah kekuatan tenaga lemparannya.


Lengan sang penembak mendapatkan retak di tulangnya. Saat itulah Jayaseta menghambur dan menghabisi lawan dengan pukukan bertubi-tubi dengan tongkat rotan satunya. Jayaseta kemudian melakukan hal dan cara yang serupa ketika orang Jawa lainnya memegang bedil.


Dalam keadaan seperti ini ia sangat merindukan senjata cakram dan pisau terbangnya.


***


Punyan masih tergeletak di tanah. Parang pandat Panglima Asuam masuk ke dalam tubuhnya secara gaib, ajaib dan melibatkan ilmu sihir.


Senjata tajam itu menjadi serupa dengan tenaga, bukan lagi benda padat. Ia menyayat-nyayat jeroan Punyan laksana ilmu teluh, santet.


Punyan kini bergulingan di tanah sedangkan Panglima Asuam terus merapal ilmu Pedang Pekir dan menyerang Punyan dari jauh, tanpa menyentuh.


Punyan dalam keadaan terluka dan sakit yang luar biasa mendadak mengingat ajaran sang apai sewaktu ia masih kecil dan remaja. Temenggung Beruang mengatakan bahwa ilmu-ilmu yang dipelajari oleh orang-orang suku pedalaman seperti mereka, memang digunakan dalam keadaan tertentu.


Tenaga dan kekuatan asing nan tak dikenal, bersembunyi di dalam gelapnya belantara hutan serta di bawah sungai yang mengalir deras. Kuasa kekuatan itu kemudian digunakan oleh orang-orang berani yang tinggal di suatu wilayah baru yang hendak dijadikan pemukiman atau tempat tinggal baru.


Pemimpin kelompok atau suku ini harus mampu menaklukkan dan memanfaatkan kekuatan-kekuatan tersebut, baik dengan menundukkan atau bekerjasama dengannya. Namun, kekuatan-kekuatan itu tidak segampang itu dapat dikeluarkan atau digunakan. Ada syarat-syarat dan tujuan tertentu. Intinya, bagaimanapun, ilmu sihir dengan menggunakan kekuatan yang tersembunyi di dalam alam juga memiliki kelemahan. Mereka tidak akan selamanya membantu manusia.


Punyan menarik nafas, berdoa kepada Jubata, meminta ijin kepada arwah nenek moyang dan dewa-dewa serta meminta ijin alam untuk menggunakan kekuatan mereka, bukan sekadar untuk mengalahkan Panglima Asuam, namun juga untuk menyelamatkan kampungnya.

__ADS_1


Maka Punyan melepaskan tenaga asing yang mencoba mencabik-cabik bagian dalam tubuhnya.


Panglima Asuam kini yang tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sosok anak laki-laki kepala suku musuh bebuyutannya itu kini melayang beberapa jengkal di atas udara. Ilmu sihir macam apa ini?


__ADS_2