Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Di Grassi


__ADS_3

Bagi para pendekar pedang di negara bule sana, berguru pada satu orang memang perlu, namun tidak sedikit pula para guru yang menuliskan jurus-jurus mereka agar dapat dilihat dan dibaca banyak orang.


Ragione di adoprar sicuramente l'Arme, si da offesa come da difesa adalah semacam buku yang ditulis oleh seorang ahli pedang Italia pada tahun 1570 bernama Giacomo di Grassi. Tulisan yang berisi jurus-jurus pedang ini kemudian diterjemahkan dan disebarluaskan oleh Britania Raya pada tahun 1594.


Memang ini merupakan sebuah budaya yang tak lazim dikenal di nusantara. Ilmu silat ataupun ilmu pedang secara khusus harusnya dipelajari oleh orang-orang tertentu dan dirahasiakan dari orang atau perguruan lain.


Mengenai gaya silat, memang mungkin bisa serupa. Anggap saja misalnya jurus-jurus silat orang Jawa, Melayu, Mangkasar, Minangkabau, atau Sukadana, serta sebutlah silat Cina dan Hindustan, yang masing-masing memiliki ciri khas sendiri walau tetap juga mengenal cabang-cabang jurus yang hampir mustahil untuk dihitung jumlahnya.


Ilmu pedang Eropah, seperti Italia, Prancis, Britania Raya, Jermania sampai Walanda berdasarkan pada ilmu pengetahuan. Orang-orang pandai dalam ilmu hitung dan ilmu alam, menciptakan perhitungan tertentu dalam gerak jurus pedang, tombak atau senjata tajam lainnya, agar ringkas dan tepat guna.


Misalnya saja, ditulis oleh Di Grassi, ada empat kuda-kuda bertahan dalam ilmu pedang rapier yang didasarkan pada letak pedang untuk menyerang lawan. Yang pertama disebut prime, dimana rapier dicabut dari sarungnya kemudian gagangnya berada di atas kepala serta ujung rapier menghadap musuh. Kuda-kuda selanjutnya disebut seconde, dimana tangan yang menggenggam rapier sejajar dengan bahu. Ketiga, disebut tierce, dimana tangan turun sedikit diatas pinggul namun ujung pedang menghadap wajah musuh. Yang terakhir, quarte, serupa dengan tierce, hanya letak tangan sangat turun serendah pinggul, ujung pedang ditujukan ke wajah dan bahu maju.


Empat letak kuda-kuda ini dapat dipasang-pasangankan, diganti maupun dikembangkan sesuai keperluan.


Ada hawa amarah dan benci terpancar di wajah Devisser de Jaager. Ia terlihat sekali ingin segera menghabisi Jayaseta dan menyelesaikan semua ini, setelah apa yang terjadi dengan sang saudara tua.


Suara ledakan bedil berkali-kali keduanya, Jayaseta dan Devisser de Jaager, dengar. Mereka tak peduli. Mereka sama-sama memusatkan perhatian pada pertandingan hidup dan mati ini.


Sekarang terlihat Devisser de Jaager berkali-kali mengubah kuda-kuda dari prime, seconde, tierce, quarte atau dengan kembangannya sendiri. Tujuan dari kuda-kuda ini jelas, menyelesaikan pertarungan dengan tusukan mematikan yang ringkas dan tepat guna.


Bagi dunia bule mancanegara, serangan pedang, terutama jenis rapier, tusukan lurus adalah yang paling mematikan karena merupakan tindakan paling cepat dan tanpa tekanan yang terlalu besar pada senjata.


Jurus tusukan, termasuk dari gaya Di Grassi, dapat dilakukan dengan tusukan lurus yang dilakukan murni oleh lengan, tusukan dengan bahu dan tubuh, sembari melangkah maju, melompat, berlari atau gabungan dari kesemuanya.


Tubuh Devisser de Jaager yang jangkung sangatlah menguntungkannya dalam ilmu pedang rapier ini. Ia dapat mancapai jangkauan pedangnya sejauh mungkin dengan menunduk dan membuat bagian tubuh datar menyamping. Ini juga dapat sekaligus memberikan sebuah pertahanan diri, dimana tubuh yang menyamping mendatar akan susah tertusuk senjata.


Hanya saja, semua peraturan dan perhitungan ilmu pengetahuan dalam berpedang ini berhadapan dengan seorang Jayaseta. Seorang pendekar tanah Jawa dengan Jurus Tanpa Jurus yang tak dapat seenak itu ditebak dan diperkirakan.


***

__ADS_1


Dengan kuda-kuda prime, Devisser de Jaager berkelebat maju melakukan imbrocatta, tusukan cepat yang diarahkan dari atas kepala.


Jayaseta berguling ke samping. Saber Sebastian de Jaager masih di tangannya.


Devisser de Jaager memburu Jayaseta dengan gemas. Ia melakukan serangan stoccata, tusukan ke arah dada dan punta riversa, tusukan dari arah luar maupun dalam senjata musuh dengan kuda-kuda quarte


Jayaseta sudah membaca gerakan Devisser de Jaager. Semua gerakan 'sederhana' namun dianggap ringkas dan tepat guna oleh Devisser de Jaager ternyata adalah kelemahannya itu sendiri.


Para pendekar pedang bule tidak mau menghabiskan waktu untuk melatih diri dalam mempelajari ilmu tenaga dalam dan jurus-jurus bela diri dan seni tempur lain. Mereka hanya memusatkan diri pada keringkasan dalam bertempur.


Ilmu pengetahuan membawa mereka menjadi negara-negara yang maju dan kuat. Mereka mengalahkan kerajaan-kerajaan lain dengan beragam perhitungan, menggunakan ilmu tata negara, menggunakan ilmu tata kata, menggunakan kesempatan dan sebagainya. Meriam, bedil, dan hasutan membuat mereka menguasai perdagangan.


Tapi, dari sinilah dapat diketahui bahwa kemampuan mereka sangat rendah ketika menyepelekan jenis-jenis gaya pertarungan. Mereka menganggap gerakan yang ringkas dan cepat sudah cukup untuk membunuh musuh.


Jayaseta berhasil meniru bahkan mengembangkan jurus-jurus saber dan rapier de Jaager bersaudara.


Kemampuan silat de Jaager bersaudara bagi Jayaseta sangat jauh berada di bawah pendekar-pendekar silat nusantara, termasuk dua ronin Jepun yang tewas di tangannya. Namun kedua saudara Walanda ini memang cerdas dalam menggunakan segala cara untuk memenangkan pertarungan. Dari memanfaatkan ilmu pengetahuan, sampai kelicikan.


Sebastian de Jaager telah tewas di tangannya dengan menggunakan senjatanya sendiri, yang diciptakan. sedemikian rupa agar berbahaya dan menipu. Ilmu pengetahuan yang Sebastian de Jaager gunakan, dikembalikan oleh Jayaseta.


Kali ini, menghadapi Devisser de Jaager, Jayaseta akan memastikan ilmu pedang ringkas nan cepat pedang rapiernya akan dikalahkan dengan kehebatan ilmu silat nusantara yang dianggap remeh dan sepele oleh orang-orang Walanda.


***


Kuda-kuda quarte dan serangan punta riversa dilakukan Devisser de Jaager sembari setengah berlari menyeruduk ke arah Jayaseta.


Jayaseta menggetarkan gagang saber milik Sebastian de Jaager, kemudian mengibaskan pedang itu dengan memainkan pergelangan tangannya.


Devisser de Jaager terkejut bukan kepalang, karena Jayaseta mampu meniru gerakan utama jurus pedang saber sang saudara tua.

__ADS_1


Ledakan bubuk api menyerbu Devisser de Jaager. Yang diserang mengibaskan rapiernya sembari menghindari ledakan bubuk api itu.


Bagi Devisser de Jaager, serangan jurus-jurus pedang sang saudara tua bisa ia kenali dengan baik karena mereka telah berlatih lama, bahkan sejak kecil. Jadi, menghindari serangan ini bukan pekerjaan yang sulit. Devisser hanya kaget bahwa sang pendekar pribumi itu memiliki kemampuan untuk memainkan pedang tepat seperti gaya bule.


Mengetahui serangan yang berciri khas sang saudara tua, Devisser de Jaager tersenyum, ia paham pasti bagaimana melumpuhkan serangan tersebut. Ia sudah mengetahui kunci mengalahkan jurus pedang saber yang biasa digunakan Sebastian de Jaager.


Maka, Devisser de Jaager berputar sekali dengan anggun seperti menari, kemudian menggunakan kuda-kuda prime untuk menipu, karena serangan sebenarnya adalah sekali putaran lagi dan merentangkan tangan serta tubuh yang menyamping sejauh dan secepat mungkin menusuk ke arah leher Jayaseta.


Seharusnya ini adalah serangan mematikan pamungkas. Gerakan sabetan saber Jayaseya yang dicuri dari Sebastian de Jaager tidak akan dapat menghadapi yang satu ini.


Devisser de Jaager salah besar!


Ilmu jurus pedang yang ia pelajari dan kembangkan mungkin baik sekali bahkan sempurna ketika menghadapi musuh yang kemampuannya berada di bawahnya, atau pendekar pedang dengan jenis senjata dan gaya silat bule Eropah.


Namun, yang ia hadapi adalah seorang Jayaeseta.


Kebetulan Jayaseta juga ingin memberikan pelajaran berguna yang akan melekat di otak Devisser de Jaager sebelum ia mati.


Jayaseta sudah dapat memperkirakan serang yang datang kepadanya. Dengan mengumpulkan hawa murni ke jari-jari di tangan kirinya yang tidak menggenggam saber, Jayaseta bukannya mundur, sebaliknya ia maju menyongsong tusukan rapier Devisser de Jaager.


Tubuhnya menyamping dan lolos dari serangan Devisser dengan mulus. Tangan kirinya menggenggam jari-jemari kanan Devisser dibalik pelindung jari dan meremasnya.


Devisser de Jaager berteriak keras ketika jari-jarinya tergencet pelindung jari dari besi yang ringkas terkena remasan jemari Jayaseta.


Orang macam apa Jayaseta ini? Selama hidupnya, Devisser de Jaager tak pernah ambil pusing dan percaya bahwa ada orang-orang bodoh yang katanya memiliki ilmu tenaga dalam. Baginya, pendekar hebat adalah yang cepat, tangkas dan cerdas dalam memainkan jurus-jurus dan senjatanya.


Namun kini ia merasakan bahwa pelindung jari bercabang-cabang rumit bagai tali-temali dari emas ditaburi logam mulia yang harusnya melindungi jari-jarinya, kini peyot bagai meleleh dan menghancurkan jari-jarinya. Baru kali ini ia benar-benar merasakan bahwa ilmu dan kesakitan semacam itu benar adanya.


Itu adalah jurus Cakar Naga yang dialiri tenaga dalam.

__ADS_1


Belum sempat rasa terkejut Devisser de Jaager selesai, ujung saber yang melengkung sudah menancap di lehernya, membobol sampai tembus ke belakang, mengoyak kulit, daging dan menghancurkan tulang lehernya.


Devisser de Jaager tewas seketika.


__ADS_2