Pendekar Topeng Seribu

Pendekar Topeng Seribu
Mata Uang Emas


__ADS_3

Kapal layar yang yang ditumpangi rombongan Jayaseta bergoyang-goyang di atas laut dangkal namun melaju dengan mulus mendekati kapal bergaya pribumi yang sebenarnya menyembunyikan para pendekar beragam bangsa di atas geladak dan di dalam lambung kapal.


Matahari sudah perlahan merangkak naik ke puncak kepala. Sinarnya memercik memantul di atas air dan memecah menjadi titik-titik keperakan.


Jayaseta berjongkok memegang erat tepian kapal layar. Ia melawan ketakutan berada di atas perairan ini dengan segenap jiwa. Untungnya, Jayaseta selalu belajar dari segala pengalaman. Ia tak mau kalah melawan rasa takutnya yang satu ini.


Narendra ikut berjongkok di sampingnya, "Jangan khawatir, Jayaseta. Aku yakin mereka tak akan menyerang kita selagi kita berada di atas laut. Karena hal itu terlalu mencolok dan menarik perhatian. Aku berani jamin mereka malah sengaja mengundang kita naik ke atas kapal mereka dan berencana menghabisi kita di geladak kapal," ujar Narendra.


"Ya. Jelas mereka memiliki pendekar dan persenjataan di sana. Apapun itu, kita harus meminta pertanggungjawaban kapal itu karena telah membuat kisruh besar-besaran sedari pagi tadi," lanjut Katilapan yang berdiri tegak membelakangi Jayaseta dan Narendra.


"Kalian masih harus tetap melindungiku, kakang-kakang sekalian," ujar Jayaseta pelan di balik topeng Mah Meri nya.


Narendra dan Katilapan tak tahan untuk tak tersenyum. Bagaimanapun keduanya masih heran dan tak dapat percaya bahwa pendekar sehebat Jayaseta memiliki kelemahan sesepele ini. Namun mereka tetap mengangguk meyakinkan sang pendekar.


Datuk Mas Kuning, dengan tampilan tubuh yang terlihat renta, benar-benar berhasil menipu orang lain. Ia malah sebenarnya sedang dalam keadaan jasmani yang baik sekali. Luka-luka lama seakan tak terasa lagi, tergantikan dengan semangat pertarungan yang membara. Ini kembali mengingatkan sang Datuk pada masa jayanya. Menjadi tua dan bijaksana bukan berarti tak boleh berperang lagi demi orang-orang yang dikasihi, bukan? Pikir sang Datuk. Ia berdiri menentang angin, memandang ke arah kapal di depannya tajam dengan salah satu tangan di hulu keris.


Ada beberapa awak yang sibuk mengatur layar dan tali-temali, dengan Ireng dan Siam yang juga memandang lurus ke depan, melihat setiap pergerakan mencurigakan dari atas kapal. Entah todongan bedil, meriam yang disiagakan, para pemanah atau pelembing. Awak-awak kapal bekerja seperti laiknya, namun beberapa orang berkulit hitam tembaga menodongkan bedil mereka.


***

__ADS_1


Raja Nio melihat ke arah para perompak yang sudah dalam keadaan terikat dan bisa dikatakan tak berdaya dan tak berbahaya lagi. Beberapa dari mereka terluka parah, bahkan tak bisa diikat dalam keadaan duduk.


"Buka topeng mereka!" perintah sang nakhoda kepada para pengawal bersenjatanya. Perintah ini langsung dilaksanakan. Topeng-topeng kayu Mah Meri itu ditumpukkan di satu tempat di atas geladak.


"Siapa kalian sebenarnya? Kalian sama sekali tak pantas mengenakan topeng-topeng suku Mah Meri itu. Usaha kalian untuk menipu kami tak akan berhasil. Kami tahu pasti ada seseorang atau kelompok tertentu yang mengatur kalian di belakang layar," ujar sang nakhoda berjongkok di depan para tawanan.


"Mereka mungkin tak akan bicara, Tuan Raja Nio. Jelas-jelas mereka sudah dilatih untuk tugas ini. Mereka bahkan siap mengorbankan diri," jelas salah satu pengawal.


"Aku tahu itu. Aku tetap ingin bertanya langsung kepada mereka, sembari memikirkan cara yang kejam untuk memaksa mereka berbicara," balas Raja Nio. Ia tak bercanda. Kekejaman pastilah akrab dengan kehidupan orang-orang di atas laut. Membunuh atau dibunuh adalah hukumnya. Penyiksaaan juga kerap terjadi untuk banyak kejadian dan perihal. Meski Raja Nio cukup membenci perbudakan, masalah kekerasan dan kekejaman yang kerap terjadi tak bisa ia hindari atau sangkal.


"Bayaran kami besar. Tapi bukan untuk kami sendiri, melainkan keluarga dan sanak kerabat," ujar salah satu tawanan tiba-tiba.


"Kami bermasal dari beragam bangsa. Tujuan kami cuma satu, membuat kalut para pasukan dari beragam bangsa pula agar terjadi kekacauan. Nyawa tak penting lagi buat kami. Toh rata-rata kami berasal dari budak, atau orang-orang yang keluarganya adalah budak. Tugas kami sudah selesai. Kalian bebas melakukan apapun pada kami," lanjut orang itu di sela-sela ledakan-ledakan besar yang melatarbelakangi pembicaraan mereka. Kapal-kapal Jambi dan Johor masih saling menembaki, termasuk kapal orang-orang Minangkabau dan Bugis. Pertempuran bagian kedua baru saja dimulai.


Rupa-rupanya, persaingan mata uang lah yang dimainkan Pranggi dalam persengketaan bangsa-bangsa di dunia Melayu ini. Untuk menyaingi pembuatan uang-uang picis Cina dari timah campuran yang diatur orang-orang Walanda di Banten, Jepara, Jambi, Palembang, Mangkasara dan Martapura atau Tanjung Pura, orang Britania Raya berusaha memotong jalan Walanda ini. Mendengar Jambi merupakan penghasil picis Cina dari timah ini, Johor tentu tak mau kalah. Mereka juga membuat dan mengedarkan mata uang campuran timah hitam dan putih, juga perunggu, dengan cetakan nama atau gelar penguasa mereka saat itu.


Sedangkan Aceh, sebuah negara Islam terbesar di nusantara, pernah besar dengan mata uang emas yang disebut deureuham yang diambil dari bahasa Arab dirham, dari masa Sultan Muhammad yang berkuasa dari tahun 1297 sampai 1326 Masehi ke delapan penguasa berikutnya sampai pada raja Abdallah Malik az-Zahir yang berkuasa sampai tahun 1513 Masehi. Kini Aceh lebih memiliki mata uang tahil dengan bobot perak yang sebanding dengan 16 mata uang emas.


Mata uang emas Johor beratnya empat kali lebihnya dari mata uang Aceh. Mangkasara, memiliki mata uang emas yang bernama dinara yang meski serupa dari mata uang emas Aceh, beratnya empat kali dibanding mata uang emas Aceh.

__ADS_1


Jelaslah bahwa persaingan penggunaan mata uang mana yang lebih kuat ini dipermainkan oleh Pranggi.


"Mereka membayar kami dengan emas, terbaik dari berbagai bangsa. Mata uang emas dicampur untuk menghancurkan pasar, membuat negara-negara saling curiga dan berpikir bahwa lawan mereka sengaja bersekongkol atau menipu dalam perdagangan," lanjut sang tawanan.


"Untuk orang yang tidak takut mati, kau sangat cerdas, saudara," lanjut Raja Nio.


Sang tawanan mendengus, "Aku tak takut mati, bukan berarti bodoh. Lagipula, bukankah para penguasa dan antek-anteknya adalah orang-orang cerdas namun jahat, keji dan kejam? Para budak diperlakukan layaknya binatang, mereka bergelimang harta dan memainkan permainan kotor yang mengorbankan masyarakat sendiri."


"Kau berani berbicara seperti itu seakan kau bukan seorang pengkhianat bangsa. Bukankah kau bekerja pada orang bule, penguasa Pranggi, bukan?"


"Bangsa yang mana maksudmu, Tuan? Bangsa yang membiarkan perbudakan? Yang berperang demi nafsu kekuasaan? Aku dari Nias, yang keluargaku diperbudak oleh para penguasa Nias, orang-orang dari bangsaku sendiri yang tak memandangku sederajat. Lalu, apa bedanya dengan orang-orang Pranggi? Siapa sebenarnya yang berkhianat? Aku, seorang budak belian yang disiksa dan dijual oleh bangsawan dari bangsaku sendiri, atau orang asing yang menggunakanku demi keuntungan mereka sendiri? Bukankah tidak ada bedanya?" jawab sang tawanan. Wajahnya yang penuh peluh dan kesedihan membayang itu mengeras. Kedua matanya memandang tajam sang nakhoda.


***


Kapal layar yang ditumpangi Jayaseta sudah berada tepat di samping kapal yang dipimpim de Paula tersebut. Salah satu awak berseru keras, "Perhatian, kami akan melemparkan tali tambang dan naik ke atas kapal! Beri kami jalan!" ujarnya.


De Paula mengangguk kepada para pendekar beragam bangsa yang menyembunyikan segala jenis belati di pinggang mereka. Hulu tumbuk lada, keris, piso, badik dan rencong menyembul dari sabuk para pendekar, termasuk orang-orang Ambonia dan Flores yang meletakkan bedil mereka di samping.


Babiat Sibolang memerintahkan rekan-rekannya meletakkan batang-batang ramping hujur singiris mereka di tepian kapal. Jala Jangkung sang nakhoda tak tahan untuk tak tersenyum lebar. Ia mengusap-usap kedua telapak tangannya, menanti tak sabar tamu yang menghantar nyawa.

__ADS_1


__ADS_2