
Tentu saja Karsa Sang Penyair Baka berbohong. Ia telah berbohong pada cucu perempuannya, Pratiwi, dengan berjanji akan memaksa Jayaseta menikahi cucunya tersebut, maka berbohong bukan perkara sulit.
Karsa sudah memerintahkan tujuh orang jawara untuk mendatangi tempat tinggal Almira dan membunuhnya, seminggu setelah keberangkatan jung yang Jayaseta tumpangi ke Sukadana.
Mereka harus melakukannya diam-diam karena bagaimanapun Almira sang Nyai memiliki sepasukan pendekar yang bertugas mengawal dan melindunginya, sang paman serta barang dagangan mereka.
***
Bulan menerangi sebuah rumah singgah di malam hari di pinggiran kota Semarang.
Bangunan itu dikelilingi oleh dinding pagar bata merah setinggi dada orang dewasa.
Ada obor yang menyala di setiap pojok dinding pagar sedangkan bangunan di dalamnya yang terbuat dari kayu jati dan bata diterangi oleh lampu minyak.
Ada empat orang laki-laki yang berjaga di gapura utama. Walau menjaga keamanan bangunan dan penghuninya, mereka terlihat cukup santai, saling berbicara dan bersendagurau sedikit.
Terlihat mereka mempersenjatai diri dengan tombak, golok dan seorang lagi menyenderkan sebuah senjata raja dengan bentuk cukup tidak awam di dinding gapura.
Senjata itu bernama caluk.
Bentuk dari senjata ini sedikit lebih panjang dari lengan bawah, ada juga yang panjangnya sama seperti halnya golok. Senjata ini memiliki lengkungan pada bagian ujung yang tajam bagai arit namun terdapat bagian yang menonjol ke depan seperti kapak di tengah-tengah bilah.
Bila diperhatikan, memang ada semacam kemiripan dengan senjata kudi dari Banyumas, namun caluk lebih ramping dan panjang serta kapak di bagian tengahnya sangat menonjol.
Caluk adalah senjata yang khas digunakan oleh para pendekar asal Jawa bagian Wetan atau Timur, terutama Tuban.
Sama seperti kebanyakan senjata tajam, awalnya caluk adalah alat yang dimanfaatkan untuk pertanian dimana bagian pendek dari senjata caluk digunakan untuk memotong. Sedangkan bagian yang lebih panjang biasanya digunakan untuk menggapai buah-buah siap panen yang terlalu tinggi di atas pepohonan.
Ketika menjadi senjata, bisa dibayangkan bahaya nya senjata ini bila digunakan untuk menyerang tubuh musuh. Kaitan ujung caluk yang melengkung serta hantaman kapak di bagian tengah bilah dapat menyebabkan luka yang sangat parah.
Pemilik senjata itu tak lain dan tak bukan adalah Jaka Pasirluhur, Sang Kudi Langit.
Semenjak kudi andalan dan kesayangannya diberikan kepada Jayaseta, ia menggantikannya dengan caluk. Alasannya karena kemiripan kedua senjata tersebut, termasuk penggunaan dan jurus-jurusnya bisa diterapkan pula pada caluk.
Alasan lain, ia enggan menyebut dirinya dengan julukan Sang Kudi Langit lagi.
Setelah bertemu Jayaseta dan berhadapan langsung dengannya, semua pengalaman dan kemampuannya terasa hanya seujung kuku dibanding sang pendekar.
Ia malu sekaligus merasa bangga mendapatkan pelajaran yang begitu berharga tersebut.
Malam ini adalah hari terakhir ia dan rombongan tuan putrinya, Nyai Almira, berada di Semarang. Esok hari mereka akan kembali ke Mataram.
Semarang sendiri memiliki jalan penghubung yang baik dengan Mataram, terutama ke Kartasura atau Kotagede. Perjalanan melalui darat ke Kerajaan Mataram hanya memakan waktu kurang dari tiga hari. Bila berkuda, kurang dari dua hari bisa dicapai.
Sembilan belas pengawal rekan-rekan Jaka Pasirluhur yang separuhnya berasal dari Banyumas sudah bersiap untuk mengawal kepulangan Almira, sang paman dan beberapa pegawai mereka.
__ADS_1
Terbilang dua kereta kuda utama, dua pedati dengan empat ekor sapi penarik di setiap pedati, serta sepuluh kuli panggul akan membawa beragam barang dagangan pulang ke Mataram.
Malam ini adalah giliran jaga mereka berempat di bagian depan gapura. Gapura belakang ada empat pengawal lain, sedangkan sisanya menjaga bagian dalam bangunan atau beristirahat.
Tiba-tiba Jaka Pasirluhur melihat pintu berkayu jati terbuka lebar. Sang Nyai keluar tergesa-gesa dan muntah-muntah di pekarangan depan.
Jaka Pasirluhur meraih caluk nya dan bergegas ke arah sang tuan majikan. Langkahnya juga diikuti satu pengawal lain yang bernama Indratmoko.
"Nyai, apa yang terjadi dengan Nyai?" tanya Jaka Pasirluhur menunjukkan kepeduliannya.
"Iya, Nyai. Tadi pagi-pagi sekali aku juga melihat Nyai muntah-muntah, begitu juga kemarin. Mungkin Nyai sedang masuk angin? Apa perlu kita tunda kepulangan kita ke Kotagede besok?" Indratmoko kali ini yang berbicara.
Wajah cantik sang Nyai terlihat pucat dan lelah, namun senyuman menghiasi wajahnya. "Kita tidak bisa menunda kepulangan kita, ada banyak urusan yang akan terganggu. Kita sudah menunda untuk pulang cukup lama. Lagipula, keadaanku ini bukan sesuatu yang buruk," jawabnya. Senyumnya kembali terkembang.
"Atau mungkin, aku bisa panggilkan tabib, Nyai?" ujar Jaka Pasirluhur.
"Aku sudah bertemu tabib dua hari yang lalu. Sudah kukatakan, ini bukan sesuatu yang buruk."
"Lalu, bila bukan sesuatu yang buruk, mengapa Nyai terlihat pucat dan lemah seperti ini? Nyai juga kerap muntah-muntah, terutama di pagi hari. Kalau bukan sakit, apa lagi? Atau ...."
Tiba-tiba wajah Jaka Pasirluhur berubah. Kedua matanya membelalak. Ia kemudian menatap sang Nyai seakan meminta persetujuan.
"Benarkah apa yang aku pikirkan, Nyai?"
Almira hanya tersenyum.
"Nyai sedang hamil, mengandung?"
"Benarkah itu, Nyai?" Indratmoko bertanya untuk meyakinkan.
Tak disangka-sangka, Jaka Pasirluhur melompat kegirangam bagai anak remaja. "Nyai kita akan punya seorang putra, Indratmoko. Ini luar biasa, luar biasa."
"Lho, lho, lho ... Aku juga senang, tapi kenapa kau yang kegirangan seperti ini? Kau kan bukan ayah calon bayi Nyai kita," ujar Indratmoko bingung.
"Tentu saja aku girang. Kita akan menjadi saksi lahirnya pendekar muda, keturunan Jayaseta si Pendekar Topeng Seribu yang luar biasa itu!"
"Apa kau yakin anak Nyai laki-laki?"
"Ah, walau dia nanti bukan laki-laki, sama sekali tidak masalah. Darah pendekar ada di dalam dirinya, bukan?" ujar Jaka Pasirluhur berserikeras.
"Baik, baik. Aku memang sedang mengandung, Jaka, Indratmoko. Tidak perlu sejauh itu membicarakan masa depan calon jabang bayi ini. Alhamdulilah, Yang Kuasa memberikan berkat kepadaku. Sayangnya, rama nya belum mengetahui bahwa ia akan memiliki seorang anak," kata Almira.
"Jangan khawatir, Nyai. Alam semesta akan memberikan kabar gembira ini kepada suami Nyai," Indratmoko meyakinkan. Ia sendiri tanpa sadar ikutan sumringah, apalagi melihat raut muka kebahagiaan yang tak bisa ditutupi oleh wajah lelah sang Nyai.
Meski awalnya terganggu dengan polah tingkah Jaka Pasirluhur yang berjingkrakan bagai remaja itu, Indratmoko tak menampik bahwa ia juga ikut bahagia mendengar kabar ini.
Dua kawan mereka yang menjaga dari gapura dan memperhatikan dari jauh tak paham dengan apa yang terjadi. Tapi demi melihat perilaku Jaka Pasirluhur yang mereka sangat kenal, pastilah bukan sebuah hal buruk yang menimpa sang Nyai.
__ADS_1
Pada saat itulah, ketika Jaka Pasirluhur berjingkrak-jingkrak dengan mengacung-acungkan caluk nya ke udara, ia berbalik dan tanpa sengaja melihat satu sosok berdiri di atas pagar tembok bata.
Jaka Pasirluhur sempat melihat dengan cukup baik sosok yang diterangi obor dengan sinar temaram tersebut. Sosok itu mengenakan celana pangsi selutut yang kendur, baju lengan panjang tanpa kancing dengan ujung yang disimpulkan.
Wajahnya tak terlihat karena ia mengenakan topeng buta atau raksasa berwarna merah dengan taring muncuat dari bagian mulutnya.
Ia terlihat sedang mengangkat satu lengannya tinggi-tinggi.
Dengan kepekaan seorang pendekar, Jaka Pasirluhur berteriak kepada Indratmoko, "Indratmoko, lindungi Nyai, ada penyusup!"
Empat buah benda rahasia terlempar dari tangan terangkat sosok itu.
Jaka Pasirluhur sontak membabatkan caluk nya.
TANG!
TING!
TANG!
Tiga buah benda serupa paku terhalau oleh tangkisan senjata khas Tuban itu.
Jaka Pasirluhur melihat ke belakang.
Almira menunduk dengan lengan Indratmoko berada di atas punggungnya. Satu paku menancap dan memecahkan sebuah jambangan bunga dari tanah.
Paku yang lolos dari tangkisan Jaka Pasirluhur luput dari sasaran karena Indrarmoko sempat menarik Nyai dan melindunginya.
Jaka Pasirluhur lega sekaligus berang dengan sang pembokong. Ia hendak mengejar sosok tersebut ketika ia kembali mengibaskan caluk nya untuk menepis paku-paku rahasia itu.
Indratmoko meraih tombaknya dan langsung melemparkan ke arah sang pelempar paku.
Tombak itu melesat sejengkal dari tubuh sosok yang berjumpalitan ke belakang tembok dan menghilang.
Dua orang yang berjaga di gapura langsung awas akan kejadian ini. Mereka meraih tombak, berteriak-teriak dan mengejar sosok tersebut.
"Kau jaga Nyai. Masuk ke dalam rumah. Minta beberapa orang keluar ikut mengejar penyusup itu, sisanya ikut menjagai Nyai," ujar Jaka Pasirlihur kepada Indratmoko.
"Baik, Jaka," Indratmoko memapah Almira yang cukup terkejut. "Ayo Nyai, kita harus segera masuk ke dalam rumah," Indratmoko mencabut goloknya.
Tanpa perlu diminta Indratmoko, ternyata empat orang pengawal keluar dari dalam rumah dan menyusul Jaka Pasirluhur. Mereka sempat mendengar teriakan 'Penyusup ... Pembokong ...' dari rekan-rekan mereka.
Para pengawal yang berjaga di gapura bagian belakang sudah ikut masuk ke rumah bersama yang lain. Beberapa memutari tembok mencari sosok-sosok itu.
Sedangkan sosok yang gagal melemparkan paku rahasia kepada Almira masih terus berlari ke dalam pepohonan. Ia sudah ditunggu enam sosok lain yang juga berbusana yang serupa.
__ADS_1
Sosok yang baru sampai tersebut berhenti dan menggelengkan kepalanya kepada rekan-rekannya.
"Bajing*an! Kau dungu sekali bisa gagal seperti itu. Terpaksa kita habisi mereka di sini. Aku tak mau gagal malam ini!" ujar satu sosok berpakaian serupa, namun terlihat seperti pemimpin mereka. Suaranya mencirikan sebagai orang yang sudah cukup sepuh dan berumur. Topeng buta merah itu tak dapat menyembunyikan umur sejatinya.